Lelaki Sang Penguasa

Lelaki Sang Penguasa
Bab 12


__ADS_3

Sudah dua bulan Rena dan Radit tidak bertemu. Rena dan Stella juga sudah memenangkan kompetisi di luar negeri. Radit juga sudah bertunangan dengan Bianca meskipun tidak banyak yang tahu hanya Arga dan orang tua Bianca yang tahu. Keluarga Bagaskara juga sudah dua bulan berada di Surabaya namun belum menemukan putri mereka yang hilang. Rena sering menginap di rumah mama Vivi dan Stella. 


"Rena gimana kalo hari ini kita jalan-jalan," kata Stella.


"Stella, aku nggak bisa untuk hari ini soalnya perasaan aku nggak enak," kata Rena murung.


"Kamu sakit Rena" tanya Stella khawatir.


"Nggak Stella cuma nggak tau kayak akan ada terjadi sesuatu," kata Rena gelisah.


"Ya sudah yuk kita pergi ke kafe seberapa jalan aja buat nenangin diri kamu, hari ini kafe di sana akan ada penyanyi loh tuh teman-teman kampus kita sudah pada ke sana semua," kata Stella sambil menunjuk ke arah kafe yang sedang ramai.


"Kamu duluan aja ya aku ke toilet sebentar," kata Rena lalu berdiri.


"Aku tunggu di kafe ya jangan lama-lama," kata Stella langsung berjalan keluar ruangan.


Rena pun pergi ke toilet untuk membasuh mukanya supaya segar. Lalu dia berjalan keluar toilet namun dia merasa ada yang mengikutinya tapi saat berbalik tidak melihat siappsia. Dengan tergesa-gesa Rena berjalan keluar kampus dan pergi ke kafe yang Stella bilang.


Sedangkan tidak jauh dari Rena seorang sedang menelepon seseorang


"Bos dia sendirian dan sekarang berjalan ke arah kafe tempat di mana temannya menunggu" kata orang itu


"Baik saya akan melakukan rencana bos untuk menabraknya" kata orang yang berada di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari kafe


"Baik, Bos," kata orang tersebut.


Rena saat ini sedang menyebrang namun dia tidak menyadari ada sebuah mobil yang mendekati ke arahnya dengan kencang. Rena yang yang kaget pun langsung berteriak dan tidak sempat menghindar karena mobil tersebut berjalan sangat kencang


Aaaaaaaa. Brakkkkkk. 


Rena pun tertabrak mobil dan tubuhnya terlempar jauh dan kepalanya mengenai pembatas jalan. Mobil yang menabrak pun kabur begitu saja. Orang-orang yang sedang ada di kafe pun keluar semua. Stella juga berlari keluar karena tidak sengaja dia melihat Rena yang yang sedang menyebrang tadi.


"Rena, Rena bangun Rena," teriak Stella yang memangku kepala Rena yang penuh dengan darah.


"Rena bangun jangan tinggalin aku Rena kamu jangan bercanda dong, tolong, tolong panggilkan ambulan, Rena ayo bangun dong," teriak Stella sambil menangis.


Beberapa saat kemudian terdengar suara sirine polisi dan ambulan. Tubuh Rena pun di angkat ke dalam mobil ambulan di ikuti oleh stella yang terus menangis


*****


Prankkkk


Di sebuah rumah mewah terdengar suara benda jatuh


"Pah, perasaan mama kok nggak enak yah lihat bingkai foto putri kita jatuh begitu saja," kata Manda.

__ADS_1


"Sudah, Mah, minum air dulu biar tenang," kata Bima kepada istrinya.


"Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa sama putri kita, Pah, Mama khawatir," kata Manda.


"Iya, Mah, Papa juga berharap begitu," kata Bima.


Sedangkan di posisi Radit, dia sedang melakukan meeting dengan perusahaan Bagaskara dan ponselnya ketinggalan di ruangannya kebetulan bianca sedang duduk di sofa ruang kerja Radit.


Drrttttt


Drrttttt


Drrttttt


"Ini kan ponsel Radit pasti ketinggalan" kata Bianca yang melihat hp Radit di atas meja kerja


Drrttttt


Drrttttt


"Siap sih telfon ganggu orang saja deh," kata Bianca lalu mengangkat telepon tersebut.


"Hallo ini dengan Tuan Radit," kata orang di seberang telepon.


"Saya tunangannya. Ada apa?" kata Bianca dengan nada sombong.


"Cik, kenapa harus telepon tunangan saya, telepon keluarganya saja?" kata Bianca ketus lalu mematikan teleponnya dan menghapus log panggilan. Tidak lama kemudian Radit dan Arga masuk ke dalam ruangan.


"Sayang ayo makan siang bareng," kata Bianca manja yang membuat Arga di sampingnya muak.


"Sebentar dulu bianca aku ada pekerjaan, kamu makan sendiri saja," kata Radit entah kenapa hatinya gelisah memikirkan Rena hingga di meeting pun tidak fokus untung ada Arga yang mendapingnya.


"Sayang aku maunya makan sama kamu, ayo tinggalkan dulu pekerjaannya," kata Bianca bergelayut di lengan Radit.


"Aku ada kerjaan, kamu makan sendiri saja, ini pake ini buat belanja," kata Radit menyerahkan sebuah kartu kredit.


"Ya sudah deh sayang lain kali makan bareng ya," kata Bianca lalu mengambil kartu kredit yang di berikan Radi setelah itu dia keluar ruangan.


Drtttttttt


Tidak lama Bianca keluar dari ruangannya kini hp Radit berbunyi lagi.


"Apa katakan?" tanya Radit.


"Tuan kami sudah menemukan orang yang mengirimkan video dan audio tentang nona Serena," kata orang yang menelepon.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Radit.


"Orang itu suruhan dari keluarga Pratama tuan dan video itu di edit begitu juga dengan audionya," kata orang tersebut. Mendengar itu Radit pun mengepalkan tangannya karena emosi.


"Bawa mereka ke markas," kata Radit dingin.


"Baik tuan," kata orang itu.


 **Di rumah sakit**


Ruang operasi belum juga terbukti, Stella mondar-mandir di depan ruangan itu dengan ditemani mamanya yang baru datang setelah di telepon sama Stella.


"Mah, aku takut kehilangan Rena, hanya dia teman Stella ma, hanya dia orang yang membuat Stella bahagia selain mama dan papa," kata Stella menangis.


"Sudah sayang kamu yang tenang yah, Rena pasti baik-baik saja kita berdoa saja yah," kata Ririn yang berusaha menenangkan anaknya.


"Sebentar, Mah, aku hubungi mamanya Rena dulu," kata Stella sambil mengambil ponsel Rena yang ada di dalam tas


"Sayang bukankah orang tua Rena sangat jahat kepada Rena," kata Ririn kepada putrinya. Yah Stella dan mamanya sudah tau tentang kehidupan Rena, bagaimana orang tua angkat Rena yang selalu jahat.


"Mah, aku telepon mama mertuanya saja," kata Stella setelah mendengar perkataan sang mama.


"Baiklah, sayang," kata Ririn.


Stella pun menelepon Vivi untuk memberitahukan keadaan Rena, setelah tiga puluh menit menunggu akhirnya Vivi sampai dan menghampiri Stella dan mamanya.


"Nak, bagaimana keadaan mantu saya?" tanya Vivi yang panik melihat baju Stella banyak darah sudah di pastikan itu darah Rena.


"Tante aku juga nggak tau ini sudah dua jam tapi dokter belum keluar juga," kata Stella menangis.


"Sudah nak kita tunggu saja ya," kata Vivi.


Tidak lama kemudian dokter keluar dari ruangan operasi dan di belakangnya beberapa perawat mendorong brankar yang terdapat seorang gadis dengan wajah pucat seperti mayat masih memejamkan matanya dan di tubuhnya terdapat alat-alat bantu pernafasan serta infus di tangannya.


"Dok, bagaimana keadaan menantu saya?" tanya Vivi kepada dokter yang menangani operasi Rena.


Huh


"Begini nyonya keadaan pasien sangat memperihatinkan karena benturan keras di kepalanya hingga menyebabkan terdapat gumpalan darah tetapi kami sudah tangani tapi pasien mengalami koma," kata dokter tersebut setelah menarik nafas dalam-dalam.


"Apa, Dok, koma, terus kapan sadarnya, Dok," tanya Stella.


"Untuk itu kami belum tau tapi jika pasien memiliki semangat untuk hidup maka dia akan sadar dalam waktu cepat tetapi kalo tidak kita juga tidak bisa memperkirakan kapan dia bangun" jelas dokter itu


"Apa kami bisa melihatnya, Dok?" tanya Vivi.

__ADS_1


"Tentu nyonya tapi jangan terlalu ribut di dalam" kata dokter itu lalu pergi.


__ADS_2