
Suara dentuman terdengar jelas dari arah tengah desa. Pasir-pasir berterbangan seperti abu, menyebar sampai ke ujung desa. Para warga khawatir apa yang akan kejadi, suara keributan belum sepenuhnya hilang.
Shu Cao berada di barisan paling depan, memimpin sekaligus melindungi warga desa. Kepalanya terangkat dengan telapak tangan yang menutupi mulutnya karena abu dari pasir yang berterbangan bisa membuat pernafasan terhambat.
Suara mengaum terdengar lagi, kali ini lebih ganas. Sepertinya iblis itu belum kalah. Zhi Yuo keluar dari tirai abu, menampakan dirinya yang masih mengatur nafas. Punggungnya remuk karena membentur tanah, tapi ia masih bisa berdiri dengan tegak. Untungnya Zhi Yuo memiliki refleks yang cepat.
Ketika Zhi Yuo melirik ke atas, bulan purnama sepenuhnya tertutup awan. Karena cahaya bulan adalah energi utamanya, jadi ia agak sedikit kewalahan karena kurang tenaga. Tapi itu tidak masalah, mengingat ia sudah menyerap beberapa persen dari cahaya bulan.
Iblis kelelawar bangkit dari atas tanah yang menjorok ke dalam, tempat ketika dirinya terjatuh bersamaan dengan Zhi Yuo.
Zhi Yuo memasang kuda-kuda, mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dalam sekejap. Sekarang ia harus fokus pada pertarungan ini.
Iblis kelelawar terbang ke atas, hampir menyentuh langit. Tepat setelah ia berada di atas sana, ia menjatuhkan diri ke bawah hendak menyerang Zhi Yuo.
Zhi Yuo baru menyadari dia mengambil posisi yang salah. Tepat beberapa langkah ke belakang adalah kebun bambu tempat persembunyian warga desa. Maka dari itu ia harus memblokir serangan iblis ini demi melindungi warga.
Kakinya membentuk kuda-kuda yang kokoh, Zhi Yuo mengeratkan semua otot dan persendian pada tubuhnya.
Iblis kelelawar akhirnya memberikan serangan beruntun yang membuat Zhi Yuo mundur beberapa meter ke belakang. Mengimbangi tubuhnya yang besar, Zhi Yuo mengandalkan semua tenaganya juga tombak bambu yang ia asah sebisa mungkin. Tapi itu patah dalam sekejap mata.
Tidak kehabisan akal, Zhi Yuo memakai semua tenaga di tangannya untuk melempar iblis kelelawar. Dan lemparan itu membuat sebuah jalur setapak, cukup jauh dari dirinya berdiri.
Nafas Zhi Yuo turun-naik saat itu. Ini memang mengerikan, bahkan dahulu iblis seperti ini bukanlah tandingannya. Tapi sekarang ia menyadari bahwa ketika ia terlahir kembali, staminanya juga berubah. Ini bukanlah tubuhnya, tapi jiwanya yang menggerakan tubuh ini.
Zhi Yuo berdecih ketika melihat tombak yang ia asah selama setengah hari telah hancur. Inilah resiko kalau melawan iblis tidak pakai pedang.
Warga desa berteriak memanggilnya dari balik barisan bambu, Zhi Yuo mengetahui itu. Shu Cao yang paling depan di antara mereka, menatap Zhi Yuo dengan pandangan campur aduk. Antara khawatir, takut, juga ngeri di saat bersamaan.
Zhi Yuo memberikan senyuman lebarnya, yang mengartikan bahwa ia akan mengalahkan iblis itu apa yang akan terjadi.
Iblis kelelawar memiliki stamina yang lumayan besar, ia bangkit lagi dan lagi, kembali menyerang Zhi Yuo. Tapi pergerakannya agak lambat, ini dikarenakan luka-luka di sekujur tubuhnya yang menghambat kekuatannya.
Zhi Yuo tidak memiliki senjata saat ini, jadi mau tidak mau ia harus bermain kucing-tikus dengan iblis kelelawar ini. Berlari, melompat dari atap ke atap, bersembunyi walaupun akhirnya ia akan tertangkap juga.
Cukup lucu memang, tapi Zhi Yuo melakukan itu untuk mengulur waktu. Ia bermaksud mencari benda-benda tajam untuk melawan iblis itu, tapi nihil.
Setelah 3 jam berkejaran dengan iblis itu, Zhi Yuo menyender pada dinding rumah salah satu warga desa. Paru-parunya terasa tidak lagi berfungsi. Selama 3 jam berturut-turut ia kejar-kejaran dengan iblis itu tanpa mengambil nafas panjang.
Tapi rasa lelahnya seketika menghilang ketika suara dentuman lagi-lagi terjadi. Iblis itu tidak mengejarnya selama beberapa menit, kemudian pergi ke sembarang arah karena kehilangan jejak.
Zhi Yuo melompat ke atas atap, pandangannya menerawang kesana-kemari. Dan yang ia temukan adalah kepulan abu di arah utara. Tanpa pikir panjang, Zhi Yuo langsung berlari ke sana untuk memastikan.
.
.
.
"Hei! Kalian semua bangunlah!!"
Dua orang berserakan di antara puing-puing rumah. Tubuh mereka masing-masing memiliki luka yang lebar. Para pendekar sakti itu kewalahan ketika melawan iblis kelelawar.
Ketua di antara mereka kebingungan setengah mati ketika ia melihat salah satu rekannya hendak dilahap iblis kelelawar. Rekannya itu belum mati, terlihat jelas ketika ia memanggil nama bosnya dengan suara parau.
Bos dari para pendekar sakti ingin lari dari tempat itu, meninggalkan seluruh rekannya dan berniat untuk kabur. Tapi aksinya itu tidak terjadi saat sebuah bayangan tiba-tiba melesat di hadapannya.
"A-apa yang.."
Bos dari para pendekar sakti malah tidak bisa berkata apa-apa ketika ia menyadari pedang di pinggangnya menghilang. Ketika ia menoleh ke belakang, yang ia dapati adalah tubuh seorang anak remaja tengah membelakangi dirinya.
"Hmmm..." Terdengar suara gumam dari anak itu.
Zhi Yuo membolak-balikan pedang pendekar sakti, tersenyum dengan puas setelah ia mengetahui bahwa pedang itu di asah dengan baik.
"Akhirnya aku menemukan pedang. Hei pak, aku ambil ini ya."
Bos dari kelompok pendekar hanya diam karena terlalu shock. Sementara Zhi Yuo melihat bagaimana iblis kelelawar itu hendak melahap salah satu pendekar yang ada disana. Tapi pendekar itu bertahan dengan cara menahan mulut iblis kelelawar agar tidak memakannya. Gigi taring itu sangat menakutkan.
Zhi Yuo menyeringai lebar, "Aku akan menolong kalian, tenang saja."
Tapi kemudian ia melirik ke belakang, menatap bos dari para pendekar dengan sinis.
"Tapi maaf jika temanmu mati."
Zhi Yuo membentuk pola dari pedang yang ia genggam, kemudian menghunuskannya dengan kecepatan tinggi ke arah iblis itu.
.
.
.
Cahaya bulan kembali keluar dari selimut awan, tepat setelah Zhi Yuo mendorong iblis itu dengan pedangnya, menyerangnya dengan bertubi-tubi. Tidak ada lagi keraguan, ia memiliki pedang di tangannya asalkan ia mengayunkannya dengan baik.
Tawa keras keluar dari mulut Zhi Yuo, rasa semangat dan aliran darahnya yang berdesir dengan cepat menyebabkan pergerakannya menjadi tidak dapat terdeteksi. Ia bergerak cepat seperti gangsing yang berputar di malam hari.
Iblis kelelawar ingin mengelak, tapi itu tidak ada gunanya saat Zhi Yuo sudah menggenggam pedang. Kepribadian Zhi Yuo saat itu lebih ganas dari iblis, lebih keji dari iblis. Ia seperti seorang ahli pedang yang sudah lama merindukan pertarungan.
Terlebih sinar bulan purnama menerangi mereka saat itu.
.
.
.
"Nak Shu Cao! Nak Shu Cao!".
Shu Cao menoleh ke belakang tepat setelah namanya di panggil. Tepat di tengah-tengah kerumunan yang heboh itu, seorang wanita paruh baya memanggilnya dengan air mata yang mengalir deras dari matanya.
"Nak Shu Cao! Anakku! Anakku tertinggal!".
Shu Cao dapat mendengar itu dengan jelas, dan ia langsung memberikan ekspresi terkejut. Kenapa saat iblis dan Zhi Yuo bertarung?!.
Shu Cao menenangkan, "B-baiklah, saya akan mencarinya sampai ketemu. Yang lain tetaplah disini sampai keadaan aman!".
__ADS_1
Shu Cao keluar dari barisan hutan bambu, kemudian menyusuri jalanan desa dengan tergesa-gesa. Matanya menyipit karena abu yang disebabkan pertarungan sengit antara Zhi Yuo dan iblis kelelawar. Terlebih jalanan yang sekarang sudah rusak parah, dan itu membuat Shu Cao kesulitan.
Ia menjaga jarak dari pertarungan dan berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia harus mencari anak itu.
Selama ia menyusuri rumah warga, Shu Cao tidak menemukan apa-apa. Tapi setelah berapa lama mencari dengan teliti, ia mendengar isak tangis dari sebuah bilik di dalam suatu rumah.
Shu Cao masuk dengan perlahan, mengintip dari dinding bilik, dan ia dapat bernafas lega saat menemukan seorang gadis kecil tengah menangis mencari ibunya.
"Hei, apa kamu kehilangan ibumu?" Shu Cao bertanya dengan nada menenangkan.
Gadis kecil itu berhenti menangis, hanya terisak sedikit. Ia menatap ke arah Shu Cao dengan mata bulatnya yang berair, kemudian mengangguk ketakutan.
Shu Cao mengembangkan senyumnya, "Kemarilah, aku akan membawamu ke tempat ibumu berada."
Ekspresi gadis kecil itu menjadi senang ketika mendengarnya. Ia melompat ke pelukan Shu Cao.
Shu Cao menggendong gadis kecil itu, kemudian keluar dengan terburu-buru. Tapi ia dikagetkan dengan gerombolan sesuatu yang berterbangan di atasnya.
"A-apa...?"
Shu Cao berlari begitu saja setelah ia mengetahui gerombolan makhluk itu mengejarnya. Ia tidak melepaskan gadis kecil itu dari pelukannya, berlari dengan kencang ke arah kebun bambu.
"Masuklah kesana! Cepat!!".
Gadis kecil itu turun dari pelukan Shu Cao, ia buru-buru berlari ke arah barisan bambu yang mana tidak lagi jauh dari dirinya.
Gerombolan kelelawar itu berterbangan di atas kepala Shu Cao yang tersungkur di atas tanah. Shu Cao dapat melihat bahwa ukuran dari gerombolan kelelawar ini lebih besar dari ukuran kelelawar pada umumnya, dan mereka memiliki mata yang merah dan taring yang panjang.
Gerombolan kelelawar itu secara bersamaan menyerang Shu Cao. Menghisap darahnya dan mencabik tubuhnya. Shu Cao berteriak kesakitan, tubuhnya terasa sakit karena tercabik-cabik. Ia gelagapan seperti ikan yang keluar dari air, dan itu disaksikan langsung di hadapan warga desa.
Ketika Shu Cao sudah melemah, gerombolan iblis kelelawar kecil itu mengangkat tubuhnya secara bersamaan, melayangkan tubuh lemahnya di udara.
Warga desa tidak memiliki banyak harapan setelah itu. Ekspresi pasrah terlihat jelas di wajah mereka, dan mereka tidak bisa melakukan apa-apa saat Shu Cao diserang oleh sekumpulan kelelawar.
Shu Cao masih memiliki kesadaran lebih, ia mengencangkan semua otot tubuhnya hingga seluruh tubuhnya menonjolkan jalur urat.
Kumpulan iblis kelelawar kecil merasa terancam, mereka membanting Shu Cao ke atas tanah, menghindar demi melindungi diri mereka sendiri.
Tubuh Shu Cao memiliki banyak luka sobek yang menganga lebar, tapi ia masih menegapkan punggungnya.
Rasa amarah tiba-tiba hinggap di dadanya, mengalirkan darahnya lebih cepat.
Shu Cao menghadap kumpulan iblis kelelawar, melayangkan tangannya dengan kecepatan ekstra ke salah satu makhluk itu. Mencekiknya sampai mati lalu membantingnya ke tanah.
Para kumpulan kelelawar merasakan tekanan yang hebat saat itu, terlebih ketika Shu Cao membunuh salah satu teman mereka dengan tatapan tajam. Itu seperti bukan manusia.
Kumpulan kelelawar langsung menyerangnya saat itu juga. Tapi entah mengapa mereka seperti seekor semut ketika berhadapan dengan bocah itu.
Shu Cao melayangkan tinjunya, kakinya, lalu cakarnya untuk menyerang kembali kumpulan iblis kelelawar itu.
Pekik dari kumpulan iblis kelelawar kecil bersahut-sahutan. Jemari Shu Cao dengan cepatnya menggapai tubuh mereka,mencekik lalu membantingnya ke tanah dan menginjaknya.
Kumpulan itu lama-kelamaan berkurang karena di antara mereka kebanyakan mati. Mereka berpencar untuk menghindari serangan Shu Cao.
Jemari Shu Cao menggapai salah satu tubuh kelelawar yang masih berada di tempatnya. Dengan cepat ia merobek sayap kelelawar lalu membantingnya ke sembarang arah.
"Tenanglah.." Suara Shu Cao terdengar, dengan kaki yang melangkah ke arah barisan bambu.
"Aku akan melindungi kalian."
.
.
.
Dentingan pedang menggema di malam hari. Iblis kelelawar lumpuh saat itu, tidak dapat berdiri lagi maupun mengepakkan sayapnya.
Zhi Yuo menatapnya dari kejauhan, dengan sorot mata yang merah menyala menandakan sirat dendam.
Melihat iblis kelelawar yang ia lawan melemah dengan luka disana-sini, seringai lebar menghiasi bibir Zhi Yuo.
Ujung pedang mengarah pada iblis kelelawar itu. Zhi Yuo memandangnya dengan pandangan penuh rasa haus darah.
"Aku bersumpah akan membunuh semua iblis sepertimu. Maka dari itu, menyerahlah sekarang."
Zhi Yuo menghentakkan kakinya ke tanah, ia melompat dengan tinggi sampai rasanya akan menyentuh langit. Di bawah bulan purnama yang menyinarinya, ayunan pedang Zhi Yuo memecah desir angin. Tubuh itu meluncur dari atas dengan pola serangan yang terlihat tidak bisa dipatahkan. Ini adalah akhir dari pertarungannya.
Kepala iblis kelelawar terlempar beberapa meter dengan darah yang membuncah dari lehernya. Tubuhnya kaku untuk sementara, tapi segera jatuh ke tanah.
Zhi Yuo mengeluarkan nafas dari mulutnya, melirik ke belakang untuk melihat hasil dari segala latihannya selama ini.
Iblis itu telah mati.
Suara ayam berkokok, sinar oranye perlahan menghiasi langit di bagian timur. Hari sudah mulai pagi, matahari akan naik semakin tinggi.
Terdengar suara sorak-sorai dari kejauhan. Zhi Yuo mengalihkan pandangannya ke arah warga desa yang menghampirinya dengan wajah gembira dan tepuk tangan.
"Terimakasih tuan! Kau menyelamatkan kami!".
"Dewa selalu memberkatimu! Kamu terlalu hebat, tuan muda!".
"Oh.. Apakah kamu adalah utusan langit? Sungguh, aku sangat berterimakasih padamu..!".
Air mata mengucur dari mata para warga desa, wajah mereka terlihat senang tidak terhingga.
Zhi Yuo mengulas senyumnya, ia menurunkan pedangnya sampai mata pedang itu menyentuh tanah. Tubuhnya telah bermandikan darah, darah perjuangan atas segala yang ia lakukan.
Ia berjanji akan terus seperti ini, melindungi semua orang yang ia sayangi.
Shu Cao datang di antara kerumunan dengan tubuh yang penuh luka. Jalannya terpincang-pincang, ia kehabisan banyak darah.
Zhi Yuo melirih, "Apa yang terjadi denganmu?".
Shu Cao mengalihkan pandangannya ke arah Zhi Yuo, dan ia membalasnya dengan seringai jahil.
__ADS_1
"Hanya luka biasa, jangan dipikirkan."
"Kakak!!"
Shu Cao menoleh dengan cepat ke arah sumber suara. Gadis kecil yang ia selamatkan berlari ke arahnya, memeluknya dengan erat saat itu juga.
"Kakak sangat hebat! Terimakasih sudah menyelamatkanku!".
Mata Shu Cao berbinar ketika gadis itu mengucapkan rasa terimakasih padanya.
"Ah.. itu bukan apa-apa, aku--" Seketika Shu Cao menjadi gagap. Tapi warga desa segera menyambutnya dengan senyuman dan pujian.
"Shu Cao hebat dan kuat, terimakasih sudah melindungi kami."
"Kamu keren sekali ketika melawan semua kelelawar kecil itu!!".
"Bibimu pasti bangga ketika melihatmu dari atas sana, terimakasih Shu Cao."
Tiba-tiba hati Shu Cao terasa diselimuti oleh kelembutan. Matanya tidak berhenti menunjukan binar kebahagiaan sekaligus kekaguman. Melihat semua orang berterimakasih padanya membuat hatinya tergerak.
Apakah ia bisa terus seperti ini? Rasa ingin melindungi tiba-tiba saja hinggap di dadanya.
Zhi Yuo memberikan senyumnya kepada Shu Cao. Bocah itu sudah bekerja keras, ia melakukan yang terbaik.
.
.
.
"Tuan, ramuan ini harus diminum dua kali sehari agar lukamu lekas membaik."
Zhi Yuo menerima semangkuk ramuan dari tabib. Sekarang hari menjelang siang, semua orang beramai-ramai membetulkan fasilitas desa yang hancur karena perkelahian semalam.
Shu Cao duduk di atas dipan, ia memandang keluar jendela rumah tabib. Tubuhnya lemas karena terlalu banyak luka.
Tiba-tiba pintu rumah tabib terbuka lebar, seseorang masuk ke dalam dengan langkah besar. Tabib yang mengetahui siapa orang yang masuk ke dalam mulai menyapa dengan sopan.
"Ada apa gerangan kepala desa datang kemari?".
Zhi Yuo menghadap kepala desa. Pria yang sudah mulai menua itu menundukkan kepala untuk menatap Zhi Yuo.
Zhi Yuo hendak menyapa kepala desa, tapi segera dihalangi oleh kepala desa sendiri.
"Nak, apakah kamu yang berhasil meredakan masalah di desa ini?".
Ketika mendengar pertanyaan itu, Zhi Yuo mengangguk pelan. Ia bingung apa yang akan dilakukan kepala desa.
Kepala desa mengulas senyum untuknya, " Apa yang kau inginkan sebagai bayaran? Anggap saja sebagai rasa terimakasih kami sebagai warga desa ini."
Mendengar itu, Zhi Yuo langsung melambaikan tangannya.
"A-apa yang anda katakan? Saya hanya pendatang, tidak berhak untuk menerima hal semacam itu!".
Kepala desa menjawab, "Kau berhak mendapatkannya. Aku akan memberikanmu bayaran lebih, mau pendatang atau warga asli desa ini pun aku akan memberikan bayaran yang seimbang untuknya."
Zhi Yuo terkejut ketika kepala desa menangkupkan kedua tangannya dan membungkuk di hadapan Zhi Yuo.
"Terimakasih, pendekar."
.
.
.
Suara teriakkan warga terdengar bersahut-sahutan. Segala penghinaan dilemparkan begitu saja pada keempat orang pendekar sakti yang berdiri di depan kerumunan warga desa.
Kepala mereka menunduk, mendengar semua makian dari mulut warga desa. Mereka dipermalukan di depan umum pagi itu juga.
Zhi Yuo berdiri di paling ujung kerumunan, terkekeh masam ketika mendengar segala bentuk penghinaan yang dilontarkan masyarakat.
Keempat orang itu bukanlah pendekar sakti, mereka hanya bandit daerah utara yang menyamar. Mendengar adanya masalah di sebuah desa bagian timur, mereka nekat untuk meraup keuntungan disana.
Zhi Yuo sudah memprediksi ini akan terjadi. Toh, gerak-gerik mereka juga mencurigakan.
Shu Cao tiba-tiba datang di sebelahnya, menatapnya dengan sinis. Padahal Zhi Yuo tidak mencari masalah lebih dulu.
"Setelah ini kau mau apa?" Shu Cao bertanya.
Zhi Yuo mengendikkan pundaknya, "Pergi untuk berlatih, apa lagi?".
Shu Cao mendengus kasar ketika mendengarnya. Zhi Yuo terkekeh menepuk punggung Shu Cao.
"Tenang saja, setelah ini kau akan hidup seperti biasa. Aku akan pergi dari sini."
Tapi ekspresi Shu Cao seketika berubah menjadi marah. Alisnya menekuk tajam, matanya melirik pada Zhi Yuo.
"Kau pikir setelah aku kehilangan keluargaku aku akan menjalani hidup seperti biasa?!".
Zhi Yuo tertegun, apa dia salah bicara?.
"Lalu? Kau mau apa?".
Shu Cao menggeram, ia membuang wajahnya ke sembarang arah.
"Aku akan ikut denganmu." -Shu Cao.
"Hah!?" - Zhi Yuo.
"Ku bilang aku akan ikut denganmu, sialan!" -Shu Cao.
.
.
__ADS_1
.
-Bersambung-