
Kedatangan Stella yang menjemputnya. Tidak lama kemudian Stella datang.
"Heiii Rena," kata Stella.
"Hai, ayo langsung berangkat saja," kata Rena lalu naik ke motor Stella.
"Sudah siap, Baby," kata Stella terkekeh.
"Sudah ayo," kata Rena.
Tidak sampai beberapa menit di perjalanan kini mereka sudah sampai di tempat yang mereka janjikan.
"Kamu pesan apa, Beb," tanya Stella.
"Aku cappucino saja," jawab Rena.
"Mbak capuccinonya dua, yah," kata Stella kepada pelayanan yang sudah berdiri di meja mereka.
"Tunggu sebentar ya, Mbak," kata pelayan itu ramah.
Setelah menunggu lima menit akhirnya pesanan mereka pun datang.
"Silahkan mbak selamat menikmati," kata pelayan tadi.
"Terimakasih, Mbak," kata Rena.
"Ohhhh yah bagaimana kamu sudah ijin belum sama majikan kamu soal kompetisi," tanya Stella.
"Sudah kata majikan aku dia senang banget mendengarnya," kata Rena.
"Wah baik banget ya majikan kamu, Rena," kata Stella.
"Iya, Stella aku juga sudah menganggap dia sebagai ibuku," kata Rena.
"Rena," panggil seorang yang berdiri tidak jauh dari tempat duduk Rena dan Stella.
"Kak Panji," Rena pun langsung berdiri dan memeluk pria yang ternyata kakak angkatnya Panji "kak Panji kapan pulang" tanya Rena.
"Kakak dari kemarin pulangnya tapi nggak lihat kamu di rumah, ayo kita pulang ke rumah," kata Panji.
"Rena nggak mungkin pulang ke rumah, Kak," kata Rena lalu duduk di kursinya.
"Kenapa apakah karena suamimu, pria yang membayar hutang ibu dan ayah, tenang saja nanti kakak ganti," kata Panji membuat Stella yang di depannya membulatkan matanya.
"Kamu sudah menikah Rena," tanya Stella.
"Maafkan aku Stella nanti aku ceritain yah," kata Rena menunduk.
"Iya, Rena nggak apa-apa aku tau kamu punya alasan untuk tidak jujur," kata Stella.
"Ayo Rena kita kembali ke rumah," kata Panji.
__ADS_1
"Maaf kak Rena nggak akan pulang, Rena sudah punya suami jadi Rena nggak mungkin pulang ke rumah," kata Rena.
"Tapi kamu menikah dengan pria itu karena hutang Rena bukan cinta, kamu nggak akan bahagia dengan pernikahan seperti itu," kata Panji.
"Rena bahagia kok, dia suami yang baik dan bertanggung jawab kak, dan rena juga cinta sama kak Radit, jadi kakak nggak usah khawatir," kata Rena.
"Kamu nggak lagi bohongin kakak kan," selidiki Panji.
"Rena nggak bohong, Kak," kata Rena tersenyum.
"Oke tapi kalo ada apa-apa kabari kakak yah," kata Panji.
"Iya kak pasti," kata tersenyum.
"Ya sudah kakak pamit dulu," kata Panji lalu berdiri berjalan keluar kafe.
"Rena kamu benaran sudah nikah," tanya Stella yang dari tadi menyaksikan percakapan Rena dan Panji.
"Iya, Stella aku sudah menikah dan rumah yang sering kamu kunjungi itu rumah suamiku," kata Rena yang membuat Stella membulatkan matanya.
"Jadi itu bukan rumah majikan kamu," tanya Stella.
"Bukan," jawab Rena dan langsung menceritakan semuanya kepada Stella tanpa terkecuali.
"Maksudnya kalian hanya nikah kontrak selama empat bulan gitu," tanya Stella.
"Iya, Stella kita hanya menikah kontrak dan aku juga kerja di rumah suami sendiri untuk menggantikan uang yang dia keluarkan selama ini untuk memenuhi kebutuhanku," kata Rena.
"Mama Vivi nggak tau Stella, di surat perjanjiannya kita harus kelihatan romantis di depan mama," jawab Rena.
"Kamu yang sabar ya, Ren, aku yakin kamu pasti bisa menghadapi semua masalah ini dengan baik," kata Stella.
"Terimakasih Stella," kata Rena tersenyum.
"Udah siang nih mau pulang dulu atau gimana," tanya Stella.
"Kita pulang saja ya aku udah ngantuk nih," kata Rena.
"Oke baby yukk," kata Stella sambil berdiri dari tempat duduknya di ikuti oleh Rena lalu mereka pun pulang.
******
Di luar kota tepatnya di Surabaya, Radit sedang mendengarkan informasi dari orang suruhannya.
"Hari ini nona Rena pergi ke kafe dekat kampus dengan temannya tuan, dan di sana nona Rena bertemu seorang pria, kami tidak bisa mendengar pembicaraan mereka tapi kelihatannya nona Rena dengan pria itu cukup akrab, mereka saling berpelukan" lapor anak buah Radit yang dia suruh untuk mengikuti Rena.
"Ikuti dia terus," kata Radit lalu mematikan ponselnya.
"Tuan Radit apakah ada sesuatu," tanya seorang pria paruh baya di sampingnya.
"Lanjutkan," kata Radit.
__ADS_1
"Begini tuan saya punya anak gadis, mungkin tuan tertarik untuk menikah dengannya," kata pria paruh baya itu.
"Baik bulan depan kita akan mengadakan pertunangan," kata Radit yang membuat pria di sampingnya senang.
"Baik tuan saya akan kasih tau dengan putri saya," kata pria itu yang bernama Samuel.
"Silakan keluar," kata Radit dingin.
"Baik tuan terimakasih," kata Samuel.
Yah selama mengetahui bahwa Rena hanya menginginkan hartanya, Radit berencana bertunangan atau selingkuh dengan orang lain supaya Rena sakit hati.
"Dit kamu yakin mau bertunangan dengan anak Samuel," tanya Arga yang dari tadi mendengar pembicaraan Radit.
"Iya dengan begitu Rena akan tersiksa," kata Radit.
"Tapi Bianca itu licik dan sombong dit dia tidak akan melepaskan apa yang menjadi miliknya terutama dia sangat terobsesi sama kamu," kata Arga yang ragu dengan rencana Radit.
"Sudahlah lagian selama Rena tersiksa aku akan dengan senang hati bermain dengan Bianca," kata Radit.
"Terserah kamu saja, Dit," kata Arga.
"Bagaimana dengan perkembangan Tiger?" tanya Radit.
"Mereka masih tidak bergerak dan mungkin sedang merencanakan sesuatu," kata Arga.
"Baiklah setelah kerja sama kita dengan Bagaskara selesai kita langsung ke markas cabang," kata Radit.
"Baik, Dit," kata Arga.
"Ohhhh iya apakah tuan Rangga dari Bagaskara crop sudah sampai di sini?" tanya Radit.
"Mereka sudah sampai di bandara dit kata anak buah kita tuan dan nyonya besar Bagaskara juga ikut," kata Arga.
"Baiklah lebih baik kita istrahat dulu," kata Radit.
Selama di Surabaya Radit selalu mencari cara agar bisa menyiksa Rena tanpa sepengetahuan mamanya. Semenjak pertemuannya dengan Bianca dia sudah merencanakan untuk bermain dengannya untuk menyakiti hati Rena kateka dia tau kalo Rena sudah cinta sama dia.
Di bandar terlihat tiga orang sangat dermawan sedang berjalan menuju mobil merek.
"Pah, mudah-mudahan selama di sini kita bertemu dengan anak perempuan kita yang hilang," kata nyonya Bagaskara.
"Iya, Mah nanti papa suruh anak buah kita buat cari Serena," kata tuan Bagaskara.
"Tapi mom kita cari dimana sementara princess kita hilang waktu kecil," kata Rangga Bagaskara.
"Aku yakin ga adik kamu pasti ada di sekitar kota Surabaya," kata nyonya Manda lirih.
"Sudah sayang nanti kita usahakan yah," kata Bima Bagaskara.
"Pah sebelum ke sini mama juga bermimpi ketemu Serena kecil kita," kata Manda dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1