
Pagi harinya mobil yang di tumpangi Rena sudah sampai di sebuah rumah sederhana namun indah dan bersih. Di sekelilingnya terdapat tanaman yang asri dan udaranya sejuk. Sopir yang di ketahui namanya Rama membawa Rena untuk masuk ke dalam rumah. Untung saja tidak ada tetangga yang lihat karena ini masih terlalu pagi
Tok tok tok
Pak Rama mengetuk pintu rumahnya, terdengar suara langkah kaki dari dalam
Cklekkkkk
Terlihat wanita paruh baya berdiri dengan mata melotot ke arah pak Rama
" Irene, Irene cepatan sini ya ampun bapak ibu nggak nyangka bapak Setega itu sama ibu, huhu, huhu Irena lihatlah bapakmu nak" teriak Bu Romlah sambil menangis yang membuat Rena dan pak Rama bingung
" Ada apa sih Bu pagi-pagi udah teriak seperti orang kemalingan aja" kata perempuan remaja yang seumuran dengan Rena
" Lihatlah Irene bapakmu bawa madu, huhu hancur hati ini Irene, bapak tega hianatin ibumu " kata Romlah
" Ya ampun ibu, bapak nggak mungkin begitu mendingan biarkan bapak masuk dengan nak Rena kasian dia berdiri terus" kata pak Rama kepada istrinya
" Ayo pa masuk dulu ajak mbak nya juga" kata Irene ramah
" Ya ampun Irene kamu gimana sih, kamu mau ibu jadi janda" kata Romlah
" Sudahlah ibu bapak baru pulang malah di sambut dengan drama klasiknya ibu" kata Irene yang kesal melihat tingkah ibunya seperti anak mudah saja
" Ah kamu irene bukannya membela ibu malah bikin ibu down" kata Romlah dengan bahasa gaulnya
" Sudahlah Bu ayo duduk kita dengarkan penjelasan bapak tentang mbak ini, Irene bikin teh hangat dulu" kata Irene lalu berlalu ke dapur
" Pak kenapa bawanya daun muda apa ibu udah nggak cantik lagi" tanya Romlah
" Ibu tenang dulu kita tunggu Irene dulu biar bapak jelaskan" kata pak Rama kepada istrinya
Tidak lama kemudian Irene datang dengan membawa teh hangat
" Silahkan minum pak, mbak" kata Irene sopan
" Terimakasih Mbak" kata Rena lembut
" Jadi begini Bu, ini namanya Rena penumpang bapak dari Jakarta" kata pak Rama terpotong karena ucapan istrinya
" Ya ampun bapak ngapain culik penumpang, pake bawa kesini lagi" teriak Bu Romlah
" Ibu dengarin dulu penjelasan bapak, baru setelah itu ibu drama sampe sore nggak apa-apa" kata Irene yang jengah melihat ibunya ini sering meniru gaya ibu-ibu di tv
" Nak Rena sebenarnya baru ke sini dan belum dapat rumah, katanya baru mau ngontrak disini jadi bapak tawarkan untuk ngontrak rumah di samping kita ini Bu makanya bapak bawa saja ke sini biar besok baru lihat rumahnya" kata pak Rama menjelaskannya
" Bapak kenapa nggak bilang dari tadi sih, bikin air mata ibu terbuang sia-sia" kata Bu Romlah cemberut
__ADS_1
" Belum sempat bapak masuk rumah saja ibu sudah main drama" kata Irene
" Hehehe maaf nak Rena, otak ibu memang terpengaruh dengan alat teknologi jaman sekarang" kata Bu Romlah yang membuat Irene menahan tawa
" Ah iya Bu nggak apa-apa, terimakasih sudah mau menerima Rena di sini" kata Rena tersenyum
" Sudah nak Rena kamu istirahat sekarang yah pasti cape banget. Ayo Irene antarin Rena ke kamar mu" kata pak Rama
" Iya pak, mari mbak kita istrahahat dulu" kata Irene
Mereka pun kembali istrahahat.
****
Pagi hari tepat jam delapan Radit bangun hendak turun dari kasur, namun pas membuka selimut dia begitu terkejut melihat dirinya tidak memakai sehelai benang pun, dia pun melihat sekitarnya dan menyadari bahwa dia berada di kamar Rena. Pandangannya fokus pada bercak darah di kasur, melihat itu pun ia buru-buru mandi dan ganti pakaian secara asal, lalu keluar kamar dan turun ke bawah
" Bi lihat Serena nggak" tanya Radit kepada pelayan
" Tidak tuan, nyonya Serena belum keluar kamar" kata pelayan itu
" Benaran bi" tanya Radit
" Iya tuan saya belum lihat nyonya Rena pagi ini" kata pelayan itu
****
Sementara itu di sebuah rumah sederhana, Rena tengah berbincang dengan pemilik rumah kontrakan di sebelah rumah pak Rama.
" Jadi bagaimana neng mau ambil atau tidak" tanya perempuan yang usianya setara dengan Bu Romlah
" Ah iya Bu Rena ambil, sebentar sore saya akan membeli perabot rumah dan juga barang-barang lainnya mohon bantuannya bu untuk meminjam mobil box ibu" kata Rena
" Iya nak tenang saja nanti biar Irene yang bawa mobil itu dia jago kok bawa mobil apa saja dan juga jago bawa motor" kata Bu Sarmi yang ternyata sepupu pak Romlah
" Oh hampir lupa bu, untuk biaya kontrakan berapa ya Bu" tanya
" Satu juta perbulan neng soalnya itu yang paling besar dengan dua kamar tamu dan juga kamar mandi dalam" kata ibu Sarmi
" Ah kebetulan saya ada uangnya sekarang jadi saya mau bayar untuk satu bulan ini" kata Rena lalu memberikan amplop berisi uang satu juta kepada Bu Sarmi
" Terimakasih neng, nanti ibu juga akan suruh anak ibu Sisil buat bantu kamu bersih-bersih dan juga belanja" kata Bu Sarmi
" Iya terimakasih banyak Bu" kata Rena tersenyum
__ADS_1
" Iya sama-sama nak" kata Bu sarSa
" Ini dia orangnya mbak" kata Irene yang menarik tangan seorang perempuan yang lebih mudah dari Rena dan Irene
" Terimakasih ya, oh ia kenalkan saya Reba dari Jakarta" kata Rena tersenyum
" Saya Sisil mbak model di kampung sini" kata Sisil yang mendapatkan pujian dari Irene
" Model, penampilan saja kayak badut gitu" kata Irene yang gemes dengan tingkah laku sepupunya itu
" Ih mbak iren aku kan model, lihatlah penampilanku kayak artis Korea" kata Sisil
" Hhhhhhh artis Korea dari mananya,tubuh kurus seperti katak begitu" kata Irene
" Sudah-sudah sekarang kalian bantuin nak Rena beres-beres kontrakannya" kata Bu sarmi
" Ah iya mamak" kata Sisil lalu berjalan keluar dengan semangat
Satu jam membersihkan kontrakan Ki I mereka lagi istrahat sambil minum-minuman segar.
" Oh iya mbak kita pasar atau bagaimana nih untuk perlengkapan kontrakannya
" Oh untuk perlengkapan rumah seperti sofa dan lainnya serta peralatan dapur saya sudah pesankan semuanya nanti tinggal beli pakaian saja soalnya aku lupa bawa pakaian" kata Rena berbohong
" Oke mbak Rena kita belanja di mall saja" kata Sisil sambil mengipas wajahnya dengan kipas angin
" Oke deh" jawab Rena tersenyum
Mereka pun ngobrol asik dan bahkan dalam waktu satu hari mereka sudah akrab banget
__ADS_1