Legenda Pendekar Timur

Legenda Pendekar Timur
4 - Berhasil Menjadi Seorang Pendekar


__ADS_3

Dia mulai berkultivasi untuk meningkatkan tingkatnya. Dia sebenarnya agak mengingat sedikit tentang cara berkultivasi. Semua ingatannya kali ini berbeda dia mengingat tentang sejarah terciptanya beladiri. Dia hanya mematuhi apa yang dijelaskan oleh Dewa Zhou tadi.


Boom....


Tak lama ia berkultivasi, tiba tiba terdengar suara ledakan dari dirinya. Xian Feng yang menyadari itu, dia membuka dan melihat sekelilingnya. Dia merasakan aliran IQ dari tubuhnya, dia kembali berkultivasi dan saat itu dia merasakan tubuhnya ingin meledak. Meskipun dia berkultivasi, dia merasakan sakit yang luar biasa dari tubuhnya.


Akhirnya setelah beberapa jam, sakit di dalam tubuhnya dan semua kultivasinya menurun, dantiannya yang tadinya ingin meledak, sekarang sudah berhenti dan sepertinya dia telah mencapai Tahap Bintang 5. Yah, bakat yang luar biasa, dia sudah menerobos tahap Bintang 5 pada awal berkultivasi.


Tiba-tiba.....


Pedang yang tadinya mengelilingi Xian Feng seketika mengeluarkan kitab yang secara langsung masuk ke otak Xian Feng dan memahaminya, ya! itu adalah salah satu bakat dari Dewa Zhou yaitu penghafalan yang cepat dengan sekali lihat.


Dan salah satu kemampuan dari Pedang 7 Warna adalah mampu menyembunyikan dirinya kepada orang yang dituju. Contohnya sepeti : Pedang itu ingin mengeluarkan kitabnya kepada semua orang, kecuali Xian Feng. Maka dari itu hanya Xian Feng yang bisa melihatnya.


"Apa ini? Pedang Tujuh Warna? apakah ini pedang Dewa Zhou?" Tanya dari Xian Feng tak dijawab oleh siapapun, pedang yang ada didepannya mengangguk seperti benar itu adalah pedang dari Dewa Zhou. Dalam kitab pedang itu, Dewa Zhou adalah dewa perang, dia memiliki pedang yang sangat hebat dan pedang itu bernama Pedang Tujuh Warna.

__ADS_1


Dia mulai beranjak dari duduknya. "Aku akan keluar bersama ibu besok dari hutan Dewa ini!" Xian Feng beetekat keluar dari hutan bersama ibunya karena mungkin para pendekar sudah pergi dari desanya. Dia juga mendapatkan warisan dari Dewa Zhou.


Xian Feng berjalan masuk ke gubuknya, sedangkan pedang dari Dewa Zhou mengikutinya dan berada di belakang punggungnya, dia mengetahui bahwa anak yang berada didepannya adalah sang pewaris. Maka dia bersedia mengikutinya.


Setelah berada di dalam gubuk Xian Feng mencoba untuk tidur karena takut dimarahi oleh ibunya. Dia sekarang sedang tidur terlelap karena makan makanan yang enak tadi.


Semua binatang yang ada di hutan ini bahkan tak ada yang berani muncul di hadapan mereka, entah itu pengaruh dari Dewa Zhou ataupun mereka takut karena ada pemangsa yang lebih ganas dan siap untuk menerkam mereka yang muncul.


Pagi berikutnya.......


Xian Feng bangun dari tidurnya, dia bangun lebih awal dari ibunya karena ingin mempersiapkan makanan untuk ibunya. Dia memasak danging yang tersisa. Ibunya yang mencium bau danging yang enak segera bangun dari tidurnya karena merasa perutnya sangat lapar.


"Baiklah bu..... aku akan mengambil air di sungai kemarin." Xian Feng segera mengambil sebuah guci yang lumayan besar dan berjalan mendekat ke arah sungai.


Dia mengambil air di sungai dengan cara yang sama seperti kemarin. Tapi anehnya biarpun gucinya sama tapi tingkat keberatan nya menurun dari kemarin, dia merasa bahwa sangat ringan membawanya. Dia berpikir "Apakah aku sudah menjadi seorang pendekar?" Gumam Xian Feng dalam hatinya dengan membawa guci yang berisi air itu.

__ADS_1


Dan pedang dari dewa Zhou terus menempel dengannya. "Mungkinkah aku sudah menjadi pendekar?"Xian Feng segera mendekatkan dirinya di dekat pohon. Dia menaruh gucinya di bawah kakinya dan dia sekarang sedang menghadap ke pohon yang ingin diuji olehnya. Dia menggemgamkan tangannya lalu memukulnya ke pohon yang ditargetkan.


Boom......


Suara ledakan itu membuat Xian Duanxi khawatir dengan keadaan anaknya, sedangkan disisi lain Xian Feng menganga karena kerusakan yang dibuatnya dihutan itu bukan main main. Hampir sejejeran pohon dibelakangnya juga berlubang. Dalam hatinya dia begitu senang karena telah menjadi seorang pendekar dan dia berjanji akan melindungi ibunya.


Dia kembali mengambil guci yang berada ditanah dan kembali berjalan ke gubuknya, tak lama Xian Feng pun kembali, Xian Duanxi segera melihat anaknya. Dia melihat lihat apakah ananknya terluka atau tidak.


"Haish, untunglah kamu baik baik saja, ibu pikir kamu akan terluka karena ibu dengar sesuatu, makanya ibu berpikir itu kamu."


Mendengar jawaban dari ibunya Xian Feng hanya tersenyum, dia tak mau memberi tahu dirinya bahwa dia sudah berhasil menjadi seorang pendekar. "Ibu, tak perlu khawatir.... aku baik baik saja disini."


Ibunya hanya tersenyum kepada anaknya, kekhawatiran yang tadinya melanda kini sudah reda karena mendengar ucapan dari anaknya. "Baiklah nak, lain kali hati hati dengan hutan. Mereka sangat berbahaya." Jawab dari Xian Duanxi.


Mereka kembali duduk bersama dan memasak danging yang belum matang, sedangkan Xian Feng memasak air supaya layak diminum, karena air yang dimasak akan lebih sehat dari pada diminum langsung.

__ADS_1


_________________________________________


Hi semuanya, author ada disini, jika ceritanya ada yang kurang silahkan kasi saran dikomentar ya. Jangan lupa like, vote dan rating 5..... silahkan bantu author ya.


__ADS_2