
Sesaat waktu kurasakan berhenti berdetak,
Yang terdengar jarum jam dinding yang
Berlalu memindah waktu sedikit demi
Sedikit, Aku yang selalu berharap sebuah
Pertemuan, Walau kutahu akan mengungkit
Sebuah luka, Menguak tabir masa lalu
Yang pedih bagi Kami, Aku tahu dulu rasa
Sakit sama seperti yang kurasakan dipaksa
Memutus cinta oleh keadaan,
Dunia serasa runtuh kala itu, Aku dihadapkan
Dua pilihan klasik seperti dalam cerita novel,
Sebuah cinta atau biaya pengobatan kedua
Orang tuaku yang mempunyai penyakit
Yang sama, Aku telah berjuang walaupun meng
gadaikan hati dan seluruh cintaku, Untuk
Orang tuaku, Walaupun pada akhirnya
Orang tua yang kusayang meninggalka
Aku untuk selamanya satu tahun.kemudian,
Setelah menjalani berbagai pengobatan
Dan Perawatan, Bagiku kini kata maaf
Lebih berarti Aku tak mengharapkan cinta
Lagi apalagi setelah penghianatan Mas
Fakih jujur saja Aku gamang tentang arti
Sebuah cinta apalagi kesetiaan toh pada
Dasarnya Aku yang membuat kata kesetiaan
Itu tercela dalam hidupku sendiri.
"Eh ...Selamat siang Pak Danki, Putri Bapak
Tidak apa - apa, Ia selamat dan tidak lecet
Sedikitpun" Sapa Sang dokter perempuan
Yang tadi mengobati lukaku,
Perlahan Arsyad menoleh serta menyapa
Dengan hormat pada Orang yang bersamanya
Barusan rupanya Ia tidak menyadari mungkin
Mereka datang dari lokasi yang berbeda.
Pria itu menghampiriku dan Arsyad memberi
Jalan Padanya, Kemudian Ia meraih putrinya
"Kamu tak apa - apa Nak ?" Tanyanya ada
Raut cemas yang kentara diwajahnya.
"Ica nggak pa - pa Yah...ada Mbu yang tolong
Ica" Jawabnya menunjuk ke arahku, Sesaat
Ia memandangku, Pandangan mata Kami
Terkunci Namun terlihat kilat Amarah dalam
Bola matanya yang seakan menerkamku
Hidup - hidup,
"Terimakasih ...!" Ucapnya singkat dan terlihat
terpaksa, Setelah meraih Putrinya Ia pamit
Undur diri.
Aku hanya bisa mengangguk, Serasa jantung
ini berdetak lebih cepat, Hati ini menangis
Wajah itu masih tetap sama, Suara itu masih
Tetap seperti dulu, Ketampanan dibalik wajah
Dinginnya masih tetap seperti dulu, Aku melihat
Punggung itu berlalu, Diikuti wanita paruh baya
Sang pengasuh putrinya,
Tak ada sapaan hangat, Ataupun sebuah
Sapaan lembut yang dulu sering Ia lontarkan
Padaku, Dulu Dirinya akan tersenyum seraya
Merenguhkuhku dalam pelukannya jika Aku
Terluka dan bersedih, Berusaha menenangkan
Diriku dan selalu berkata " Semua akan baik
- baik.saja", Ataupun Ia akan mampir sekedar
Mengantarkan buah tangan walaupun itu
Hanya jajanan sederhana yang Aku suka
Saat Ia kembali dari bekerja dibengkel mem
bantu sang Ayah, Walaupun lelah Ia selalu ada
Waktu untuk sekedar berdiri di pintu pagar
Rumahku hanya untuk mengantarkan
Pesananku yang selalu Aku sambut dengan
Binar bahagia, Dan Dirinyapun tidak keberatan
Malah usapan lembut dipucuk kepalaku sebelum
Pergi karena takut keburu diusir Ayah.
"Bunda masih sakit?" Tanya Arsyad,
Menyadarkan Diriku saat masa indah Kami dulu,
Aku benar - benar kaget, Aku tak menyangka
__ADS_1
Aku akan bertemu dengannya ditempat ini.
"Ayo Kita pulang, Sudah selesai kan pengo
batannya? Atau ada yang parah ?" Tanyanya
Khawatir.
"Seperti yang sudah saya terangkan dihadapan
Pak.Danki, Ibu Anda hanya lecet - lecet saja
Tidak ada yang terluka parah, Hanya untuk
Kakinya mungkin akan terasa linu untuk
Sementara waktu, Saya kasih obat dan
Jika nanti ada demam tolong tambah obat
Yang ini Ya !" Pinta dokter muda itu itu seraya
Tersenyum manis pada Arsyad, Aku tahu
Ada pandangan tak biasa dari cara memandang
Arsyad, Arsyad hanya mengangguk,
"Ibu pasti nggak bisa jalan, Bu Edi tolong
Bawa Akhsan ke rumah, Saya akan gendong
Bunda, Kita jalan belakang supaya cepat
Sampai " Ujar Arsyad meminta tolong pada
Mbak Rika,
"Dan Pak Edi maaf Kami merepotkan Istri
Bapak !" Ujar Arsyad.
Kami baru menyadari ada Pak Edi disamping
Sang Istri, Mungkin Dirinya khawatir takut
Sang istri yang celaka.
"Tidak apa - apa, Santai aja Kitakan keluarga"
Jawabnya, Seraya mengambil alih Akhsan
Dari gendonganku.
"Bang Ar, Kami jalan depan aja walaupun
Memutar soalnya bawa motor sekalian"
Ujar Mbak Rika.
"Maaf ...jadi merepotkan !" Lirihku.
"Nggak Pa - pa Bu, Namanya juga kecelakaan"
Ujar Mereka.
Taklama Kami undur diri,
"Bang turunin Bunda, ...Bunda masih bisa
jalan, Malu diliatin tahu!" Ucapku meminta
Turun dari gendongan di punggungnya
Yang kokoh.
Bunda" Ujarnya kekeuh, Kami jalan belakang
Gedung memotong jalan yang hanya bisa
Dilalui oleh jalan setapak.
Setelah sampai Arsyad menurunkan Aku,
Dan memeriksa lagi lukaku, Setelah itu
menyuruhku berganti baju, Apalagi celanaku
Kotor, Setelah itu Ia mengoleskan Gel
Dikakiku yang terlihat memar,
Taklama datang Akhsan bersama Mbak
Rika, Karena belum memasak Mbak Rika
Pamit undur diri.
"Bunda istirahat dulu, Biar makan siang
Abang pesen, Aku pergi dulu biar nanti
Belanjaannya Abang bereskan pas waktu
Makan siang" Ujarnya.
"Dek jaga Ibu ya...Abang pergi sebentar
Ntar Abang kembali " Titahnya pada Akhsan.
"Awas! ...Bunda jangan banyak bergerak dulu !"
Pintanya sedikit mengancam, Aku hanya
Mengangguk.
Setelah minum obat, Aku mencoba berbaring
Disofa bersama Akhsan, Aku menutup mata
Seraya mendengarkan celotehan Akhsan,
Aku mencoba menenangkan jantungku setelah
Kejadian tadi dan pertemuan yang tidak pernah
Aku sangka sebelumya,
Menjelang makan siang terdengar suara pintu
Diketuk, Aku rasa itu bukan Arsyad,
Akhsan membuka pintu, Terlihat seorang
Putri cantik dengan wajah sembab dan mata
Memerah diikuti wanita paruh baya dibelakang
nya.
"Ibu....!" Teriaknya menghambur, Seraya meng
hampiriku disofa.
"Dia bukan ibumu...!" Teriak Akhsan,
Aku hanya menempelkan jari telunjukku di
__ADS_1
Bibir supaya Akhsan tenang.
"Maaf Bu...Kami mengantarkan makan
Siang untuk Ibu, Mungkin Ibu belum sempat
Masak karena kejadian tadi" Ucapnya sungkan
Setelah Aku persilahkan masuk dan duduk.
"Nggak pa - pa.., Boleh kutahu siapa Nama
Ibu ?" Tanyaku.
"Panggil Mbok Minah saja Bu" Pintanya.
"Lho Ibunya Nak Ica kemana? Kok sama
Si Mbok?" Tanyaku penasaran.
"Bundanya Aku ada di syurga Ibu, Dan
Ibunya Ica ada disini " Ujarnya.
Aku mengelus Rambutnya lembut, Akhsan
Terpaku disisiku, Ia semskin menempel
Padaku karena takut akan kehadiran Ica
Disampingku, Aku terenyuh tenyata ada
Yang bernasib sama dengan Putraku.
"Maafkan Ibu Sayang ....Oh ya, Nama
Lengkap Ica siapa kalau boleh Ibu tahu ?"
Tanyaku lembut, Seraya mengusap lembut
Surai Akhsan disampingku, Aku takut Ia
Merasa tersisih atas kehadiran Ica di
pangkuanku.
Ketika Mbok Minah akan bersuara,
Ia dipotong Ica.
"Husst Mbok Aku bisa jawab namaku
Sendiri " Ujarnya.
"Nama Aku Alisha putri Argantara ....Ibu,
Cantik ya namaku ...!" Ujarnya dengan
matanya yang berbinar...Akhsan hanya
Mencebikkan bibirnya pada Ica.
Sesaat Aku terpaku saat Aku mendengar
Nama Ica, Itu adalah Namaku kenapa
Namaku tersemat di nama Putrinya oleh
Mas Dewa.
"Maaf Non Ica harus pulang bareng si
Mbok, Ayah sebentar lagi pulang makan
Siang" Pinta Mbok Minah.
Namun Ica merengek tidak mau lepas,
Ia bahkan menangis kencang membuat Aku
Tidak tega.
"Biarlah Mbok ...Ica disini dulu, Nanti
Mbok bisa jemput lagi " Ujarku.
Terlihat Si Mbok mengangguk dan pamit.
Sesaat Aku terdiam menerima kenyataan
Barusan, ....Tangan mungil Ica mengusap
Lembut wajahku,
"Ibu datang untuk bersama Aku dan Ayah
Kan ? ...Ibu Ndak pergi Kayak Bunda
Ninggalin Aku sama Ayah ?' Ujarnya
Sedih,
"Ini Bunda Aku sama bang Ar, Bukan
Ibumu !!' Sarkas Akhsan tak terima.
"Nggak ini Ibuku ...Foto Ibu bareng Ayah
Ada didompet Ayah, Ketika Aku nggak
Sengaja buka dompet Ayah....!"
Teriaknya tidak mau kalah,
"Jadi ...Dia Ibukuu! Buat apa foto Ibu
Bersama Ayahku, Kalau bukan Ibukku !"
Ucapnya lagi seraya menangis,
Aku tersentak, Mendapati kenyataan seperti
Ini, Aku hanya kaget tidak menyangka
Akan kenyataan.
"Benarkah itu Bunda, Ada hubungan apa
Bunda sama Pak Dewa? Bisa bunda jelaskan
Padaku!" Suara Arsyad diambang pintu
Menyadarkan Aku pada keterkejutan Diriku
Sendiri,
Kini Aku harus menjawab apa pada Arsyad,
Ia memandangku dengan sorot mata dingin
Dan tajam, Ia meminta penjelasan Padaku...
"Dia...."
************************************************
**Bersambung
__ADS_1
**Please like or comment nya ya 🙏😘