
"Kita harus bicara .....!" Ucap Mas Dewa.
Sorot matanya memandang dalam
Wajahku,
Kami bertemu diujung danau tempat Kami
Sering bertemu dulu, Aku mengajak Akhsan
jalan - jalan tak disangka Kami akan bertemu
Disini, Suasana yang tak berubah seperti dulu,
Angin yang berhembus memainkan daun
Seperti melambai, Terlihat sepi hanya beberapa
Orang yang sedang menggembala sapi ataupun
Kambing.
Dari kejauhan terlihat punggung seseorang,
Langkahku terhenti, Aku sangat hafal ...
Dan tempat itu adalah tempat Pavorit Kami,
Aku hendak berbalik, Namun wajah itu.menoleh,
Dan Suara anak kecil itu memanggil,
Waktu berdetak seakan mengembalikan masa
lalu, Masa dimana saling mengenal dan
Mengerti arti cinta pertama.
Wajah teduh dengan tatapan setajam elang,
Netra hitam dengan arah pandang menembus
hati dan jiwa, Menguak asa dan rasa yang
tertunda, Sekelumit masa lalu yang belum
Usai karena sejatinya tak ada kata " Sudah"
Dalam kisah kita dahulu,
Sikap kesederhanaan namun tegas,
Sekokoh karang namun didalamnya kelembutan
Tanpa kata namun sikap, Kata cinta jarang
Terucap dari bibirnya, Namun Ia siap melindungi
Dan berjuang menjadi Orang yang bertanggung
jawab, Dan berusaha menjadi Seseorang yang
Layak memikul tanggung jawab seorang Imam
Dalam rumah tangga, Sekaligus mencapai
Cita -.cita yang diinginkannya, Dan ditempat inilah
Kami telah saling mengikat dengan sebuah janji.
"Maaf...." Lirihku tercekat dikerongkongan,
Kata itu terucap dengan susah payah,
Wajah itu memandang riak air danau yang
terlihat tenang, Tak ada emosi yang kentara
Seperti saat pertama kami bertemu kembali.
Sesekali pandangannya beralih pada dua makhluk
Kecil yang asyik berdebat seraya memakan
Eskrim.
Sesaat Ia menghela nafas.
"Aku tahu kisah Kita tak pernah ada kata akhir
Diantara Kita, Namun pengalaman itu membuat
Kita mengerti arti sebuah masa lalu dan menge
nalkan pada Orang lain yang mempunyai rasa
yang sama, Namun ternyata takdir mempertemukan
Kita lagi pada saat yang berbeda, Harusnya Aku
berterima kasih Padamu, Dengan cara Kamu
berpaling pada janji Kita Tuhan menghadirkan
Seseorang dengan Cinta dan pengabdiannya
Sampai akhir, Bahkan Ia rela mengorbankan
Nyawanya demi melahirkan seorang Putri
Cantik untukku" ...Datar dan tanpa emosi
Seakan memandang Seseorang nun jauh
Disana.
Aku tertunduk, Dia tidak menghakimi Aku
Dengan emosi yang berapi - api, Mungkin
Karena Kami bukan sepasang remaja seperti
Dahulu, Namun kata - katanya yang lembut
Seakan menghujam dadaku, Aku tahu....
Ini memang pantas untukku, Namun entah
Kenapa ini terasa menyakitkan.
Aku diam dan mencoba mencerna kata -
Katanya lebih jauh.
"Saat itu....Aku pulang dan mendapat kabar
Kamu telah menikah, Aku marah saat itu...
Namun...Saat Aku melihat Kamu baik -.baik
Aku marah karena Kamu membuat janji
Itu mengabur bahkan seakan tidak ada,
Tapi...Apakah Kamu tahu bagaimana pera
saan keluargaku, Senyum Ibuku sirna karena
Dirinya begitu menyayangimu, Ia selalu meman
dang kosong saat Ia memasak makanan kesu
kaanmu, Apakah Kamu memikirkan itu?
Ia sangat khawatir padamu, Namun ternyata
Orang yang sangat dikhawatirkan Ibukku
Sedang tertawa bahagia bersama Orang
lain dan terlihat baik - baik saja.."
Ia terdiam sebentar, Mendengar Aku mena
__ADS_1
ngis, Ia menutup matanya sesaat namun
Tidak menoleh sedikitpun Padaku.
"Maaf....!" Lirihku .
"Dan yang lebih ironis Ia baru menerima menan
tunya tanpa keterpaksaan saat Istriku kritis,
Sesaat sebelum Ia menghembuskan nafas
terakhirnya, Apakah itu adil baginya?"
Sambungnya terdengar lirih.
Aku semakin tersudut, Perasaan menyesal
semakin menggunung didadaku, Aku meraih
Ujung tangannya,
"Maaf...Aku ..aku...tahu takkan mudah
bagimu untuk memaafkan.Diriku,
Tapi...Bagiku juga saat itu tidaklah mudah,
Aku ....Tidak tahu harus bagaimana...."
Aku terisak, Ia tak bergeming...
Dan tak.mungkin juga Aku jujur bahwa
Mas Fakih pun menghianati Aku pada
Akhirnya, Aku tak ingin dirinya mencibirku
Hening terasa....
"Akhsan....!" Aku baru menyadari bahwa
Aksan tidak ada bersama Ica.
Sesaat Mas Dewapun baru menyadari Ica
tidak ada ditempat.
"Sayang ....!" Teriak Dewa,
Kami mengedarkan pandangan.kesegala
arah, Namuun tidak Kami dapati Mereka.
Kami menyisir tempat itu semua tidak
kudapati Mereka.
"Mas ...Gimana ini...!" Lirihku
"Sudah,...Kita cari lagi " Ajaknya.
Ketika Kami akan beranjak menuju mobil
Drrt....drrrt...drrt
Bunyi hp milik Mas Dewa, Tak butuh waktu
lama Ia mengangkat telfon, Walaupun kulihat
Keningnya sedikit berkerut.
"Iya Mang ...." Ujar Dewa.
"....."
"Iya ...Tapi Aku ingin melihat Mereka " jawab
Mas Dewa, Taklama Ia mengganti panggilan
menjadi Videocall.
Terlihat dua bocah sedang bermain ditemani
Bik Irah yang membawa sepiring nasi tengah
"Selesaikan dulu masalah Kalian, Biar Kami
yang jaga anak - anak, ...Kami harap Kalian
jangan pulang dulu sebelum masalah dimasa
lalu Kalian selesai" Ujar Mang Didin seraya
menutup panggilan.
"Dasar tidak.sopan !" Gerutu Mas Dewa.
"Kok bisa nelp kesana ?" Tanyaku aneh
Sekaligus lega saat melihat anak - anak
Baik - baik saja.
"Kan tadi berangkatnya bareng Aku,
Kenapa nelp ke Mas Dewa, Harusnya
Amang itu nelfon Aku " Sambungku.
"Menurutmu?" Dirinya balik bertanya.
Aku segera merogoh tasku seraya mengam
bil hp, Setelah itu Aku menepuk jidatku sen
diri, Ternyata hpnya lowbatt.
"Kecerobohanmu tidak berubah seperti dulu,
Sebelum pergi tuh lihat cas dulu, Siapa tahu
Kamu pergi jauh dan dijalan kena masalah
bagaimana" Cerocosnya.
"Kok jadi gitu, Kan masalahnya sekarang
bukan disengaja tahu.." Ujarku mengerucutkan
Bibirku,
Ia tak peduli, Ia melenggang pergi,
Dan tak berapa lama Dia duduk diatas kursi
Kayu dibawah pohon rindang. Kembali
Pandangannya menuju air didepanku.
"Duduk...!" Titahnya.
"Nggak...Pasti Mas akan menghakimi Aku,
Tanpa tahu apa yang terjadi dan yang
Kurasakan saat itu..." jawabku aku tahu
kesalahanku namun tidak semuanya salahku
Pribadi.
"Buktinya Kamu baik - baik saja tanpa Aku "
Cibirnya seakan - akan mengolok - olok
Diriku.
Kini akupun melepas pandanganku jauh mene
rawang kearah sana, Akupun menghela nafas
berat,
__ADS_1
"Kamu berfikir Aku menikah dengan Seseorang
Yang tidak aku kenal dan Aku cintai itu mudah,
Ternyata Aku merasa asing dalam sebuah
Ikatan yang Aku inginkan, Disatu sisi Aku
Yang bersalah namun disatu sisi tidak ada
Jalan lain demi kesembuhan Ayah...."
Lirihku.
"Terdengar naif bukan, Namun memang itu
jalan satu - satunya yang kumiliki, Apa Kamu
Pikir Aku baik - baik saja, Itu salah besar apa
Semudah itu Aku bisa melupakanmu,
Apa ...semudah itu kenangan Kita Aku lupakan
Dalam benakku, ..Sedangkan Aku harus ber
pura - pura baik - baik saja dihadapan para
Orang tua, Ya...Aku memang jahat ....
Dengan mudah Aku bisa melupakanmu,
Perasaan Kita dan perasaan Ibumu,.
Namun apa Kamu lupa Aku juga punya
Seorang Ayah yang terbaring di rumah sakit
Dan berharap padaku satu - satunya putrinya,
Jawab ...Aku harus bagaimana? Aku pernah
lari namun itu semua sia - sia, Kamu sedang
Tidak ada ...Kamu sedang mengejar mimpi
Kamu, Dan apa Aku setega itu menghancurkan
Mimpi yang sedang Kamu gapai....Aku
Tidak sekejam itu .... Mimpi Mas Dewa lebih
Berharga daripada Aku ....Mas " Lirihku terisak.
Sesaat wajah itu tertegun....
"Aku tidak pernah berbohong Padamu apalagi
tentang Kita, Percayalah butuh perjuangan
berat supaya Aku terlihat baik - baik saja,
Aku ..Sudah meminta maaf Padamu dan
mengatakan Padamu perasaanku saat itu,
Terserah Mas Dewa mau percaya atau tidak,
Hanya Tuhanlah yang tahu" Sambungku.
"Ya saat itu Aku tidak ingin menghancurkan
impian yang telah Kamu bangun, Tahukah
Kamu ...Betapa berapi - apinya Dirimu saat
Menceritakan mimpi itu, Dan apakah Aku
Tega mengambilnya untuk hidup bersamaku,
Tidak....Aku tidak senaif itu, Dan Kamu bilang
Aku baik - baik saja, Itu semua salah besar
Kamu seolah tidak mengenalku, Rasa bersalah
ini akan terus menghantui Diriku seumur
Hidupku Mas, Kuharap jika masih ada yang
mengganjal dengan seluruh hatiku, Aku me
minta maaf dengan sangat Padamu ...Mungkin
Ini pertemuan Kita yang terakhir..." Pamitku
Karena percuma jika hatinya sudah sekeras
batu dan takkan pernah memaafkan Diriku,
Lebih baik begitu saja...Aku sudah mengatakan
Sebenarnya isi dalam hatiku, Perlahan Aku
Berbalik untuk kembali Aku sudah meminta
maaf Padanya ...Terserah Pada Dirinya mau
Memaafkan atau tidak.
"Sebegitukah Usahamu meminta maaf,...
Dengan mudahnya ...." Ucapnya bibirnya ter
senyum getir.
Aku menghentikan langkahku seraya mengha
pus airmata yang terus turun.
"Aku harus bagaimana...Apa yang harus Aku
lakukan?" Tanyaku terisak.
"Hiduplah bersamaku ...Dan jadi Ibu untuk
Anakku, Kurasa Kita bisa mengulang waktu
yang hilang, Walau kurasa itu tidak mudah
Namun itu hukuman yang pantas bagimu,
Menjalani hari yang seharusnya Kamu lalui
Saat itu" Ucapnya ....Sorot mata setajam
elang seakan menguliti Aku, Bibir atasnya
Tersungging sebuah senyum yang Aku sendiri
tidak tahu maknanya.
"Kalau Aku menolak..?" Jawabku,
Aku hanya ingin memastikan Perasaanku
Sendiri apalagi setelah perbuatan Mas fakih
Yang membuat luka semakin dalam.
"Jika Kamu menolak, ...Aku anggap permin
taan maafmu hanya omong kosong belaka"
Jawabnya penuh penekanan.
************************************************
**Bersambung
**Apakah permintaan Dewa akan diterima oleh.
Alisha, Ataukah permintaan Dewa murni
__ADS_1
Dan tidak ada maksud lain?
**Please like or commentnya ya....