
"Allhamdulillah cuaca sedang bagus,
Kita tidak perlu khawatir" Ucap Arsyad.
Kini Kami sedang menaiki kapal feri,
Kami sedang berada di ruang penumpang
Mobil kami tinggalkan dibawah,
"Bunda sama Akhsan pasti lelah, Istirahat
Saja dulu, Bunda bisa bersandar Padaku"
Sambung Arsyad, Sedangkan Akhsan mulai
Kelelahan dan mengantuk dalam pangkuan
Arsyad.
"Kemana teman - temanmu?" Tanyaku
Karena tak kulihat dua teman yang bersama
Arsyad tadi, Apalagi ini waktunya liburan
Penumpang pun agak ramai.
"Palingan juga diluar, Kali aja yang nyangkut
Biasalah para jomblo" Jawab Arsyad
Cengengesan,
Aku tersenyum tanda mengerti.
"Terus Abang kapan bawa mantu buat
Bunda?" Tanyaku melihat raut wajahnya.
Sesaat wajah tampan itu terdiam.
Ia mengusap kening Akhsan yang mulai
Terlelap dipangkuannya.
"Mungkin suatu saat, Namun tidak untuk
Saat ini" Lirihnya.
Terlihat wajahnya sedikit muram.
Aku merasa tidak enak, Apakah Arsyad
Punya kenangan pahit dalam hal per
cintaan ataukah Dirinya trauma dengan
Kisah Kami.
"Ar....Ada saatnya Kamu jangan terlalu
takut dengan Kisahmu sendiri karena
melihat Kisah Orang lain karena sejatinya
Kisah hidup manusia itu berbeda - beda,
Ibarat Bunda mengajar disekolah mengha
dapi karakter anak yang berbeda - beda
Dan tentu saja mempunyai kisah yang
Berbeda pula, Begitu juga Abang yang
Pastinya mempunyai kisah yang berbeda
Pula, Bunda do'akan Abang mempunyai
Kisah yang indah, Mendapat jodoh yang
Terbaik bagi Abang" Paparku.
Arsyad tersenyum Kelu, Lalu melihat
Kearah jam dinding, Akupun mengantuk
"Bunda tidurlah ....Nanti kalau sudah sampai
Abang bangunin" Titahnya.
Matakupun berair menahan kantuk,
"Abang pasti pegal, Biar Akhsan dipangkuan
Bunda saja " Pintaku.
"Sudah...Tidak apa - apa, Nanti Akhsannya
Bangun " Ujarnya.
"Sekarang Bunda yang tidur !"Sambungnya.
Aku mencoba menutup mata karena sua
sanapun mulai hening, Hanya sedikit saja
Yang masih terjaga dan mengobrol.
Karena lelah, Tak terasa Akupun terlelap,
Karena ini sudah lewat tengah malam.
Aku bermimpi sesaat seperti dalam
rengkuhan seseorang, Aku merasa ini
Adalah bahu Mas fakih yang sering ku
jadikan tempat bersandar dan bermanja
Padanya,
Dulu Aku menyangka saat pernikahan
Kami yang memang dijodohkan,
Aku akan mendapatkan suami yang
Dingin, Angkuh dan kejam seperti yang
Biasa Aku baca dari novel, Namun ternya
ta Mas Fakih dan keluarga menyambutku
Dengan baik dan memperlakukan Aku
Dengan hangat, Terutama Arsyad yang
Saat itu masih remaja bersama Arkhan
Yang usianya saat itu berada
Beberapa tahun diatasku, Kami bertiga
Menjadi dekat, Karena Mas fakih sangat
Sibuk, Aku lebih sering bersama Arsyad
Dan Arkhan dirumah walaupun Mas Fakih
Sangat baik, Hangat dan dewasa.
Namun diawal pernikahan Kami tidaklah
Berjalan mulus, Perasaanku yang berdosa
Pada seseorang membuat Aku labil,
Apalagi tak pernah ada kata putus untuk
Kisah Kami, Sampai sekarangpun Aku
Belum pernah bertemu padahal ada
Sebuah pengharapan " maaf" dari bibir
nya supaya hatiku bisa lega,
Namun Mas Fakih dengan kedewasaannya
mampu meluluhkan Diriku, Apalagi ketika
Akhsan lahir, Mereka memperlakukanku
Bak ratu dirumahku sendiri, Aku bebas
Dengan keinginan dan mimpi hidupku,
Bahkan Mereka membantuku mewujudkan
Mimpiku yang sederhana, Menjadi seorang
Guru dan mempunyai sebuah toko kue,
Mimpi yang sebenarnya kurajut saat tengah
__ADS_1
Bersama Seseorang,
"Sebelum Aku pergi, Ada sesuatu yang akan
Aku berikan Padamu sebagai pengikat,
Walaupun Aku tahu Orang tuamu tidak
Pernah menyetujui hubungan Kita, Namun
Bisakah Kamu bersabar menantiku pulang"
Lirihnya saat itu, Ia meraih jemariku setelah
mengeluarkan sessuatu dan melingkarkan
Di jariku, ...
"Aku tahu ini sangat sederhana, Aku membeli
nya dari uang tabunganku sendiri selama ini
Dengan membantu Ayah dibengkelnya, Namun
Bisakah Kamu menerimanya, Sebelum Acara
Resmi nanti setelah Aku selesai Pendidikan,
Aku harap Kamu bersabar menungguku"
Pintanya saat terakhir Kami bertemu,
Dan ternyata Aku tidak bisa menunggunya.
Dan saat itu pula Aku merasa menjadi Orang
Yang paling jahat, Walaupun Aku merasa
Duniaku runtuh saat itu, Hingga saat ini
Kamipun belum pernah bertemu, Bahkan
Saat Orang tuaku meninggal satu tahun
Kemudian, Hingga saat itu Aku belum
Pernah kembali, Hanya sesekali untuk Ziarah
Dan itupun tidak lama, Aku tidak sanggup
Jika harus bertemu Mas Sadewa ataupun
Keluarganya Aku terlalu malu, Dan ternyata
Tuhan menghukumku saat ini,
Aku hanya berdo'a satu kali saja Aku ingin
Bertemu dengannya, Berujar maaf dan
Mengembalikan cincin ini Padanya.
Walaupun sejatinya Aku takut dan
Merasa sangat berdosa Padanya
Hingga tidak pernah punya keberanian
Untuk bertemu dengannya, Aku terlalu
Pengecut dan sangat berdosa Pada
Dirinya.
Kini Aku mengerti apa yang dirasakan
Olehnya,
Aku membuka mata, Saat merasakan
Tangan Seseorang melingkar dibahuku,
Terlihat Arsyad masih terjaga tangan
Kirinya merengkuhku supaya Aku
Tidak jatuh, Sedangkan tangan kanan
nya menjaga kepala Akhsan yang sedang
Terlelap.
"Maaf merepotkan Dirimu !" Lirihku
Merasa tidak enak.
"Sudah jangan sungkan, Aku akan
"Tidurlah kembali ....!" Sambungnya.
Rasa kantuk yang mendera mem
buat Aku merasa nyaman bersandar
Padanya.
Aku terbangun saat ingin merasakan
ke toilet, Aku mengerjapkan mataku,
Aku meminta izin pada Arsyad dan
Menolak untuk diantar Olehnya karena
Akhsan yang terlelap, Dan tak butuh
Waktu lama Aku sudah kembali,
Terlihat Arsyad sedang mengobrol dengan
Sepasang Parubaya di depannya.
"Semoga hubungan Kalian langgeng,
Terlihat Kalian pasangan yang serasi
Tak heran jika Putra Kalian sangat tampan"
Ucap sang Ibu Parubaya.
"Aamiin, ... Terima kasih Nek !"
Aku mengernyit saat mendengar Jawaban
Arsyad, Perlahan Aku menghampiri Mereka,
"Sudah selesai ...?"Tanya Arsyad,
Aku mengangguk, Dan duduk disam
pingnya kembali, Dan Aku ikut bergabung
Berbincang hangat, Biarlah nanti Aku
akan berbicara dengan Arsyad.
Akhirnya Kami sampai di pelabuhan
Namun karena masih malam Kami
Melanjutkan perjalanan sampai batas
Kota sebentar lagi dan hendak beristirahat
Sebentar menunggu fajar, Barulah ketika
Hari sudah terang Kami akan melanjutkan
Perjalanan karena kalau siang hari dirasa
aman.
"Bunda ....lihat banyak kuda!" Seru Akhsan
Kembali antusias.
Karena memang Kami melewati padang
Savana dan terlihat banyak kuda disana,
"Abang ...Nanti Aku ingin naik kuda,
Boleh kan?" Pintanya pada Arsyad
Arsyad tersenyum dan mengangguk.
"Iya nanti Abang temani ' Sahut Arsyad,
Sikap Arsyad tidak pernah berubah bahkan
Kini terlihat sangat dekat dengan Akhsan.
"Aku hanya tidak ingin Akhsan terlalu sedih,
Kehilangan Ayah, Itu sangat berat buatku
Apalagi Akhsan yang masih kecil " Ujarnya.
__ADS_1
Setelah melalui waktu yang panjang dan
Medan yang berliku dan tidak mudah,
Akhirnya Kami sampai, Mereka melapor
Ketika Kami sudah tiba, Dan mengangkut
Barang bawaan keperluan yang dibeli
Ketika saat dikota tadi,
Suasana panas dan sedikit gersang menyam
but Kami, Rumah bercat hijau berjejer rapi
Suasana agak sepi karena rumah yang di
tempati Arsyad berada paling ujung.
"Kita sudah sampai Jagoan !" Ucap Arsyad,
Sedangkan kedua teman Arsyad mengangkut
barang bawaan yang Mereka bell tadi di pos
Depan seraya melapor,
Sedangkan Arsyad setelah melapor lanjut
membawa Kami menuju rumahnya
"Maaf Bunda, ...Beginilah suasana disini,
Tidak apa bukan?" Tanyanya,
Aku tersenyum,
"Tidak apa, Bunda juga hanya sebentar juga
Disini, Hebat ya ...Istri tentara harus siap
Dengan kondisi apapun..." Ujarku menggantung
Mungkin sama Akupun demikian diharuskan
Mengikuti kemanapun tugas Mas Dewa jika
Dulu Aku menjadi Istrinya.
"Ada apa Bu? Nggak betah ya?" Tanya Arsyad
Setelah Aku dan Akhsan membersihkan diri,
Dan Arsyad telah kembali membeli untuk
Makan malam Kami.
"Dan maaf yang ada hanya ini" Ujarnya.
"Nggak pa - pa kali, ...Biar besok Bunda yang
masak, Oke!" Ucapku seraya menyuapi Akhsan,
"Kebetulan besok ada pasar, Kita belanja disana"
Ajaknya.
"Benarkah, Memangnya pasarnya nggak buka
Tiap hari gitu?" Tanyaku.
"Enggak Bu, Hanya dua kali dalam seminggu"
Jawabnya.
"Baiklah ...Besok Kita belanja dan Kita akan
masak" Ucapku,
"Abang tinggal sendiri ? " Sambung ku
Arsyad menggeleng.
"Nggak Bunda, Aku disini bersama Dika dan
Chandra, Cuma Mereka sedang tugas luar
Selama beberapa hari kedepan " Jawab
Arsyad.
"Nggak pa - pa, Ibu dan Akhsan tidur di
kamarku dan Aku tidur dikamar Chandra "
Jawab Arsyad, Akhsan sedang anteng melihat
Ke layar hp, Untung tadi sempat didonload
dulu sebelum kemari, Karena disini susah
Sinyal dan televisi pun tidak ada.
Dan Akhsan anteng - anteng saja, Dia
Tidak mengeluh karena memang Akhsan
Agak pendiam dan irit bicara.
Dan malam ini Aku dan Akhsan tidur dikamar
Arsyad, Dan tentunya Arsyad sudah laporan
Dan meminta izinku tinggal untuk beberapa
Hari kedepan, Jauh hari sebelumnya.
Terlihat seprei yang baru diganti, Tatanan
Rapi seperti dirumah yang telah menjadi
Kebiasaannya, Wangi parfum Arsyad sama
Seperti milik Mas Fakih, Karena Mereka
Cenderung menyukai hal yang sama.
"Bu....Kalau Ayah ikut, Berarti Kita bobo
nya bertiga ya,...Mana cukup " Seloroh
Akhsan.
Aku hanya menggeleng seraya tersenyum,
Entah perasaan apa yang bisa Aku jabarkan.
"Ayah bisa tidur sama Abang ...Kita tetep
Tidurnya berdua" Jawabku.
Sesaat wajah itu menunduk.
"Ada apa humm?" Tanyaku lembut.
""Akhsan Kangen Ayah,...Kenapa Ayah
Nggak pernah pulang ? Kan nggak enak
Bobok terus didalam tanah, Mendingan
Dikasur bareng Kita " Lirihnya.
Sesaat Aku tersenyum getir, Ini ungkapan
Yang Sering Akhsan utarakan.
"Ayah sudah bahagia di Syurganya Allah,
Kita hanya bisa mendo'akannya saja,
Makanya Kita akan selalu berdo'a untuk
Ayah " Jawabku lembut.
"Maukan Akhsan berdo'a untuk Ayah?"
Tanyaku lembut.
Akhsan mengangguk, Tak lama Ia me
mejamkan matanya seraya bibirnya
bergerak, Taklama Akhsan memelukku
Erat.
"Bunda ...jangan pernah pergi ninggalin Kita,
Seperti Ayah " Lirihnya.
"Nggak ...Sayang, Bunda akan selalu ada
Buat Akhsan "
********************************************
__ADS_1
*Bersambung
*Please like or comment nya ya 🙏😘