
"Drrt....drrt..."
Aku meraba nakasku saat Aku hendak
Terlelap, Dan taklama Aku bisa meraih
Benda pipih yang sejak tadi bergetar,
Terlihat nama Arsyad disana.
Aku menekan tombol hijau dilayar,
Terlihat wajah lelah Arsyad disana.
"Assalamualaikum Bun?" Ucapnya
"Waalaikum sallam...." Jawabku.
Aku beranjak dari tempat tidurku, Berjalan
Meraih saklar lampu supaya Arsyad dapat
Melihat Kami.
"Gimana hari ini ?" Tanyaku
"Shalatnya jangan Kamu lupa, Makan dan
Vitaminnya juga ya..." Ingatku.
Arsyad hanya terkekeh seraya memberi hormat
Padaku.
"Nggih ...Bu Negara, Insyaallah Arsyad nggak
lupa" Jawabnya.
"Bunda dan Akhsan juga jangan lupa makan,
Bunda sering lupa sarapan jangan lagi..., Oh
Ya gimana Akhsan biasanya dia suka Mellow
Menjelang Ulang tahun Ayah" Sambungnya.
Aku hanya terdiam tanpa kata, Aku hanya
Takut Arsyad terbebani, Aku hanya tersenyum
Dipaksakan.
"Nggak pa - pa, Ia sudah tidur jangan dipikirkan
Nanti akan Bunda bawa ke makam Ayah, Mung
kin Ia rindu" Jawabku pelan, Aku mencoba mena
han laju air mata yang hendak turun.
"Bunda...Aku sangat tahu perasaan Dirimu,
Lepaskanlah jika itu jadi bebanmu, Bunda berhak
Bahagia, Maaf Aku tidak bisa berada disisimu,
Namun Kita masih bisa bicara jangan pernah
Bunda tutupi apapun dariku " Ingatnya.
"Mata Bunda merah,...Jika ingin menangis,
Menangislah, Daripada itu menjadi beban
Dihatimu " Lirihnya.
Aku mengusap air mataku pelan,
"Oh ya...Gimana harimu disana? Apa Kamu
Udah nemuin calon Mantu buat Bunda?"
Aku mengalihkan pembicaraan Kami.
Sesaat Ia menghela nafas.
"Bunda untuk hal itu mungkin suatu saat ada
Masanya Arsyad bawa bidadari untuk bunda, .
Namun untuk saat ini cukup hanya satu
Bidadari yang Arsyad miliki "Lirihnya.
Mataku berbinar mendengar ucapan Arsyad.
"Benarkah kapan Bunda pengen ketemu,
Nggak usah lama - lama, Nanti pas Kamu
Pulang Kita lamar Dia ya ?" Ucapku antusias.
Ia memandangku dalam sorot matanya sungguh
Berbeda wajah tampan itu menatapku dalam,
Seakan menyiratkan banyak cerita untukku.
"Mau ...Ya ..?"Pintaku mengulang.
Ia menggeleng pelan,
"Belum saatnya Bunda, ..Ada saatnya Bunda
Kenal Dirinya " Ucap Arsyad.
"Untuk saat ini Aku cukup bahagia dengan
Kehidupan kita bertiga, Aku merasa itu
Sangat cukup untuku" Sambungnya.
"Tapii....Nak !" Potongku.
"Sudah...Untuk saat ini Sudah cukup ada
Bunda dan Akhsan bagiku " Ucapnya.
Aku mengalah atas keputusannya, Hanya
Saja Aku berdo'a untuk kebahagiaannya.
Setelah percakapannya Kami terputus,
Hari berangsur malam, Aku mencoba ter
lelap mengistirahatkan tubuhku.
Hari ini waktunya Kami pulang,
Tanpa kutelfon Arkhan sudah datang pagi
- Pagi sekali, Padahal Kami akan pulang
Ssndiri Karena tahu kesibukan Dirinya kini.
"Aku tidak usah Kamu jemput, Kami bisa
pulang sendiri kok, Aku tahu Kamu sibuk
Ar ..." Berondongku,
Ia cengengesan memasuki halaman rumah
__ADS_1
Setelah memarkirkan mobilnya,
"It's Ok,....Kan Aku bos nya, Lagipula nggak
ada agenda penting hari ini, Aku jengah
Ditelfon anakmu wanti - wanti supaya jemput
Kalian, Uh.... Ucapannya udah kayak bapak -
bapak Arisan, Membuat kupingku sakit tau "
Selorohnya seraya menuntun Akhsan yang
Menyambutnya didepan bersamaku.
"Gimana harimu Boy?" Tanyanya.
"Fine... Uncle" Jawabnya Akhsan singkat.
Arkhan duduk seraya menaruh tubuh Akhsan
Dipangkuan Dirinya, Ia mengerti mungkin
Sebentar lagi ulang tahun sang Kakak,
Sebagai putranya Akhsan merasakan kese
dihan yang amat dalam.
"Eh ....Hari ini Uncle Free gimana kalau Kita
mampir ke zoo sebentar" Tawar Arkhan.
"Zoo....Yeayy Asiiik !" Ujarnya senang matanya
berbinar bahagia.
"Gimana ....Mau ?" Tawar Arkhan.
"Mau banget Uncle...." Ucap Akhsan.
Taklama Bi Irah datang membawa satu piring
Ketan bakar beserta sambel Oncom yang
Masih mengepul beserta air teh hangat
Khas buatan warga setempat,
"Waah terimakasih, Bibi tahu aja kesenangan
Saya ..." Seloroh Arkhan.
"Ih tahu atuh feeling Aden Feeling bibi, Kalau
Waktunya Neng Lisha pulang pasti ada yang
jemput, Baik itu den fakih, Den Arsyad atau
Den Arkhan, Kesenangan Kalian kan sama"
Seloroh bik Irah seraya tersenyum.
Sesaat Arkhan tersenyum, Ia meraih teh
Hangat dan menyeruputnya dalam diam,
Seakan menikmati sensasinya.
"Ayo Boy Kita sarapan ....!" Ajaknya.
Aku menuruni tangga membawa perlengkapan
Yang kubawa tidak seberapa, Karena baju
Yang kubawa hanya untuk berangkat saja,
disini bersama baju Akhsan bahkan baju
Mas fakih yang biasa dipakai disini masih
Tertata rapi, Karena hanya sedikit baju yang
Tertinggal disini.
"Akhsan mau ganti lagi bajunya ?" Tawarku
karena Ia sudah mandi pagi tadi.
"Oh ya Neng ....Ini ada titipan dari Mas Dewa,
Ia pulang duluan kekota soalnya mau beberes
Dirumah dinasnya yang baru " Ucap Bi Irah.
"Tadi malam Ia pulang mendadak, Neng Lisha
Udah tidur nggak enak mau bangunin" Sambung
nya.
Aku hanya mengangguk, Rupanya tadi malam
Suara mobil Mas Dewa yang terdengar, Aku
memang sudah tertidur, Hanya saja terdengar
Samar deru suara mobil, Aku meraih barang
yang dititipkan Mas Dewa untukku, Terlihat
Arkhan melirik dari ujung matanya.
"Bentar Aku gantiin baju Akhsan ya " Izinku
pada Arkhan, Ia mengangguk pertanda jawaban
Karena bibirnya tengah memakan sepotong
Ulen yang telah dicocol kedalam sambel oncom.
Aku meraih tubuh Akhsan setelah itu membawa
nya kedalam kamar tamu dibawah karena terlalu
Jauh jika harus mengganti baju Akhsan kekamar
Kami kelantai dua, Tak butuh waktu lama kami
Keluar, Terlihat Arkhan yang masih asyik sarapan.
Aku mrnghampiri bik Irah kembali didapur.
"Bik...Amang sudah pergi kesawah ?" Tanyaku.
Bik Irah menoleh seraya menaruh pekerjaannya
Sebentar.
"Iya atuh Neng kan masa panen sebentar lagi,
Jadi Amang harus siap - siap, Takutnya nanti
Yang kerja rebutan sama pekerja Den Dewa
karena sekarang kan udah pada kerja kekota
karena dikota kan gajinya lebih besar Neng,
Kadang Kita kekurangan Orang" Jawab bik Irah.
"Mungkin sekarang sawah punya Den Dewa
__ADS_1
Dikelola sama Saudaranya semenjak Ibunya
Meninggal, Kan Neng tau sendiri Den Dewa
Nggak mungkin tinggal disini karena Ia punya
Tugas sendiri, Ia pergi cuma bawa pengasuh
Neng Ica saja" Sambung Bik Irah.
"Kenapa Mas Dewa nggak nikah lagi, Lagi
pula keluarga dari pihak Ibunya Ica kemana
Bik, Nggak ikut mengasuh juga kasihan Ica
Umur segitu kan masih harus dalam pengasuhan
Orang tua ..." Ucapku keluar begitu saja.
Terlihat Bik Irah menghela nafas panjang,
Sesaat Ia memandang wajahku dalam.
"Neng ...Coba duduk sini, Bibi ingin bertanya
Sesuatu Pada Neng " Pinta Bik Irah.
Aku menautkan dahiku namun tak urung Aku
Mendekatinya.
"Ada apa Bi ?" Sahutku, Seraya mendekat dan
Duduk disampingnya.
"Neng apa benar, Neng udah nggak ada perasaan
Lagi buat Den Dewa? Jujur Bibi lihat perasaan
Kalian tidak berubah, Tetap sama seperti dulu,
Kalaupun ada Kalian berhak tidak ada yang
Salah dalam hubungan Kalian, Yang terpenting
Masa depan Kalian, Kalian sama - sama sendiri,
Apa salahnya Neng ?" Tanya Bik Irah.
Aku melempar pandanganku keluar,
"Bukan begitu Bik ...Aku hanya takut " Lirihku.
"Takut karena apa? " Bik Irah kembali bertanya.
"Aku takut melukai perasaannya dan juga Aku
takut..Ia meninggalkan Diriku seperti Mas Fakih"
Lirihku karena sebenarnya Aku takut dikhianati
Seperti Mas Fakih menghianati Aku, Karena
Semuanya tidak tahu kejadian yang sebenarnya
Hanya keluarga inti Mas Fakih saja yang tahu
Kenyataan yang sebenarnya.
Perlahan Bik Irah memelukku erat,
"Neng...Bibi tahu ...Maafkan Bibi, Mungkin Neng
Trauma apalagi Den Dewa dengan profesinya
Dibutuhkan mental yang kuat, Maafkan Bibi
Neng hanya saja melihat Ica Bibi kasihan Ibunya
Ica yatim piatu dan tidak punya Saudara, Itulah
Mengapa Ica sejak lahir diasuh mendiang Ibu
Den Dewa, Dan sekarang terpaksa diasuh Den
Dewa dengan membawa serta sang pengasuh
Karena Ica telah terbiasa dengan pengasuhnya,
Untuk Istri berulang kali Mendiang Ibunya men
jodohkan Den Dewa namun Ia selalu menolak,
Bibi tahu alasannya dan Bibi rasa Neng yang
Lebih tahu alasannya" Cerita Bik Irah.
Ia melepaskan pelukannya, Seraya mengusap
Bahuku erat.
"Kalian berhak bahagia Neng, ...Itu do'a Amang
Dan bibi disini" Ucap Bik Irah.
"Hei ...Kenapa sedih entar juga liburan kesini
lagi, Ayo Al kita berangkat bentar lagi panas
Dan pasti macet dikota !" Ajak Arkhan,
Aku menoleh, Buru - buru Aku menghapus
Air mataku takut ketahuan Arkhan, Seraya
Memaksakan senyumanku Pada Arkhan
Yang mendekat,
"Umur aja udah tuwir tapi masih aja cengeng "
Ujarnya seraya menghapus sisa air mataku
Dengan ibu jarinya.
"Sok tahu Kamu ....!" Ujarku cemberut.
"Maaf ... Seharusnya Aku tidak lari dari
perjodohan itu, Dan membiarkan Mas Fakih
Menggantikkan Diriku, Aku menyesal
Aku terlalu berambisi dengan mimpiku
Dengan mengorbankan pernikahan yang
Seharusnya Kita Jalani.....Maafkan Aku
.."Lirihnya.
Aku tersenyum kecut, Itu adalah masalalu
"Sudah....Sudah ini takdirku Ar, ..Nggak ada
Yang bisa merubahnya kini"
**********************************************
**Bersambung
**Tinggalkan. jejaknya ya, ...Please 🙏😘
__ADS_1