Lembar Kenangan

Lembar Kenangan
*Karma


__ADS_3

Aku masih terpaku, Menundukkan arah


Pandanganku menatap lurus kearah lantai,


Aku mencoba menekukkan kakiku agar Aku


bisa menopang wajahku dengan lututku..


Sesekali isakkan keluar dari bibirku,..


Seaakan tertahan di tenggorokan tercekat


begitu saja,


"Ceklek...!"


Terdengar pintu kamarku dibuka Seseorang,


Taklama terdengar derap langkah perlahan,


Usapan lembut tangan Seseorang meraih


Bahuku,


"Bunda....!" Panggilnya lembut.


Aku mendongakkan wajahku, Karena Aku


hafal suara ini,


"Arsyad....!" Ujarku terbata.


"Aku pulang Bunda.." Ujarnya lembut meraih


Tubuhku dalam pelukannya.


"Sudah! ..Kini ada Aku, Kita akan melauinya


bersama, " Lirihnya tertahan,


"Bunda jangan bersedih ini sudah waktunya


....Ayah pergi, Walaupun berat Kita harus


Ikhlas" Ujarnya parau kesedihan yang sama


Kami rasakan, Mungkin disinilah Arsyad


Yang paling sedih, Dirinya harus kehilangan


Ayah dan Ibunya diwaktu yang hampir ber


samaan, Itu membuatku semakin sesak


"Haruskah Aku membencimu disaat terakhir


mu ..Mas !" Jeritku tertahan dalam hati yang


hanya ada Isakkan tertahan diujung pita


Suaraku.


Arsyadpun tak banyak kata, Kami seolah


Tenggelam dalam perasaan masing -


masing,


"Tok ...tok ...tok "


Terdengar pintu diketuk dan dibuka Sese


Orang.


" Sayang ...Sudah saatnya Jenazah Fakih


Dikuburkan, Arsyad juga sudah datang"


Pinta Tante Rahma lembut menyadarkan


Diriku, Aku mengangguk lemah.


"Kamu takkan mengganti seragammu


dulu Nak ?" Tanya Tante Rahma pada


Arsyad,


Arsyad menggeleng, Karena melihat kon


disiku, Ia seakan enggan meninggalkan


Diriku, Memapahku berjalan menyusuri


tangga turun kelantai satu rumah Kami.


Aku duduk disamping jenazah Suamiku


Melihat wajahnya untuk yang terakhir kali


Menciuminya perlahan, Dengar tubuh yang


bergetar.


"Kalau memang ini caramu meninggalkan


Diriku, Aku ikhlas dengan rasa sakit ini


Supaya Kamu tenang disana Mas ....!"


Lirihku dalam Isak tangisku,....


Walaupun hanya bisa menjerit dalam


hati, Bibirku bergetar seraya mengantar


kepergiannya dengan do'a.


"Bunda...Kenapa Ayah pergi, Padahal


Ia berjanji liburan kali ini, Ayah akan


Menemani Kita piknik seraya menengok


Abang " Lirihnya terisak saat Aku mengham


Piri tubuh mungil putraku Akhsan yang


Berada dalam pangkuan Ayah mertuaku.


Wajah renta yang tertunduk seakan me


nyiratkan luka yang begitu dalam.


Aku memandang dalam wajah putraku


Disana tercetak wajah mas Fakih,


Bahkan senyumnya, Tawanya dan


Gerak geriknya semuanya tentang Mas


Fakih disana, Aku memeluknya erat


*****

__ADS_1


Angin kencang menerpa saat pemakaman


Mas fakih, Mas fakih dikuburkan selang


Beberapa jam pemakaman Seseorang,


Bahkan Mereka dikuburkan ditempat yang


Sama walau terhalang oleh beberapa kuburan


Aku masih terdiam namun sesekali mengu


capkan kata terima kasih kepada beberapa


Teman sejawat Mas Fakih yang datang


Sesekali Akhsan mengusap airmataku


Dengan tangan mungilnya, Dan Arsyad


Merengkuh bahuku,


Aku masih bersyukur ada dua Putra yang


Bisa dijadikan tempatku bersandar,


Yang dengan tangan terbuka menghapus


Rasa sedihku.


Kami berhenti disebuah gundukan tanah


merah yang masih basah, Aku menitip


Do' a untuknya, Walau rasa sakit sangat


Menghujam dadaku, Namun Aku sadar


Ada hati Seseorang disampingku yang tentu


nya sama - sama terluka.


Arsyad memegang jemariku erat, Kami


Saling menguatkan hati Kami masing


- masing,


"Atas Nama Ibu...Aku meminta maaf


Padamu " Lirihnya Mata yang memerah


Menahan gejolak perasaan didadanya,


"Aku akan menebus kesalahan Mereka


Dengan menjagamu seumur hidupku"


Janji Arsyad dalam hati, Seraya meman


dang dalam bola mata sang Bunda.


Aku mengusap lembut bahu Arsyad,


Seraya menuntun Akhsan untuk berlalu


Dari sana, Kami Orang terakhir yang me


ninggalkan area pemakaman,


Aku mempersilahkan teman - teman


Arsyad yang datang, Kebetulan Mereka


Dan menyuruh Mbok Sum membersihkan


Kamar tamu seraya menyiapkan makan


Malam untuk Mereka.


Akhsan tertidur setelah pulang dari pema


kaman, Tubuh mungilnya mungkin kelelahan


Aku mencium kening Putraku lembut,


Yang tengah terlelap, Walaupun masih


Terasa Isak tertahan diantara helaan nafas


nya, Aku semakin erat memeluknya


Akupun berusaha melupakan sesaat


Kesedihanku, Mencoba menutup mataku


Yang tak bisa terlelap dari kemarin.


Sayup - sayup Aku mendengar langkah


Seseorang, Mengusap lenganku lembut.


Perlahan menyelimuti tubuh Kami,


Kemudian sesaat Ia berlalu meninggalkan


Kami.


Aku terbangun menjelang sore bersama


Akhsan, Aku mengantarkan ke kamarnya


Dan menyuruhnya untuk mandi.


Terlihat Tante Rahma dan Ayah mertuaku


Menghampiriku, Mereka menggiringku


Memasuki ruangan kerja Mas Fakih.


"Ada yang ingin Kami bicarakan Padamu "


Ucap Tante Rahma.


Aku mengangguk mempersilahkan


Terlihat tangan renta Ayah Mertuaku menyam


but tanganku lembut,


"Nak...Izinkan Ayah meminta maaf Padamu


Atas nama Fakih, ... Walaupun Ayah tahu


Kesalahannya tidak dapat termaafkan "


Lirihnya.


Perlahan airmata kembali menggenang di


pelupuk mata Tante Rahma, Ia mengusap


bahuku pelan, Aku masih terdiam ...


Namun mengusap punggung tangan Ayah

__ADS_1


Mertuaku lembut seraya menahan sesak


Didada,


Tante Rahma mengusap bahuku pelan.


Ia memelukku erat.


"Tante mengerti, Kesalahan fakih Padamu


Sangat besar di akhir hidupnya,


Sebagai Seorang Perempuan Tante merasa


kan sakit seperti yang Kamu rasakan,


Maafkan Kami ...Sayang !


Dan Tante ucapkan terima kasih, Kamu


Masih menjaga kehormatan Suamimu


Sampai akhir, Terima kasih " Lirihnya


lembut disela Isak tangisnya.


"Andai saja Istriku masih ada tentu Ia


merasa Dirinya yang paling kecewa


atas kejadian ini " Sesal Ayah mertuaku.


Aku mencoba tersenyum lirih dan terpaksa


Aku tidak ingin lebih menyakiti perasaan


Orang tua didepanku, Apalagi Orang tuaku


telah tiada, Hanya mereka kini yang Aku


punya, Walaupun kesalahan mas Fakih


Pada Kami fatal dan mungkin takbisa


Kumaafkan namun Aku sadar ada beberapa


hati yang ikut terluka dan Aku harus bisa


Menjaganya.


Aku menyongsong pelukan hangat Ayah


Mertuaku, Taklama usapan lembut


Mendarat dipucuk kepalaku.


"Jangan bersedih terlalu dalam sendirian


Ada Kami disini, Kamu sudah Ayah anggap


Putri Ayah bukan sebagai menantu dari


Dulu Nak..." Lirihnya


Aku bersyukur Orang - Orang disampingku


memberi kekuatan Padaku, Disaat satu


Orang yang menjadi belahan jiwaku


Membuat luka yang teramat dalam dihatiku


Dan Anak - anakku.


"Bunda tadi Bang Ar pergi sebentar karena


Dijemput Om Hilman, Mau minta izin


Sama Bunda, Bundanya lagi didalam sama


Eyang " Papar Akhsan yang menunggu


Kami didepan pintu kamarku, Ia sudah


Tampan dengan baju kokonya.


"Akhsan sudah shalat?" Tanyaku


Akhsan mengangguk.


"Sudah Bunda bareng Om Andri sama Om


Dika di mushala " Jawab Akhsan.


"Omnya sekarang mana?" Tanyaku.


"Mereka sedang membantu Pak Kirman


merapikan tempat dibawah " Jawab


Akhsan.


Aku tersenyum kearah bawah terlihat


Dua teman Arsyad sedang membantu Pak


Kirman merapikan tempat untuk tahlihan


nanti.


Aku pamit ke kamarku untuk membersihkan


Diriku, Sedangkan Akhsan dituntun oleh


Ayah mertuaku beserta Tante Rahma


Turun kelantai satu, Menyambut keluarga


nya yang datang kembali setelah tadi


pulang sesaat setelah pemakaman Mas


Fakih.


Menjelang acara tahlilan Mas Fakih,


Arsyad pulang wajahnya terlihat sendu


Namun Ia menyembunyikan dalam wajah


Datarnya, Ia hanya terdiam disudut ruangan


Duduk bersila seraya memangku Akhsan


Diantara teman - temanya.


"Ada apa ?" Tanyaku lembut


Saat Aku mendapati Arsyad tengah berdiri


Sendirian dibalkon, Aku yang tidak dapat


tidur berjalan keluar hendak mengambil


Air minum karena dikamarku telah habis.

__ADS_1


__ADS_2