
Angin malam berhembus, Aku menyelimuti
Tubuh Akhsan, Kuciumi lembut keningnya,
Wajah tampan itu tidak terusik, Ia terlelap
Damai, Suara binatang malam terdengar
Dari luar, Seiring angin malam yang menyapu
Menghantarkan hawa dingin malam ini,
Kembali Aku membuka pintu mengarah ke
Balkon, Aku berjalan pelan menuju keluar
Kamarku, Setelah Aku beranjak keluar Aku
menutup pintunya kembali, Namun tidaklah
Rapat aku takut Akhsan terbangun dan mencariku,
Aku berdiri ditepian pagar, Memandang peman
dangan dibawah, Hamparan sawah yang sedang
Menguning karena sebentar lagi waktunya untuk
Panen, Aku memandang jalan setapak didekat
Gerbang rumahku, Aku tersenyum ketika terbayang
Sosok Mas Dewa sering menungguku disana,
Apalagi ketika pulang dari bengkel Ia akan
Mampir sekedar mengantar pesanan ku.
Ingatanku melayang ke masa itu.
"Suiit....suiiiit " Bunyi siulan kode dari Seseorang
Aku tersenyum saat itu karena ini Waktunya
Mas Dewa pulang dari bengkel, Aku berjalan
keluar dan melongok dari balkon ke bawah,
Senyumanku mengembang saat kulihat wajah
Lelahnya dibawah seraya tersenyum kearahku
Ia mengacungkan plastik pesananku yang dibawa
Dirinya, Aku tersenyum seraya menyuruh Dirinya
Menunggu ditempat biasa, Aku takut Kami
Ketahuan Ayah dan bisa dipastikan Ia akan
Memarahi kami.
Dengan mengendap - ngendap Aku keluar
Kamarku, Berjalan menuruni tangga lambat
Melalui beberapa ruangan setelah dipastikan
Aman Aku berjalan keluar melewati gerbang
Rumahku, Aku melewati jalan setapak sesekali
Menoleh kebelakang takut ketahuan keluarga
ku terutama Ayah, Aku berjalan terus hingga
Akhirnya Aku berhenti saat terlihat Mas Dewa
Sedang duduk di bangku taman dibelokan jalan
Disisi bendungan Irigasi, Suasana yang agak
Sepi namun masih terasa hangat sinar temaram
Senja yang masih menyapa.
Senyum mengembang diwajahnya saat Dirinya
melihat Diriku berjalan dengan tergesa - gesa
Menghampirinya, Ia menggeser duduknya
Mempersilahkan Diriku duduk disampingnya,
"Pesananku mana Mas ...?" Tanyaku tanpa
basa - basi.
Ia hanya terkekeh, Ia mengusap pipiku gemas,
Menyibak helai rambutku yang terbawa angin.
"Kamu itu....Baru juga sampe tarik nafas dulu
Bentaran Napa ? " Ujarnya,
"Kelamaan, Haus nih Mas !" Ujarku
Ia menyerahkan kantong kresek berisi
Sebungkus cilok dan satu cup es jeruk
Mataku berbinar bahagia cilok mang Oleh
Langganan Kami yang sering mangkal di
Depan bengkel tempat Mas Dewa kerja
Sepulang sekolah, Aku meraihnya seraya
Memakannya....
"Pelan - pelan makannya entar Kamu keselek,
Nggak bakal ada yang minta kok" Ujarnya
Mengingatkan,
"Abis ini enak...!" Ujarku
"Mas mau ?" Tawarku.
Ia hanya menggeleng, Seraya tersenyum manis
banget menurutku saat itu,
__ADS_1
"Udah ...Kamu makan aja, Mas udah makan
kok!" Ujarnya dan Aku tahu itu bohong, Saat
Aku lihat satu kantung plastik lagi untuk adik
- adiknya dirumah sudah dipastikan Ia tidak
Kebagian Karena Aku tahu upah dari membantu
Dibengkel memang tidak seberapa,
Terkadang Aku tidak tega, Namun Dirinya tetap
Akan selalu membelikan ku makanan, Entah
Apa yang selalu ada dipikirannya, Ia akan
Merajuk jika ketika ditawari sesuatu olehnya
Aku menolak.
"Ya sudah Kita makan bareng - bareng yuk!"
Ajakku, Seraya menyuapi dirinya satu buah
Cilok yang berbalur bumbu khas yang meng
goda,
Ia menggeleng, Tanda Ia menolak.
"Mas ini nggak bakalan abis, Lebih baik Kita
makannya barengan " Pintaku.
Akhirnya Ia membuka mulutnya, Dan dengan
Perlahan Ia mengunyah cilok yang Aku suapi
Tadi,
"Enakkan, ...Apalagi makannya Kita berdua"
Ucapku seraya tersenyum,
Ia tersenyum seraya menatap wajahku, Perlahan
Ia mengusap rambutku lembut.Terlihat siar mata
nya memandangku teduh.
"Ada apa ? Kok mandanginnnya segitunya sih,
Aku nggak bakalan ngilang kok" Ujarku.
"Nggak...Hanya saja Aku lagi nikmatin keber
samaan Kita, Moga aja Kita bisa menikmati
Saat - saat kebersamaan Kita seperti saat ini"
Lirihnya,
"Aamiiin..." Jawabku seraya menyeruput es
Jeruk yang dibawanya tadi.
Ia merengkuh bahuku erat, Sepertinya beban
"Eh ngomong - ngomong Mas Dewa mau nge
lanjutin kemana? " Tanyaku seraya menoleh
Memandang wajahnya dalam, Aku tahu Mas
Dewa mau lulus sebentar lagi dan Akupun
Naik kelas ke kelas 2 SMA.
"Atau nggak gini aja Mas Dewa kan pinter,
Pasti dapet beasiswa kuliahnya nanti Aku
akan belajar lebih giat biar Aku nyusulin Mas
Dewa kuliah disana, Biar Kita kuliahnya di
Kampus yang sama, Gimana.,?" Tanyaku
Antusias.
Sorot mata teduh Mas Dewa memandang
Wajahku dalam, Riak air mukanya berubah
Terlihat sedih disana.
"Al...Maaf ...." Lirihnya.
Dahiku bertaut, Kenapa dari sorot matanya
Tersirat gundah dan terlihat sedih seakan
Ada beban disana....
"Kenapa Mas.....?"
"Jangan bilang Mas nggak akan kuliah,
Mas Dewa kan pinter dapet beasiswa
lagi, Sayang kalo disia - siain Mas"
Sambung ku berapi - api.
"Gini...Dengar dulu " Potongnya.
Sesaat Ia menghela nafas berat,
Aku mencoba terdiam menelaah wajahnya,
Mendengar apa jawabannya lebih lanjut.
"Aku mau daftar TNI Alisha.....Ini cita - citaku
Dari semenjak Aku kecil, Kamu tahu itu kan?"
Ucapnya,
Aku tertunduk, ....Aku tahu itu adalah impian
Dirinya sedari dulu, Bukannya Aku tidak setuju
Jika Dirinya menjadi prajurit, Karena sudah
__ADS_1
Dipastikan waktuku bersamanya akan ber
kurang, Belum lagi jika Dirinya ditugaskan
Ke beberapa daerah, Otomatis Kita akan
Berpisah dalam jangka waktu yang agak
lama, Dan hubungan Kamipun akan LDR
Apa Aku akan sanggup menahan rindu untuk
Bertemu dengannya,
"Gimana...Alisha mau nunggu Mas?"
Tanyanya perlahan Ia menunggu jawaban
Dariku.
Sesaat aku memandang wajahnya dalam,
Ia meraih jemariku erat,
"Alisha ...Mau kan Kamu nunggu,
Insyaallah Mas akan berjuang untuk menjadi
Calon mantu yang Pantas untuk Ayahmu,
Dan Suami yang dapat dibanggakan oleh
Istrinya, Supaya Aku bisa berdiri tegap disam
pingmu .." Lirihnya.
Aku tertunduk, Perlahan air mataku meleleh
Menuruni pipi putihku, Sebegitu kerasnya
Ia berjuang...Aku tahu dan merasa berdosa
Padanya, Apalagi perlakuan Ayah yang Ter
lalu keras Padanya karena memang Ayah
Tidak menyetujui hubungan Kami.
"Sayang dengar....Aku juga ingin membahagia
kan Dirimu dan menjadi kebanggaan Kamu
Dan anak Kita nantinya, Walaupun Aku tahu
Semua pekerjaan dan profesi itu mulia namun
Ini adalah cita - citaku sedari dulu, Kamu mau
Ngerti dan menunggu Aku kan ?" Tanyanya
Aku mencoba menengadahkan wajahku
Memandang wajahnya dalam, .....
Wajah tampan yang berbalut kesederhanaan,
Yang selalu menghawatirkan Diriku.
Sorot mata setajam elang yang selalu berdiri
Kokoh tidak tersentuh, Dengan segala ketegasan
Muncul dalam Dirinya, Ia dewasa dengan
Keadaan dan keterbatasan yang ada,
Berbanding terbalik dengan Diriku yang notabene
Anak manja dan cengeng, Namun saat bersama
Dirinya Aku merasa tenang dan terlindungi.
Aku memeluknya erat, Tidak perduli dengan
Keadaannya saat itu, Aku tidak boleh egois
Dengan keinginan dan pemikiran Diriku
Sendiri, Karena aku sangat mencintai Dirinya,
Aku akan selalu mendukungnya dan selalu
berjalan disisinya.
"Maafkan Aku Al...." Lirihnya.
"Maaf jika cita - citaku membebani Kamu "
Sambungnya, Perlahan Ia membalas
Pelukanku lebih erat, Aku membenamkan
Wajahku didadanya, Semilir angin senja
Menyapa Kami, Aku mengeratkan pelukan
Ku.
"Aku tahu Mas berjuang demi masa depan
Kita, ...Aku akan menunggumu Mas, Dan
Akan selalu mendukung Dirimu, Walaupun
Aku tahu berpisah darimu terasa berat
Untukku, ...Namun Aku akan berusaha "
Lirihku kembali perlahan, Karena Aku sangat
Tahu berpisah darinya itu sangat berat
Untukku.
Perlahan Ia mencium ujung kepalaku dalam.
"Terimakasih Al....Kamu mau menunggu Aku
Dan bersabar untuk itu" Ucapnya.
**********************************************
**Bersambung
**Seperti biasa. ya, Please 🙏😘
__ADS_1