Lembar Kenangan

Lembar Kenangan
*Karma 2


__ADS_3

Kulihat wajah itu menoleh, Ia menatapku


Dalam.


"Ada apa Bang?" Ulangku lembut.


Sesaat terbit senyum terpaksa dibibirnya


Mencoba menyamarkan perasaannya,


"Tidak ada, Arsyad hanya memikirkan


Cuma Beberapa hari disini, Abang harus


kembali walaupun cuma sebentar untuk


menyelesaikan masa tugas Abang yang


hanya tinggal Beberapa bulan kedepan "


Ucapnya terlihat Ia menghela nafas dalam.


"Abang hanya tidak tega meninggalkan


Bunda dan Akhsan disini" Sambungnya.


Aku meraih tangannya lembut, Dan me


ngusap punggung tangannya berusaha


Tersenyum walau terpaksa, Aku tidak


Ingin membebani perasaannya, Walau


bagaimanapun Dirinya mempunyai tugas


Yang diembannya.


"Bunda dan Akhsan akan baik - baik saja,


Kamu selesaikan tugas yang tersisa,


Jangan pikirkan Kami, Bunda masih


Punya Akhsan, Kamu jangan khawatir


lagipula ada Mbok Sum, Pak Kirman


Eyang dan keluarga Ayah disini"


Paparku Padanya.


Taklama Ia merengkuhku erat.


"Aku bersyukur mempunyai Bunda sepertimu,


Andai Ibuku adalah Bunda, Tentu Aku


sangat bahagia terlahir didunia ini "


Lirihnya.


Aku mengusap punggungnya pelan,


Secara perlahan, Memberikan ketenangan


Padanya,


"Aku adalah Bundamu, Dan akan selalu


Menjadi Bundamu, ....Nak,


Aku yang akan selalu menantimu pulang,


Aku yang selalu khawatir tentang keadaan


Dirimu, Yang selalu berharap Kamu akan


baik - baik Saja dimana pun Kamu berada"


Tak terasa air mata berjatuhan saat Aku


Mengingat akan Mas Fakih dan Mbak


Riana, Hatiku mendadak nyeri seakan


Beribu palu menghujam dadaku, Tak terasa


Isakan tertahan hanya bahu yang terguncang


Dalam pelukan Arsyad.


"Walaupun Aku tahu kesalahan Mereka


tidak bisa dimaafkan, Namun Izinkan


Aku bersama kalian untuk menebus kesa


lahan Mereka" Lirihnya sendu, Ia sangat


tahu apa yang Aku rasakan.


"Menangislah, Masih ada bahuku untuk


menjadikan tempat bersandar, Tunggulah


Beberapa waktu, Aku akan kembali "


Pintanya,


Sesaat Aku merasakan pusing dikepalaku,


Disebabkan karena terlalu banyak mena


ngis, Aku mengurai pelukannya, Mengangguk


Perlahan seraya meringis tertahan.


"Bunda Kenapa ?" Tanyanya


"Bunda hanya pusing Sayang..." Jawabku


lembut seraya berbalik arah hendak mening


galkan Arsyad seraya memegang kepalaku


Yang terasa amat berat, Namun tanganku


Dicekal Arsyad,


"Abang antarkan Bunda " Ujarnya seraya


Memegang tanganku, Dan memapahku


pelan.


Arsyad membetulkan letak bantalku,


Dan menyuruhku berbaring.


"Aku ambil obat dulu" Ijinnya.


Seraya berlalu keluar.


Aku memejamkan mata disamping Akhsan


Yang tertidur bersamaku kali ini, Biarlah

__ADS_1


Akhsan menggantikan Mas Fakih,


Sesaat Aku memejamkan mataku,


Namun taklama Arsyad datang membawa


Obat dan sebotol air mineral.


Aku meminum Obat yang diserahkan Arsyad.


Setelah itu Aku berbaring kembali,


"Istirahatlah,...Bunda tahu Abang lelah,


Abang belum tidur dari semenjak datang


Bukan !" Pintaku lembut,


Ia memandangku tak tega,


"Bunda baik - baik saja, Bunda akan sehat


lagi setelah minum obat " Sambungku,


Arsyad menghela nafas, Ia mengusap


punggung tanganku lembut, Dan menye


limuti tubuhku dan Akhsan, Setelah itu


Ia mengganti lampu kamarku dengan


Lampu tidur taklama Ia berlalu seraya


Menutup pintu.


Aku memejamkan mata menahan pusing


Kepalaku yang mendera.


Namun bayang - bayang senyuman Mas


Fakih selalu terbayang dipelupuk mataku,


Senyumnya, Kehangatan pelukannya,


Dan lembut tutur katanya selalu Kuingat.


Romantis dan penuh kasih sayang.


Dirinya yang dewasa selalu membimbing


Diriku yang lebih muda darinya, Umur Kami


Pun terpaut agak jauh, Dia sangat sayang


Padaku karena menyadari statusnya yang


Seorang duda berputra waktu itu,


"Aku tahu pernikahan ini terpaksa bagimu,


Namun percayalah akan Kubuat Kamu


jatuh cinta Padaku, Itu janjiku !"Ucapnya.


Diawal pernikahan Kami, Karena memang


Aku tidak pernah menerima pernikahan


Ini dikarenakan Aku sendiri menghianati


Janjiku pada Seseorang.


Wajah sendu Arsyad yang saat itu masih


haus akan kasih sayang memperlakukan


Aku seolah Aku ibunya dan menjadikan


Aku Orang yang sangat berarti dihidupnya,


Arsyad menerimaku dengan tangan terbuka,


Perbedaan umur Kami yang terpaut 7 tahun


Menjadikan Kami semakin dekat, Namun


Arsyad adalah Anak yang sopan, Ia selalu


Menurut titah Kami, Selalu menjadi Putra


Yang dapat dibanggakan Oleh Kami,


"Al...Kamu baik - baik saja bukan?"


Usapan lembut Seseorang terasa dingin


Dikeningku, Mataku terbuka terlihat wajah


Sendu Mas Fakih didepanku, Ia duduk


Disampingku dibibir tempat tidur


Aku hanya terdiam.goresan luka itu masih


Terasa menganga dalam hatiku,


"Maaf.....!" Ujarnya parau.


Aku hanya menutup mata, Kata ini yang


Tidak ingin Aku dengar, Namun air mata


Tak urung turun perlahan dari ujung mataku.


Mengalir perlahan dipipi putihku.


"Sayang...Mas tahu kesalahan ini tak bisa


Dimaafkan, Namun Mas tak tega mening


galkanmu seperti ini" Lirihnya,


Tangan dinginnya menghapus air mataku


Lembut.


Aku terisak dalam tangis, Air mata ini


tak bisa terbendung lagi,


"Cukup sudah Mas,...Aku membencimu!"


Teriakku terisak, Apalagi terlihat tangan


Mbak Riana terulur membawa Mas Fakih


Pergi.


Aku menangis sendirian, Terisak perlahan


Kenapa kebahagiaanku harus terenggut,


Aku merindukan suamiku sekaligus sangat


Membencinya.

__ADS_1


"Aku rindu Kamu sekaligus Aku membenci


Dirimu Mas..." Lirihku terisak.


"Aku benciiiiij.....!" Teriakku.


"Bunda ...Bangun Bunda!" Pinta Seseorang


Tangannya menepuk Pipiku lembut,


Perlahan Aku membuka mata, Samar


- samar kulihat Arsyad duduk disisi tubuhku,


"Bunda.." Lirih Akhsan disisi Kiri tubuhku.


Ia menatapku khawatir, Aku masih terbayang


Wajah Mas Fakih barusan.


Arsyad mengusap keringat diwajahku dengan


Tisu perlahan Ia menghapus air mataku.


"Maaf ....Bunda hanya takuut" lirihku pilu,


Sakit dihati ini masih terasa,


Aku memeluk Akhsan yang pucat, Mungkin


Aku mengganggu tidurnya.


"Maafkan Bunda Sayang... Tidurlah kembali


Bunda tidak apa - apa" Ujarku parau.


"Tidak apa, Karena sebentar lagi Aku shalat


malam, Aku akan menunggu dan shalat disini,


Bunda Istirahatlah" Pinta Arsyad.


"Tapii....Bunda takut Kamu sakit Nak "


Ujarku.


Ia tersenyum,


"Bunda lupa Aku seorang prajurit, Kami telah


terbiasa Bunda " Ujarnya.


"Sudah istirahatlah kembali, Aku hanya takut


Kalian sakit, Aku takut saat Akhsan mencari


Ku kekamar Karena menghawatirkan dirimu"


Sambungnya.


Aku memeluk Akhsan semakin erat,


"Maafkan Bunda....Sayang !" Ujarku lembut


Aku dilanda rasa bersalah pada Mereka.


"Tidurlah kembali, Ada Kami disini"


Titah Arsyad.


Kini Aku berusaha terlelap seraya memeluk


Erat Akhsan putraku, Mencoba melupakan


Rasa sedih dan kecewaku sesaat,


Usapan tangan mungil Akhsan mengusap


Punggungku seperti yang selalu kulakukan


Saat menidurkan Aksan, Aku tersenyum


"Terima kasih Sayang..., Kalian semua


Putra Bunda " Lirihku.


Arsyad mengambil kursi kerja Mas Fakih,


Dan menaruhnya di samping tempat tidurku


"Aku akan ada disini, Bersama Kalian"


Ucapnya.


"Tapii ....Bang !" Potongku.


"Sudah ...Bunda tidur saja bersama Akhsan"


Titahnya kembali.


Aku mencoba menuruti permintaannya,


Kembali memejamkan mata, Setelah


berdo' a, Memeluk tubuh mungil Akhsan


Serasa memeluk tubuh Mas Fakih.


Karena sejujurnya rasa rindu itu terselip


Diantara rasa benci dan kecewa.


" Sejenak Aku ingin lupa saat Kamu me


nyakitiku Mas,...Namun maaf Aku tak


bisa, Ini terlalu sakit " Lirihku disela Do'a


Yang terpanjat untuk Dirinya, Yang selama


Ini menjadi Imamku namun pada akhirnya


Ia menorehkan luka yang teramat dalam


bagi Kami.


"Sakit ini yang kurasakan saat Kamu


Menghianatiku Al, ...Dan kini Kamu


Merasakan apa yang Aku rasakan


dahulu ...." Terdengar bisikan Seseorang


Dan Aku tahu suara itu.


"Mas Dewa ..!"


********************************************


**Bersambung


**Kita berjumpa dikarya recehku kali ini,


Mencoba kisah dan Alur yang berbeda


Semoga berkenan, Dan taklupa tinggalkan.

__ADS_1


jejaknya ....Please 🙏😘


__ADS_2