Legenda Pedang Bulan

Legenda Pedang Bulan
Hutan Perbatasan


__ADS_3

"Oho~ apa ini?" Zhi Yuo terkekeh, rasa penasarannya semakin menjadi-jadi. Kakinya melangkah satu tapak ke arah hutan, sementara Shu Cao menatapnya dengan tubuh membeku dari belakang.


"Kau memang gila ya! Jangan ke sana!" Shu Cao berbisik, berusaha untuk memanggil Zhi Yuo yang bahkan tidak mendengarnya sama sekali.


"Oh, ayolah~" Zhi Yuo mendengus, kemudian dia beralih pada Shu Cao dan meliriknya dengan senyum mematikan.


"Waktunya menantang diri sendiri."


Suara burung bersahut-sahutan, suara serangga juga semakin berisik. Dedaunan makin lebat, hingga sinar matahari tidak lagi nampak, tambah membutakan mata.


Shu Cao hampir tersandung akar pohon beberapa kali. Sekarang ia mengambil langkah lebih lebar agar bisa menjaga diri. Sementara Zhi Yuo bahkan berjalan sangat santai, dan itu membuat Shu Cao keheranan bukan main.


Tiba-tiba saja tepat di tengah hutan, Zhi Yuo menghentikan langkahnya. Kening Shu Cao mengkerut, dengan penasaran ia bertanya.


"Ada apa? Kenapa berhenti?".


Shu Cao bahkan tidak mendengar balasan, yang ia dapatkan adalah...


"Ssstt..!" Zhi Yuo memberikan isyarat untuk diam.


Shu Cao tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia menatap Zhi Yuo yang sekarang sedang menoleh kesana-kemari dengan pandangan mencurigakan. Seketika bulu kuduk Shu Cao berdiri.


"Hei.. ada apa?" Shu Cao bertanya lagi, kali ini lebih berhati-hati karena ia lebih merinding.


Zhi Yuo lekas menatapnya dengan tajam, dengan suara pelan namun menusuk ia memperingati Shu Cao.


"Tutup telingamu, cepat."


Shu Cao tambah tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia malah menatap Zhi Yuo dengan pandangan ketakutan.


"Kau...! Jangan main-main denganku! Katakan saja, sebenarnya ada apa?!" Bentak Shu Cao.


"Cepatlah, tutup telingamu." Zhi Yuo tetap memperingatinya.


Seluruh tubuh Shu Cao gemetar hebat. Dengan tangan yang sudah berkeringat dingin, ia mengangkatnya sampai ke telinga, menutup kedua telinganya itu rapat-rapat sesuai apa yang diperintahkan Zhi Yuo.


Angin dingin tiba-tiba saja menerpa. Sekelebat bayangan hitam lewat di hadapannya. Shu Cao tidak dapat melihat apa yang terjadi, tapi ia bisa mendengar tiupan angin dingin yang membentur telinganya. Untungnya sekarang sudah tertutup oleh tangannya.


Bisik-bisikkan yang hampir tidak terdengar mengalun di telinganya. Itu seperti suara sekumpulan orang, rasanya ia seperti berada di keramaian. Suara berbisik itu makin kuat, Shu Cao hampir saja melepaskan kedua tangannya dari telinga. Entah mengapa, di antara bisik-bisikkan itu ada kata-kata penghasut. Entah untuk menyuruhnya membunuh, menyerah, ataupun bunuh diri.


Keringat dingin mengucur di kening Shu Cao. Seluruh tubuhnya seakan tidak memiliki tenaga lagi. Semakin erat ia menutup telinga maka semakin keras bisikkan itu terdengar.


Zhi Yuo menatap pemandangan itu dengan pandangan dingin. Ia melihat sekujur tubuh Shu Cao, bayangan hitam tampak mengelilinginya dengan bisik-bisikkan penghasut andalan mereka. Jumlahnya pun semakin banyak, mereka tahu bahwa Shu Cao sedang ketakutan saat ini.


Zhi Yuo menghela nafas kasar, "Merepotkan."

__ADS_1


Dengan sekali tindakan, ia menarik gagang pedangnya hingga menimbulkan suara denting ringan. Tiba-tiba saja suasana menjadi senyap.


Zhi Yuo terus menarik pedangnya sampai setengahnya, kemudian bayangan-bayangan itu pergi menjauh dari sana meninggalkan Shu Cao.


Merasa keadaan sudah aman, Zhi Yuo memasukkan kembali pedangnya lalu menepuk pundak Shu Cao untuk menyadarkan bocah itu.


"Keadaan aman, sadarlah."


Shu Cao tersentak. Ia menoleh dengan cepat ke kanan-kiri, menatap telapak tangannya yang berkeringat. Sekujur tubuhnya yang semula kaku kembali seperti semula. Dengan nafas terengah-engah ia masih berpikir, apa yang sedang terjadi padanya.


Dengan ketakutan Shu Cao bertanya, "A-apa itu tadi?".


Zhi Yuo mengendikkan pundak lalu menjawab dengan santai, "Roh anak."


"Hah?".


Merasa Shu Cao tidak mengerti apa yang ia maksud, akhirnya Zhi Yuo mencoba untuk menjelaskan.


"Roh anak, mereka adalah gerombolan makhluk halus yang memiliki kemampuan untuk menghasut manusia melakukan perbuatan buruk. Tapi walaupun begitu mereka tetaplah yang paling lemah dari semua tingkatan makhluk halus. Jika kita berani dan menghiraukan semua hasutannya, mereka akan pergi karena ketakutan."


Shu Cao hanya bisa melongo ketika mendengarnya. Jadi yang tadi itu adalah roh anak? Sepertinya ia pernah mendengar itu dari dongeng yang sering bibinya ceritakan. Ia pikir itu cuma sekedar cerita karangan. Tapi tak disangka, itu benar-benar ada.


"Sial, mengingatnya saja sudah membuatku merinding..." Shu Cao membatin.


Zhi Yuo mengibaskan tangannya dengan tawa ringan, "Sudahlah, lebih baik kita istirahat sebentar."


"Kau tunggulah di sini, aku akan mencari buah-buahan." Zhi Yuo berbalik, meninggalkan Shu Cao.


"Ingat, jangan terpengaruh." Pesannya sebelum pergi menjauh.


"Hmm... Ying Tao ini sudah masak, lebih baik ambil beberapa." Gumam Zhi Yuo. Jemarinya asik memetik juga memilah buah Ying tao yang sudah masak, kemudian menyimpannya di balik telapak tangan.


"Di sebelah sana ada buah Yangmei, apakah musim ini sudah matang semua?".


Suara gemersik semak-semak terdengar di belakangnya. Zhi Yuo menoleh dengan cepat, dan yang ia dapati adalah Shu Cao. Bocah itu berdiri di balik semak-semak dengan kepala menunduk. Diam di antara mereka sampai akhirnya Zhi Yuo bertanya duluan.


"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah aku menyuruhmu untuk menunggu?".


Tidak ada jawaban dari Shu Cao, dan itu membuat Zhi Yuo membiarkannya untuk sementara. Mungkin bocah itu ingin membantunya.


"Hei, daripada terus diam di situ, lebih baik membantuku mencari--"


Ucapan Zhi Yuo terpotong sesaat ketika Shu Cao mendekatinya dengan kecepatan tinggi. Tangan bocah itu memegang sebuah batu besar melebihi telapak tangannya. Dengan pandangan kosong, ia berucap dengan dingin.


"Mati."

__ADS_1


Batu di tangannya hendak mengenai kepala Zhi Yuo. Tapi Zhi Yuo memiliki refleks yang tinggi sehingga ia bisa membaca pergerakan Shu Cao barusan.


Hela nafas keluar dari mulut Zhi Yuo, "Sudah ku bilang kan?".


Zhi Yuo melesat ke arah Shu Cao, dengan cepat ia mencekik leher bocah itu sampai Shu Cao terbatuk beberapa kali.


"Jangan terpengaruh." Lanjutnya.


Suara batuk Shu Cao makin tidak mereda, ia memukul pergelangan tangan Zhi Yuo yang masih saja mencekiknya.


Zhi Yuo memiringkan kepalanya, "Hm? Sudah sadar?".


Zhi Yuo melepaskan Shu Cao begitu saja sampai ada suara jatuh yang cukup keras. Shu Cao meringis, bangkit sambil mengusap pinggangnya yang terasa kram karena terbentur.


Dengan bingung Shu Cao bertanya, "Sebenarnya... apa yang terjadi?".


Zhi Yuo terkekeh, ia lekas menjawab, "Kamu terpengaruh oleh roh anak. Hampir saja membunuhku."


Shu Cao yang mendengar itu terkejut bukan main. Ia semakin merinding sekarang.


"Tapi... bagaimana caranya kita bisa tahu kalau ada mereka di sekeliling kita?".


Zhi Yuo mengelus dagunya, ia membuat-buat wajahnya seakan tidak tahu apapun. Tapi sedetik kemudian ia menunjuk ke atas.


"Mudah saja, mereka dapat dilihat apalagi di tempat seperti ini."


Shu Cao refleks melihat ke atas, arah jari Zhi Yuo menunjuk. Dan ternyata banyak sekali bayangan yang berkelebatan, terbang di sekitar mereka. Bulu kuduk Shu Cao tambah berdiri, rasanya ia akan pingsan seketika.


"Anggap saja ini ujian pertama mu, bocah." Zhi Yuo menyeringai, dan itu tambah menakut-nakuti Shu Cao.


Pepohonan rindang banyak membantu siang itu. Sinar matahari masuk melewati rongga-rongga daun. Zhi Yuo melahap buah-buahan yang telah ia petik, begitu pula dengan Shu Cao. Walaupun ia masih shock dengan apa yang ia alami, itu bukan berarti ia tidak memiliki tenaga untuk makan.


"Apa yang barusan kau maksud?" Shu Cao bertanya. Zhi Yuo membalasnya dengan dehaman karena ia kurang paham.


"Kau bilang ini ujian pertama untukku, maksudmu apa?" Shu Cao bertanya lagi, kali ini lebih jelas.


Zhi Yuo mengusap batang hidungnya, dengan santai ia berkata, "Sebenarnya aku ingin melatihmu. Harusnya kamu tahu ujian tahap pertama itu apa. Lagi pula kamu itu punya bakat bertarung."


Shu Cao mengernyitkan alisnya, "Hah?".


Zhi Yuo tertawa ringan melihat bocah itu merasa kebingungan. Ia bangkit kemudian berdiri di hadapan Shu Cao.


"Mulai sekarang aku adalah guru mu."


-Bersambung-

__ADS_1


Halo semua, maaf jika chapter ini agak sedikit ya. Ini dikarenakan kondisi author yang kurang sehat juga jadwal sekolah yang padat, jadi agak ngedown, hehe. Semoga aja besok bisa up dengan chapter lebih panjang. Mohon doanya ya☺❤


__ADS_2