
Aku tahu setidaknya saat dan ucap ini akan
tiba, Namun tetap saja terasa mengganjal
Diujung hatiku, Rasa sesal, Marah dan.kese
dihan yang kurasa,
Aku termenung sendirian saat Mas Dewa
Pergi, Aku tahu ...Semuanya terasa sulit,
Namun aku sudah mengutarakan.maaf,
Walaupun Aku tahu aku mungkin tidak
pantas menerima maaf darimu, Namun
Setidaknya kata itu sudah kujadikan
Suatu permohonan Padanya.
"Aku manusia biasa, Punya rasa sakit dan
Sesal dalam dada, Aku tahu kesalahanku
Dulu tidak.akan terampuni olehmu, Aku
Pasrah ...." lirihku,
Aku membereskan bajuku bersama Akhsan,.
Saat Arsyad pulang petang ini, Ia masuk ke
dalam kamarnya yang ditempati olehku,
Setelah bercengkrama dengan Akhsan dan
Sedikit menggodanya yang tengah bermain
Gadget diruang tamu.
"Mau kemana Bunda? Bukankah.liburannya
Baru mulai?" Tanyanya dengan dahi mengkerut,
Aku termenung sesaat, Benar yang dikatakan
Arsyad, Liburanku bareng Akhsan baru saja
Dimulai, Sesaat mata Arsyad menyipit, Ia
Melihat ujung botol plastik putih yang tertutup
Oleh sedikit untaian bajuku,
"Tunggu....!" Pintanya menjeda, Aku menoleh
Sesaat bergeming sebentar,
Aku tergagap saat ekor matanya melihat
Sesuatu.
"Ada...appaaa...Bang ?" Tanyaku gugup.
Saat tangannya menyibak ujung kain bajuku,
Dan mengambilnya untuk memastikan, Ia
Mengambil, Dan memeriksanya secara
Seksama, Aku terhenyak Aku tak bisa
mengambilnya dari tangan Arsyad.
Sesaat mata itu terbuka lebar, Menyadari
Sesuatu,...Sedangkan wajahku terlihat pucat
pasi.
"Bisa Bunda jelaskan...?" Tanyanya
Aku terdiam, Dan tertunduk....menatap lantai
putih yang terasa dingin.
"Sejak kapan?" Tanyanya menurunkan nada
Bicaramya mengingat ada Akhsan diruang
tamu.
"Bunda.., Abang tahu bagaimana perasaan
mu, Tapi apakah harus?" Ujarnya menggantung.
Aku masih terdiam...Namun saat Aku melihat
Wajah Arsyad, Ia masih menanti jawaban.
Sesaat Ia menghela nafas, Ia meraih tanganku,
"Maaf,...Aku membiarkanmu sendirian,
Ini yang Abang takutkan kemarin saat Abang
pulang kesini, Ini pasti akan terjadi, Abang
Tahu Siapa Dirimu, Seseorang yang selalu.
Tenang dan.baik dipermukaan namun Abang
tahu...." Ucapannya kembali terjeda saat Ia
melihat airmata ini yang kembali luruh tak
Terasa menetes perlahan.
"Maaf .....!" Lirihku tertahan.
Arsyad tidak menjawab, Ia memelukku erat,
"Untuk apa minta maaf.." Ucapnya.
"Aku sadar,...Aku bukanlah wanita kuat,
Aku tidak setegar karang dilautan, Aku tidak
Setegar itu, ...Aku tak.bisa melupakannya...
Setiap malam Mas fakih selalu datang,...
Dan selalu Aku terbangun dengan menyedih
kan...Dan sendirian..." Lirihku terbata menahan
Sakit dan.kecewa.
"Aku...Aku hanya takut ...dan sakit hati diser
tai benci.yang tak.berujung...Aku ...Aku harus
Bagaimana Ar...Jawab Aku ....!"Aku meluapkan
Emosiku,
Tak ada jawaban hanya Ia mengeratkan pelukan
nya dan usapan.lembut dipunggungku.
"Mereka selalu ada dipikiran dan hidupku,
Apalagi Kami tinggal disatu atap yang sama,
Tentunya banyak kenangan diantara Kami
Yang tidak bisa Aku lupakan begitu saja,
Aku tidak bisa mengutarakan isi pikiranku,
Terhadap siapapun, ..Aku tak ingin membe
bani Orang - Orang disampingku.." Sambung
__ADS_1
ku getir.
Sesaat Arsyad menghela nafas
"Termasuk Aku ....Itulah
.yang membuatku berat saat meninggal
kan Kalian waktu itu" Ucapnya sendu.
Aku mengurai pelukannya perlahan,
"Maaf..." Lirihku.
"Pasti Kamu lelah? Tadi.sudah Bunda siap
kan makanan dimeja makan" Ucapku Padanya.
"Untuk saat ini.mungkin hanya ini yang bisa
Bunda lakukan untuk Abang ...Maaf Bunda
hanya bisa merepotkan" Sambungku lirih.
"Sejak kapan....Bunda mengkonsumsinya?"
Tanyanya lembut.
Sesaat Aku termenung kembali terdiam.
Kemudian sesaat menghela nafas yang
terasa berat.
"Beberapa minggu sejak kepergianmu,
Aku tak dapat mengontrol rasa marah,
Rasa sedih dihatiku, Rasa marah yang Aku
punya tidak bisa membuatku tenang,
Mereka seakan menertawakan diriku,
Namun Aku punya Akhsan dan Anak
Didikku, Aku tak ingin terlarut Aku ....
Harus bisa terlihat baik - baik saja dihadapan
Mereka, Namun Aku terasa berat, Aku tidak
Sekuat itu, Namun Aku tak ingin terlarut
Aku mendatangi temanku seorang psikiater,
Aku berobat disana, Aku meminum
Obat penenang saat Aku tertekan saja Ar...
Tidak berlebihan " Paparku menjelaskan,
Aku tidak ingin dirinya salah paham.
"Walapun kenyataannya begitu, Tolong
berhenti ...Masih ada Aku dan masih ada
Tuhan... Bertahanlah sebentar lagi Aku akan
Pulang,...Aku takut hal.berbahaya terjadi
Padamu, Lupakan tentang ini dan jangan
bergantung Padanya, Kita akan melewati ini,
Bunda harus berjanji Padaku " Pintanya.
Aku terdiam dan masih mencerna,
"Maukan demi Aku dan Akhsan" Ulangnya
meminta penuh pengharapan, Mata elang
Itu berubah lembut mengisyaratkan suatu
"Aku akan mencoba ..." Lirihku pertanda
jawaban.
Arsyad menutup koperku, Setelah sesaat
tersenyum lega.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi Padamu,
Namun tuntaskanlah janjimu menemaniku
Disini satu minggu kedepan sesuai perjan
jian, Walau.Aku tahu sesuatu terjadi Pada
mu dengan Pak Dewa, Boleh kutahu Siapa
Dia...Aku tahu ada sesuatu Aku membiarkan
Dirimu menjelaskan Padaku Tanpa harus
Aku mendengarkan dari orang lain , Bisa kan?"
Pintanya ...
Kembali Aku menghela nafas....
Sedangkan Arsyad mssih menunggu jawaban.
"Mas.Dewa....Adalah seseorang dari masalaluku,
Dia adalah Seseorang yang mengenalkanku
pada yang namanya cinta untuk yang pertama
kalinya, Dan memberikanku kisah yang indah,.
....." Sesaat Aku menjeda, ..merasakan sesuatu
menusuk jantungku.
Arsyad menganggukkan kepalanya
"Aku sudah mendunganya, Dari wajah Kalian
terlihat sebuah kisah " lirihnya.
"Ya dan Kisah itu tidak pernah ada kata akhir
Dari bibir Kami, Namun selesai ketika Aku
Yang menghianatinya dengan keadaan..."
Aku tidak dapat melanjutkan ucapanku,Seakan
Suaraku tercekat dikerongkongan terasa berat
"Sudah...Abang mengerti, Semuanya karena
Ayah dan keluarga bukan, Jika itu terasa berat,
Tak perlu untuk menjelaskan, Aku hanya cukup
tahu saja, Dari sikap Pak Dewa saja sudah tahu
Abang hanya ingin memastikan saja" Ucapnya
Mengusap punggung tanganku.
"Bagaimana sekarang apa masih sakit?"
Tanyanya beralih meraih tangan dan Kakiku
Yang masih memar, Aku beruntung Arsyad
Adalah seseorang yang begitu perhatian dan.
Sangat peduli padaku dan Akhsan, Ia menggan
__ADS_1
tikkan posisi mas.Fakih tempat Kami bersandar,
Tidak ...bahkan sebelum Mas Fakih pergi, Kami
Memang dekat lebih mirip seorang teman atau
Sahabat karena ditambah adik Mas Fakih
Karena Kami sama -.sama kesepian waktu itu,
Bahkan Arsyad memanggilku Bunda saat Aku
melahirkan Akhsan. Namun Aku sadar akan
Ada masanya dan.kurun waktu tertentu Aku
Dekat dengan Arsyad, Dia akan mempunyai
Seseorang dihatinya dan menikah, Arsyad adalah
Seorang Pria tampan dan gagah bukan lagi
Seorang anak smp berseragam putih biru
Saat pertama kali bertemu.
'Ahh...Sakit Bang...!" Saat Arsyad mencoba
menekan sedikit kakiku yang terlihat memar.
"Ini masih sakit....Sok - Sokan mau kabur,
Emang sanggup jalan jauh bawa koper,
Bawa anak kecil lagi, Kayak seorang istri
Yang kabur bawa anak kecil setelah ngalamin
Kdrt dari Suaminya.." Ucap Arsyad terkekeh,
"Nggak lucu tahu Ar...." Ujarku cemberut.
"Ya sudah,....Jangan merajuk lagi
ayo Kita makan, ...Abang lapar !" Pintanya.
Ia menuntunku yang secara tertatih mengikuti
Dirinya keluar kamar, Aku menuju dapur sedang
kan Dirinya mendekati Akhsan membuka
Earphone ditelinga Akhsan dan menaruh.gadget
nya diatas nakas.
"Ayo...Kita makan dulu " Pintanya, Akhsan
mengangguk, Arsyad menuntunnya dan duduk
bersama dikursi makan,
"Nasinya segini Bang ?" Tanyaku.
"Iya cukup...." Jawabnya
Aku menyerahkan piring beserta lauk padanya,
Bergiliran dengan Akhsan beserta air teh hangat
Yang tercium wangi khas daerah setempat.
Dan akhirnya Kami makan dengan tenang
Setelah berdo'a terlebih dahulu.
"Bunda...Ayamnya mau lagi" Pinta Akhsan
Arsyad yang dekat dengan Akhsan.mengambil
Ayam goreng dan menyerahkannya pada Akhsan.
"Makasih Bang " Ucap Akhsan.
****
Udara malam berhembus, Aroma tanah tercium
Sesaat yang terbawa oleh semilir angin, Suasa
na yang berbeda dan sedikit sepi, Apalagi rumah
Yang ditempati Arsyad berada paling ujung dan
berada di belokan jalan, Suasana tenang terasa
Jikalau malam hanya beberapa Orang yang me
lintas, Aku merasakan tenang disini,..Jauh dengan
Hingar bingar gemerlap suasana kota.
Terlihat Arsyad menuntun Akhsan berjalan dari
Belokan jalan, Aku tersenyum seraya membuka
pintu pagar...Taklama ucapan salam terdengar
Dari keduanya sebelum masuk.
"Kok nunggunya diluar dingin lho...." Ucap
Arsyad.
"Mau aja,...Abisnya didalam sepi sendirian"
Jawabku seraya dituntun Akhsan untuk
Masuk kedalam rumah.
"Kakinya masih sakit?" Tanya Akhsan.
"Nggak begitu terasa Sayang ....Besok juga
sembuh " Jawabku karena melihat Akhsan.
Khawatir.
"Ntar Abang Obatin...Sekarang Akhsan ganti
baju dulu, Entar Abang Obatin Bunda biar
Cepet sembuh" Ucap Arsyad supaya Akhsan
Tidak terlalu khawatir.
Aku menatap mereka, Dua Orang yang bersama
ku dan begitu peduli, Aku berjanji takkan pernah
Menyia - nyiakan waktu ini, Karena Kini Aku
Sadar Masa lalu seseorang cukup untuk dijadi
kan sebuah kenangan dan sebuah pembelajaran.
"Saat ini Aku akan memulai kisah baruku
Sendiri dengan tawa dan bahagia, Karena
Sejatinya hidup terlalu berharga"
Aku mengecup pelan.kening Akhsan yang
Tertidur memelukku posesif, Aku berdo'a
Sebelum menjemput mimpiku, Apalagi obat
Yang sebelumnya dikasih dokter membuatku
Mengantuk.
***************************************************
**Maaf lama Aku nggak up ya...
__ADS_1
**Bersambung ...tolong tinggalkan jejak sepert
biasa ya ....