
Kulihat wajah itu menoleh, Ia menatapku
Dalam.
"Ada apa Bang?" Ulangku lembut.
Sesaat terbit senyum terpaksa dibibirnya
Mencoba menyamarkan perasaannya,
"Tidak ada, Arsyad hanya memikirkan
Cuma Beberapa hari disini, Abang harus
kembali walaupun cuma sebentar untuk
menyelesaikan masa tugas Abang yang
hanya tinggal Beberapa bulan kedepan "
Ucapnya terlihat Ia menghela nafas dalam.
"Abang hanya tidak tega meninggalkan
Bunda dan Akhsan disini" Sambungnya.
Aku meraih tangannya lembut, Dan me
ngusap punggung tangannya berusaha
Tersenyum walau terpaksa, Aku tidak
Ingin membebani perasaannya, Walau
bagaimanapun Dirinya mempunyai tugas
Yang diembannya.
"Bunda dan Akhsan akan baik - baik saja,
Kamu selesaikan tugas yang tersisa,
Jangan pikirkan Kami, Bunda masih
Punya Akhsan, Kamu jangan khawatir
lagipula ada Mbok Sum, Pak Kirman
Eyang dan keluarga Ayah disini"
Paparku Padanya.
Taklama Ia merengkuhku erat.
"Aku bersyukur mempunyai Bunda sepertimu,
Andai Ibuku adalah Bunda, Tentu Aku
sangat bahagia terlahir didunia ini "
Lirihnya.
Aku mengusap punggungnya pelan,
Secara perlahan, Memberikan ketenangan
Padanya,
"Aku adalah Bundamu, Dan akan selalu
Menjadi Bundamu, ....Nak,
Aku yang akan selalu menantimu pulang,
Aku yang selalu khawatir tentang keadaan
Dirimu, Yang selalu berharap Kamu akan
baik - baik Saja dimana pun Kamu berada"
Tak terasa air mata berjatuhan saat Aku
Mengingat akan Mas Fakih dan Mbak
Riana, Hatiku mendadak nyeri seakan
Beribu palu menghujam dadaku, Tak terasa
Isakan tertahan hanya bahu yang terguncang
Dalam pelukan Arsyad.
"Walaupun Aku tahu kesalahan Mereka
tidak bisa dimaafkan, Namun Izinkan
Aku bersama kalian untuk menebus kesa
lahan Mereka" Lirihnya sendu, Ia sangat
tahu apa yang Aku rasakan.
"Menangislah, Masih ada bahuku untuk
menjadikan tempat bersandar, Tunggulah
Beberapa waktu, Aku akan kembali "
Pintanya,
Sesaat Aku merasakan pusing dikepalaku,
Disebabkan karena terlalu banyak mena
ngis, Aku mengurai pelukannya, Mengangguk
Perlahan seraya meringis tertahan.
"Bunda Kenapa ?" Tanyanya
"Bunda hanya pusing Sayang..." Jawabku
lembut seraya berbalik arah hendak mening
galkan Arsyad seraya memegang kepalaku
Yang terasa amat berat, Namun tanganku
Dicekal Arsyad,
"Abang antarkan Bunda " Ujarnya seraya
Memegang tanganku, Dan memapahku
pelan.
Arsyad membetulkan letak bantalku,
Dan menyuruhku berbaring.
"Aku ambil obat dulu" Ijinnya.
Seraya berlalu keluar.
Aku memejamkan mata disamping Akhsan
Yang tertidur bersamaku kali ini, Biarlah
__ADS_1
Akhsan menggantikan Mas Fakih,
Sesaat Aku memejamkan mataku,
Namun taklama Arsyad datang membawa
Obat dan sebotol air mineral.
Aku meminum Obat yang diserahkan Arsyad.
Setelah itu Aku berbaring kembali,
"Istirahatlah,...Bunda tahu Abang lelah,
Abang belum tidur dari semenjak datang
Bukan !" Pintaku lembut,
Ia memandangku tak tega,
"Bunda baik - baik saja, Bunda akan sehat
lagi setelah minum obat " Sambungku,
Arsyad menghela nafas, Ia mengusap
punggung tanganku lembut, Dan menye
limuti tubuhku dan Akhsan, Setelah itu
Ia mengganti lampu kamarku dengan
Lampu tidur taklama Ia berlalu seraya
Menutup pintu.
Aku memejamkan mata menahan pusing
Kepalaku yang mendera.
Namun bayang - bayang senyuman Mas
Fakih selalu terbayang dipelupuk mataku,
Senyumnya, Kehangatan pelukannya,
Dan lembut tutur katanya selalu Kuingat.
Romantis dan penuh kasih sayang.
Dirinya yang dewasa selalu membimbing
Diriku yang lebih muda darinya, Umur Kami
Pun terpaut agak jauh, Dia sangat sayang
Padaku karena menyadari statusnya yang
Seorang duda berputra waktu itu,
"Aku tahu pernikahan ini terpaksa bagimu,
Namun percayalah akan Kubuat Kamu
jatuh cinta Padaku, Itu janjiku !"Ucapnya.
Diawal pernikahan Kami, Karena memang
Aku tidak pernah menerima pernikahan
Ini dikarenakan Aku sendiri menghianati
Janjiku pada Seseorang.
Wajah sendu Arsyad yang saat itu masih
haus akan kasih sayang memperlakukan
Aku seolah Aku ibunya dan menjadikan
Aku Orang yang sangat berarti dihidupnya,
Arsyad menerimaku dengan tangan terbuka,
Perbedaan umur Kami yang terpaut 7 tahun
Menjadikan Kami semakin dekat, Namun
Arsyad adalah Anak yang sopan, Ia selalu
Menurut titah Kami, Selalu menjadi Putra
Yang dapat dibanggakan Oleh Kami,
"Al...Kamu baik - baik saja bukan?"
Usapan lembut Seseorang terasa dingin
Dikeningku, Mataku terbuka terlihat wajah
Sendu Mas Fakih didepanku, Ia duduk
Disampingku dibibir tempat tidur
Aku hanya terdiam.goresan luka itu masih
Terasa menganga dalam hatiku,
"Maaf.....!" Ujarnya parau.
Aku hanya menutup mata, Kata ini yang
Tidak ingin Aku dengar, Namun air mata
Tak urung turun perlahan dari ujung mataku.
Mengalir perlahan dipipi putihku.
"Sayang...Mas tahu kesalahan ini tak bisa
Dimaafkan, Namun Mas tak tega mening
galkanmu seperti ini" Lirihnya,
Tangan dinginnya menghapus air mataku
Lembut.
Aku terisak dalam tangis, Air mata ini
tak bisa terbendung lagi,
"Cukup sudah Mas,...Aku membencimu!"
Teriakku terisak, Apalagi terlihat tangan
Mbak Riana terulur membawa Mas Fakih
Pergi.
Aku menangis sendirian, Terisak perlahan
Kenapa kebahagiaanku harus terenggut,
Aku merindukan suamiku sekaligus sangat
Membencinya.
__ADS_1
"Aku rindu Kamu sekaligus Aku membenci
Dirimu Mas..." Lirihku terisak.
"Aku benciiiiij.....!" Teriakku.
"Bunda ...Bangun Bunda!" Pinta Seseorang
Tangannya menepuk Pipiku lembut,
Perlahan Aku membuka mata, Samar
- samar kulihat Arsyad duduk disisi tubuhku,
"Bunda.." Lirih Akhsan disisi Kiri tubuhku.
Ia menatapku khawatir, Aku masih terbayang
Wajah Mas Fakih barusan.
Arsyad mengusap keringat diwajahku dengan
Tisu perlahan Ia menghapus air mataku.
"Maaf ....Bunda hanya takuut" lirihku pilu,
Sakit dihati ini masih terasa,
Aku memeluk Akhsan yang pucat, Mungkin
Aku mengganggu tidurnya.
"Maafkan Bunda Sayang... Tidurlah kembali
Bunda tidak apa - apa" Ujarku parau.
"Tidak apa, Karena sebentar lagi Aku shalat
malam, Aku akan menunggu dan shalat disini,
Bunda Istirahatlah" Pinta Arsyad.
"Tapii....Bunda takut Kamu sakit Nak "
Ujarku.
Ia tersenyum,
"Bunda lupa Aku seorang prajurit, Kami telah
terbiasa Bunda " Ujarnya.
"Sudah istirahatlah kembali, Aku hanya takut
Kalian sakit, Aku takut saat Akhsan mencari
Ku kekamar Karena menghawatirkan dirimu"
Sambungnya.
Aku memeluk Akhsan semakin erat,
"Maafkan Bunda....Sayang !" Ujarku lembut
Aku dilanda rasa bersalah pada Mereka.
"Tidurlah kembali, Ada Kami disini"
Titah Arsyad.
Kini Aku berusaha terlelap seraya memeluk
Erat Akhsan putraku, Mencoba melupakan
Rasa sedih dan kecewaku sesaat,
Usapan tangan mungil Akhsan mengusap
Punggungku seperti yang selalu kulakukan
Saat menidurkan Aksan, Aku tersenyum
"Terima kasih Sayang..., Kalian semua
Putra Bunda " Lirihku.
Arsyad mengambil kursi kerja Mas Fakih,
Dan menaruhnya di samping tempat tidurku
"Aku akan ada disini, Bersama Kalian"
Ucapnya.
"Tapii ....Bang !" Potongku.
"Sudah ...Bunda tidur saja bersama Akhsan"
Titahnya kembali.
Aku mencoba menuruti permintaannya,
Kembali memejamkan mata, Setelah
berdo' a, Memeluk tubuh mungil Akhsan
Serasa memeluk tubuh Mas Fakih.
Karena sejujurnya rasa rindu itu terselip
Diantara rasa benci dan kecewa.
" Sejenak Aku ingin lupa saat Kamu me
nyakitiku Mas,...Namun maaf Aku tak
bisa, Ini terlalu sakit " Lirihku disela Do'a
Yang terpanjat untuk Dirinya, Yang selama
Ini menjadi Imamku namun pada akhirnya
Ia menorehkan luka yang teramat dalam
bagi Kami.
"Sakit ini yang kurasakan saat Kamu
Menghianatiku Al, ...Dan kini Kamu
Merasakan apa yang Aku rasakan
dahulu ...." Terdengar bisikan Seseorang
Dan Aku tahu suara itu.
"Mas Dewa ..!"
********************************************
**Bersambung
**Kita berjumpa dikarya recehku kali ini,
Mencoba kisah dan Alur yang berbeda
Semoga berkenan, Dan taklupa tinggalkan.
__ADS_1
jejaknya ....Please 🙏😘