Lembar Kenangan

Lembar Kenangan
*Episode 05


__ADS_3

"Allhamdulillah cuaca sedang bagus,


Kita tidak perlu khawatir" Ucap Arsyad.


Kini Kami sedang menaiki kapal feri,


Kami sedang berada di ruang penumpang


Mobil kami tinggalkan dibawah,


"Bunda sama Akhsan pasti lelah, Istirahat


Saja dulu, Bunda bisa bersandar Padaku"


Sambung Arsyad, Sedangkan Akhsan mulai


Kelelahan dan mengantuk dalam pangkuan


Arsyad.


"Kemana teman - temanmu?" Tanyaku


Karena tak kulihat dua teman yang bersama


Arsyad tadi, Apalagi ini waktunya liburan


Penumpang pun agak ramai.


"Palingan juga diluar, Kali aja yang nyangkut


Biasalah para jomblo" Jawab Arsyad


Cengengesan,


Aku tersenyum tanda mengerti.


"Terus Abang kapan bawa mantu buat


Bunda?" Tanyaku melihat raut wajahnya.


Sesaat wajah tampan itu terdiam.


Ia mengusap kening Akhsan yang mulai


Terlelap dipangkuannya.


"Mungkin suatu saat, Namun tidak untuk


Saat ini" Lirihnya.


Terlihat wajahnya sedikit muram.


Aku merasa tidak enak, Apakah Arsyad


Punya kenangan pahit dalam hal per


cintaan ataukah Dirinya trauma dengan


Kisah Kami.


"Ar....Ada saatnya Kamu jangan terlalu


takut dengan Kisahmu sendiri karena


melihat Kisah Orang lain karena sejatinya


Kisah hidup manusia itu berbeda - beda,


Ibarat Bunda mengajar disekolah mengha


dapi karakter anak yang berbeda - beda


Dan tentu saja mempunyai kisah yang


Berbeda pula, Begitu juga Abang yang


Pastinya mempunyai kisah yang berbeda


Pula, Bunda do'akan Abang mempunyai


Kisah yang indah, Mendapat jodoh yang


Terbaik bagi Abang" Paparku.


Arsyad tersenyum Kelu, Lalu melihat


Kearah jam dinding, Akupun mengantuk


"Bunda tidurlah ....Nanti kalau sudah sampai


Abang bangunin" Titahnya.


Matakupun berair menahan kantuk,


"Abang pasti pegal, Biar Akhsan dipangkuan


Bunda saja " Pintaku.


"Sudah...Tidak apa - apa, Nanti Akhsannya


Bangun " Ujarnya.


"Sekarang Bunda yang tidur !"Sambungnya.


Aku mencoba menutup mata karena sua


sanapun mulai hening, Hanya sedikit saja


Yang masih terjaga dan mengobrol.


Karena lelah, Tak terasa Akupun terlelap,


Karena ini sudah lewat tengah malam.


Aku bermimpi sesaat seperti dalam


rengkuhan seseorang, Aku merasa ini


Adalah bahu Mas fakih yang sering ku


jadikan tempat bersandar dan bermanja


Padanya,


Dulu Aku menyangka saat pernikahan


Kami yang memang dijodohkan,


Aku akan mendapatkan suami yang


Dingin, Angkuh dan kejam seperti yang


Biasa Aku baca dari novel, Namun ternya


ta Mas Fakih dan keluarga menyambutku


Dengan baik dan memperlakukan Aku


Dengan hangat, Terutama Arsyad yang


Saat itu masih remaja bersama Arkhan


Yang usianya saat itu berada


Beberapa tahun diatasku, Kami bertiga


Menjadi dekat, Karena Mas fakih sangat


Sibuk, Aku lebih sering bersama Arsyad


Dan Arkhan dirumah walaupun Mas Fakih


Sangat baik, Hangat dan dewasa.


Namun diawal pernikahan Kami tidaklah


Berjalan mulus, Perasaanku yang berdosa


Pada seseorang membuat Aku labil,


Apalagi tak pernah ada kata putus untuk


Kisah Kami, Sampai sekarangpun Aku


Belum pernah bertemu padahal ada


Sebuah pengharapan " maaf" dari bibir


nya supaya hatiku bisa lega,


Namun Mas Fakih dengan kedewasaannya


mampu meluluhkan Diriku, Apalagi ketika


Akhsan lahir, Mereka memperlakukanku


Bak ratu dirumahku sendiri, Aku bebas


Dengan keinginan dan mimpi hidupku,


Bahkan Mereka membantuku mewujudkan


Mimpiku yang sederhana, Menjadi seorang


Guru dan mempunyai sebuah toko kue,


Mimpi yang sebenarnya kurajut saat tengah

__ADS_1


Bersama Seseorang,


"Sebelum Aku pergi, Ada sesuatu yang akan


Aku berikan Padamu sebagai pengikat,


Walaupun Aku tahu Orang tuamu tidak


Pernah menyetujui hubungan Kita, Namun


Bisakah Kamu bersabar menantiku pulang"


Lirihnya saat itu, Ia meraih jemariku setelah


mengeluarkan sessuatu dan melingkarkan


Di jariku, ...


"Aku tahu ini sangat sederhana, Aku membeli


nya dari uang tabunganku sendiri selama ini


Dengan membantu Ayah dibengkelnya, Namun


Bisakah Kamu menerimanya, Sebelum Acara


Resmi nanti setelah Aku selesai Pendidikan,


Aku harap Kamu bersabar menungguku"


Pintanya saat terakhir Kami bertemu,


Dan ternyata Aku tidak bisa menunggunya.


Dan saat itu pula Aku merasa menjadi Orang


Yang paling jahat, Walaupun Aku merasa


Duniaku runtuh saat itu, Hingga saat ini


Kamipun belum pernah bertemu, Bahkan


Saat Orang tuaku meninggal satu tahun


Kemudian, Hingga saat itu Aku belum


Pernah kembali, Hanya sesekali untuk Ziarah


Dan itupun tidak lama, Aku tidak sanggup


Jika harus bertemu Mas Sadewa ataupun


Keluarganya Aku terlalu malu, Dan ternyata


Tuhan menghukumku saat ini,


Aku hanya berdo'a satu kali saja Aku ingin


Bertemu dengannya, Berujar maaf dan


Mengembalikan cincin ini Padanya.


Walaupun sejatinya Aku takut dan


Merasa sangat berdosa Padanya


Hingga tidak pernah punya keberanian


Untuk bertemu dengannya, Aku terlalu


Pengecut dan sangat berdosa Pada


Dirinya.


Kini Aku mengerti apa yang dirasakan


Olehnya,


Aku membuka mata, Saat merasakan


Tangan Seseorang melingkar dibahuku,


Terlihat Arsyad masih terjaga tangan


Kirinya merengkuhku supaya Aku


Tidak jatuh, Sedangkan tangan kanan


nya menjaga kepala Akhsan yang sedang


Terlelap.


"Maaf merepotkan Dirimu !" Lirihku


Merasa tidak enak.


"Sudah jangan sungkan, Aku akan


"Tidurlah kembali ....!" Sambungnya.


Rasa kantuk yang mendera mem


buat Aku merasa nyaman bersandar


Padanya.


Aku terbangun saat ingin merasakan


ke toilet, Aku mengerjapkan mataku,


Aku meminta izin pada Arsyad dan


Menolak untuk diantar Olehnya karena


Akhsan yang terlelap, Dan tak butuh


Waktu lama Aku sudah kembali,


Terlihat Arsyad sedang mengobrol dengan


Sepasang Parubaya di depannya.


"Semoga hubungan Kalian langgeng,


Terlihat Kalian pasangan yang serasi


Tak heran jika Putra Kalian sangat tampan"


Ucap sang Ibu Parubaya.


"Aamiin, ... Terima kasih Nek !"


Aku mengernyit saat mendengar Jawaban


Arsyad, Perlahan Aku menghampiri Mereka,


"Sudah selesai ...?"Tanya Arsyad,


Aku mengangguk, Dan duduk disam


pingnya kembali, Dan Aku ikut bergabung


Berbincang hangat, Biarlah nanti Aku


akan berbicara dengan Arsyad.


Akhirnya Kami sampai di pelabuhan


Namun karena masih malam Kami


Melanjutkan perjalanan sampai batas


Kota sebentar lagi dan hendak beristirahat


Sebentar menunggu fajar, Barulah ketika


Hari sudah terang Kami akan melanjutkan


Perjalanan karena kalau siang hari dirasa


aman.


"Bunda ....lihat banyak kuda!" Seru Akhsan


Kembali antusias.


Karena memang Kami melewati padang


Savana dan terlihat banyak kuda disana,


"Abang ...Nanti Aku ingin naik kuda,


Boleh kan?" Pintanya pada Arsyad


Arsyad tersenyum dan mengangguk.


"Iya nanti Abang temani ' Sahut Arsyad,


Sikap Arsyad tidak pernah berubah bahkan


Kini terlihat sangat dekat dengan Akhsan.


"Aku hanya tidak ingin Akhsan terlalu sedih,


Kehilangan Ayah, Itu sangat berat buatku


Apalagi Akhsan yang masih kecil " Ujarnya.

__ADS_1


Setelah melalui waktu yang panjang dan


Medan yang berliku dan tidak mudah,


Akhirnya Kami sampai, Mereka melapor


Ketika Kami sudah tiba, Dan mengangkut


Barang bawaan keperluan yang dibeli


Ketika saat dikota tadi,


Suasana panas dan sedikit gersang menyam


but Kami, Rumah bercat hijau berjejer rapi


Suasana agak sepi karena rumah yang di


tempati Arsyad berada paling ujung.


"Kita sudah sampai Jagoan !" Ucap Arsyad,


Sedangkan kedua teman Arsyad mengangkut


barang bawaan yang Mereka bell tadi di pos


Depan seraya melapor,


Sedangkan Arsyad setelah melapor lanjut


membawa Kami menuju rumahnya


"Maaf Bunda, ...Beginilah suasana disini,


Tidak apa bukan?" Tanyanya,


Aku tersenyum,


"Tidak apa, Bunda juga hanya sebentar juga


Disini, Hebat ya ...Istri tentara harus siap


Dengan kondisi apapun..." Ujarku menggantung


Mungkin sama Akupun demikian diharuskan


Mengikuti kemanapun tugas Mas Dewa jika


Dulu Aku menjadi Istrinya.


"Ada apa Bu? Nggak betah ya?" Tanya Arsyad


Setelah Aku dan Akhsan membersihkan diri,


Dan Arsyad telah kembali membeli untuk


Makan malam Kami.


"Dan maaf yang ada hanya ini" Ujarnya.


"Nggak pa - pa kali, ...Biar besok Bunda yang


masak, Oke!" Ucapku seraya menyuapi Akhsan,


"Kebetulan besok ada pasar, Kita belanja disana"


Ajaknya.


"Benarkah, Memangnya pasarnya nggak buka


Tiap hari gitu?" Tanyaku.


"Enggak Bu, Hanya dua kali dalam seminggu"


Jawabnya.


"Baiklah ...Besok Kita belanja dan Kita akan


masak" Ucapku,


"Abang tinggal sendiri ? " Sambung ku


Arsyad menggeleng.


"Nggak Bunda, Aku disini bersama Dika dan


Chandra, Cuma Mereka sedang tugas luar


Selama beberapa hari kedepan " Jawab


Arsyad.


"Nggak pa - pa, Ibu dan Akhsan tidur di


kamarku dan Aku tidur dikamar Chandra "


Jawab Arsyad, Akhsan sedang anteng melihat


Ke layar hp, Untung tadi sempat didonload


dulu sebelum kemari, Karena disini susah


Sinyal dan televisi pun tidak ada.


Dan Akhsan anteng - anteng saja, Dia


Tidak mengeluh karena memang Akhsan


Agak pendiam dan irit bicara.


Dan malam ini Aku dan Akhsan tidur dikamar


Arsyad, Dan tentunya Arsyad sudah laporan


Dan meminta izinku tinggal untuk beberapa


Hari kedepan, Jauh hari sebelumnya.


Terlihat seprei yang baru diganti, Tatanan


Rapi seperti dirumah yang telah menjadi


Kebiasaannya, Wangi parfum Arsyad sama


Seperti milik Mas Fakih, Karena Mereka


Cenderung menyukai hal yang sama.


"Bu....Kalau Ayah ikut, Berarti Kita bobo


nya bertiga ya,...Mana cukup " Seloroh


Akhsan.


Aku hanya menggeleng seraya tersenyum,


Entah perasaan apa yang bisa Aku jabarkan.


"Ayah bisa tidur sama Abang ...Kita tetep


Tidurnya berdua" Jawabku.


Sesaat wajah itu menunduk.


"Ada apa humm?" Tanyaku lembut.


""Akhsan Kangen Ayah,...Kenapa Ayah


Nggak pernah pulang ? Kan nggak enak


Bobok terus didalam tanah, Mendingan


Dikasur bareng Kita " Lirihnya.


Sesaat Aku tersenyum getir, Ini ungkapan


Yang Sering Akhsan utarakan.


"Ayah sudah bahagia di Syurganya Allah,


Kita hanya bisa mendo'akannya saja,


Makanya Kita akan selalu berdo'a untuk


Ayah " Jawabku lembut.


"Maukan Akhsan berdo'a untuk Ayah?"


Tanyaku lembut.


Akhsan mengangguk, Tak lama Ia me


mejamkan matanya seraya bibirnya


bergerak, Taklama Akhsan memelukku


Erat.


"Bunda ...jangan pernah pergi ninggalin Kita,


Seperti Ayah " Lirihnya.


"Nggak ...Sayang, Bunda akan selalu ada


Buat Akhsan "


********************************************

__ADS_1


*Bersambung


*Please like or comment nya ya 🙏😘


__ADS_2