Legenda Pedang Bulan

Legenda Pedang Bulan
Terbongkar


__ADS_3

Zhi Yuo membawa langkahnya kembali ke kediaman Gu. Matahari telah tampak sepenuhnya pagi itu. Ia datang di waktu yang pas. Rombongan Nyonya Fei akan datang hari ini,tepatnya pagi ini.


Jadi ia harus menyusun beberapa rencana lagi.


Terlihat Yan Yan mendongak dari jendela kamarnya. Ketika melihat kedatangan Zhi Yuo,ia langsung melambaikan tangan.


"Zhi Yuo!" Dia memanggil dari kejauhan.


Yang dipanggil lantas menjawab dengan lambaian tangan,kemudian berlari dan melompati dahan jendela. Yan Yan menghela nafas lega ketika Zhi Yuo kembali dengan selamat. Ia bahkan tidak tahu bagaimana nasib bocah itu ketika ia masuk ke kediaman Nyonya Fei.


"Bagaimana keadaan Xie Jia?" Tanya Zhi Yuo. Xie Jia terbaring di atas kasur,matanya masih menutup dan nafasnya lebih tenang dari kemarin malam.


"Seperti dugaanmu,dia terkena racun. Semalam aku membawanya ke tabib yang tepat. Dosis racunnya lumayan tinggi,kalau aku terlambat sedikit saja pasti..." Yan Yan tidak sanggup lagi untuk menjelaskan. Ia menghembuskan nafas dengan kasar,kemudian beralih menatap Zhi Yuo.


"Nyonya Fei akan datang pagi ini. Kita harus ikut menyambut kedatangannya," Yan Yan melewati Zhi Yuo, berjalan menuju pintu kamar.


"Tunggu!" Zhi Yuo memanggil. Yan Yan merespon tanpa mengeluarkan suara, hanya dengan ekspresi kebingungan ia dapat menanggapi Zhi Yuo.


"Apa kau yakin ingin menyambut kedatangannya? itu sama saja membunuh Tuan Gu, "


"Apa maksudnya?.."


"Kemari, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,"


.


.


.


Mata Yan Yan melotot lebar, telapak tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya sendiri. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang diceritakan Zhi Yuo padanya.


"B-benarkan Nyonya Fei melakukan hal sekeji itu?" Terdengar dari nada suaranya, Yan Yan terlihat syok.


Zhi Yuo hanya mengangguk. Ia mengambil nafas karena kelelahan setelah 15 menit bercerita. Ia menceritakan semuanya dari awal sampai akhir disertai dengan alasan mengapa ia mengikuti rombongan Lin Mei sejak awal.


"Mau bagaimana pun kita harus membongkar semuanya di hadapan Tuan Gu sendiri. Lagipula, jika kita tutup mulut begini sama saja kita menutup tindakan kriminal," Ujar Zhi Yuo. Dengan santai ia menyenderkan punggungnya pada dinding.


Yan Yan sekarang memiliki kondisi terbalik dengan Zhi Yuo. Saking kagetnya ia sampai menggigit ibu jarinya dengan panik.


Seketika Yan Yan menatap tajam Zhi Yuo, "Kamu gila ya? Membongkar semua ini di depan Tuan Gu tanpa persiapan?!".


Zhi Yuo terkekeh masam ketika mendengarnya. Ia menepuk pundak Yan Yan dengan senyuman miring.


"Aku tidak sebodoh itu Yan Yan, perlu kau tahu aku sudah menyiapkan rencana sebelum sampai disini,"


Zhi Yuo semakin melebarkan senyumnya lalu berbisik di telinga Yan Yan, "Kau hanya perlu melakukan apa yang aku persiapkan dengan serapih mungkin,"


"Kalau Nyonya Fei bermain di belakang layar, maka aku harus mempermainkannya di depan publik, ".


.


.


.


"Permisi, uh.." Yan Yan menyapa dengan halus ketika melihat para pelayan kediaman Nyonya Fei yang sudah datang duluan.


Para pelayan Nyonya Fei membalas dengan senyum ketika mendengar sapaannya. Lalu salah satu dari mereka menjawab, "Ada keperluan apa nona?".


"Um... aku pelayan Tuan Gu, apakah kotak hadiah dari Nyonya Fei yang akan diberikan kepada Tuan Gu sudah ada disini?" Yan Yan bertanya dengan lembut.


Para pelayan itu memandang satu sama lain. Mereka awalnya terheran mendengar pertanyaan Yan Yan. Tapi sedetik kemudian mereka tidak mempermasalahkan itu, karena Yan Yan terlihat tidak mencurigakan sama sekali.


"Tentu sudah nona, barangnya sudah sampai disini 10 menit lalu. Apakah anda disuruh untuk membawanya?".


" Ah, iya! Saya sedang mempersiapkan kedatangan Nyonya Fei. Maka hadiah untuk Tuan Gu saya akan letakkan disebelah sana,".


"Baiklah,"

__ADS_1


Yan Yan menerima kotak besar yang kokoh di tangannya. Itu adalah hadiah dari Nyonya Fei untuk suaminya. Entah apa yang ada di dalamnya. Yan Yan berterimakasih lalu pamit dan pergi ke dalam kediaman.


"Zhi Yuo bodoh.. apa rencananya ini akan berhasil? "Yan Yan menggerutu dalam hati.


.


.


.


"Sudah selesai! Ini rapih sekali!" Zhi Yuo kegirangan. Ia telah selesai berurusan dengan kotak hadiah milik Tuan Gu.


Yan Yan mengigit bibir bawahnya sendiri. Merasa khawatir juga cemas dengan rencana yang dibuat Zhi Yuo.


"Zhi Yuo, apa ini akan berhasil?"


Zhi Yuo berdecak, matanya melirik Yan Yan dengan pandangan malas. Sedetik kemudian ia mengibaskan tangan dengan nada kesal keluar dari mulutnya.


"Cerewet sekali sih! Ikuti saja alurnya!".


Yan Yan mendengus, " Lalu aku harus melakukan apa lagi?".


Ketika ditanya begitu, Zhi Yuo berpikir sebentar. Harusnya rencananya sudah rapih, tapi belum cukup bukti. Jadi, ia punya rencana yang tidak terduga.


"Kamu ingat rumah tabib yang kemarin malam mengobati Xie Jia? Bawalah kemari lewat pintu belakang, ada waktu dimana ia akan keluar,".


.


.


.


Rombongan Nyonya Fei sudah mendekat ke kediaman Tuan Gu.


Sambutan meriah dari sang suami sudah tampak di depan mata. Tuan Gu duduk di ruang keluarga dengan pakaian serapih mungkin. Niatnya adalah ingin membuat istrinya terkesima dengan penampilannya.


Tandu berhenti tepat di depan kediaman. Nyonya Fei turun dengan anggun. Pakaian mewah berwarna cerah khas bangsawan membaluti tubuhnya. Walaupun begitu ia terlihat seperti wanita dewasa yang sopan dan bijaksana.


Nyonya Fei menapakkan kakinya pada anak tangga memasuki Kediaman. Kedatangannya disambut hangat oleh Tuan Gu.


"Selamat datang, Fei," Tuan Gu menyunggingkan senyum hangatnya. Sementara Nyonya Fei menatapnya dengan dingin, tapi seketika ia mengembangkan senyuman tipis di bibirnya. Ia duduk di sebelah Tuan Gu.


Sambutan hari itu cukup meriah. Banyak pelayan yang menyiapkan makanan enak. Tuan Gu yakin, ia sudah memberikan yang terbaik untuk istrinya. Terlebih lagi kain mahal yang ia beli sudah ia persiapkan sebagai hadiah.


"Kau pasti lelah, makanlah sesuatu," Tuan Gu menawarkan dengan nada manis penuh kehangatan. Dijawab dengan senyuman saja dengan Nyonya Fei.


"Bagaimana denganmu? Kamu ingin minum teh? Biar aku buatkan," Nyonya Fei menawarkan.


"Ah.. Tidak usah, itu membuatmu kerepotan,"


"Tidak masalah, aku akan menyuruh Lin Mei membuatkannya untukmu. Kebetulan aku membawa serbuk teh yang terkenal enak dari luar kota,"


Nyonya Fei melambaikan tangannya ke arah Lin Mei yang berdiri tidak jauh dari mereka. Lin Mei merespon, dengan anggun ia mendekat pada Nyonya Fei dan Tuan Gu.


"Nyonya memanggil saya?"


"Tolong, buatkan teh hangat untuk suamiku. Oh,iya pakai serbuk teh yang sengaja ku bawa,"


Mendengar perintah dari Nyonya Fei, Lin Mei mengangguk, "Baik Nyonya,".


Tanpa Tuan Gu sadari, kedua wanita itu tengah menatap satu sama lain. Nyonya Fei memberikan tatapan penuh arti, seperti sebuah kode rahasia diantara mereka. Sedangkan Lin Mei mengangguk dengan senyuman sinisnya.


Lin Mei pergi dengan senandung kecil, sementara Nyonya Fei duduk dengan tenang dihiaskan obrolan kecil dengan suaminya.


"Sampai mana kita akan mengobrol sementara ajalmu semakin dekat, "


Zhi Yuo berdiri paling ujung diantara banyak kerumunan pelayan yang masih riuh menyiapkan makanan dan mengangkat barang-barang Nyonya Fei.


Sudut bibir Zhi Yuo terangkat, membentuk sebuah seringai kejam. Sekarang saat yang tepat baginya untuk menjalankan bidak catur.

__ADS_1


.


.


.


Lin Mei datang dengan tergesa-gesa. Tidak ada segelas teh di tangannya. Ia menghampiri Lin Mei tanpa sepengetahuan Tuan Gu.


"Nyonya.. bagaimana ini?" Lin Mei panik, walaupun begitu ia tetap mengecilkan suaranya.


Alis Nyonya Fei menekuk heran, "Ada apa?".


Lin Mei mengatur nafasnya, dengan segera ia mendekat pada Nyonya Fei dan berbisik di telinganya.


"Obatnya tidak ada!"


Ketika mendengar beberapa kata yang cukup mengejutkan itu, Nyonya Fei tersentak kaget. Bagaimana bisa obat itu tidak ada.


"Bagaimana bisa?!" Nyonya Fei membentak, namun ia masih mengontrol suaranya.


"S-saya meletakannya di lemari seperti biasa, tapi-"


"Fei, ada apa?"


Tuan Gu menyela dan itu membuat keduanya tersentak bersamaan. Lin Mei mundur dengan gugup sementara Nyonya Fei memberikan senyumannya walaupun hatinya sekarang tidak bisa dibilang tenang.


"Tidak, tidak ada apa-apa," Nyonya Fei menjawab dengan gelengan kepala.


"Hanya saja.. serbuk tehnya tidak dibawa.." Ia melanjutkan dengan nada lesu. Tidak, sebenarnya ia berbohong.


Tuan Gu terkekeh, "Kalau untuk hal seperti itu kamu tidak perlu sepanik itu Fei,"


Nyonya Fei mengangguk, ia tidak bisa berkata-kata lagi. Sementara ia memikirkan bagaimana rencananya pagi ini.


Zhi Yuo melihat semua itu dari kejauhan. Inilah saatnya. Dengan langkah perlahan ia menyusuri kerumunan para pelayan.


"Anda mungkin merasa kehilangan serbuk teh yang Anda bawa," Zhi Yuo berkata lantang di depan semua orang. Mata publik bertuju padanya, termasuk Nyonya Fei dan Tuan Gu.


Nyonya Fei menatapnya dengan bingung, "Maksudmu?".


Zhi Yuo berhenti tepat di depan pasangan suami istri itu. Sementara Tuan Gu menatap Zhi Yuo dengan pandangan mengingat-ingat. Bukankah ia adalah bocah yang dibeli beberapa hari yang lalu? Mengapa ia terlihat berbeda?.


Awalnya Zhi Yuo melirik Nyonya Fei dengan tajam. Tapi tak lama kemudian ia menghadap mereka dengan sempurna dengan senyum polos yang mengembang.


Zhi Yuo menunduk dengan kedua tangan yang ditangkupkan ke depan.


"Saya Zhi Yuo, pelayan baru di kediaman Tuan Gu menyambut kedatangan Nyonya Fei," Zhi Yuo memperkenalkan diri.


Nyonya Fei menanggapinya dalam diam. Melihat senyuman polosnya yang seakan-akan senang ketika menyambutnya itu membuatnya keheranan sekaligus waspada. Ada yang tidak beres dengan anak ini.


"Untuk serbuk teh yang Anda bawa dari luar kota..." Zhi Yuo menggantungkan kalimatnya dengan tangan merogoh saku pakaiannya.


Dengan seringai senang ia mengeluarkan sesuatu yang mana membuat semua orang terkejut.


"Serbuk tehnya benar-benar ada disini, silahkan jika anda ingin menyeduhnya untuk Tuan Gu~".


Nyonya Fei lantas berdiri, ia menatap Zhi Yuo dengan mata setajam elang.


"Apa-apaan ini?!" Nyonya Fei menggeram.


Zhi Yuo memiringkan kepalanya dengan senyuman yang belum juga pudar. Kemudian ia berkata dengan santai, tapi kata-kata itu membuat semua orang bagai dilanda mimpi buruk.


"Tapi untuk obatnya nanti dulu ya, kalau obatnya sudah selesai diperiksa Anda bisa mencampurkannya di dalam tehnya,"


.


.


.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2