
Aku masih terpaku, Menundukkan arah
Pandanganku menatap lurus kearah lantai,
Aku mencoba menekukkan kakiku agar Aku
bisa menopang wajahku dengan lututku..
Sesekali isakkan keluar dari bibirku,..
Seaakan tertahan di tenggorokan tercekat
begitu saja,
"Ceklek...!"
Terdengar pintu kamarku dibuka Seseorang,
Taklama terdengar derap langkah perlahan,
Usapan lembut tangan Seseorang meraih
Bahuku,
"Bunda....!" Panggilnya lembut.
Aku mendongakkan wajahku, Karena Aku
hafal suara ini,
"Arsyad....!" Ujarku terbata.
"Aku pulang Bunda.." Ujarnya lembut meraih
Tubuhku dalam pelukannya.
"Sudah! ..Kini ada Aku, Kita akan melauinya
bersama, " Lirihnya tertahan,
"Bunda jangan bersedih ini sudah waktunya
....Ayah pergi, Walaupun berat Kita harus
Ikhlas" Ujarnya parau kesedihan yang sama
Kami rasakan, Mungkin disinilah Arsyad
Yang paling sedih, Dirinya harus kehilangan
Ayah dan Ibunya diwaktu yang hampir ber
samaan, Itu membuatku semakin sesak
"Haruskah Aku membencimu disaat terakhir
mu ..Mas !" Jeritku tertahan dalam hati yang
hanya ada Isakkan tertahan diujung pita
Suaraku.
Arsyadpun tak banyak kata, Kami seolah
Tenggelam dalam perasaan masing -
masing,
"Tok ...tok ...tok "
Terdengar pintu diketuk dan dibuka Sese
Orang.
" Sayang ...Sudah saatnya Jenazah Fakih
Dikuburkan, Arsyad juga sudah datang"
Pinta Tante Rahma lembut menyadarkan
Diriku, Aku mengangguk lemah.
"Kamu takkan mengganti seragammu
dulu Nak ?" Tanya Tante Rahma pada
Arsyad,
Arsyad menggeleng, Karena melihat kon
disiku, Ia seakan enggan meninggalkan
Diriku, Memapahku berjalan menyusuri
tangga turun kelantai satu rumah Kami.
Aku duduk disamping jenazah Suamiku
Melihat wajahnya untuk yang terakhir kali
Menciuminya perlahan, Dengar tubuh yang
bergetar.
"Kalau memang ini caramu meninggalkan
Diriku, Aku ikhlas dengan rasa sakit ini
Supaya Kamu tenang disana Mas ....!"
Lirihku dalam Isak tangisku,....
Walaupun hanya bisa menjerit dalam
hati, Bibirku bergetar seraya mengantar
kepergiannya dengan do'a.
"Bunda...Kenapa Ayah pergi, Padahal
Ia berjanji liburan kali ini, Ayah akan
Menemani Kita piknik seraya menengok
Abang " Lirihnya terisak saat Aku mengham
Piri tubuh mungil putraku Akhsan yang
Berada dalam pangkuan Ayah mertuaku.
Wajah renta yang tertunduk seakan me
nyiratkan luka yang begitu dalam.
Aku memandang dalam wajah putraku
Disana tercetak wajah mas Fakih,
Bahkan senyumnya, Tawanya dan
Gerak geriknya semuanya tentang Mas
Fakih disana, Aku memeluknya erat
*****
__ADS_1
Angin kencang menerpa saat pemakaman
Mas fakih, Mas fakih dikuburkan selang
Beberapa jam pemakaman Seseorang,
Bahkan Mereka dikuburkan ditempat yang
Sama walau terhalang oleh beberapa kuburan
Aku masih terdiam namun sesekali mengu
capkan kata terima kasih kepada beberapa
Teman sejawat Mas Fakih yang datang
Sesekali Akhsan mengusap airmataku
Dengan tangan mungilnya, Dan Arsyad
Merengkuh bahuku,
Aku masih bersyukur ada dua Putra yang
Bisa dijadikan tempatku bersandar,
Yang dengan tangan terbuka menghapus
Rasa sedihku.
Kami berhenti disebuah gundukan tanah
merah yang masih basah, Aku menitip
Do' a untuknya, Walau rasa sakit sangat
Menghujam dadaku, Namun Aku sadar
Ada hati Seseorang disampingku yang tentu
nya sama - sama terluka.
Arsyad memegang jemariku erat, Kami
Saling menguatkan hati Kami masing
- masing,
"Atas Nama Ibu...Aku meminta maaf
Padamu " Lirihnya Mata yang memerah
Menahan gejolak perasaan didadanya,
"Aku akan menebus kesalahan Mereka
Dengan menjagamu seumur hidupku"
Janji Arsyad dalam hati, Seraya meman
dang dalam bola mata sang Bunda.
Aku mengusap lembut bahu Arsyad,
Seraya menuntun Akhsan untuk berlalu
Dari sana, Kami Orang terakhir yang me
ninggalkan area pemakaman,
Aku mempersilahkan teman - teman
Arsyad yang datang, Kebetulan Mereka
Dan menyuruh Mbok Sum membersihkan
Kamar tamu seraya menyiapkan makan
Malam untuk Mereka.
Akhsan tertidur setelah pulang dari pema
kaman, Tubuh mungilnya mungkin kelelahan
Aku mencium kening Putraku lembut,
Yang tengah terlelap, Walaupun masih
Terasa Isak tertahan diantara helaan nafas
nya, Aku semakin erat memeluknya
Akupun berusaha melupakan sesaat
Kesedihanku, Mencoba menutup mataku
Yang tak bisa terlelap dari kemarin.
Sayup - sayup Aku mendengar langkah
Seseorang, Mengusap lenganku lembut.
Perlahan menyelimuti tubuh Kami,
Kemudian sesaat Ia berlalu meninggalkan
Kami.
Aku terbangun menjelang sore bersama
Akhsan, Aku mengantarkan ke kamarnya
Dan menyuruhnya untuk mandi.
Terlihat Tante Rahma dan Ayah mertuaku
Menghampiriku, Mereka menggiringku
Memasuki ruangan kerja Mas Fakih.
"Ada yang ingin Kami bicarakan Padamu "
Ucap Tante Rahma.
Aku mengangguk mempersilahkan
Terlihat tangan renta Ayah Mertuaku menyam
but tanganku lembut,
"Nak...Izinkan Ayah meminta maaf Padamu
Atas nama Fakih, ... Walaupun Ayah tahu
Kesalahannya tidak dapat termaafkan "
Lirihnya.
Perlahan airmata kembali menggenang di
pelupuk mata Tante Rahma, Ia mengusap
bahuku pelan, Aku masih terdiam ...
Namun mengusap punggung tangan Ayah
__ADS_1
Mertuaku lembut seraya menahan sesak
Didada,
Tante Rahma mengusap bahuku pelan.
Ia memelukku erat.
"Tante mengerti, Kesalahan fakih Padamu
Sangat besar di akhir hidupnya,
Sebagai Seorang Perempuan Tante merasa
kan sakit seperti yang Kamu rasakan,
Maafkan Kami ...Sayang !
Dan Tante ucapkan terima kasih, Kamu
Masih menjaga kehormatan Suamimu
Sampai akhir, Terima kasih " Lirihnya
lembut disela Isak tangisnya.
"Andai saja Istriku masih ada tentu Ia
merasa Dirinya yang paling kecewa
atas kejadian ini " Sesal Ayah mertuaku.
Aku mencoba tersenyum lirih dan terpaksa
Aku tidak ingin lebih menyakiti perasaan
Orang tua didepanku, Apalagi Orang tuaku
telah tiada, Hanya mereka kini yang Aku
punya, Walaupun kesalahan mas Fakih
Pada Kami fatal dan mungkin takbisa
Kumaafkan namun Aku sadar ada beberapa
hati yang ikut terluka dan Aku harus bisa
Menjaganya.
Aku menyongsong pelukan hangat Ayah
Mertuaku, Taklama usapan lembut
Mendarat dipucuk kepalaku.
"Jangan bersedih terlalu dalam sendirian
Ada Kami disini, Kamu sudah Ayah anggap
Putri Ayah bukan sebagai menantu dari
Dulu Nak..." Lirihnya
Aku bersyukur Orang - Orang disampingku
memberi kekuatan Padaku, Disaat satu
Orang yang menjadi belahan jiwaku
Membuat luka yang teramat dalam dihatiku
Dan Anak - anakku.
"Bunda tadi Bang Ar pergi sebentar karena
Dijemput Om Hilman, Mau minta izin
Sama Bunda, Bundanya lagi didalam sama
Eyang " Papar Akhsan yang menunggu
Kami didepan pintu kamarku, Ia sudah
Tampan dengan baju kokonya.
"Akhsan sudah shalat?" Tanyaku
Akhsan mengangguk.
"Sudah Bunda bareng Om Andri sama Om
Dika di mushala " Jawab Akhsan.
"Omnya sekarang mana?" Tanyaku.
"Mereka sedang membantu Pak Kirman
merapikan tempat dibawah " Jawab
Akhsan.
Aku tersenyum kearah bawah terlihat
Dua teman Arsyad sedang membantu Pak
Kirman merapikan tempat untuk tahlihan
nanti.
Aku pamit ke kamarku untuk membersihkan
Diriku, Sedangkan Akhsan dituntun oleh
Ayah mertuaku beserta Tante Rahma
Turun kelantai satu, Menyambut keluarga
nya yang datang kembali setelah tadi
pulang sesaat setelah pemakaman Mas
Fakih.
Menjelang acara tahlilan Mas Fakih,
Arsyad pulang wajahnya terlihat sendu
Namun Ia menyembunyikan dalam wajah
Datarnya, Ia hanya terdiam disudut ruangan
Duduk bersila seraya memangku Akhsan
Diantara teman - temanya.
"Ada apa ?" Tanyaku lembut
Saat Aku mendapati Arsyad tengah berdiri
Sendirian dibalkon, Aku yang tidak dapat
tidur berjalan keluar hendak mengambil
Air minum karena dikamarku telah habis.
__ADS_1