
"Bunda baik - baik saja bersama Akhsan"
Ujar Arsyad, Ketika Aku dan Akhsan
Mengantarkan kepergiannya di Bandara.
"Kamu juga baik - baik saja disana, Jaga
Kesehatan dan jangan lupa shalatnya"
Aku memeluknya erat tak perduli panda
Ngan beberapa Orang.
"Ekheeem..!" Ujar Arkhan yang juga ikut
mengantar kepergian Arsyad kali ini.
Kami mengurai pelukan Kami, Kemudian
Arsyad beralih memeluk Akhsan, Serta
Beberapa pesan Padanya.
Aku terpaku saat Arsyad berlalu, Aku
Melihat punggungnya yang semakin
Menjauh, Ia melambaikan tangannya
Tanpa berbalik, Ia lurus terus melangkah
Kedepan tanpa menoleh kebelakang.
"Ahh....Sepi lagi deh, Bahu tempatku
bersandar sudah pergi, Satu putraku
Telah pergi meninggalkan diriku "
Lirihku seraya berjalan beriringan,
Akhsan dituntun Arkhan.
"Lebaaay....Kalian kayak sepasang
Kekasih, Bukan kayak Emak sama
Anaknyalah, Perbedaan umur kalian
Aja cuma 7 tahunan ditambah Kamu
Yang imut gitu, Style Kamu aja anak
Muda banget " Kekeh Arkhan.
Kami kembali pada mode teman dan
Sahabat karena umur kami yang tidak
Jauh, Terkadang Arkhan memanggilku
dengan sebutan Mbak, Atau Aku dan
Kamu ketika diluar.
"Benarkah Pak Dokter?" Akupun terkekeh
Baru kali ini Aku bisa tertawa, Setelah
Beberapa hari berduka, Walau Aku tahu
Arkhan hanya menghiburku supaya Aku
Dan Akhsan tidak terlalu larut dalam
Kesedihan,
"Seriusan....Tapi masih kalah cantik
Sama My Queen yang dirumahlah ..."
Jawabnya tanpa dosa.
"Yeey ....Bucin !" ujarku seraya mengerucut
kan bibirku.
Arkhan terkekeh, Sesaat Ia berhenti dan
Berjongkok meraih tubuh Akhsan dan
Menggendongnya seraya memeluknya
erat.
"Kamu ngantuk Ya...?"Ucap Arkhan
karena Akhsan hanya diam saja, Entah
Sedih karena kepergian Arsyad atau
Benar - benar mengantuk.
"Sayang...?" Panggilku.
"Aku ngantuk Bunda" Akhirnya bibir mungil
Itu menjawab dan Iapun terlelap dipangku
anku di jok belakang sedangkan Arkhan
Didepan bersama Pak Kirman.
Hening dirasa....
Aku hanya melempar pandanganku keluar,
Seraya menyurai lembut rambut Akhsan.
Sampai akhirnya Kami tiba dirumah,
" Biar Aku yang gendong ...!" Pinta Arkhan.
Aku hanya mengangguk, Taklama Ia
mengangkat tubuh Akhsan dan membawa
nya ke kamarku, Karena kini Aku tidur
Bersama Akhsan, Aku belum berani
Tidur sendiri.
Terlihat Celine menyambut Kami bersama
Ayah mertuaku yang ikut menginap disini
Beliau sangat khawatir karena Arsyad
Pergi , Jadi untuk sementara Mereka tinggal
Disini, Lagipula rumah Arkhan masih
Dalam tahap renovasi.
"Mana Anin dan Arin ?" Tanyaku pada Celine
Wanita cantik blasteran Indo - Jerman yang
Merupakan Istri Arkhan.
"Baru saja Mereka tidur Mbak ..."
Jawabnya ramah.
Aku mengangguk, Aku berbincang sebentar
Bersama Ayah Mertuaku dan Celine, Per
bincangan hangat, Namun Seseorang
mengetuk pintu, Taklama Mbok Sum
Membuka pintu, Terlihat Seorang wanita
Parubaya yang terlihat kusut.
"Aku ingin bertemu dengan Istri barunya
Fakih !" Teriaknya tak sopan karena
Dihalangi Oleh Mbok Sum dan dicegah
Pak Kirman, Ia terlambat menghalangi
__ADS_1
Tamu tersebut masuk karena sedang
memasukan mobil kedalam garasi.
Kening Kami bertaut, Aku mencoba berdi
ri karena terdengar teriakan dari arah
Ruang tamu.
"Ada Siapa Mbok ?" Tanyaku.
"Anu Bu, ...Tamunya mencari Ibu"
Jawab Mbok Sum.
"Biarkan Dia masuk Pak...Dan silahkan
Duduk !" Ujarku sopan mempersilahkan
Tamuku duduk.
"Takperlu Aku hanya sebentar, Aku hanya
ingin memperingatkan Dirimu jangan
Menuduh adikku sebagai Pelakor karena
Justru Kamulah yang Pelakor, Merebut
Suami dan Putranya, Kamu yang telah
Mengambil kebahagiaan adikku, ...!"
Ujarnya sarkas tanpa tendeng Aling
Aling
Aku terdiam mendapatkan serangan
Mendadak,
" Tunggu sebentar...!" Potongku tidak
Terima, Tercium aroma alkohol dari
Bibirnya yang sangat menyengat.
"Jangan pura - pura sok suci, Asalkan Kamu
tahu Riana dan fakih saling mencintai hu
bungan Mereka sejak SMA, Namun Kakek
dan Nenek tua itu tidak memberikan
Restu pada Mereka, Padahal kurang apa
Adikku, Cantik, seksi dan modis dan
Nggak seperti Kamu yang kampungan,
Orang desa!" Isaknya seraya menuduhku
Terlihat gurat kemarahan disana.
Aku mencoba menarik nafas dalam
- dalam, Mencoba bersabar
"Dasar perempuan licik sampai Arsyad
Kamipun Kamu ambil, Pada saat Ibunya
meninggalpun Ia lebih khawatir dengan
Keadaanmu ketimbang Kami keluarga
nya, Kamu telah mencuci otaknya
Bukan? Dan Merebutnya dari Kami "
Teriaknya.
Akhirnya Aku tidak tahan, Biarlah kali ini
Aku ingin membela diriku,
"Sudah cukup ! Sebaiknya Anda pergi
Ini rumahku, Saya harap anda segera
pergi!" Titahku Padanya,
"Pak Kirman tolong bawa tamunya keluar!"
Titahku pada Pak Kirman.
Aku mencoba bersabar, Walaupun kemarahan
ku sudah diubun - ubun, Namun apa gunanya
Meladeni Orang yang berada dalam penga
ruh alkohol.
"Kamu berani mengusirku !" Teriaknya Ia
mendekat hendak menjambak rambutku
Namun Seseorang mencekal pergelangan
tangannya, Dan menarikku untuk berada
Dibalik tubuhnya,
"Mbak Rima!" Bentaknya.
"Dasar tidak tahu malu mengacau dirumah
Orang, Saya panggil keamanan Komplek
untuk menyeretmu dari sini" Ucap Arkhan
Dengan nada tinggi,
"Kamu ada disini? Kukira Arsyad pergi
Pelakor itu tak punya pelindung lagi,
Ternyata ada Kamu, ...Jagoan " Ejeknya
"Pak Kirman seret Dia keluar !" Teriak.
Arkhan.
Tanpa dikomando Pak Kirman menarik
tangan sang tamu,
"Beraninya Kalian......Akan kupastikan
Kalian akan menyesal !" Teriaknya.
Aku segera berlalu dan pamit undur
Diri ke kamarku, Aku benar - benar shock
Kali ini, Aku berniat istirahat.
Aku termenung di kursi kerja Mas Fakih
Dikamar ini, Dikursi ini biasanya mas
Fakih memeriksa pekerjaannya seraya
Menemaniku yang tertidur,
Masih terbayang wajah tampannya yang
berkacamata tengah serius memeriksa
laporan yang sesekali Aku menggodanya,
Namun kini semua itu lenyap berganti
Dengan rasa sunyi yang mendera
Aku menaruh fotoku bersamanya Keda
lam laci, Mencoba menutup kenangan
manis yang berujung pahit, Aku mencoba
Berdamai dengan keadaan, Aku kini
__ADS_1
Menerima dan mencerna takdir yang
Digariskan untukku,....Namun entah
Kenapa terasa sakit kurasa
"Aku tidak baik - baik saja !" Lirihku
Sendu.
"Aku dihukum lewat Mas Fakih,...
Karena menyakitimu Mas Dewa"
Kini Aku tahu rasa sakit yang Kamu
Rasakan saat Aku meninggalkan
Dirimu.
*******
3 Bulan kemudian
"Huft.....Panasnya !"Ujarku,
Aku menuntun Akhsan seraya menarik
Koporku,
Kami melihat Arsyad melambaikan tangan
Dan Kami segera menghampiri Dirinya.
Ia tersenyum sumringah.
"Selamat datang jagoan Abang"
Ia menyongsong Akhsan dalam
Pelukannya, Yang disambut senyum
Penuh rindu dari Akhsan.
Angin kencang menerpa Kami,
Aku mengikuti langkah lebar kaki Arsyad.
Menuju sebuah mobil yang telah menung
gu Kami,
"Bersiaplah Karena kalian pasti lelah,
Karena perjalanan Kita sendiri memakan
Waktu 2 hari satu malam, Kalau Bunda lelah
Bilang saja agar bisa Istirahat sebentar"
Pesan Arsyad, Aku mengangguk dan
Duduk bersama Akhsan sedangkan
Arsyad duduk didepan bersama seorang
Temannya yang mengendarai mobil ini.
"Mudah mudahan cuaca bagus, Hingga
Kita tidak ragu saat menaiki kapal feri
nantinya " Sambung Arsyad.
"Semua perlengkapan yang Kita beli
tidak ada yang kurang ?" Tanya Arsyad.
"Siap ...Sudah !" Jawab seorang lagi.
""Ya sudah...Ayo berangkat, Kita mampir
Sebentar didepan Kita makan siang
dulu, Pasti kalian lapar" Titah Arsyad.
Aku hanya mengangguk bersama Akhsan
Taklama mobilpun melaju meninggalkan
area bandara.
Kami mampir disebuah restauran untuk
makan siang dulu, Karena perjalanan jauh
Arsyad menyiapkan bekal untuk Kami.
Sepanjang jalan yang Kami lalui terlihat
Akhsan yang antusias pertanyaan demi
Pertanyaan Ia lontarkan padaku ataupun
Arsyad, Dan dengan sabar dijawab oleh
Arsyad,
Miris memang seharusnya Kami liburan
bertiga dengan Mas Fakih, Padahal
Dirinya yang antusias ingin liburan
Disini, Namun ternyata takdir berkata
lain,...Aku tersenyum getir terbayang
wajahnya dipelupuk mata, Airmata ini
ingin merebak dipelupuk mataku
Namun Aku berusaha melempar pandangan
ku keluar, Ia yang sudah mengatur jadwal
Liburnya dari kemarin berharap liburan
lebih lama disini, Walaupun tujuan liburan
Kali ini bukalah Paris , Swiss ataupun
Negara lainya, Namun Ia terlihat sangatlah
Antusias, Walaupun tujuan liburan kali ini
Adalah wilayah terdalam sebuah pulau
Yang mungkin minim pasilitas dan jalan
Menuju kesanapun bukan jalur yang mudah,
Namun Mas fakih terlihat lebih bersemangat.
Walaupun akhirnya kini hanya Aku dan
Akhsan yang pergi kemari karena memang
Sudah terlanjur janji.
Walaupun sakit namun ternyata Aku tak
bisa melupakan Mas Fakih begitu saja,
Waktu kebersamaan Kami tak bisa Ter
hapus begitu saja walau sesak didada,
Karena ada amarah yang tersimpan
Dibalik perasaan rinduku akibat penghi
anatan Dirinya, Yang kusesalkan Aku
tak bisa memarahinya atau mengutarakan
Rasa benci ini langsung Padanya.
"Kamu ....Kejam Mas !!"
**********************************************
**Bersambung
**Please like or comment 🙏😘
__ADS_1