Lembar Kenangan

Lembar Kenangan
* Episode 09


__ADS_3

Aku tahu setidaknya saat dan ucap ini akan


tiba, Namun tetap saja terasa mengganjal


Diujung hatiku, Rasa sesal, Marah dan.kese


dihan yang kurasa,


Aku termenung sendirian saat Mas Dewa


Pergi, Aku tahu ...Semuanya terasa sulit,


Namun aku sudah mengutarakan.maaf,


Walaupun Aku tahu aku mungkin tidak


pantas menerima maaf darimu, Namun


Setidaknya kata itu sudah kujadikan


Suatu permohonan Padanya.


"Aku manusia biasa, Punya rasa sakit dan


Sesal dalam dada, Aku tahu kesalahanku


Dulu tidak.akan terampuni olehmu, Aku


Pasrah ...." lirihku,


Aku membereskan bajuku bersama Akhsan,.


Saat Arsyad pulang petang ini, Ia masuk ke


dalam kamarnya yang ditempati olehku,


Setelah bercengkrama dengan Akhsan dan


Sedikit menggodanya yang tengah bermain


Gadget diruang tamu.


"Mau kemana Bunda? Bukankah.liburannya


Baru mulai?" Tanyanya dengan dahi mengkerut,


Aku termenung sesaat, Benar yang dikatakan


Arsyad, Liburanku bareng Akhsan baru saja


Dimulai, Sesaat mata Arsyad menyipit, Ia


Melihat ujung botol plastik putih yang tertutup


Oleh sedikit untaian bajuku,


"Tunggu....!" Pintanya menjeda, Aku menoleh


Sesaat bergeming sebentar,


Aku tergagap saat ekor matanya melihat


Sesuatu.


"Ada...appaaa...Bang ?" Tanyaku gugup.


Saat tangannya menyibak ujung kain bajuku,


Dan mengambilnya untuk memastikan, Ia


Mengambil, Dan memeriksanya secara


Seksama, Aku terhenyak Aku tak bisa


mengambilnya dari tangan Arsyad.


Sesaat mata itu terbuka lebar, Menyadari


Sesuatu,...Sedangkan wajahku terlihat pucat


pasi.


"Bisa Bunda jelaskan...?" Tanyanya


Aku terdiam, Dan tertunduk....menatap lantai


putih yang terasa dingin.


"Sejak kapan?" Tanyanya menurunkan nada


Bicaramya mengingat ada Akhsan diruang


tamu.


"Bunda.., Abang tahu bagaimana perasaan


mu, Tapi apakah harus?" Ujarnya menggantung.


Aku masih terdiam...Namun saat Aku melihat


Wajah Arsyad, Ia masih menanti jawaban.


Sesaat Ia menghela nafas, Ia meraih tanganku,


"Maaf,...Aku membiarkanmu sendirian,


Ini yang Abang takutkan kemarin saat Abang


pulang kesini, Ini pasti akan terjadi, Abang


Tahu Siapa Dirimu, Seseorang yang selalu.


Tenang dan.baik dipermukaan namun Abang


tahu...." Ucapannya kembali terjeda saat Ia


melihat airmata ini yang kembali luruh tak


Terasa menetes perlahan.


"Maaf .....!" Lirihku tertahan.


Arsyad tidak menjawab, Ia memelukku erat,


"Untuk apa minta maaf.." Ucapnya.


"Aku sadar,...Aku bukanlah wanita kuat,


Aku tidak setegar karang dilautan, Aku tidak


Setegar itu, ...Aku tak.bisa melupakannya...


Setiap malam Mas fakih selalu datang,...


Dan selalu Aku terbangun dengan menyedih


kan...Dan sendirian..." Lirihku terbata menahan


Sakit dan.kecewa.


"Aku...Aku hanya takut ...dan sakit hati diser


tai benci.yang tak.berujung...Aku ...Aku harus


Bagaimana Ar...Jawab Aku ....!"Aku meluapkan


Emosiku,


Tak ada jawaban hanya Ia mengeratkan pelukan


nya dan usapan.lembut dipunggungku.


"Mereka selalu ada dipikiran dan hidupku,


Apalagi Kami tinggal disatu atap yang sama,


Tentunya banyak kenangan diantara Kami


Yang tidak bisa Aku lupakan begitu saja,


Aku tidak bisa mengutarakan isi pikiranku,


Terhadap siapapun, ..Aku tak ingin membe


bani Orang - Orang disampingku.." Sambung

__ADS_1


ku getir.


Sesaat Arsyad menghela nafas


"Termasuk Aku ....Itulah


.yang membuatku berat saat meninggal


kan Kalian waktu itu" Ucapnya sendu.


Aku mengurai pelukannya perlahan,


"Maaf..." Lirihku.


"Pasti Kamu lelah? Tadi.sudah Bunda siap


kan makanan dimeja makan" Ucapku Padanya.


"Untuk saat ini.mungkin hanya ini yang bisa


Bunda lakukan untuk Abang ...Maaf Bunda


hanya bisa merepotkan" Sambungku lirih.


"Sejak kapan....Bunda mengkonsumsinya?"


Tanyanya lembut.


Sesaat Aku termenung kembali terdiam.


Kemudian sesaat menghela nafas yang


terasa berat.


"Beberapa minggu sejak kepergianmu,


Aku tak dapat mengontrol rasa marah,


Rasa sedih dihatiku, Rasa marah yang Aku


punya tidak bisa membuatku tenang,


Mereka seakan menertawakan diriku,


Namun Aku punya Akhsan dan Anak


Didikku, Aku tak ingin terlarut Aku ....


Harus bisa terlihat baik - baik saja dihadapan


Mereka, Namun Aku terasa berat, Aku tidak


Sekuat itu, Namun Aku tak ingin terlarut


Aku mendatangi temanku seorang psikiater,


Aku berobat disana, Aku meminum


Obat penenang saat Aku tertekan saja Ar...


Tidak berlebihan " Paparku menjelaskan,


Aku tidak ingin dirinya salah paham.


"Walapun kenyataannya begitu, Tolong


berhenti ...Masih ada Aku dan masih ada


Tuhan... Bertahanlah sebentar lagi Aku akan


Pulang,...Aku takut hal.berbahaya terjadi


Padamu, Lupakan tentang ini dan jangan


bergantung Padanya, Kita akan melewati ini,


Bunda harus berjanji Padaku " Pintanya.


Aku terdiam dan masih mencerna,


"Maukan demi Aku dan Akhsan" Ulangnya


meminta penuh pengharapan, Mata elang


Itu berubah lembut mengisyaratkan suatu


"Aku akan mencoba ..." Lirihku pertanda


jawaban.


Arsyad menutup koperku, Setelah sesaat


tersenyum lega.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi Padamu,


Namun tuntaskanlah janjimu menemaniku


Disini satu minggu kedepan sesuai perjan


jian, Walau.Aku tahu sesuatu terjadi Pada


mu dengan Pak Dewa, Boleh kutahu Siapa


Dia...Aku tahu ada sesuatu Aku membiarkan


Dirimu menjelaskan Padaku Tanpa harus


Aku mendengarkan dari orang lain , Bisa kan?"


Pintanya ...


Kembali Aku menghela nafas....


Sedangkan Arsyad mssih menunggu jawaban.


"Mas.Dewa....Adalah seseorang dari masalaluku,


Dia adalah Seseorang yang mengenalkanku


pada yang namanya cinta untuk yang pertama


kalinya, Dan memberikanku kisah yang indah,.


....." Sesaat Aku menjeda, ..merasakan sesuatu


menusuk jantungku.


Arsyad menganggukkan kepalanya


"Aku sudah mendunganya, Dari wajah Kalian


terlihat sebuah kisah " lirihnya.


"Ya dan Kisah itu tidak pernah ada kata akhir


Dari bibir Kami, Namun selesai ketika Aku


Yang menghianatinya dengan keadaan..."


Aku tidak dapat melanjutkan ucapanku,Seakan


Suaraku tercekat dikerongkongan terasa berat


"Sudah...Abang mengerti, Semuanya karena


Ayah dan keluarga bukan, Jika itu terasa berat,


Tak perlu untuk menjelaskan, Aku hanya cukup


tahu saja, Dari sikap Pak Dewa saja sudah tahu


Abang hanya ingin memastikan saja" Ucapnya


Mengusap punggung tanganku.


"Bagaimana sekarang apa masih sakit?"


Tanyanya beralih meraih tangan dan Kakiku


Yang masih memar, Aku beruntung Arsyad


Adalah seseorang yang begitu perhatian dan.


Sangat peduli padaku dan Akhsan, Ia menggan

__ADS_1


tikkan posisi mas.Fakih tempat Kami bersandar,


Tidak ...bahkan sebelum Mas Fakih pergi, Kami


Memang dekat lebih mirip seorang teman atau


Sahabat karena ditambah adik Mas Fakih


Karena Kami sama -.sama kesepian waktu itu,


Bahkan Arsyad memanggilku Bunda saat Aku


melahirkan Akhsan. Namun Aku sadar akan


Ada masanya dan.kurun waktu tertentu Aku


Dekat dengan Arsyad, Dia akan mempunyai


Seseorang dihatinya dan menikah, Arsyad adalah


Seorang Pria tampan dan gagah bukan lagi


Seorang anak smp berseragam putih biru


Saat pertama kali bertemu.


'Ahh...Sakit Bang...!" Saat Arsyad mencoba


menekan sedikit kakiku yang terlihat memar.


"Ini masih sakit....Sok - Sokan mau kabur,


Emang sanggup jalan jauh bawa koper,


Bawa anak kecil lagi, Kayak seorang istri


Yang kabur bawa anak kecil setelah ngalamin


Kdrt dari Suaminya.." Ucap Arsyad terkekeh,


"Nggak lucu tahu Ar...." Ujarku cemberut.


"Ya sudah,....Jangan merajuk lagi


ayo Kita makan, ...Abang lapar !" Pintanya.


Ia menuntunku yang secara tertatih mengikuti


Dirinya keluar kamar, Aku menuju dapur sedang


kan Dirinya mendekati Akhsan membuka


Earphone ditelinga Akhsan dan menaruh.gadget


nya diatas nakas.


"Ayo...Kita makan dulu " Pintanya, Akhsan


mengangguk, Arsyad menuntunnya dan duduk


bersama dikursi makan,


"Nasinya segini Bang ?" Tanyaku.


"Iya cukup...." Jawabnya


Aku menyerahkan piring beserta lauk padanya,


Bergiliran dengan Akhsan beserta air teh hangat


Yang tercium wangi khas daerah setempat.


Dan akhirnya Kami makan dengan tenang


Setelah berdo'a terlebih dahulu.


"Bunda...Ayamnya mau lagi" Pinta Akhsan


Arsyad yang dekat dengan Akhsan.mengambil


Ayam goreng dan menyerahkannya pada Akhsan.


"Makasih Bang " Ucap Akhsan.


****


Udara malam berhembus, Aroma tanah tercium


Sesaat yang terbawa oleh semilir angin, Suasa


na yang berbeda dan sedikit sepi, Apalagi rumah


Yang ditempati Arsyad berada paling ujung dan


berada di belokan jalan, Suasana tenang terasa


Jikalau malam hanya beberapa Orang yang me


lintas, Aku merasakan tenang disini,..Jauh dengan


Hingar bingar gemerlap suasana kota.


Terlihat Arsyad menuntun Akhsan berjalan dari


Belokan jalan, Aku tersenyum seraya membuka


pintu pagar...Taklama ucapan salam terdengar


Dari keduanya sebelum masuk.


"Kok nunggunya diluar dingin lho...." Ucap


Arsyad.


"Mau aja,...Abisnya didalam sepi sendirian"


Jawabku seraya dituntun Akhsan untuk


Masuk kedalam rumah.


"Kakinya masih sakit?" Tanya Akhsan.


"Nggak begitu terasa Sayang ....Besok juga


sembuh " Jawabku karena melihat Akhsan.


Khawatir.


"Ntar Abang Obatin...Sekarang Akhsan ganti


baju dulu, Entar Abang Obatin Bunda biar


Cepet sembuh" Ucap Arsyad supaya Akhsan


Tidak terlalu khawatir.


Aku menatap mereka, Dua Orang yang bersama


ku dan begitu peduli, Aku berjanji takkan pernah


Menyia - nyiakan waktu ini, Karena Kini Aku


Sadar Masa lalu seseorang cukup untuk dijadi


kan sebuah kenangan dan sebuah pembelajaran.


"Saat ini Aku akan memulai kisah baruku


Sendiri dengan tawa dan bahagia, Karena


Sejatinya hidup terlalu berharga"


Aku mengecup pelan.kening Akhsan yang


Tertidur memelukku posesif, Aku berdo'a


Sebelum menjemput mimpiku, Apalagi obat


Yang sebelumnya dikasih dokter membuatku


Mengantuk.


***************************************************


**Maaf lama Aku nggak up ya...

__ADS_1


**Bersambung ...tolong tinggalkan jejak sepert


biasa ya ....


__ADS_2