
Serena tidak pernah menyangka bahwa ternyata pernikahan yang terjadi hanyalah pernikahan kontrak.
"Sayang kok ngelamun sih," kata Vivi yang sedari tadi melihat menantunya melamun.
"Ahh nggak apa-apa mah," kata Rena.
"Oh iya sayang nanti temani ibu ke rumah sakit yah buat kontrak kaki ibu ini," kata Vivi.
"Iya mah, Serena siap-siap dulu yah," kata Rena lalu bangkit dari tempat duduknya menuju kamar untuk bersiap-siap, setelah itu ia turun lagi.
"Sudah sayang," tanya Vivi.
"Iya, Rena kita masuk," kata Vivi setelah sampai di rumah sakit.
"Iya, Ma," kata Rena lalu melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
Setelah dari rumah sakit kini nyonya Vivi dan Rena sedang duduk di sebuah restoran mewah.
"Oh iya sayang kapan kalian bulan madu," tanya Vivi.
"Rena terserah kak Radit aja mah," kata Rena tersenyum.
"Heiii, Vi," sapa Luna yang baru masuk restoran.
"Luna ayo sini," kata Vivi melambaikan tangannya ke arah Luna.
"Udah lama nih," tanya Luna.
"Belum, Lun, ini juga baru mau pesan makan," kata Vivi.
"Hei Rena gimana malam pertamanya dengan kulkas pasti dingin yah" kata Luna menggoda Rena.
"Luna mereka itu abis malam pertama ya cape lah" sambung Vivi yang menggoda Rena sehingga pipinya merah.
"Udah sayang nggak usah malu gitu kita juga pernah kok kayak gitu sampai pinggang encok," canda Luna.
"Ini nyonya makanannya, selamat menikmati," kata seorang pelayan yang membawa makanan di meja Vivi.
"Terimakasih," kata Vivi.
"Ayo Rena kita makan," ajak Luna.
"Iya, Tante," jawab Rena tersenyum. Setelah lama mengobrol akhirnya mereka pulang.
"Mah, Rena ke atas dulu," kata Rena kepada Vivi.
"Iya sayang, mama juga mau istirahat," kata Vivi.
Rena pun berjalan menuju kamarku, sesampainya di kamar dia langsung mandi, setelah itu ia menyiapkan air mandi untuk suamiku karena sebentar lagi pula. Tak lama kemudian pintu kamar terbuka dan tampaklah Radit yang sedang berjalan masuk
"Kak Radit aku sudah siapkan air mandinya," kata Rena lalu mengambil tas kerja Radit. Radit berlalu begitu saja tanpa menjawab perkataan Rena. Setelah selesai mandi Radit keluar dan tidak melihat Rena hanya baju gantinya saja yang ada di tempat tidur, lalu dia pun memakainya dan keluar kamar.
"Ayo ditawar makan," kata Vivi
"Iya, Mah," kata radit lalu menarik kursi di samping Rena. Dengan sigap Rena mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. Mereka pun makan dengan tenang, setelah selesai makan mereka berkumpul di ruang tamu.
"Mah, ada yang Radit pengen bicarakan," kata Rena.
__ADS_1
"Bicara apa, Dit," tanya Vivi.
"Besok Radit dan Rena akan pindah di rumah Radit mah yang dekat dengan kantor," kata Radit.
"Loh kenapa nggak tinggal sama mama di sini saja," kata Vivi.
"Radit pengen menghabiskan waktu berdua dengan Rena, Ma," kata Radit alasan.
"Ya sudah deh, kalo begitu mama terserah kalian saja tapi jangan lupa sering-sering mampir ke sini," kata Vivi.
"Iya, Mah," kata Radit.
"Iya sudah mama istirahat dulu," kata Vivi
"Iya, Mah," kata Radit lalu bangkit dan berjalan ke kamar di ikuti Rena.
"Kak Radit kenapa pindah," tanya Rena.
"Supaya mama nggak tau kalo pernikahan kita cuma pernikahan kontrak," kata Radit dingin.
"Ohhhh," jawab Rena singkat lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Pagi harinya Rena bangun langsung mandi setelah itu ia turun ke bawah.
"Sayang kamu udah bangun," kata Vivi yang melihat menantunya turun tangga.
"Iya, Mah, mama lagi apa," kata Rena.
"Lagi baca sosmed sayang," kata Vivi sambil menunjukkan hpnya.
"Ohhhh iya mah Rena pengen ngomongin sesuatu," kata Rena.
"Emm sebelumnya Rena minta maaf mah mungkin permintaan Rena sangat lancang, jadi gini mah Rena kan mau lanjutin kuliah boleh nggak untuk sementara pinjam uang mama," kata Rena ragu-ragu.
Radit yang sedang berdiri dekat mereka pun mendengar semuanya dan dia pun mengira bahwa Rena benar-benar hanya mau hartanya saja.
"Ekhemmm kamu kalo mau kuliah ngomong sama suami," kata Radit pura-pura tersenyum.
"Iya sayang apapun yang kamu minta pasti Radit akan memenuhinya jadi jangan ragu kalo ada sesuatu," kata Vivi
"Iya mah makasih," kata Rena malu.
"Kalian udah mau pindah nih," kata Vivi.
"Kita belum kemas mah," kata Rena.
"Udah nggak usah kemas semuanya sudah ada di rumah kita," kata Radit.
"Ohhhh makasih, kak," kata Rena tersenyum.
"Iya ayo kita berangkat, mah kita pergi dulu," kata Radit berdiri mencium tangan mamanya.
"Iya sayang jangan lupa kabari mama kalo sudah sampai yah," kata Vivi.
"Iya, Mah," kata Radit berjalan keluar rumah.
"Mah, Rena pamit yah," kata Rena memeluk Vivi.
"Iya sayang sering-sering jenguk mama ke sini yah," kata Vivi membalas pelukan Rena.
__ADS_1
"Iya mah, mama jaga kesehatan yah," kata Rena lalu mengikuti langkah Radit.
"Iya sayang hati-hati," kata Vivi.
"Ayo masuk," kata Radit dingin.
"Iya, kak," kata Rena.
"Kamu ternyata masuk ke keluarga prasPras hanya karena harta Rena, aku nggak nyangka ternyata kamu sama seperti perempuan lainnya yang hanya mau harta saya saja," kata Radit yang membuat Rena merasa sesak di dadanya sekaligus bingung.
"Maksudnya kakak apa ya?" tanya Rena.
"Kamu nggak usah pura-pura tidak tau Rena, kamu itu perempuan bermuka dua," kata Radit.
Mendengar kata-kata Radit hati Rena sangat sakit, di dalam hatinya berkata ternyata dia salah mencintai orang. Sesampainya di rumah yang tak kalah besar dari rumah utama Prasetyo Radit langsung masuk tanpa memperdulikan Ren.
"Kamu tidur di kamar pembantu Rena, kamu nggak pantas tidur di kamar tamu apalagi kamar saya," kata Radit dingin.
"Iya, kak," kata Rena lirih.
"Oh iya di rumah ini nggak ada Pembantu, kamu kerja pekerjaan rumah sendiri anggap saja sebagai ganti uang yang saya keluarkan untuk kamu," kata Radit.
"Iya, Kak," hanya itu yang keluar dari mulut Rena, lalu di pergi ke belakang di mana kamar pembantu berada, dia pun masuk kamar dan melihat di sana sudah ada baju-bajunya dari baju yang elegan sampai ke baju yang biasa di gunakan pembantu.
[ Kamu harus kuat Rena, anggap saja ini pekerjaan baru kamu dari pada menikah dengan pria hidung belang]. Batin Rena.
"Huffff, mending ganti aja deh setelah itu beres-beres rumah," kata Rena.
Setelah itu Rena pun mengganti pakaiannya lalu keluar kamar membersihkan rumah besar Radit sendirian, dari ngepel, lap kaca, siram bunga, nyuci hingga malam pun Rena masih berkutat dengan alat kerjanya. Sekarang Rena lagi menatah makanan di meja makan setelah itu dia pergi ke kamar Radit untuk memanggilnya makan malam.
Tok, tok, tok
"Kak makan malamnya sudah siap," kata Rena di depan pintu kamar Radit. Ckleekk.
Pintu kamar terbuka nampaklah Radit yang berdiri di depan pintu kamar dengan rambut yang masih basah.
"Ada apa?" tanya Radit dingin.
"Makan malamnya sudah siap, Kak?" kata Rena.
"Panggil saya tuan, dan saya tidak makan di rumah." kata Radit dingin.
"Tapi tuan makanannya sudah siap," kata Rena menunduk takut melihat tatapan tajam dari Radit.
"Siap yang suruh kamu masak, kamu makan sendiri saja saya nggak selera makan masakan kamu," kata Radit dingin lalu masuk ke kamar dan menutup pintu dengan keras. Brakkkk.
"Ya ampun kaget saya, sudahlah Rena mending kamu makan sekarang lalu istirahat," kata Rena kepada dirinya sendiri.
Malam itu Rena pun makan sendirian dengan air mata yang menetes di matanya, memikirkan kehidupannya yang malang. Setelah selesai makan Rena langsung mencuci piring dan membereskan meja makan lalu berlalu ke kamar sampai di kamar Rena istirahat sebentar lalu bangun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya setelah itu dia tidur dengan membawa luka baru.
*****
Pagi hari sekitar pukul 04:00 Rena bangun dari tidurnya mendengar suara alarm dari hp nya. Yah, semalam sebelum tidur Rena menyetel alarm supaya tidak terlambat bangun apa lagi sekarang di sudah bekerja sebagai pembantu di rumah suaminya sendiri. Rena bangun dari tempat tidurnya lalu pergi mandi setelah itu di langsung melakukan pekerjaannya. Setelah semua pekerjaan rumah selesai Rena kini berkutat dengan alat masak, setelah itu dia menyiapkannya di meja makan. Jam di dinding menunjukkan pukul 06: 00 terlihat Radit turun tangga.
"Tuan sarapannya sudah siap," kata Rena menghampiri Radit yang sudah siap dengan pakaian kantornya.
"Ini surat dari kamus, mulai hari ini kamu sudah mulai kuliah saya sudah urus semuanya dan perlu kamu ingat saya tidak akan mencicipi masakan kamu," kata Radit dingin sambil memberikan surat pemberitahuan mahasiswa baru kepada Rena lalu berlalu begitu saja tanpa melihat makanan yang sudah di siapkan oleh Rena. Melihat itu pun Rena sedih lalu dia lagi-lagi makan dengan air mata yang menetes setelah itu dia pun bersiap-siap ke kampus terlihat di depan rumah sudah ada sopir yang menunggunya.
__ADS_1