
Zhi Yuo melihat para pendekar sakti itu masuk ke dalam penginapan. Mereka melangkahkan kaki ke lantai dua tempat dimana perkumpulan tiba-tiba ini berlangsung.
Salah satu di antara mereka menembus kerumunan dan menghampiri wanita yang masih tersungkur di tengah-tengah.
Wanita itu tidak berhenti menangis, sedangkan salah satu pendekar sakti itu menanyakan apa yang terjadi. Tiga di antara mereka mulai masuk ke dalam kamar wanita itu, mengecek apa yang menjadi sebab kericuhan.
Zhi Yuo memperhatikan di kerumunan paling depan. Ia melihat bagaimana pendekar itu berbicara dengan wanita yang ia interogasi. Wanita itu tidak dapat menjawab lebih banyak karena masih menangis.
"Harusnya tidak langsung ditanya begitu." Batin Zhi Yuo. Ia sudah sering menghadapi hal semacam ini. Jadi, ada kemungkinan wanita itu mengalami gangguan. Terlebih katanya desa ini sedang diganggu oleh makhluk halus.
ketiga pendekar yang berada di dalam ruangan berjalan ke luar. Mereka melapor bahwa tidak terjadi apapun di dalam.
"Mungkin nona hanya bermimpi buruk, kami tidak menemukan keanehan." Ujar salah satu dari mereka.
Alis Zhi Yuo mengernyit heran. Apakah benar begitu? Harusnya tidak begitu. Melihat bagaimana wanita itu menangis tersedu-sedu karena ketakutan hanya didasarkan pada mimpi belaka?.
"Dimana otak kalian? " Zhi Yuo geram sendiri. Ia ingin melihat sejauh mana gerak-gerik para pendekar sakti ini.
Mereka menghampiri pemilik penginapan dan mulai membicarakan sesuatu.
"Tidak ada apa-apa, kami pergi dulu. Mungkin nona ini terlalu kelelahan."
Pemilik penginapan sebenarnya juga tidak percaya, terlihat dari raut wajahnya. Tapi karena ia terlalu takut, ia tersenyum dan membiarkan para pendekar sakti itu pergi. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih.
Keempat pendekar itu hendak menembus kerumunan, sebelum akhirnya Zhi Yuo menghalangi langkah mereka.
"Permisi," Yang paling depan di antara mereka menegur Zhi Yuo.
Zhi Yuo memberikan tatapan tajam. Ia dapat melihat wajah mereka dari balik topi jerami itu. Ini dikarenakan tubuhnya yang lebih pendek dari mereka.
"Menginterogasi orang dengan cara yang salah, mengecek kamar kurang teliti, dan langsung pergi begitu saja tanpa ada tindakan. Kalian ini sakti atau bodoh?" Zhi Yuo berbisik dengan setiap ucapan tajam yang keluar dari mulutnya.
Tentu hanya pendekar yang paling depan yang hanya bisa mendengar itu. Alisnya menekuk tajam, ia melirik ke bawah untuk melihat wajah bocah kurang ajar Zhi Yuo.
"Jangan menghalangi langkahku, bocah!" Ia menggeram dengan marah.
Zhi Yuo terkekeh masam, "Geser saja tubuhmu sendiri."
Pendekar dengan barisan paling depan ingin sekali menghantam wajah bocah itu. Tapi aksinya tidak berlangsung saat temannya menepuk pundaknya dan membawanya pergi dari sana.
"Hei, tenanglah." Temannya berusaha untuk menenangkan.
"Mau bagaimanapun dia cuma bocah kecil, jangan dengarkan dia." Sambung yang lainnya.
Zhi Yuo dapat mendengar semua itu. Ia berdecih saat itu juga. Andai mereka tahu usia asli Zhi Yuo, pasti mereka sudah menelan semua kata-kata yang mereka ucapkan.
Menghela nafas untuk menahan emosi, Zhi Yuo menghampiri wanita yang masih terus menangis. Wanita itu terlihat kebingungan sekaligus ketakutan. Tidak ada yang menolongnya juga ia tidak tahu bagaimana caranya meminta pertolongan.
Zhi Yuo membungkuk, ia mengusap punggung wanita itu lalu memberikannya senyum tipis.
"Nona, anda baik-baik saja?" Suara Zhi Yuo selembut sutra, dan itu dapat membuat perasaan wanita yang tengah menangis menjadi sedikit tenang.
Mata wanita itu tertuju padanya. Air matanya perlahan mulai habis, ia berhenti untuk menangis.
Zhi Yuo beralih pada pemilik kediaman dan mulai melambaikan tangan.
"Pak, bisa bawakan segelas air?".
Pemilik kediaman mengangguk cepat, ia mulai berlari menuju lantai bawah untuk membawakan air untuk wanita itu. Tak lama kemudian ia kembali dengan segelas air di tangannya dan langsung diberikannya pada Zhi Yuo.
Zhi Yuo menyuruh wanita itu untuk tenang sekaligus meminum airnya dan langsung dituruti. Setelah dirasa sudah mulai tenang, Zhi Yuo mulai bertanya dengan perlahan.
"Nona, bisa beri tahu kami apa yang terjadi?".
Wanita itu terdiam, bibirnya bergetar ingin mengatakan sesuatu. Akhirnya ia berusaha untuk tenang dan mulai bicara walaupun agak terbata-bata.
"A-aku.. aku.. melihat sesuatu.. sesuatu di kamarku! B-besar.. hitam.. dan langsung pergi lewat jendela..! M-matanya.. merah menyala..!".
Zhi Yuo mengangguk beberapa kali, "Lalu?".
"Aku.. aku menjatuhkan kendi yang ada di atas meja lalu berlari ke luar... s-semuanya mulai menatapku.. aku--".
"Baiklah, sudah cukup. Pak, apakah anda boleh memindahkan wanita ini ke kamar lain?" Ujar Zhi Yuo. Ia menyudahi cerita wanita itu, terlihat ia sangat syok dan Zhi Yuo tidak boleh memaksanya. Yang penting adalah ia sudah mendapatkan sedikit informasi.
Pemilik penginapan terlihat sedikit gugup, "T-tapi tuan.."
Zhi Yuo tahu maksud pemilik penginapan itu. Ia memijit keningnya sendiri.
Zhi Yuo mendengus, "Aku akan bayar untuk dua kamar. Siapkan kamar yang lebih aman untuk nona ini."
Pemilik kamar mengangguk kaku. Ia menggapai tangan wanita itu dibantu dengan orang-orang yang ada disana.
"Dasar mata duitan! " Zhi Yuo membatin.
Yang terpenting sekarang bukanlah itu. Tapi tentang makhluk aneh yang diceritakan wanita itu tadi.
"Besar, hitam, matanya merah. Pergi melalui jendela kamar." Zhi Yuo terus-menerus memikirkan ciri-cirinya.
__ADS_1
Ia masuk ke dalam kamar wanita itu. Terlihat kosong melompong, sepertinya wanita itu menginap sendirian. Dilihatnya jendela kamar yang terbuka, tirai putih yang tergantung terlihat tertiup angin.
Zhi Yuo mendekat ke arah jendela, matanya melirik kesana-sini demi memastikan suasana aman. Dirasa tidak ada apapun, Zhi Yuo mulai memeriksa sekitar jendela. Dan ia mendapatkan sesuatu yang aneh.
"Apa ini?"
Di dahan jendela terlihat sebuah cetakan kaki. Ini terlihat seperti tanah hitam, dan berbentuk seperti sepasang kaki hewan. Dilihat dari bentuknya, hewan ini memiliki jari yang runcing, sedikit berselaput, dan berkuku tajam. Untuk ukuran, ini bahkan lebih besar dari ukuran tangannya.
Terlebih Zhi Yuo menghirup bau aneh. Ini seperti bukan bau hewan biasa, atau bau makhluk hidup lainnya.
"Sebenarnya iblis macam apa ini?"
.
.
.
Fajar menyingsing dari arah timur. Kicauan burung terdengar merdu pagi itu, saling bersahut-sahutan satu sama lain. Langit masih agak gelap, tapi sinar oranye mulai menyinari sedikit demi sedikit.
Zhi Yuo tengah berdiam diri sambil menikmati udara pagi. Ia duduk di dekat jendela penginapan, tepatnya di lantai paling bawah. Ia tidak mengurus kamar yang ia pesan sebelumnya, karena hari sudah pagi. Ia memutuskan untuk ke bawah, duduk di salah satu meja, dan menikmati udara pagi yang terbilang sejuk.
"Selamat pagi tuan, apakah tidur anda nyenyak?" Pemilik kediaman menyapa dengan ramah. Ia membawa cangkir berisi teh hijau yang dipesan oleh Zhi Yuo.
Zhi Yuo menoleh dengan pelan kemudian mengangguk sambil tersenyum tipis. Entah ia memang seorang pembohong handal atau memang ia sedang menyembunyikan sesuatu. Kantung mata Zhi Yuo yang menghitam terlihat jauh dari kata 'nyenyak' saat tidur. Ia kesulitan tidur karena memikirkan kejadian semalam.
Zhi Yuo memilih untuk mengangguk saja. Toh, urusannya akan panjang kalau dia bilang susah untuk tidur. Yang ada pemilik penginapan akan berpikir kalau dirinya tidak betah meningap disini.
"Ini tehnya tuan, selamat dinikmati." Pemilik penginapan menuangkan teh hijau ke dalam cangkirnya.
Zhi Yuo tersenyum, "Terimakasih."
Pemilik penginapan membalas senyumnya dan pergi meninggalkan Zhi Yuo sendirian. Zhi Yuo masih termenung, dirinya terlalu mengantuk tapi otaknya terus berjalan. Ia terus saja memikirkan kejadian semalam. Sebenarnya iblis apa yang memiliki bentuk kaki seperti hewan.
Tiba-tiba ia jadi kepikiran soal wanita itu. Wanita yang menangis karena saking kagetnya. Bagaimana keadaannya sekarang?.
"Permisi tuan, apakah anda yang tadi malam?"
Sebuah suara mengagetkannya. Zhi Yuo tersentak sedikit, kemudian menoleh ke arah sumber suara.
Wanita yang berada di dalam kerumunan tadi malam berdiri tak jauh darinya. Wanita itu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga menggunakan jemarinya. Ia menatap Zhi Yuo dengan ragu, sementara yang ditatap melambaikan tangannya.
"Tentu saja nona. Ada apa?" Zhi Yuo bertanya.
Wanita itu menghampiri Zhi Yuo dan menyodorkan tangannya seakan mengajak berkenalan.
Zhi Yuo terdiam sebentar berusaha untuk mencerna sesuatu. Ia kemudian menggapai tangan perempuan itu.
"Aku Zhi Yuo." Zhi Yuo memperkenalkan namanya.
"Berapa usiamu tuan? Kamu terlihat lebih muda dariku." Ujar wanita yang dikenal dengan nama An Ning itu.
"Aku 16 tahun, bagaimana dengan anda?" Zhi Yuo bertanya balik.
"Ah, pantas kau lebih muda dariku. Aku 19 tahun."
Zhi Yuo mengangguk, ia rasa sudah cukup untuk perkenalan. An Ning duduk di hadapannya hingga Zhi Yuo menawarkan teh hijau, tapi An Ning menolaknya.
Lama mereka terdiam, tidak ada percakapan di antara mereka. Sampai akhirnya An Ning membuka pembicaraan.
"Itu... Terimakasih atas bantuannya tadi malam. Mungkin aku belum bisa tenang kalau kamu tidak datang."
Zhi Yuo mengulas senyum tipis, "Bukan masalah besar untukku."
"Lagipula saya ingin menanyakan lebih lanjut tentang makhluk yang anda lihat tadi malam. Apa anda bisa mengingat ciri-cirinya dengan jelas?" Zhi Yuo mulai menginterogasi lebih jauh. Ia bertingkah sedikit formal, karena orang di hadapannya berusia lebih tua darinya meskipun hanya berjarak 3 tahun.
An Ning menghela nafas berat, ia masih trauma dengan apa yang dirinya alami semalam. Tapi ia mencoba untuk tenang dan memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Zhi Yuo.
"Aku pendatang baru di desa ini, jadi aku tidak begitu mengenal apa yang terjadi disini. Orang-orang membicarakan tentang makhluk halus yang berkeliaran hingga meresahkan warga. Tapi aku tidak percaya dengan semua cerita itu dan memutuskan untuk menginap disini dalam waktu semalam."
An Ning mengambil nafas dengan perlahan kemudian mulai melanjutkan ceritanya lagi.
"Saat malam tiba dan aku mencoba untuk tidur, ada sesuatu seperti benda berat menabrak jendela kamar. Aku pergi untuk memeriksanya, ternyata tidak ada apa-apa disana. Ketika aku memutuskan untuk memejamkan mata, Tiba-tiba saja ada sebuah suara... suara geraman hewan buas...".
Suara An Ning tiba-tiba saja terdengar bergetar. Ia menutup mulutnya sendiri dengan mata melotot ketakutan. Walaupun begitu ia tetap bercerita sampai akhir.
"Karena itu aku memberanikan diri untuk melihat ke arah jendela kamar. Aku melihatnya.. a-aku melihat makhluk besar bertubuh hitam berdiri di dahan jendela. Tuhuhnya besar, itu terlihat seperti manusia yang memiliki sayap lebar..!".
Setelah mendengar semua cerita itu, Zhi Yuo jadi menemukan hal yang cukup janggal dari makhluk ini.
Seperti manusia, tubuhnya menghitam, juga memiliki sayap yang cukup lebar.
Sebenarnya makhluk apa itu? Ini menjadi kasus yang baru untuk Zhi Yuo. Selama hidupnya dulu, ia sering membunuh banyak makhluk-makhluk berbentuk aneh. Tapi baru kali ini ia menemukan yang seperti manusia dengan sayap.
Zhi Yuo mengangguk, ia menyudahkan percakapan mereka. Karena sepertinya An Ning sudah tidak bisa menahan rasa takutnya. Yang terpenting sekarang Zhi Yuo memiliki informasi lebih.
"Mau tidak mau aku harus mencari tahu sendiri tentang makhluk ini.. " Ucap Zhi Yuo dalam hati.
__ADS_1
Ia mengulas senyum pada An Ning, "Terimakasih sudah memberitahuku tentang ciri-ciri makhluk itu."
An Ning meng'iyakan. Sebenarnya ia sedikit penasaran mengapa Zhi Yuo terlalu antusias dengan kejadian semalam.
"Apakah kamu seorang pendekar juga?" An Ning akhirnya bertanya.
Ketika mendengar itu, Zhi Yuo berdeham pelan. Ia memalingkan pandangannya dari An Ning dan menjawab dengan bergumam.
"Ya, bisa dibilang begitu."
"Tapi kamu masih terlalu muda untuk itu, jadi aku agak kurang percaya." Bantah An Ning.
Zhi Yuo melirik ke arah An Ning. Ketika mendengar pendapat An Ning bahwa wanita itu tidak percaya padanya, dengusan malas keluar dari mulutnya saat itu juga.
"Hei, nak. Aku adalah seorang kultivator yang bahkan sudah mati sejak lama. Kalau dibilang aku kurang pengalaman karena masih terlalu muda, itu salah besar. " Batin Zhi Yuo.
Tawa ringan keluar dari mulut Zhi Yuo. Ia meneguk teh hijau terakhirnya sampai tandas dan mulai bangkit untuk segera pergi dari sana.
"Terimakasih atas waktunya nona, aku ingin melanjutkan perjalanan." Zhi Yuo mengembangkan senyuman termanisnya.
Mata An Ning berkedip beberapa kali, "Mau langsung pergi? Apa kita bisa bertemu lagi lain waktu?".
Zhi Yuo menoleh ke belakang, ia terkekeh lalu melambaikan tangan.
" Yah, kapan lagi bertemu dengan wanita secantik dirimu."
Wajah An Ning memerah bagai tomat ketika Zhi Yuo mengatakan itu. Sang pelaku yang telah berhasil menggoda wanita yang baru ia temui itu terkekeh jahil. Ternyata sifatnya tidak banyak berubah dari dirinya yang dulu.
Zhi Yuo memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan mencari tempat tinggal sementara untuk melatih kultivasinya. Sebelum itu ia membayar penginapan untuk dua kamar yang sudah ia janjikan pada pemilik penginapan.
Barulah ia bisa melanjutkan perjalanan dengan tenang.
.
.
.
Aktivitas di pasar berjalan seperti biasa. Hari ini pun banyak pengunjung yang berlalu-lalang untuk berbelanja. Pasar yang cukup luas ini begitu membuat Zhi Yuo kesusahan mencari jalan keluar dari sana. Sebelum ia ingin bertanya pada seseorang dimana jalan keluar dari pasar, tiba-tiba saja terdengar keributan.
"Hah.. pagi-pagi sudah ada keributan." Zhi Yuo melenguh. Ia penasaran apa yang sedang terjadi.
Kerumunan di hadapannya tidak dapat dihindari. Zhi Yuo jadi harus berdiri di paling belakang. Ini juga memiliki keuntungan dimana ia bisa mendengarkan desas-desus banyak orang mengenai masalah yang sedang terjadi.
"Hei, apa kau lihat anak yang disebelah sana? Kelihatannya sedang berkelahi." Bisik salah satu warga dengan rekannya yang berada disebelahnya.
"Oh, aku sepertinya kenal dengan anak itu. Dia keponakannya penjual acar itu kan? Kenapa bisa berkelahi?" Rekannya bertanya balik. Gosip-gosip pun mulai bertebaran.
"Anak itu memang suka berkelahi, anaknya terbilang nakal dan sulit diatur. Aku jadi kasihan dengan bibinya yang menanggung malu atas perbuatannya." Jawab yang lain, terdengar ia menyambung obrolan.
Zhi Yuo tidak paham dengan bisik-bisikkan manusia yang berada di sekitarnya. Ia ingin mencari tahu sendiri siapa anak kecil yang mereka maksud.
"Permisi, boleh aku lewat?" Zhi Yuo menyingkirkan kerumunan. Mereka tidak merasa terganggu dengan sikapnya dan memberinya jalan untuk masuk ke dalam.
Zhi Yuo hampir sampai di barisan paling depan kerumunan. Tapi ia tidak sampai disana karena dari posisinya sekarang saja sudah kelihatan apa yang jadi penyebab keributan.
"Hei, nak! Sudah hentikan!"
"Astaga! Dia berdarah! Dia berdarah!"
"Seseorang! Tolong bocah itu!"
Teriakkan warga terdengar bersahut-sahutan. Di antara teriakkan yang menggema itu, seorang bocah bertubuh kecil dan kurus tengah melayangkan tinju terakhirnya.
Lawannya pun jatuh tersungkur di tanah. Orang-orang menjerit saat itu juga karena panik, berbeda dengan Zhi Yuo yang masih terdiam dan fokus untuk melihat wajah bocah itu.
"Tangkap bocah itu! Laporkan dia!" Teriak salah satu warga diikuti oleh yang lainnya.
Tepat setelah para warga mulai mendekat untuk menangkapnya, bocah itu memalingkan wajahnya ke arah Zhi Yuo.
Pandangan mereka bertemu seketika. Manik coklat tenang milik Zhi Yuo bertemu dengan manik segelap malam yang memandangnya dengan tajam. Tersirat emosi yang menggebu dari sana.
Zhi Yuo dapat melihat wajahnya dengan jelas. Bocah itu masih terlalu kecil. Mungkin umurnya masih sekitar 12 tahun, seumuran dengan Xie Jia.
Luka gores di wajahnya terlihat jelas. Itu menunjukan ia baru saja bertarung sampai terluka parah. Lawannya saja sudah pingsan, tapi dia masih berdiri tegak.
Zhi Yuo memiringkan kepalanya dengan perasaan bingung sekaligus takjub.
"Wah, dia menang dalam bertarung dengan tubuh sekecil itu."
Sebenarnya siapa bocah itu?.
.
.
.
__ADS_1
-Bersambung-