
"Ini salah...Namun mungkin ini waktu yang
terakhir Aku bisa bersamanya" Lirihku.
"Ibuu...Aku udah jadi anak baik,
Bang Akhsan juga, ...Iya kan Bang ?"
Ucapan lucu Alisha menyambut kedatangan
Kami, Akhsan hanya terdiam ia memandang
Tajam pada Ica yang langsung menggelayut
Ditangannya,
"Maaf Ica merepotkanmu Boy...." Ucap
Mas Dewa mengusap lembut pucuk kepala
Akhsan.
Akhsan hanya terdiam, Ia hanya menunduk
Saat tangan Mas Dewa meraih tangan
mungilnya, Menuntunnya kedalam rumah.
Dan membawanya duduk bersama di kursi
Ruang tamu.
"Maaf Bunda lama ya....?" Tanyaku lembut
Pada Akhan.
"Adek marah ?" Sambungku.
Aku menelaah wajah tampannya, Ada gurat
Sendu disana, Aku mendekat meraihnya
"Sini duduk dekat Bunda !" Titahku.
Akhsan hanya terdiam mematung,
Namun kutahu ada rasa sedih dalam
Netra hitamnya tanpa kata, Ia mencoba
Menahan sesuatu terlihat dari riak mukanya
Yang sedikit memerah.
Mas Dewa menoleh, Memperhatikan Akhsan.
"Ada apa ?" Tanya Mas Dewa,
Ia memandang lembut wajah Akhsan
"Sayang....!" Panggilku lembut mengulang.
"Aku ...Aku tak ingin Bunda direbut Orang
lain, Ayah sudah pergi ...Hanya Bunda yang
Akhsan punya " Lirihnya terbata, Ia beranjak
berlari menuju keluar, Berpapasan dengan
Bik Irah yang membawa nampan minuman.
.
"Lho Den Akhsan kenapa?" Tanya Bik Irah.
Aku hendak beranjak, Kulihat Ica tertegun
"Ibu....Bang Akhsan kenapa?"Tanyanya.
Raut mukanya pun terlihat sedih.
"Sudah...Biar Mas yang bicara Padanya "
Ucap Mas Dewa menahan tanganku.
Terlihat Mas Dewa berdiri, Ia berjalan
Menghampiri Akhsan yang duduk ditepi
Kolam, Melihat ikan didalam kolam adalah
Kesenangan Akhsan dan Arsyad, Kakak
beradik itu mempunyai hobby yang sama,
Taklama Ia duduk mensejajarkan tubuhnya
bersama Akhsan.
"Lihat Ikannya banyak ya?" Tanya Mas Dewa
Hati - hati,
Hening ...... Tidak ada jawaban sama sekali.
"Boy...." Panggilnya.
Sesaat wajah tampan Akhsan menoleh,
Taklama kembali menunduk.
Tangan Mas Dewa terulur mengusap pucuk
Kepala Akhsan lembut, Sosok bayi yang Ia
Pangku dan diadzani olehnya dulu, Bayi merah
Yang memupus rasa sakit dihatinya waktu itu
Wajah lucu nan tampan yang memberi
Kedamaian sekaligus rasa sakit secara
Bersamaan, Ketika Ia menyadari bayi mungil
Itu bukanlah Putranya, Namun namanya
Tersemat adalah pemberian Dirinya,
Dulu Dirinya dan Alisha sempat berangan
- angan mempunyai Putra bernama Akhsan.
__ADS_1
"Sini....Duduk dipangkuan Om..." Pinta Dewa.
Sesaat Akhsan kembali menoleh, Ia terdiam
Menatap dalam wajah Mas Dewa yang tersenyum
Hangat.Tangan Mas Dewa kembali terulur
Meraih tubuh Akhsan, Walaupun Akhsan tetap
Terdiam.
"Dengar Nak...Om tidak akan mengambil Bunda
Darimu, Namun Om akan bersama Kalian ,
Mau nggak Om dan Ica jadi temannya Akhsan? "
Ucap Mas Dewa tulus.
"Teman..?" Tanya Akhsan parau.
Mas Dewa mengangguk.
'Seperti Ikan disana mereka tidak sendirian,
Supaya tidak kesepian, Akhsan mau kan?"
Tanya Mas Dewa mengulang.
Kembali mata Akhsan menatap wajah Dewa, ..
"Tapii... Akhsan ingin ketemu Ayah,
Akhsan kangeen, Dua hari lagi Ulang tahunnya
Ayah " Ucap Akhsan terbata, Wajahnya menunduk
Kembali.
"Tapi kata Bunda, Hari ulang tahun Ayah
Kita hanya mendo'akannya di surga " lirih
Akhsan matanya memerah menahan tangis.
Mas Dewa memeluk erat tubuh mungil Akhsan,
Ia merasakan saat dimana Putrinya terus mena
nyakan sosok Ibu yang tak pernah Ia temui.
"Ya Kita bisa titip do'a untuk Ayahmu " Ucap
Mas Dewa, Walaupun sebegitu benci dirinya
Pada sosok Fakih yang telah mengambil
Alisha secara tidak langsung dari Dirinya.
Namun kini dengan ketiadaannya rasa
Benci itu terpupus sedikit demi sedikit,
Namun mungkin jika Dirinya tahu perbuatan
Fakih terhadap Alisha diakhir hidupnya mungkin
Rasa itu akan berbeda takkan sama seperti
Dari ambang pintu Aku menahan laju air mata
Yang terus mengalir di pipi ini, Rasa haru,
Sakit dan kecewa Aku rasakan kini, Bagaimana
Pun Akhsan tetaplah Akhsan putra kecil
Mas Fakih dan Aku, Seorang Putra yang
Selalu rindu pada Ayahnya, Walaupun Ia
Seolah tidak apa - apa, Namun ada kalanya
Dirinya seperti sekarang, Biasanya jika
Akhsan sedang sedih atau merajuk ada
Arsyad dan Aku akan memberi pengertian
Padanya, Melihat pemandangan didepan
Membuat dadaku sesak, Aku sadar mungkin
Disini Akhsan betul - betul merasa kehilangan
Sosok Ayah baginya, Biasanya Ia akan tenang
Dan terdiam namun untuk sekarang ketika
Melihat Kami bersama, Akhsan berbeda
Itulah mengapa Aku tidak bisa menjawab
Permintaan Mas Dewa kali ini, Ada perasaan
- perasaan yang harus Aku jaga, Mungkin
Semuanya butuh proses.
Aku bukanlah Alisha yang Mas Dewa kenal
Dahulu, Aku lebih berkaca pada nasibku
Aku hanya tidak ingin terluka untuk yang
Kedua kali, Atau yang sebenarnya Aku
Yang tidak ingin membuat perasaan Mas Dewa
Terluka untuk yang kedua kalinya,
"Ibu ada apa ?" Ica mengguncang jari tangan
ku yang tengah menuntunnya, Aku buru -
buru menyeka airmata dengan sebelah
Tanganku,
Sesaat Mas Dewa menoleh bersama
Akhsan.
__ADS_1
"Kemarilah .." Pintanya.
Aku menuntun Ica pelan dan Aku menun
dukkan wajahku seraya duduk disampingnya
Yang tengah memangku Akhsan.
"Maafkan Bunda Sayang!" Lirihku,
Kuusap lembut pucuk kepalanya,
Sedangkan Akhsan hanya terdiam dan menun
dukkan wajahnya.
"Ayaah ikannya bagus ya....Ica ingin ikan
seperti dilumah Eyang, Dan punya Bang
Akhsan " Tunjuk Ica seraya menunjuk
Ikan - Ikan yang tengah bergerombol
"Iya Kita bikin dirumah Kita yang baru
Ya " Jawab Mas Dewa.
"Sudahlah Boy, Sebagai Pria nggak boleh
Nangis lagi nanti Bundamu sedih, Oke!"
Ujarnya Mas Dewa berpesan pada Akhsan.
Mata bening itu memandang wajahku dalam,
Tangan mungilnya menghapus sisa air mata
Dipipinya, Setelah itu tangan mungilnya terulur.
"Maafin Akhsan Bunda...!" Lirihnya.
Aku mengusap pelan pucuk kepalanya
Lembut,
"Nggak pa - pa Sayang, Akhsan dan Abang
Tetap Putra Bunda, Nggak ada siapapun
Yang akan merebut itu, Putra Bunda jangan
Khawatir justru Ica jadi temannya Akhsan
Biar Kalian sama - sama nggak kesepian,
Mau ya ....?" Pintaku lembut.
Perlahan mata itu memandang wajah mungil
Bernama sama denganku, Taklama Ia
Mengangguk, Itu membuat Diriku lega
Akhirnya Akhsan mau menerima Seseorang
Untuk menjadi temannya selain disekolah,
Ia hanya punya teman disekolah karena
Akhsan tertutup lagipula ketika dirumah Kami
Jarang berinteraksi dengan Tetangga selain
Dengan keluarga.
"Terimakasih,...Sayaang " Ucapku lembut.
"Nah gitu dong....Berarti mulai hari ini Kita
berteman " Sahut Mas Dewa.
Kini tidak ada rasa canggung seperti tadi,
Tak lama Bi Irah memanggil Kami karena
Makanan telah siap, Aku memaksa Mas Dewa
Dan Ica untuk makan bersama Kami,
Masih tersisa tiga hari Mas Dewa cuti,
Sedangkan Aku dan Akhsan akan menghabiskan
Liburan kali ini disini sebelum pulang kerumah,
Dan Aku berencana pindah kerumah Pribadiku
Yang telah selesai tempatnya dekat dengan
Toko kue dan sekolah tempatku mengajar.
Rumah mungil yang khusus dibuat dari
Jerih payahku sendiri, Sedangkan rumah besar
Biar ditempati Arsyad, Itupun jika Akhsan
Mau pindah jika Ia tetap tidak ingin pindah
Dari sana mungkin Aku harus bertahan
Demi Putraku Akhsan.
Menjelang sore Mas Dewa pamit setelah
Ia berhasil membujuk Ica untuk mau pulang
Bersama Dirinya.
"Aku harap Kamu mempertimbangkan
Ucapanku tadi siang, Kita sudah bukan anak
Abege lagi bukan? Usia Kita sudah kepala tiga,
Tentu Kamu punya pertimbangan dan keputusan
Yang terbaik " Pesannya sebelum pergi.
**************************************************
**Bersambung
__ADS_1
**Tolong tinggalkan jejak seperti biasa, Maaf
untuk kali ini selau telat untuk Up 🙏