Lelaki Sang Penguasa

Lelaki Sang Penguasa
Bab 13


__ADS_3

Di sebuah apartemen Radit dan Arga sedang santai di ruang tamu, mereka di kaget kan dengan berita yang yang muncul di TV


Selamat pagi pamirsa hari ini kami akan mengabarkan sebuah berita kecelakaan di jakaJak tepatnya di depan kampus UG. Kecelakaan menyebabkan seorang mahasiswa bernama Serena Narayana hampir kehilangan nyawanya. Setelah berita itu muncul beberapa foto di tempat kejadian dan rincian kecelakaan tersebut hingga tentang keadaan Serena yang di bantu dengan alat rumah sakit.


Melihat itu Radit secepat kilat berlari keluar dari apartemen dan Arga juga mengikutinya dari belakang.


Radit dan Arga langsung menaiki jet pribadi Radit yang sudah terparkir di atap apartemen.


Setelah 1 jam melakukan penerbangan kini jet Radit mendarat di atap rumah sakit tempat di mana Serena di rawat.


"Mah, gimana keadaan Rena?" tanya Radit saat sudah sampai di ruang rawat Rena.


"Rena koma, Dit, nggak tau kapan sadar," jawab Vivi menangis.


"Mah, maafin Radit nggak bisa jagain Rena seperti janji mama," kata Radit berusaha menahan air mata melihat mamanya menangis.


"Iya sayang nggak apa-apa, ini kecelakaan jadi bukan salah kamu," kata Vivi.


"Mama pulang istirahatlah biar Radit yang jagain Rena di sini" kata Radit.


"Iya sayang nanti kalo Rena sadar kabari mama ya," kata Vivi


"Iya, Mah, Arga tolong antar kan, Mam, pulang," kata Radit kepada Arga yang berdiri di sampingnya.


"Baik dit, ayo tante Arga antar pulang," kata Arga


"Mama pulang dulu sayang, cepat sadar," kata Vivi mencium kening Rena.


"Hati-hati!" kata Radit.


"Mama pulang dulu dit nanti biar Arga yang bawa baju ganti kamu," kata Vivi setelah itu dia keluar dari kamar rawat Rena.


Kini dalam ruangan rawat itu hanya tinggal Radit dan Rena. Sunyi, itulah keadaan ruangan itu.


"Maaf Rena," kata Radit memegang tangan Rena.


 ****


Sebulan sudah Rena berada di rumah sakit namun belum ada tanda-tanda dia akan sadar. Sebulan itu pula Radit berada di samping Rena, semua pekerjaannya di urus oleh Arga. Vivi, Stella dan Ririn sekali-kali pergi ke rumah sakit sekedar melihat keadaan Rena. Bianca juga sudah pindah ke Jakarta setelah mengetahui Radit pulang. Dia juga sering mendatangi Radit di kantornya namun tidak pernah bertemu.


Keluarga Bagaskara juga masih di Indonesia, karena mereka belum menemukan putri mereka. Mereka akan pulang ke new York setelah bertemu dengan putri mereka.


Di rumah sakit terlihat beberapa dokter berlari ke kamar nomor 1 tempat Rena di rawat


" Dokter apa yang terjadi" tanya Radit yang baru tiba di kamar Rena


" Pasien mengalami kejang-kejang, mohon tuan tunggu di luar kami akan periksa dulu" kata dokter itu menahan Radit yang hendak masuk

__ADS_1


" Dokter detak jantung pasien melemah" kata suster yang keluar dari kamar rawat Rena


" Tuan tunggu di disini saya periksa pasien dulu" kata dokter itu lalu masuk ke ruang rawat


Radit yang menunggu di luar pun terlihat tidak tenang dan selalu mondar mandir di depan pintu kamar rawat Rena. Setelah beberapa saat kemudian dokter dan perawat keluar dari ruang rawat Rena


" Bagaimana keadaannya" tanya Radit


" Syukurlah pasien sudah lewat dari masa koma nya tinggal menunggu pasien sadar saja tuan" kata dokter 


" Terimakasih dok" kata Radit langsung masuk ke dalam kamar rawat Rena meninggalkan dokter dan perawat yang melongo mendengar kata terimakasih dari mulut seorang Raditya Prasetyo.


" Rena kamu sudah sadar" tanya Radit yang kaget melihat Rena membuka matanya perlahan-lahan.


"Haus" hanya itu yang keluar dari mulut Rena


Dengan cepat Radit membantunya untuk duduk dan memegang gelas karena tangan Rena masih lemah


" Terimakasih tuan" kata Rena lalu membaringkan badannya.


" Saya telepon mama dulu, tunggu sebentar" kata Radit yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Rena.


Setelah menelepon mama Vivi Radit kembali duduk di samping Rena, dia memandang wajah Rena yang masih pucat.


" Rena sayang kamu sudah bangun" kata Vivi yang baru masuk ke kamar Rena


" Mama" kata Rena 


" Nggak ada ma cuma nyeri di kepala saja" kata Rena tersenyum


" Mama panggilkan dokter ya" kata Vivi


" Nggak usah ma Rena baik-baik aja" kata Rena


" Rena kamu sudah sadar" kata Stella yang baru masuk dan melihat Rena sedang ngobrol dengan mama Vivi


" Stella kamu datang" kata Rena tersenyum melihat Stella


" Hu,hu Rena bikin aku panik tau nggak" kata Stella menangis di pelukan Rena


" Maaf Stella sudah bikin kamu kwartir" kata Rena 


" Iya nggak apa-apa Rena, oh iya tadi mama nitip uang gaji kamu " kata Stella lalu menyerahkan sebuah amplop berisi uang kepada Rena


"Uang gaji Rena maksudnya apa," tanya Vivi heran


"Iya Rena uang gaji apa" sambung Radit yang dari diam

__ADS_1


"Ahh ini mah em" kata Rena gugup


"Gini loh Tante kan Rena kerja di toko kue ramah tamah milik mamaku dan dia sudah dua bulan kerja, iya kan rena" kata Stella yang tidak tau situasinya


"Rena kamu ngapain kerja bukannya aku udah kasih uang ke kamu" kata Radit memicingkan matanya


"Ah bukan begitu tuan, maksudnya kak Radit aku itu kerja supaya nggak jenuh di rumah, iya kan Stella" kata Rena memandang ke arah Stella


"Iya kak Rena hanya mencari kesibukan saja supaya tidak jenuh di rumah" kata Stella yang mengerti tatapan Rena


"Loh sayang kamu kan bisa datang ke rumah mama kalo jenuh biar kita jalan-jalan" kata Vivi


"Iya mah lain kali pasti begitu, soalnya aku sudah nyaman kerja di toko kue ramah tamah orang di dalamnya baik semua sama Rena kok," kata Rena tersenyum.


"Kamu istirahatlah," kata Radit.


"Iya, Kak," kata Rena.


"Aku pulang dulu ya Rena nanti datang lagi," kata Stella.


"Iya makasih ya, hati-hati," kata Rena tersenyum.


"Oke, baby cepat sembuh" kata Stella sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Rena.


"Mah, pulang lah istraisti biar Radit yang jagain Rena," kata Radit .


"Rena mama pulang dulu yah cepat sembuh," kata Vivi.


"Iya, Mah, hati-hati," kata Rena.


Kini di kamar itu tinggal Radit dan Rena saja. Keadaan kembali sunyi karena di antara keduanya tidak ada yang memulai pembicaraan. Ekhemm.


"Rena," panggil Radit yang mencairkan suasana.


"Iya tuan," jawab Rena spontan.


"Maaf," kata Radit memandang manik mata Rena.


"Untuk apa tuan ini kan bukan salah tuan," kata Rena.


"Em boleh saya minta sesuatu," tanya Radit.


"Iya silahkan tuan," kata Rena.


"Jangan panggil saya tuan lagi," Radit.


"Lalu aku harus apa tuan," tanya Rena.

__ADS_1


"Panggil seperti biasanya saja," pinta Radit.


"Kak Radit," kata Rena yang membuat Radit tersenyum.


__ADS_2