Lembar Kenangan

Lembar Kenangan
*Episode 07


__ADS_3

Sesaat waktu kurasakan berhenti berdetak,


Yang terdengar jarum jam dinding yang


Berlalu memindah waktu sedikit demi


Sedikit, Aku yang selalu berharap sebuah


Pertemuan, Walau kutahu akan mengungkit


Sebuah luka, Menguak tabir masa lalu


Yang pedih bagi Kami, Aku tahu dulu rasa


Sakit sama seperti yang kurasakan dipaksa


Memutus cinta oleh keadaan,


Dunia serasa runtuh kala itu, Aku dihadapkan


Dua pilihan klasik seperti dalam cerita novel,


Sebuah cinta atau biaya pengobatan kedua


Orang tuaku yang mempunyai penyakit


Yang sama, Aku telah berjuang walaupun meng


gadaikan hati dan seluruh cintaku, Untuk


Orang tuaku, Walaupun pada akhirnya


Orang tua yang kusayang meninggalka


Aku untuk selamanya satu tahun.kemudian,


Setelah menjalani berbagai pengobatan


Dan Perawatan, Bagiku kini kata maaf


Lebih berarti Aku tak mengharapkan cinta


Lagi apalagi setelah penghianatan Mas


Fakih jujur saja Aku gamang tentang arti


Sebuah cinta apalagi kesetiaan toh pada


Dasarnya Aku yang membuat kata kesetiaan


Itu tercela dalam hidupku sendiri.


"Eh ...Selamat siang Pak Danki, Putri Bapak


Tidak apa - apa, Ia selamat dan tidak lecet


Sedikitpun" Sapa Sang dokter perempuan


Yang tadi mengobati lukaku,


Perlahan Arsyad menoleh serta menyapa


Dengan hormat pada Orang yang bersamanya


Barusan rupanya Ia tidak menyadari mungkin


Mereka datang dari lokasi yang berbeda.


Pria itu menghampiriku dan Arsyad memberi


Jalan Padanya, Kemudian Ia meraih putrinya


"Kamu tak apa - apa Nak ?" Tanyanya ada


Raut cemas yang kentara diwajahnya.


"Ica nggak pa - pa Yah...ada Mbu yang tolong


Ica" Jawabnya menunjuk ke arahku, Sesaat


Ia memandangku, Pandangan mata Kami


Terkunci Namun terlihat kilat Amarah dalam


Bola matanya yang seakan menerkamku


Hidup - hidup,


"Terimakasih ...!" Ucapnya singkat dan terlihat


terpaksa, Setelah meraih Putrinya Ia pamit


Undur diri.


Aku hanya bisa mengangguk, Serasa jantung


ini berdetak lebih cepat, Hati ini menangis


Wajah itu masih tetap sama, Suara itu masih


Tetap seperti dulu, Ketampanan dibalik wajah


Dinginnya masih tetap seperti dulu, Aku melihat


Punggung itu berlalu, Diikuti wanita paruh baya


Sang pengasuh putrinya,


Tak ada sapaan hangat, Ataupun sebuah


Sapaan lembut yang dulu sering Ia lontarkan


Padaku, Dulu Dirinya akan tersenyum seraya


Merenguhkuhku dalam pelukannya jika Aku


Terluka dan bersedih, Berusaha menenangkan


Diriku dan selalu berkata " Semua akan baik


- baik.saja", Ataupun Ia akan mampir sekedar


Mengantarkan buah tangan walaupun itu


Hanya jajanan sederhana yang Aku suka


Saat Ia kembali dari bekerja dibengkel mem


bantu sang Ayah, Walaupun lelah Ia selalu ada


Waktu untuk sekedar berdiri di pintu pagar


Rumahku hanya untuk mengantarkan


Pesananku yang selalu Aku sambut dengan


Binar bahagia, Dan Dirinyapun tidak keberatan


Malah usapan lembut dipucuk kepalaku sebelum


Pergi karena takut keburu diusir Ayah.


"Bunda masih sakit?" Tanya Arsyad,


Menyadarkan Diriku saat masa indah Kami dulu,


Aku benar - benar kaget, Aku tak menyangka

__ADS_1


Aku akan bertemu dengannya ditempat ini.


"Ayo Kita pulang, Sudah selesai kan pengo


batannya? Atau ada yang parah ?" Tanyanya


Khawatir.


"Seperti yang sudah saya terangkan dihadapan


Pak.Danki, Ibu Anda hanya lecet - lecet saja


Tidak ada yang terluka parah, Hanya untuk


Kakinya mungkin akan terasa linu untuk


Sementara waktu, Saya kasih obat dan


Jika nanti ada demam tolong tambah obat


Yang ini Ya !" Pinta dokter muda itu itu seraya


Tersenyum manis pada Arsyad, Aku tahu


Ada pandangan tak biasa dari cara memandang


Arsyad, Arsyad hanya mengangguk,


"Ibu pasti nggak bisa jalan, Bu Edi tolong


Bawa Akhsan ke rumah, Saya akan gendong


Bunda, Kita jalan belakang supaya cepat


Sampai " Ujar Arsyad meminta tolong pada


Mbak Rika,


"Dan Pak Edi maaf Kami merepotkan Istri


Bapak !" Ujar Arsyad.


Kami baru menyadari ada Pak Edi disamping


Sang Istri, Mungkin Dirinya khawatir takut


Sang istri yang celaka.


"Tidak apa - apa, Santai aja Kitakan keluarga"


Jawabnya, Seraya mengambil alih Akhsan


Dari gendonganku.


"Bang Ar, Kami jalan depan aja walaupun


Memutar soalnya bawa motor sekalian"


Ujar Mbak Rika.


"Maaf ...jadi merepotkan !" Lirihku.


"Nggak Pa - pa Bu, Namanya juga kecelakaan"


Ujar Mereka.


Taklama Kami undur diri,


"Bang turunin Bunda, ...Bunda masih bisa


jalan, Malu diliatin tahu!" Ucapku meminta


Turun dari gendongan di punggungnya


Yang kokoh.


Bunda" Ujarnya kekeuh, Kami jalan belakang


Gedung memotong jalan yang hanya bisa


Dilalui oleh jalan setapak.


Setelah sampai Arsyad menurunkan Aku,


Dan memeriksa lagi lukaku, Setelah itu


menyuruhku berganti baju, Apalagi celanaku


Kotor, Setelah itu Ia mengoleskan Gel


Dikakiku yang terlihat memar,


Taklama datang Akhsan bersama Mbak


Rika, Karena belum memasak Mbak Rika


Pamit undur diri.


"Bunda istirahat dulu, Biar makan siang


Abang pesen, Aku pergi dulu biar nanti


Belanjaannya Abang bereskan pas waktu


Makan siang" Ujarnya.


"Dek jaga Ibu ya...Abang pergi sebentar


Ntar Abang kembali " Titahnya pada Akhsan.


"Awas! ...Bunda jangan banyak bergerak dulu !"


Pintanya sedikit mengancam, Aku hanya


Mengangguk.


Setelah minum obat, Aku mencoba berbaring


Disofa bersama Akhsan, Aku menutup mata


Seraya mendengarkan celotehan Akhsan,


Aku mencoba menenangkan jantungku setelah


Kejadian tadi dan pertemuan yang tidak pernah


Aku sangka sebelumya,


Menjelang makan siang terdengar suara pintu


Diketuk, Aku rasa itu bukan Arsyad,


Akhsan membuka pintu, Terlihat seorang


Putri cantik dengan wajah sembab dan mata


Memerah diikuti wanita paruh baya dibelakang


nya.


"Ibu....!" Teriaknya menghambur, Seraya meng


hampiriku disofa.


"Dia bukan ibumu...!" Teriak Akhsan,


Aku hanya menempelkan jari telunjukku di

__ADS_1


Bibir supaya Akhsan tenang.


"Maaf Bu...Kami mengantarkan makan


Siang untuk Ibu, Mungkin Ibu belum sempat


Masak karena kejadian tadi" Ucapnya sungkan


Setelah Aku persilahkan masuk dan duduk.


"Nggak pa - pa.., Boleh kutahu siapa Nama


Ibu ?" Tanyaku.


"Panggil Mbok Minah saja Bu" Pintanya.


"Lho Ibunya Nak Ica kemana? Kok sama


Si Mbok?" Tanyaku penasaran.


"Bundanya Aku ada di syurga Ibu, Dan


Ibunya Ica ada disini " Ujarnya.


Aku mengelus Rambutnya lembut, Akhsan


Terpaku disisiku, Ia semskin menempel


Padaku karena takut akan kehadiran Ica


Disampingku, Aku terenyuh tenyata ada


Yang bernasib sama dengan Putraku.


"Maafkan Ibu Sayang ....Oh ya, Nama


Lengkap Ica siapa kalau boleh Ibu tahu ?"


Tanyaku lembut, Seraya mengusap lembut


Surai Akhsan disampingku, Aku takut Ia


Merasa tersisih atas kehadiran Ica di


pangkuanku.


Ketika Mbok Minah akan bersuara,


Ia dipotong Ica.


"Husst Mbok Aku bisa jawab namaku


Sendiri " Ujarnya.


"Nama Aku Alisha putri Argantara ....Ibu,


Cantik ya namaku ...!" Ujarnya dengan


matanya yang berbinar...Akhsan hanya


Mencebikkan bibirnya pada Ica.


Sesaat Aku terpaku saat Aku mendengar


Nama Ica, Itu adalah Namaku kenapa


Namaku tersemat di nama Putrinya oleh


Mas Dewa.


"Maaf Non Ica harus pulang bareng si


Mbok, Ayah sebentar lagi pulang makan


Siang" Pinta Mbok Minah.


Namun Ica merengek tidak mau lepas,


Ia bahkan menangis kencang membuat Aku


Tidak tega.


"Biarlah Mbok ...Ica disini dulu, Nanti


Mbok bisa jemput lagi " Ujarku.


Terlihat Si Mbok mengangguk dan pamit.


Sesaat Aku terdiam menerima kenyataan


Barusan, ....Tangan mungil Ica mengusap


Lembut wajahku,


"Ibu datang untuk bersama Aku dan Ayah


Kan ? ...Ibu Ndak pergi Kayak Bunda


Ninggalin Aku sama Ayah ?' Ujarnya


Sedih,


"Ini Bunda Aku sama bang Ar, Bukan


Ibumu !!' Sarkas Akhsan tak terima.


"Nggak ini Ibuku ...Foto Ibu bareng Ayah


Ada didompet Ayah, Ketika Aku nggak


Sengaja buka dompet Ayah....!"


Teriaknya tidak mau kalah,


"Jadi ...Dia Ibukuu! Buat apa foto Ibu


Bersama Ayahku, Kalau bukan Ibukku !"


Ucapnya lagi seraya menangis,


Aku tersentak, Mendapati kenyataan seperti


Ini, Aku hanya kaget tidak menyangka


Akan kenyataan.


"Benarkah itu Bunda, Ada hubungan apa


Bunda sama Pak Dewa? Bisa bunda jelaskan


Padaku!" Suara Arsyad diambang pintu


Menyadarkan Aku pada keterkejutan Diriku


Sendiri,


Kini Aku harus menjawab apa pada Arsyad,


Ia memandangku dengan sorot mata dingin


Dan tajam, Ia meminta penjelasan Padaku...


"Dia...."


************************************************


**Bersambung

__ADS_1


**Please like or comment nya ya 🙏😘


__ADS_2