Legenda Pendekar Timur

Legenda Pendekar Timur
CH. 14- Keluarga satu satunya


__ADS_3

Syut! syut syut!


Tongkat emas mengecil sehingga pusaran air yang di tahannya menghilang seketika.


"Raja kera?..."


Fei Yu melihat sekali lagi di mana letak pusaran air berada, akan tetapi reruntuhan maupun pusaran air semuanya menghilang begitu saja.


"Kakak, dimana kau simpan ke empat kitab pemberian Raja kera itu?"


Fei Yu menyadari kitab yang di berikan Raja kera tidak terlihat saat mereka tiba.


"Akupun tidak tahu Yu'er tadinya ada di... Dimana tongkat emas yang baru menyusut tadi dia di..."


Tongkat emas Raja kera juga menghilang begitu saja seakan akan di telan bumi.


Yen Huo dan Fei Yu mencari ke segala arah sekitar sungai dengan sangat teliti khawatir seseorang mendapatkan kitab pemberian itu.


"Yu'er sudah lebih tiga jam aku tidak melihat keberadaan kitab itu, aisss pasti itu ulah Tongkat emas itu..."


"Apa dia punya pemikiran sendiri kakak! Mungkin dia hanya takluk pada Raja kera, apa mungkin dia kabur membawa ke empat kitab itu"


"Apa? bagai mana bisa. Yu'er kalau orang lain mendapatkan kitab kitab itu...


Habislah kesempatan kita sudah hilang"


Yen Huo sedikit menyesal tidak menyimpan barang pemberian orang lain dengan hati hati.


"Huo'er, Yu'er di mana saja kalian berdua?"


Seseorang berteriak menyebutkan nama Yen Huo dan Fei Yu.


"Kakek Thay Huo'er dan Yu'er ada di sini..."


Warga desa meneriakkannya kepada Thay Chung.


"Huo'er, Yu'er dari mana saja kalian sudah lebih delapan jam tidak pulang pulang... "


Seorang wanita muda yang cukup familiar di mata Yen Huo dan Fei Yu.


"Bibi Jiang Lan? "


Jiang lan lebih dikenal warga desa sebagai anak yang dari lahirnya sudah di tinggal kedua orang tuannya sehingga dia hidup sendiri,


Jiang lan sangat akrab dengan Thay Chung bahkan Jiang lan sudah mengganggap Thay Chung Ayahnya begitu juga sebaliknya Thay Chung menganggap Jiang lan putrinya


Jiang lan juga sudah menganggap Yen Huo dan Fei Yu sebagai keponakannya sendiri, selain sering bermain bersama saat Yen Huo dan Fei Yu masih kecil, dia juga sering memberikan makan pada keluarga Thay Chung.


"Huo'er, Yu'er dari mana saja kalian, bibi sangat mengkhawatirkan kalian berdua begitu juga Ayah angkat, hiks!hiks..."


Jiang lan berlari Langsung memeluk kedua keponakannya itu.


"Bibi.. bibi jangan nangis lagi...


Lihat kami baik baik saja, bibi sudah tenangkan dirimu"


Yen Huo menenangkan Jiang lan melihat kepedulian besar yang dia utarakan membuat kedua anak ini sangat tersentuh.


"Hiks! hiks!, apa benar kalian tidak apa apa Yu'er apa kau terluka..."Tanya Jiang lan


"Tidak sedikitpun bibi Lan sungguh!"


Fei Yu tersenyum hangat pada bibi nya Jiang lan.


"Bibiii? apa kau tidak mau bertanya mengenai keponakan mu yang satu ini!"


"Huo'er, apa kau baik baik saja dimana yang sakit biar bibi obati?"


"Aduuhh bibi perutku sangat sakit aku tidak kuat lagi..."


Yen Huo berguling guling sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


"Perutmu kenapa apa sakit Huo'er? jangan membuat bibi bingung..."


"Bibiiii aku tidak kuat lagi, perut ku sangat! Sangat! Sangat kosong hingga ingin memakan masakan bibi! Wahahahahh!"


"Dasar anak nakal, beraninya mempermainkan bibi mu ini..."


Jiang lan memukul pantat Yen Huo dengan ranting kayu.


"Bibii sungguh Huo sangat lapar sudah lebih delapan jam berlatih disini tidak terasa perutku sangat ke laparan, hiks hiks!, apa bibi tega melihat keponakan mu ini kelaparan? "


Yen Huo memasang wajah sedih.


"Apa dia masih membohongi bibi Yu'er? Kalau dia masih berani bibi tidak akan memasakkan makanan untuknya hanya untuk Yu'er sendiri"


Jiang lan memberi isyarat dengan kedipan matannya.


"Sungguh bibii aku tidak berbohong


Huawaaaaaa!"


Yen Huo berpura pura menangis dan seketika dia pingsan.


"Ehhh, apa Huo'er sungguhan dia memang kelaparan sampai pingsan,Huo'er jangan membuat bibi bingung bangunlah!"


Sekarang Jiang lan berhasil di tipu Yen Huo dengan pura pura pingsan.


"Bibi Jiang ada yang ingin aku katakan!"


"....Ada apa Yu'er"


Jiang lan berbisik pelan di kuping Fei Yu.


"Apa? Mmmmmmmm, dasar anak sialan, ststststtstststststst!, oke Yu'er"


"Baik bibi lan"


Fei Yu mengangkat Jempol nya.


"Yu'er kepala bibi sangat pusing apa kau bisa membantu bibi lan berjalan pulang, aku rasa penyakit bibi kambuh lagi... Tabib desa mengatakan umur bibi hanya tinggal beberapa hari lagi, uhuk! uhuk!"Jiang lan batuk darah.


"Bibi apa kau tidak apa apa jangan membuat Huo'er khawatir bi?"


Yen Huo seketika melompat dengan cepat mendekati Jiang lan.


"Huo'er kenapa kau bisa bangun bukannya kau pingsan, tidak memiliki tenaga lagi untuk berdiri... Uhuk! uhuk!"


"Maaf kan Huo'er bibi, jangan pedulikan tentang itu aku akan membawa bibi pulang kerumah dengan selamat!"


Yen Huo merasa bersalah melihat keadaan Jiang lan batuk darah akibat penyakit nya kambuh kembali.


"Uuhukkkk! Uhuuukkk!


Dasar anak nakal sudah berapa kali kau membohongi bibi mu yang lugu ini! "


Jiang lan tiba tiba berdiri dan menarik telinga Yen Huo.


"Aduh aduhhh, bibi jangan menariknya dengan keras nanti kupingku bisa putus"


"Apa bibi peduli, tidak! bibi akan menarik kupingmu semakin kuat kau memberontak, heh!"


"Baik baik bibi Huo'er tidak akan mengulangi hal ini lagi, tapi aku memang sangat khawatir pada bibi, hiks hiks tapi bibi setega ini pada ku!"


"Bibi lan kak Huo hari sudah gelap berhenti bercanda kakek pasti sangat cemas melihat kita belum kembali!"


"Ehhhh, maafkan bibi, sampai sampai tidak melihat hari sudah gelap, ohh ya jarak desa sangat jauh dari tempat ini,bagai mana caranya agar kita bisa sampai ke desa dengan cepat..."


Jiang lan sangat khawatir pada ayah angkatnya Thay Chung yang sudah menunggu sangat lama.


"Tidak perlu kawatir bibi lan ,karna solusi nya ada pada kakak!"


"Huo'er? , apa yang bisa di lakukan anak nakal ini?" Jiang lan memandang sinis ke arah Yen Huo.

__ADS_1


"Eheheh bibi jangan meremehkan keponakanmu ini...


ohh ya apa yang bisa aku lakukan Yu'er?"


Fei Yu memukul kepalanya ketiga kalinya


dalam sehari ini.


"Aiisss kakak kakak!, apa kau lupa cara dirimu tadinya bisa berjalan di bawah sungai dengan aman?..."


"Maaf Yu'er, biasalah kakak sangat pelupa mengenai hal ini, tapi apa yang bisa aku lakukan? untuk mempercepat perjalanan kita"


"Tunggu sebentar kakak biar kupikirkan dahulu"


Fei Yu berjalan ke arah batang pohon pisang yang sudah tergeletak di tanah"


"Kakak seperti cara tadi coba lakukan dengan baik..."


"Baik baik Yu'er kakak coba dulu"


Yen Huo mengumpulkan energi alami angin yang membuat batang pohon pisang melayang di udara


"Apa itu bibi sangat takut Huo'er, kenapa batang pisang itu bisa melayang, hiiiih! menyeramkan sekali!"Bulu kaki dan tangan Jiang lan segera berdiri melihat ke anehan yang sedang terjadi


"Bibi lan jangan khawatir ini salah satu hasil percobaan latihan yang ku lakuan,


bibi lan silahkan naiklah terlebih dahulu"


Jiang lan naik paling belakang, dia duduk di batang pisang paling belakang sambil memegang pundak Fei Yu agar tidak terjatuh.


"Bersiap lah bibi, kita akan terbang, hahahha!"


Yen Huo tertawa puas.


Yen Huo mengemudikan pohon pisang dengan bantuan pusaran angin yang memutari mereka sehingga pohon pisang itu bisa terbang setinggi Tigameter diatas tanah dengan kecepatan yang cukup cepat.


"Wahhh bibi lan sangat bangga padamu Huo'er sekarang kau bahkan bisa mengendalikan angin untuk menerbangkan batang pisang ini, Huo'er pelan sedikit bibi mau melihat bintang bintang dan bulan yang indah di atas sini"


Jiang lan menunjuk bintang bintang dan bulan di langit malam.


"Sesuai permintaan bibi tersayang..."


Yen Huo mengatur angin yang memutari mereka agar berhenti di tempat itu.


"Huo'er, Yu'er apa kalian pernah ingin sekali melihat wajah ayah dan ibu kalian sekali saja?


Bibi sangat tidak seberuntung kalian bisa memiliki saudara dan kakek yang sangat baik yang menyayangi kalian berdua, jujur bibi sedikit iri dengan kalian" Jiang lan memandang kearah Yen Huo dan Fei Yu dengan tatapan mata berkaca kaca.


"Bibi jangan pikirkan hal itu, selagi aku masih hidup bibi adalah keluarga kami satu satunya, jadi bibi lan jangan bersedih begitu kami jadi tidak enak pada bibi"Fei Yu angkat bicara melihat kesedihan mendalam yang dialami bibinya Jiang lan


"Terima kasih Yu'er kamu memang anak yang pengertian dan pintar dalam kata kata yang baik"


"Ohh ya bibi, Huo'er hanya ingin meminta satu hal pada bibi lan, supaya tinggal beberapa hari di rumah kakek! Apa bibi mau?,


sekarang kami adalah murid sekte Gunung bambu,sehingga kami tidak bisa lagi bebas dan membantu kakek menghantar makanan keladang maupun membantu kakek meredakan sakit badannya kadang kala, jadi bibi kumohon agar bibi sesekali mau menolong kakek kalau dia sedang tidak enak badan!"


"Bibi mau saja karena bibi sendiri sudah menganggap Kakek kalian seperti ayah begitu juga kakek kalian sudah menganggap bibi sebagi putri nya,pasti bibi akan membantu kakek kalian..."


Jiang lan tersenyum ke arah Yen Huo dan Fei Yu, senyum yang menunjukkan kepolosannya membuat hati siapapun bisa berdetak semakin kencang.


"Bibi kita sudah mau sampai sebaiknya kita turun 100 meter sebelum sampai ke gerbang desa ,aku khawatir orang lain mencurigai kita!"


"Baiklah,Terserah dirimu Huo'er bibi ikut kalian saja!"


Yen Huo mendarat kan batang pohon pisang sekitar 100 meter dari gerbang desa...


"Ayo cepat ,bibi akan masak makanan kesukaan kalian berdua!"


Jiang lan menarik kedua tangan kakak beradik ini setelah mendarat di tanah.


Seketika Seseorang muncul dari kegelapan malam seakan akan dia sudah melihat dan mengintai rombongan Yen Huo Barusan...

__ADS_1


__ADS_2