Lembar Kenangan

Lembar Kenangan
*Episode 11


__ADS_3

"Kita harus bicara .....!" Ucap Mas Dewa.


Sorot matanya memandang dalam


Wajahku,


Kami bertemu diujung danau tempat Kami


Sering bertemu dulu, Aku mengajak Akhsan


jalan - jalan tak disangka Kami akan bertemu


Disini, Suasana yang tak berubah seperti dulu,


Angin yang berhembus memainkan daun


Seperti melambai, Terlihat sepi hanya beberapa


Orang yang sedang menggembala sapi ataupun


Kambing.


Dari kejauhan terlihat punggung seseorang,


Langkahku terhenti, Aku sangat hafal ...


Dan tempat itu adalah tempat Pavorit Kami,


Aku hendak berbalik, Namun wajah itu.menoleh,


Dan Suara anak kecil itu memanggil,


Waktu berdetak seakan mengembalikan masa


lalu, Masa dimana saling mengenal dan


Mengerti arti cinta pertama.


Wajah teduh dengan tatapan setajam elang,


Netra hitam dengan arah pandang menembus


hati dan jiwa, Menguak asa dan rasa yang


tertunda, Sekelumit masa lalu yang belum


Usai karena sejatinya tak ada kata " Sudah"


Dalam kisah kita dahulu,


Sikap kesederhanaan namun tegas,


Sekokoh karang namun didalamnya kelembutan


Tanpa kata namun sikap, Kata cinta jarang


Terucap dari bibirnya, Namun Ia siap melindungi


Dan berjuang menjadi Orang yang bertanggung


jawab, Dan berusaha menjadi Seseorang yang


Layak memikul tanggung jawab seorang Imam


Dalam rumah tangga, Sekaligus mencapai


Cita -.cita yang diinginkannya, Dan ditempat inilah


Kami telah saling mengikat dengan sebuah janji.


"Maaf...." Lirihku tercekat dikerongkongan,


Kata itu terucap dengan susah payah,


Wajah itu memandang riak air danau yang


terlihat tenang, Tak ada emosi yang kentara


Seperti saat pertama kami bertemu kembali.


Sesekali pandangannya beralih pada dua makhluk


Kecil yang asyik berdebat seraya memakan


Eskrim.


Sesaat Ia menghela nafas.


"Aku tahu kisah Kita tak pernah ada kata akhir


Diantara Kita, Namun pengalaman itu membuat


Kita mengerti arti sebuah masa lalu dan menge


nalkan pada Orang lain yang mempunyai rasa


yang sama, Namun ternyata takdir mempertemukan


Kita lagi pada saat yang berbeda, Harusnya Aku


berterima kasih Padamu, Dengan cara Kamu


berpaling pada janji Kita Tuhan menghadirkan


Seseorang dengan Cinta dan pengabdiannya


Sampai akhir, Bahkan Ia rela mengorbankan


Nyawanya demi melahirkan seorang Putri


Cantik untukku" ...Datar dan tanpa emosi


Seakan memandang Seseorang nun jauh


Disana.


Aku tertunduk, Dia tidak menghakimi Aku


Dengan emosi yang berapi - api, Mungkin


Karena Kami bukan sepasang remaja seperti


Dahulu, Namun kata - katanya yang lembut


Seakan menghujam dadaku, Aku tahu....


Ini memang pantas untukku, Namun entah


Kenapa ini terasa menyakitkan.


Aku diam dan mencoba mencerna kata -


Katanya lebih jauh.


"Saat itu....Aku pulang dan mendapat kabar


Kamu telah menikah, Aku marah saat itu...


Namun...Saat Aku melihat Kamu baik -.baik


Aku marah karena Kamu membuat janji


Itu mengabur bahkan seakan tidak ada,


Tapi...Apakah Kamu tahu bagaimana pera


saan keluargaku, Senyum Ibuku sirna karena


Dirinya begitu menyayangimu, Ia selalu meman


dang kosong saat Ia memasak makanan kesu


kaanmu, Apakah Kamu memikirkan itu?


Ia sangat khawatir padamu, Namun ternyata


Orang yang sangat dikhawatirkan Ibukku


Sedang tertawa bahagia bersama Orang


lain dan terlihat baik - baik saja.."


Ia terdiam sebentar, Mendengar Aku mena

__ADS_1


ngis, Ia menutup matanya sesaat namun


Tidak menoleh sedikitpun Padaku.


"Maaf....!" Lirihku .


"Dan yang lebih ironis Ia baru menerima menan


tunya tanpa keterpaksaan saat Istriku kritis,


Sesaat sebelum Ia menghembuskan nafas


terakhirnya, Apakah itu adil baginya?"


Sambungnya terdengar lirih.


Aku semakin tersudut, Perasaan menyesal


semakin menggunung didadaku, Aku meraih


Ujung tangannya,


"Maaf...Aku ..aku...tahu takkan mudah


bagimu untuk memaafkan.Diriku,


Tapi...Bagiku juga saat itu tidaklah mudah,


Aku ....Tidak tahu harus bagaimana...."


Aku terisak, Ia tak bergeming...


Dan tak.mungkin juga Aku jujur bahwa


Mas Fakih pun menghianati Aku pada


Akhirnya, Aku tak ingin dirinya mencibirku


Hening terasa....


"Akhsan....!" Aku baru menyadari bahwa


Aksan tidak ada bersama Ica.


Sesaat Mas Dewapun baru menyadari Ica


tidak ada ditempat.


"Sayang ....!" Teriak Dewa,


Kami mengedarkan pandangan.kesegala


arah, Namuun tidak Kami dapati Mereka.


Kami menyisir tempat itu semua tidak


kudapati Mereka.


"Mas ...Gimana ini...!" Lirihku


"Sudah,...Kita cari lagi " Ajaknya.


Ketika Kami akan beranjak menuju mobil


Drrt....drrrt...drrt


Bunyi hp milik Mas Dewa, Tak butuh waktu


lama Ia mengangkat telfon, Walaupun kulihat


Keningnya sedikit berkerut.


"Iya Mang ...." Ujar Dewa.


"....."


"Iya ...Tapi Aku ingin melihat Mereka " jawab


Mas Dewa, Taklama Ia mengganti panggilan


menjadi Videocall.


Terlihat dua bocah sedang bermain ditemani


Bik Irah yang membawa sepiring nasi tengah


"Selesaikan dulu masalah Kalian, Biar Kami


yang jaga anak - anak, ...Kami harap Kalian


jangan pulang dulu sebelum masalah dimasa


lalu Kalian selesai" Ujar Mang Didin seraya


menutup panggilan.


"Dasar tidak.sopan !" Gerutu Mas Dewa.


"Kok bisa nelp kesana ?" Tanyaku aneh


Sekaligus lega saat melihat anak - anak


Baik - baik saja.


"Kan tadi berangkatnya bareng Aku,


Kenapa nelp ke Mas Dewa, Harusnya


Amang itu nelfon Aku " Sambungku.


"Menurutmu?" Dirinya balik bertanya.


Aku segera merogoh tasku seraya mengam


bil hp, Setelah itu Aku menepuk jidatku sen


diri, Ternyata hpnya lowbatt.


"Kecerobohanmu tidak berubah seperti dulu,


Sebelum pergi tuh lihat cas dulu, Siapa tahu


Kamu pergi jauh dan dijalan kena masalah


bagaimana" Cerocosnya.


"Kok jadi gitu, Kan masalahnya sekarang


bukan disengaja tahu.." Ujarku mengerucutkan


Bibirku,


Ia tak peduli, Ia melenggang pergi,


Dan tak berapa lama Dia duduk diatas kursi


Kayu dibawah pohon rindang. Kembali


Pandangannya menuju air didepanku.


"Duduk...!" Titahnya.


"Nggak...Pasti Mas akan menghakimi Aku,


Tanpa tahu apa yang terjadi dan yang


Kurasakan saat itu..." jawabku aku tahu


kesalahanku namun tidak semuanya salahku


Pribadi.


"Buktinya Kamu baik - baik saja tanpa Aku "


Cibirnya seakan - akan mengolok - olok


Diriku.


Kini akupun melepas pandanganku jauh mene


rawang kearah sana, Akupun menghela nafas


berat,

__ADS_1


"Kamu berfikir Aku menikah dengan Seseorang


Yang tidak aku kenal dan Aku cintai itu mudah,


Ternyata Aku merasa asing dalam sebuah


Ikatan yang Aku inginkan, Disatu sisi Aku


Yang bersalah namun disatu sisi tidak ada


Jalan lain demi kesembuhan Ayah...."


Lirihku.


"Terdengar naif bukan, Namun memang itu


jalan satu - satunya yang kumiliki, Apa Kamu


Pikir Aku baik - baik saja, Itu salah besar apa


Semudah itu Aku bisa melupakanmu,


Apa ...semudah itu kenangan Kita Aku lupakan


Dalam benakku, ..Sedangkan Aku harus ber


pura - pura baik - baik saja dihadapan para


Orang tua, Ya...Aku memang jahat ....


Dengan mudah Aku bisa melupakanmu,


Perasaan Kita dan perasaan Ibumu,.


Namun apa Kamu lupa Aku juga punya


Seorang Ayah yang terbaring di rumah sakit


Dan berharap padaku satu - satunya putrinya,


Jawab ...Aku harus bagaimana? Aku pernah


lari namun itu semua sia - sia, Kamu sedang


Tidak ada ...Kamu sedang mengejar mimpi


Kamu, Dan apa Aku setega itu menghancurkan


Mimpi yang sedang Kamu gapai....Aku


Tidak sekejam itu .... Mimpi Mas Dewa lebih


Berharga daripada Aku ....Mas " Lirihku terisak.


Sesaat wajah itu tertegun....


"Aku tidak pernah berbohong Padamu apalagi


tentang Kita, Percayalah butuh perjuangan


berat supaya Aku terlihat baik - baik saja,


Aku ..Sudah meminta maaf Padamu dan


mengatakan Padamu perasaanku saat itu,


Terserah Mas Dewa mau percaya atau tidak,


Hanya Tuhanlah yang tahu" Sambungku.


"Ya saat itu Aku tidak ingin menghancurkan


impian yang telah Kamu bangun, Tahukah


Kamu ...Betapa berapi - apinya Dirimu saat


Menceritakan mimpi itu, Dan apakah Aku


Tega mengambilnya untuk hidup bersamaku,


Tidak....Aku tidak senaif itu, Dan Kamu bilang


Aku baik - baik saja, Itu semua salah besar


Kamu seolah tidak mengenalku, Rasa bersalah


ini akan terus menghantui Diriku seumur


Hidupku Mas, Kuharap jika masih ada yang


mengganjal dengan seluruh hatiku, Aku me


minta maaf dengan sangat Padamu ...Mungkin


Ini pertemuan Kita yang terakhir..." Pamitku


Karena percuma jika hatinya sudah sekeras


batu dan takkan pernah memaafkan Diriku,


Lebih baik begitu saja...Aku sudah mengatakan


Sebenarnya isi dalam hatiku, Perlahan Aku


Berbalik untuk kembali Aku sudah meminta


maaf Padanya ...Terserah Pada Dirinya mau


Memaafkan atau tidak.


"Sebegitukah Usahamu meminta maaf,...


Dengan mudahnya ...." Ucapnya bibirnya ter


senyum getir.


Aku menghentikan langkahku seraya mengha


pus airmata yang terus turun.


"Aku harus bagaimana...Apa yang harus Aku


lakukan?" Tanyaku terisak.


"Hiduplah bersamaku ...Dan jadi Ibu untuk


Anakku, Kurasa Kita bisa mengulang waktu


yang hilang, Walau kurasa itu tidak mudah


Namun itu hukuman yang pantas bagimu,


Menjalani hari yang seharusnya Kamu lalui


Saat itu" Ucapnya ....Sorot mata setajam


elang seakan menguliti Aku, Bibir atasnya


Tersungging sebuah senyum yang Aku sendiri


tidak tahu maknanya.


"Kalau Aku menolak..?" Jawabku,


Aku hanya ingin memastikan Perasaanku


Sendiri apalagi setelah perbuatan Mas fakih


Yang membuat luka semakin dalam.


"Jika Kamu menolak, ...Aku anggap permin


taan maafmu hanya omong kosong belaka"


Jawabnya penuh penekanan.


************************************************


**Bersambung


**Apakah permintaan Dewa akan diterima oleh.


Alisha, Ataukah permintaan Dewa murni

__ADS_1


Dan tidak ada maksud lain?


**Please like or commentnya ya....


__ADS_2