Lembar Kenangan

Lembar Kenangan
*Episode 14


__ADS_3

Angin malam berhembus, Aku menyelimuti


Tubuh Akhsan, Kuciumi lembut keningnya,


Wajah tampan itu tidak terusik, Ia terlelap


Damai, Suara binatang malam terdengar


Dari luar, Seiring angin malam yang menyapu


Menghantarkan hawa dingin malam ini,


Kembali Aku membuka pintu mengarah ke


Balkon, Aku berjalan pelan menuju keluar


Kamarku, Setelah Aku beranjak keluar Aku


menutup pintunya kembali, Namun tidaklah


Rapat aku takut Akhsan terbangun dan mencariku,


Aku berdiri ditepian pagar, Memandang peman


dangan dibawah, Hamparan sawah yang sedang


Menguning karena sebentar lagi waktunya untuk


Panen, Aku memandang jalan setapak didekat


Gerbang rumahku, Aku tersenyum ketika terbayang


Sosok Mas Dewa sering menungguku disana,


Apalagi ketika pulang dari bengkel Ia akan


Mampir sekedar mengantar pesanan ku.


Ingatanku melayang ke masa itu.


"Suiit....suiiiit " Bunyi siulan kode dari Seseorang


Aku tersenyum saat itu karena ini Waktunya


Mas Dewa pulang dari bengkel, Aku berjalan


keluar dan melongok dari balkon ke bawah,


Senyumanku mengembang saat kulihat wajah


Lelahnya dibawah seraya tersenyum kearahku


Ia mengacungkan plastik pesananku yang dibawa


Dirinya, Aku tersenyum seraya menyuruh Dirinya


Menunggu ditempat biasa, Aku takut Kami


Ketahuan Ayah dan bisa dipastikan Ia akan


Memarahi kami.


Dengan mengendap - ngendap Aku keluar


Kamarku, Berjalan menuruni tangga lambat


Melalui beberapa ruangan setelah dipastikan


Aman Aku berjalan keluar melewati gerbang


Rumahku, Aku melewati jalan setapak sesekali


Menoleh kebelakang takut ketahuan keluarga


ku terutama Ayah, Aku berjalan terus hingga


Akhirnya Aku berhenti saat terlihat Mas Dewa


Sedang duduk di bangku taman dibelokan jalan


Disisi bendungan Irigasi, Suasana yang agak


Sepi namun masih terasa hangat sinar temaram


Senja yang masih menyapa.


Senyum mengembang diwajahnya saat Dirinya


melihat Diriku berjalan dengan tergesa - gesa


Menghampirinya, Ia menggeser duduknya


Mempersilahkan Diriku duduk disampingnya,


"Pesananku mana Mas ...?" Tanyaku tanpa


basa - basi.


Ia hanya terkekeh, Ia mengusap pipiku gemas,


Menyibak helai rambutku yang terbawa angin.


"Kamu itu....Baru juga sampe tarik nafas dulu


Bentaran Napa ? " Ujarnya,


"Kelamaan, Haus nih Mas !" Ujarku


Ia menyerahkan kantong kresek berisi


Sebungkus cilok dan satu cup es jeruk


Mataku berbinar bahagia cilok mang Oleh


Langganan Kami yang sering mangkal di


Depan bengkel tempat Mas Dewa kerja


Sepulang sekolah, Aku meraihnya seraya


Memakannya....


"Pelan - pelan makannya entar Kamu keselek,


Nggak bakal ada yang minta kok" Ujarnya


Mengingatkan,


"Abis ini enak...!" Ujarku


"Mas mau ?" Tawarku.


Ia hanya menggeleng, Seraya tersenyum manis


banget menurutku saat itu,

__ADS_1


"Udah ...Kamu makan aja, Mas udah makan


kok!" Ujarnya dan Aku tahu itu bohong, Saat


Aku lihat satu kantung plastik lagi untuk adik


- adiknya dirumah sudah dipastikan Ia tidak


Kebagian Karena Aku tahu upah dari membantu


Dibengkel memang tidak seberapa,


Terkadang Aku tidak tega, Namun Dirinya tetap


Akan selalu membelikan ku makanan, Entah


Apa yang selalu ada dipikirannya, Ia akan


Merajuk jika ketika ditawari sesuatu olehnya


Aku menolak.


"Ya sudah Kita makan bareng - bareng yuk!"


Ajakku, Seraya menyuapi dirinya satu buah


Cilok yang berbalur bumbu khas yang meng


goda,


Ia menggeleng, Tanda Ia menolak.


"Mas ini nggak bakalan abis, Lebih baik Kita


makannya barengan " Pintaku.


Akhirnya Ia membuka mulutnya, Dan dengan


Perlahan Ia mengunyah cilok yang Aku suapi


Tadi,


"Enakkan, ...Apalagi makannya Kita berdua"


Ucapku seraya tersenyum,


Ia tersenyum seraya menatap wajahku, Perlahan


Ia mengusap rambutku lembut.Terlihat siar mata


nya memandangku teduh.


"Ada apa ? Kok mandanginnnya segitunya sih,


Aku nggak bakalan ngilang kok" Ujarku.


"Nggak...Hanya saja Aku lagi nikmatin keber


samaan Kita, Moga aja Kita bisa menikmati


Saat - saat kebersamaan Kita seperti saat ini"


Lirihnya,


"Aamiiin..." Jawabku seraya menyeruput es


Jeruk yang dibawanya tadi.


Ia merengkuh bahuku erat, Sepertinya beban


"Eh ngomong - ngomong Mas Dewa mau nge


lanjutin kemana? " Tanyaku seraya menoleh


Memandang wajahnya dalam, Aku tahu Mas


Dewa mau lulus sebentar lagi dan Akupun


Naik kelas ke kelas 2 SMA.


"Atau nggak gini aja Mas Dewa kan pinter,


Pasti dapet beasiswa kuliahnya nanti Aku


akan belajar lebih giat biar Aku nyusulin Mas


Dewa kuliah disana, Biar Kita kuliahnya di


Kampus yang sama, Gimana.,?" Tanyaku


Antusias.


Sorot mata teduh Mas Dewa memandang


Wajahku dalam, Riak air mukanya berubah


Terlihat sedih disana.


"Al...Maaf ...." Lirihnya.


Dahiku bertaut, Kenapa dari sorot matanya


Tersirat gundah dan terlihat sedih seakan


Ada beban disana....


"Kenapa Mas.....?"


"Jangan bilang Mas nggak akan kuliah,


Mas Dewa kan pinter dapet beasiswa


lagi, Sayang kalo disia - siain Mas"


Sambung ku berapi - api.


"Gini...Dengar dulu " Potongnya.


Sesaat Ia menghela nafas berat,


Aku mencoba terdiam menelaah wajahnya,


Mendengar apa jawabannya lebih lanjut.


"Aku mau daftar TNI Alisha.....Ini cita - citaku


Dari semenjak Aku kecil, Kamu tahu itu kan?"


Ucapnya,


Aku tertunduk, ....Aku tahu itu adalah impian


Dirinya sedari dulu, Bukannya Aku tidak setuju


Jika Dirinya menjadi prajurit, Karena sudah

__ADS_1


Dipastikan waktuku bersamanya akan ber


kurang, Belum lagi jika Dirinya ditugaskan


Ke beberapa daerah, Otomatis Kita akan


Berpisah dalam jangka waktu yang agak


lama, Dan hubungan Kamipun akan LDR


Apa Aku akan sanggup menahan rindu untuk


Bertemu dengannya,


"Gimana...Alisha mau nunggu Mas?"


Tanyanya perlahan Ia menunggu jawaban


Dariku.


Sesaat aku memandang wajahnya dalam,


Ia meraih jemariku erat,


"Alisha ...Mau kan Kamu nunggu,


Insyaallah Mas akan berjuang untuk menjadi


Calon mantu yang Pantas untuk Ayahmu,


Dan Suami yang dapat dibanggakan oleh


Istrinya, Supaya Aku bisa berdiri tegap disam


pingmu .." Lirihnya.


Aku tertunduk, Perlahan air mataku meleleh


Menuruni pipi putihku, Sebegitu kerasnya


Ia berjuang...Aku tahu dan merasa berdosa


Padanya, Apalagi perlakuan Ayah yang Ter


lalu keras Padanya karena memang Ayah


Tidak menyetujui hubungan Kami.


"Sayang dengar....Aku juga ingin membahagia


kan Dirimu dan menjadi kebanggaan Kamu


Dan anak Kita nantinya, Walaupun Aku tahu


Semua pekerjaan dan profesi itu mulia namun


Ini adalah cita - citaku sedari dulu, Kamu mau


Ngerti dan menunggu Aku kan ?" Tanyanya


Aku mencoba menengadahkan wajahku


Memandang wajahnya dalam, .....


Wajah tampan yang berbalut kesederhanaan,


Yang selalu menghawatirkan Diriku.


Sorot mata setajam elang yang selalu berdiri


Kokoh tidak tersentuh, Dengan segala ketegasan


Muncul dalam Dirinya, Ia dewasa dengan


Keadaan dan keterbatasan yang ada,


Berbanding terbalik dengan Diriku yang notabene


Anak manja dan cengeng, Namun saat bersama


Dirinya Aku merasa tenang dan terlindungi.


Aku memeluknya erat, Tidak perduli dengan


Keadaannya saat itu, Aku tidak boleh egois


Dengan keinginan dan pemikiran Diriku


Sendiri, Karena aku sangat mencintai Dirinya,


Aku akan selalu mendukungnya dan selalu


berjalan disisinya.


"Maafkan Aku Al...." Lirihnya.


"Maaf jika cita - citaku membebani Kamu "


Sambungnya, Perlahan Ia membalas


Pelukanku lebih erat, Aku membenamkan


Wajahku didadanya, Semilir angin senja


Menyapa Kami, Aku mengeratkan pelukan


Ku.


"Aku tahu Mas berjuang demi masa depan


Kita, ...Aku akan menunggumu Mas, Dan


Akan selalu mendukung Dirimu, Walaupun


Aku tahu berpisah darimu terasa berat


Untukku, ...Namun Aku akan berusaha "


Lirihku kembali perlahan, Karena Aku sangat


Tahu berpisah darinya itu sangat berat


Untukku.


Perlahan Ia mencium ujung kepalaku dalam.


"Terimakasih Al....Kamu mau menunggu Aku


Dan bersabar untuk itu" Ucapnya.


**********************************************


**Bersambung


**Seperti biasa. ya, Please 🙏😘

__ADS_1


__ADS_2