Lembar Kenangan

Lembar Kenangan
*Episode 15


__ADS_3

"Drrt....drrt..."


Aku meraba nakasku saat Aku hendak


Terlelap, Dan taklama Aku bisa meraih


Benda pipih yang sejak tadi bergetar,


Terlihat nama Arsyad disana.


Aku menekan tombol hijau dilayar,


Terlihat wajah lelah Arsyad disana.


"Assalamualaikum Bun?" Ucapnya


"Waalaikum sallam...." Jawabku.


Aku beranjak dari tempat tidurku, Berjalan


Meraih saklar lampu supaya Arsyad dapat


Melihat Kami.


"Gimana hari ini ?" Tanyaku


"Shalatnya jangan Kamu lupa, Makan dan


Vitaminnya juga ya..." Ingatku.


Arsyad hanya terkekeh seraya memberi hormat


Padaku.


"Nggih ...Bu Negara, Insyaallah Arsyad nggak


lupa" Jawabnya.


"Bunda dan Akhsan juga jangan lupa makan,


Bunda sering lupa sarapan jangan lagi..., Oh


Ya gimana Akhsan biasanya dia suka Mellow


Menjelang Ulang tahun Ayah" Sambungnya.


Aku hanya terdiam tanpa kata, Aku hanya


Takut Arsyad terbebani, Aku hanya tersenyum


Dipaksakan.


"Nggak pa - pa, Ia sudah tidur jangan dipikirkan


Nanti akan Bunda bawa ke makam Ayah, Mung


kin Ia rindu" Jawabku pelan, Aku mencoba mena


han laju air mata yang hendak turun.


"Bunda...Aku sangat tahu perasaan Dirimu,


Lepaskanlah jika itu jadi bebanmu, Bunda berhak


Bahagia, Maaf Aku tidak bisa berada disisimu,


Namun Kita masih bisa bicara jangan pernah


Bunda tutupi apapun dariku " Ingatnya.


"Mata Bunda merah,...Jika ingin menangis,


Menangislah, Daripada itu menjadi beban


Dihatimu " Lirihnya.


Aku mengusap air mataku pelan,


"Oh ya...Gimana harimu disana? Apa Kamu


Udah nemuin calon Mantu buat Bunda?"


Aku mengalihkan pembicaraan Kami.


Sesaat Ia menghela nafas.


"Bunda untuk hal itu mungkin suatu saat ada


Masanya Arsyad bawa bidadari untuk bunda, .


Namun untuk saat ini cukup hanya satu


Bidadari yang Arsyad miliki "Lirihnya.


Mataku berbinar mendengar ucapan Arsyad.


"Benarkah kapan Bunda pengen ketemu,


Nggak usah lama - lama, Nanti pas Kamu


Pulang Kita lamar Dia ya ?" Ucapku antusias.


Ia memandangku dalam sorot matanya sungguh


Berbeda wajah tampan itu menatapku dalam,


Seakan menyiratkan banyak cerita untukku.


"Mau ...Ya ..?"Pintaku mengulang.


Ia menggeleng pelan,


"Belum saatnya Bunda, ..Ada saatnya Bunda


Kenal Dirinya " Ucap Arsyad.


"Untuk saat ini Aku cukup bahagia dengan


Kehidupan kita bertiga, Aku merasa itu


Sangat cukup untuku" Sambungnya.


"Tapii....Nak !" Potongku.


"Sudah...Untuk saat ini Sudah cukup ada


Bunda dan Akhsan bagiku " Ucapnya.


Aku mengalah atas keputusannya, Hanya


Saja Aku berdo'a untuk kebahagiaannya.


Setelah percakapannya Kami terputus,


Hari berangsur malam, Aku mencoba ter


lelap mengistirahatkan tubuhku.


Hari ini waktunya Kami pulang,


Tanpa kutelfon Arkhan sudah datang pagi


- Pagi sekali, Padahal Kami akan pulang


Ssndiri Karena tahu kesibukan Dirinya kini.


"Aku tidak usah Kamu jemput, Kami bisa


pulang sendiri kok, Aku tahu Kamu sibuk


Ar ..." Berondongku,


Ia cengengesan memasuki halaman rumah

__ADS_1


Setelah memarkirkan mobilnya,


"It's Ok,....Kan Aku bos nya, Lagipula nggak


ada agenda penting hari ini, Aku jengah


Ditelfon anakmu wanti - wanti supaya jemput


Kalian, Uh.... Ucapannya udah kayak bapak -


bapak Arisan, Membuat kupingku sakit tau "


Selorohnya seraya menuntun Akhsan yang


Menyambutnya didepan bersamaku.


"Gimana harimu Boy?" Tanyanya.


"Fine... Uncle" Jawabnya Akhsan singkat.


Arkhan duduk seraya menaruh tubuh Akhsan


Dipangkuan Dirinya, Ia mengerti mungkin


Sebentar lagi ulang tahun sang Kakak,


Sebagai putranya Akhsan merasakan kese


dihan yang amat dalam.


"Eh ....Hari ini Uncle Free gimana kalau Kita


mampir ke zoo sebentar" Tawar Arkhan.


"Zoo....Yeayy Asiiik !" Ujarnya senang matanya


berbinar bahagia.


"Gimana ....Mau ?" Tawar Arkhan.


"Mau banget Uncle...." Ucap Akhsan.


Taklama Bi Irah datang membawa satu piring


Ketan bakar beserta sambel Oncom yang


Masih mengepul beserta air teh hangat


Khas buatan warga setempat,


"Waah terimakasih, Bibi tahu aja kesenangan


Saya ..." Seloroh Arkhan.


"Ih tahu atuh feeling Aden Feeling bibi, Kalau


Waktunya Neng Lisha pulang pasti ada yang


jemput, Baik itu den fakih, Den Arsyad atau


Den Arkhan, Kesenangan Kalian kan sama"


Seloroh bik Irah seraya tersenyum.


Sesaat Arkhan tersenyum, Ia meraih teh


Hangat dan menyeruputnya dalam diam,


Seakan menikmati sensasinya.


"Ayo Boy Kita sarapan ....!" Ajaknya.


Aku menuruni tangga membawa perlengkapan


Yang kubawa tidak seberapa, Karena baju


Yang kubawa hanya untuk berangkat saja,


disini bersama baju Akhsan bahkan baju


Mas fakih yang biasa dipakai disini masih


Tertata rapi, Karena hanya sedikit baju yang


Tertinggal disini.


"Akhsan mau ganti lagi bajunya ?" Tawarku


karena Ia sudah mandi pagi tadi.


"Oh ya Neng ....Ini ada titipan dari Mas Dewa,


Ia pulang duluan kekota soalnya mau beberes


Dirumah dinasnya yang baru " Ucap Bi Irah.


"Tadi malam Ia pulang mendadak, Neng Lisha


Udah tidur nggak enak mau bangunin" Sambung


nya.


Aku hanya mengangguk, Rupanya tadi malam


Suara mobil Mas Dewa yang terdengar, Aku


memang sudah tertidur, Hanya saja terdengar


Samar deru suara mobil, Aku meraih barang


yang dititipkan Mas Dewa untukku, Terlihat


Arkhan melirik dari ujung matanya.


"Bentar Aku gantiin baju Akhsan ya " Izinku


pada Arkhan, Ia mengangguk pertanda jawaban


Karena bibirnya tengah memakan sepotong


Ulen yang telah dicocol kedalam sambel oncom.


Aku meraih tubuh Akhsan setelah itu membawa


nya kedalam kamar tamu dibawah karena terlalu


Jauh jika harus mengganti baju Akhsan kekamar


Kami kelantai dua, Tak butuh waktu lama kami


Keluar, Terlihat Arkhan yang masih asyik sarapan.


Aku mrnghampiri bik Irah kembali didapur.


"Bik...Amang sudah pergi kesawah ?" Tanyaku.


Bik Irah menoleh seraya menaruh pekerjaannya


Sebentar.


"Iya atuh Neng kan masa panen sebentar lagi,


Jadi Amang harus siap - siap, Takutnya nanti


Yang kerja rebutan sama pekerja Den Dewa


karena sekarang kan udah pada kerja kekota


karena dikota kan gajinya lebih besar Neng,


Kadang Kita kekurangan Orang" Jawab bik Irah.


"Mungkin sekarang sawah punya Den Dewa

__ADS_1


Dikelola sama Saudaranya semenjak Ibunya


Meninggal, Kan Neng tau sendiri Den Dewa


Nggak mungkin tinggal disini karena Ia punya


Tugas sendiri, Ia pergi cuma bawa pengasuh


Neng Ica saja" Sambung Bik Irah.


"Kenapa Mas Dewa nggak nikah lagi, Lagi


pula keluarga dari pihak Ibunya Ica kemana


Bik, Nggak ikut mengasuh juga kasihan Ica


Umur segitu kan masih harus dalam pengasuhan


Orang tua ..." Ucapku keluar begitu saja.


Terlihat Bik Irah menghela nafas panjang,


Sesaat Ia memandang wajahku dalam.


"Neng ...Coba duduk sini, Bibi ingin bertanya


Sesuatu Pada Neng " Pinta Bik Irah.


Aku menautkan dahiku namun tak urung Aku


Mendekatinya.


"Ada apa Bi ?" Sahutku, Seraya mendekat dan


Duduk disampingnya.


"Neng apa benar, Neng udah nggak ada perasaan


Lagi buat Den Dewa? Jujur Bibi lihat perasaan


Kalian tidak berubah, Tetap sama seperti dulu,


Kalaupun ada Kalian berhak tidak ada yang


Salah dalam hubungan Kalian, Yang terpenting


Masa depan Kalian, Kalian sama - sama sendiri,


Apa salahnya Neng ?" Tanya Bik Irah.


Aku melempar pandanganku keluar,


"Bukan begitu Bik ...Aku hanya takut " Lirihku.


"Takut karena apa? " Bik Irah kembali bertanya.


"Aku takut melukai perasaannya dan juga Aku


takut..Ia meninggalkan Diriku seperti Mas Fakih"


Lirihku karena sebenarnya Aku takut dikhianati


Seperti Mas Fakih menghianati Aku, Karena


Semuanya tidak tahu kejadian yang sebenarnya


Hanya keluarga inti Mas Fakih saja yang tahu


Kenyataan yang sebenarnya.


Perlahan Bik Irah memelukku erat,


"Neng...Bibi tahu ...Maafkan Bibi, Mungkin Neng


Trauma apalagi Den Dewa dengan profesinya


Dibutuhkan mental yang kuat, Maafkan Bibi


Neng hanya saja melihat Ica Bibi kasihan Ibunya


Ica yatim piatu dan tidak punya Saudara, Itulah


Mengapa Ica sejak lahir diasuh mendiang Ibu


Den Dewa, Dan sekarang terpaksa diasuh Den


Dewa dengan membawa serta sang pengasuh


Karena Ica telah terbiasa dengan pengasuhnya,


Untuk Istri berulang kali Mendiang Ibunya men


jodohkan Den Dewa namun Ia selalu menolak,


Bibi tahu alasannya dan Bibi rasa Neng yang


Lebih tahu alasannya" Cerita Bik Irah.


Ia melepaskan pelukannya, Seraya mengusap


Bahuku erat.


"Kalian berhak bahagia Neng, ...Itu do'a Amang


Dan bibi disini" Ucap Bik Irah.


"Hei ...Kenapa sedih entar juga liburan kesini


lagi, Ayo Al kita berangkat bentar lagi panas


Dan pasti macet dikota !" Ajak Arkhan,


Aku menoleh, Buru - buru Aku menghapus


Air mataku takut ketahuan Arkhan, Seraya


Memaksakan senyumanku Pada Arkhan


Yang mendekat,


"Umur aja udah tuwir tapi masih aja cengeng "


Ujarnya seraya menghapus sisa air mataku


Dengan ibu jarinya.


"Sok tahu Kamu ....!" Ujarku cemberut.


"Maaf ... Seharusnya Aku tidak lari dari


perjodohan itu, Dan membiarkan Mas Fakih


Menggantikkan Diriku, Aku menyesal


Aku terlalu berambisi dengan mimpiku


Dengan mengorbankan pernikahan yang


Seharusnya Kita Jalani.....Maafkan Aku


.."Lirihnya.


Aku tersenyum kecut, Itu adalah masalalu


"Sudah....Sudah ini takdirku Ar, ..Nggak ada


Yang bisa merubahnya kini"


**********************************************


**Bersambung


**Tinggalkan. jejaknya ya, ...Please 🙏😘

__ADS_1


__ADS_2