Lembar Kenangan

Lembar Kenangan
*Episode 13


__ADS_3

"Ini salah...Namun mungkin ini waktu yang


terakhir Aku bisa bersamanya" Lirihku.


"Ibuu...Aku udah jadi anak baik,


Bang Akhsan juga, ...Iya kan Bang ?"


Ucapan lucu Alisha menyambut kedatangan


Kami, Akhsan hanya terdiam ia memandang


Tajam pada Ica yang langsung menggelayut


Ditangannya,


"Maaf Ica merepotkanmu Boy...." Ucap


Mas Dewa mengusap lembut pucuk kepala


Akhsan.


Akhsan hanya terdiam, Ia hanya menunduk


Saat tangan Mas Dewa meraih tangan


mungilnya, Menuntunnya kedalam rumah.


Dan membawanya duduk bersama di kursi


Ruang tamu.


"Maaf Bunda lama ya....?" Tanyaku lembut


Pada Akhan.


"Adek marah ?" Sambungku.


Aku menelaah wajah tampannya, Ada gurat


Sendu disana, Aku mendekat meraihnya


"Sini duduk dekat Bunda !" Titahku.


Akhsan hanya terdiam mematung,


Namun kutahu ada rasa sedih dalam


Netra hitamnya tanpa kata, Ia mencoba


Menahan sesuatu terlihat dari riak mukanya


Yang sedikit memerah.


Mas Dewa menoleh, Memperhatikan Akhsan.


"Ada apa ?" Tanya Mas Dewa,


Ia memandang lembut wajah Akhsan


"Sayang....!" Panggilku lembut mengulang.


"Aku ...Aku tak ingin Bunda direbut Orang


lain, Ayah sudah pergi ...Hanya Bunda yang


Akhsan punya " Lirihnya terbata, Ia beranjak


berlari menuju keluar, Berpapasan dengan


Bik Irah yang membawa nampan minuman.


.


"Lho Den Akhsan kenapa?" Tanya Bik Irah.


Aku hendak beranjak, Kulihat Ica tertegun


"Ibu....Bang Akhsan kenapa?"Tanyanya.


Raut mukanya pun terlihat sedih.


"Sudah...Biar Mas yang bicara Padanya "


Ucap Mas Dewa menahan tanganku.


Terlihat Mas Dewa berdiri, Ia berjalan


Menghampiri Akhsan yang duduk ditepi


Kolam, Melihat ikan didalam kolam adalah


Kesenangan Akhsan dan Arsyad, Kakak


beradik itu mempunyai hobby yang sama,


Taklama Ia duduk mensejajarkan tubuhnya


bersama Akhsan.


"Lihat Ikannya banyak ya?" Tanya Mas Dewa


Hati - hati,


Hening ...... Tidak ada jawaban sama sekali.


"Boy...." Panggilnya.


Sesaat wajah tampan Akhsan menoleh,


Taklama kembali menunduk.


Tangan Mas Dewa terulur mengusap pucuk


Kepala Akhsan lembut, Sosok bayi yang Ia


Pangku dan diadzani olehnya dulu, Bayi merah


Yang memupus rasa sakit dihatinya waktu itu


Wajah lucu nan tampan yang memberi


Kedamaian sekaligus rasa sakit secara


Bersamaan, Ketika Ia menyadari bayi mungil


Itu bukanlah Putranya, Namun namanya


Tersemat adalah pemberian Dirinya,


Dulu Dirinya dan Alisha sempat berangan


- angan mempunyai Putra bernama Akhsan.

__ADS_1


"Sini....Duduk dipangkuan Om..." Pinta Dewa.


Sesaat Akhsan kembali menoleh, Ia terdiam


Menatap dalam wajah Mas Dewa yang tersenyum


Hangat.Tangan Mas Dewa kembali terulur


Meraih tubuh Akhsan, Walaupun Akhsan tetap


Terdiam.


"Dengar Nak...Om tidak akan mengambil Bunda


Darimu, Namun Om akan bersama Kalian ,


Mau nggak Om dan Ica jadi temannya Akhsan? "


Ucap Mas Dewa tulus.


"Teman..?" Tanya Akhsan parau.


Mas Dewa mengangguk.


'Seperti Ikan disana mereka tidak sendirian,


Supaya tidak kesepian, Akhsan mau kan?"


Tanya Mas Dewa mengulang.


Kembali mata Akhsan menatap wajah Dewa, ..


"Tapii... Akhsan ingin ketemu Ayah,


Akhsan kangeen, Dua hari lagi Ulang tahunnya


Ayah " Ucap Akhsan terbata, Wajahnya menunduk


Kembali.


"Tapi kata Bunda, Hari ulang tahun Ayah


Kita hanya mendo'akannya di surga " lirih


Akhsan matanya memerah menahan tangis.


Mas Dewa memeluk erat tubuh mungil Akhsan,


Ia merasakan saat dimana Putrinya terus mena


nyakan sosok Ibu yang tak pernah Ia temui.


"Ya Kita bisa titip do'a untuk Ayahmu " Ucap


Mas Dewa, Walaupun sebegitu benci dirinya


Pada sosok Fakih yang telah mengambil


Alisha secara tidak langsung dari Dirinya.


Namun kini dengan ketiadaannya rasa


Benci itu terpupus sedikit demi sedikit,


Namun mungkin jika Dirinya tahu perbuatan


Fakih terhadap Alisha diakhir hidupnya mungkin


Rasa itu akan berbeda takkan sama seperti


Dari ambang pintu Aku menahan laju air mata


Yang terus mengalir di pipi ini, Rasa haru,


Sakit dan kecewa Aku rasakan kini, Bagaimana


Pun Akhsan tetaplah Akhsan putra kecil


Mas Fakih dan Aku, Seorang Putra yang


Selalu rindu pada Ayahnya, Walaupun Ia


Seolah tidak apa - apa, Namun ada kalanya


Dirinya seperti sekarang, Biasanya jika


Akhsan sedang sedih atau merajuk ada


Arsyad dan Aku akan memberi pengertian


Padanya, Melihat pemandangan didepan


Membuat dadaku sesak, Aku sadar mungkin


Disini Akhsan betul - betul merasa kehilangan


Sosok Ayah baginya, Biasanya Ia akan tenang


Dan terdiam namun untuk sekarang ketika


Melihat Kami bersama, Akhsan berbeda


Itulah mengapa Aku tidak bisa menjawab


Permintaan Mas Dewa kali ini, Ada perasaan


- perasaan yang harus Aku jaga, Mungkin


Semuanya butuh proses.


Aku bukanlah Alisha yang Mas Dewa kenal


Dahulu, Aku lebih berkaca pada nasibku


Aku hanya tidak ingin terluka untuk yang


Kedua kali, Atau yang sebenarnya Aku


Yang tidak ingin membuat perasaan Mas Dewa


Terluka untuk yang kedua kalinya,


"Ibu ada apa ?" Ica mengguncang jari tangan


ku yang tengah menuntunnya, Aku buru -


buru menyeka airmata dengan sebelah


Tanganku,


Sesaat Mas Dewa menoleh bersama


Akhsan.

__ADS_1


"Kemarilah .." Pintanya.


Aku menuntun Ica pelan dan Aku menun


dukkan wajahku seraya duduk disampingnya


Yang tengah memangku Akhsan.


"Maafkan Bunda Sayang!" Lirihku,


Kuusap lembut pucuk kepalanya,


Sedangkan Akhsan hanya terdiam dan menun


dukkan wajahnya.


"Ayaah ikannya bagus ya....Ica ingin ikan


seperti dilumah Eyang, Dan punya Bang


Akhsan " Tunjuk Ica seraya menunjuk


Ikan - Ikan yang tengah bergerombol


"Iya Kita bikin dirumah Kita yang baru


Ya " Jawab Mas Dewa.


"Sudahlah Boy, Sebagai Pria nggak boleh


Nangis lagi nanti Bundamu sedih, Oke!"


Ujarnya Mas Dewa berpesan pada Akhsan.


Mata bening itu memandang wajahku dalam,


Tangan mungilnya menghapus sisa air mata


Dipipinya, Setelah itu tangan mungilnya terulur.


"Maafin Akhsan Bunda...!" Lirihnya.


Aku mengusap pelan pucuk kepalanya


Lembut,


"Nggak pa - pa Sayang, Akhsan dan Abang


Tetap Putra Bunda, Nggak ada siapapun


Yang akan merebut itu, Putra Bunda jangan


Khawatir justru Ica jadi temannya Akhsan


Biar Kalian sama - sama nggak kesepian,


Mau ya ....?" Pintaku lembut.


Perlahan mata itu memandang wajah mungil


Bernama sama denganku, Taklama Ia


Mengangguk, Itu membuat Diriku lega


Akhirnya Akhsan mau menerima Seseorang


Untuk menjadi temannya selain disekolah,


Ia hanya punya teman disekolah karena


Akhsan tertutup lagipula ketika dirumah Kami


Jarang berinteraksi dengan Tetangga selain


Dengan keluarga.


"Terimakasih,...Sayaang " Ucapku lembut.


"Nah gitu dong....Berarti mulai hari ini Kita


berteman " Sahut Mas Dewa.


Kini tidak ada rasa canggung seperti tadi,


Tak lama Bi Irah memanggil Kami karena


Makanan telah siap, Aku memaksa Mas Dewa


Dan Ica untuk makan bersama Kami,


Masih tersisa tiga hari Mas Dewa cuti,


Sedangkan Aku dan Akhsan akan menghabiskan


Liburan kali ini disini sebelum pulang kerumah,


Dan Aku berencana pindah kerumah Pribadiku


Yang telah selesai tempatnya dekat dengan


Toko kue dan sekolah tempatku mengajar.


Rumah mungil yang khusus dibuat dari


Jerih payahku sendiri, Sedangkan rumah besar


Biar ditempati Arsyad, Itupun jika Akhsan


Mau pindah jika Ia tetap tidak ingin pindah


Dari sana mungkin Aku harus bertahan


Demi Putraku Akhsan.


Menjelang sore Mas Dewa pamit setelah


Ia berhasil membujuk Ica untuk mau pulang


Bersama Dirinya.


"Aku harap Kamu mempertimbangkan


Ucapanku tadi siang, Kita sudah bukan anak


Abege lagi bukan? Usia Kita sudah kepala tiga,


Tentu Kamu punya pertimbangan dan keputusan


Yang terbaik " Pesannya sebelum pergi.


**************************************************


**Bersambung

__ADS_1


**Tolong tinggalkan jejak seperti biasa, Maaf


untuk kali ini selau telat untuk Up 🙏


__ADS_2