
"Berikan Aku waktu Mas...."Pintaku
Mencoba menelaah pada netra hitamnya
Dalam, Aku hanya takut untuk memulai
Kisah baru atau lebih tepatnya mengulang
Kisah Kami, Aku tak ingin gegabah seperti
Kisah antara Aku dan Mas Fakih,
Aku seperti Orang bodoh yang tidak tahu
Dengan buaian kisah manis seseorang untuk
Menutupi kisah sebenarnya, Aku hanya takut
Jika Aku menerimanya Aku akan membuatnya
Kembali terluka, Aku terlalu berdosa dengan
Kisahku bersamanya dahulu, Aku tidak berharap
lebih hanya maaf darinyapun sudah cukup bagiku.
Kutatap wajahnya terang seperti dulu,
Riak mukanya teduh dan tenang yang selalu
memberikan ketenangan untukku, Hari - hari
Yang Kami lalui, Cinta yang begitu indah,
Cinta pertamaku, Apakah akan sanggup jika
Aku mengulangi kisah Kami lagi,
Dirinya mencoba mendekat, Mengikis jarak
Diantara Kami, Wangi parfum yang berbeda
Namun tetap maskulin menguar dari tubuhnya.
Bola mata elang yang kurindu, Wajah tenang
Dengan tatapan tajamnya yang seolah masuk
kedalam jantungku, Menguak kisah masa lalu
Kami.
"Berapa lama, ...Aku tahu status Kita kini
Sama, Apalagi yang Kamu khawatirkan?"
Tanyanya.
"Aku ....Aku ....hanya takut ?" Lirihku terbata.
Dahinya berkerut,
"Takut ...?" Tanyanya.
Sesaat Ia menghela nafas, Ia memandang
Wajahku dalam.
"Baiklah ...Aku memberi waktu lagi Padamu,
Boleh kutahu alasan apa? Padahal Kamu tahu
sendiri kisah kita tidak pernah usai" Ucapnya.
"Tapi..." Potongku.
"Arsyad...Diakah ?" Tanyanya.
Aku menggeleng cepat,
"Bukan...Ia kuanggap sebagai putraku sendiri,
Lagipula Ia adalah abangnya Akhsan, Ia yang
kupunya selain Akhsan, ...Ia tempatku bersandar
kini setelah kepergian Ayahnya" Aku tertunduk
Aku mencoba jujur seperti dulu, Entah bagaimana
Perasaannya kini namun Aku ingin tahu sampai
Dimana perasaanya bertahan untukku walaupun
Aku tidak yakin perasaan Kami akan sama seperti
Dulu, Setelah kisah yang Kami lalui,
Ia merengkuh bahuku erat, Semilir angin memain
kan ujung rambutku,
"Tetap saja bagaimanapun Ia anak sambungmu
namun umur Kalian tidak terpaut sangat jauh,
Apa tidak ada persepsi lain dari pandangan
Orang lain" Ucapnya datar.
"Apalagi Kalian selama ini tinggal dibawah
atap yang sama, Walaupun Arsyad pergi
Menunaikan tugasnya namun tetap saja
Dirimulah tempat Ia kembali "Sambungnya.
Aku menghela nafas berat.
"Tahukah Mas Dewa, Selama ini Siapa yang
Ada disaat Aku terpuruk dulu,....
Saat Aku jatuh dan kecewa atas nasibku
Sendiri, Saat Aku dilanda rasa bersalah yang
Sangat besar Padamu,...Arsyad lah yang selalu
Ada untukku walau saat itu umurnyapun masih
Masih terhitung muda sama sepertiku, Namun
Ia selalu ada untukku, Disaat Suamiku tenggelam
Dalam kesibukkannya ada Arsyad yang selalu
__ADS_1
bersedia disampingku Mas,..."Paparku.
"Lantas ....Apa benar tidak ada perasaan
Apapun diantara Kalian? Disaat Kalian saling
ketergantungan seperti saat ini, Aku hanya
Sangsi " Ucapnya.
Aku tersenyum, Ternyata Mas Dewa tetap
Mas Dewa yang kukenal seperti dulu, Ia
Adalah orang yang sanggup membaca
Situasi dengan ketenangannya.
Saat ini izinkan Aku bersandar dibahunya,
Aku tahu walau kata ini sudah terlambat,
Sejujurnya Aku masih merindukan bahu ini
Tempat bersandar diriku selain bahu Ayah,
Perlahan Aku menaruh wajahku dibahunya,
Aku ingin merasakannya seperti dulu,
Tenang ....Dan kurasakan kedamaian disana.
Perlahan usapan lembut diatas rambutku,
Mengusap tenang dan damai, Aku menutup
Mata merasakan sentuhan tangannya,
Setelah sekian lama waktu berlalu,
Setelah sekian lama masa berganti, Aku
Bisa merasakan kembali, ...Aku hanya bisa
Berharap waktu berhenti berdetak saat inj,
Dimana saat Aku merasakan kedamaian yang
Indah seperti dulu.
*Dewa POV
Kutatap wajah bening yang tidak berubah
Seperti dulu, Ia tetap cantik dengan keanggunan
Yang Ia punya, Bola mata indah yang membuatku
Terluka beberapa waktu, Namun lebih tepatnya
Takdir yang tidak bersahabat dengan kisah
Kami, Aku sadar harta telah membuat Kami
Berbeda, Namun Aku tetap akan berjuang hingga
Aku pantas berdiri disisinya.
Namun ternyata nasib tidak pernah berpihak
Orang lain, Itu membuatku terpuruk namun saat
Melihat Dirinya untuk yang terakhir kali saat
Aku mendampingi Dirinya melahirkan Akhsan
Putranya Aku merelakan Dirinya Bahagia.
Dengan berurai air mata Ia terus meminta
maaf, Mungkin saat itu dengan secara kebetulan
Takdir mempertemukan Aku lagi dengannya,
Memberi maaf yang terucap secara perlahan
Dan melepas Dirinya untuk menjemput takdir
nya sendiri,
Aku mencium keningnya untuk yang terakhir
Kali seraya melepas Dirinya untuk bahagia
Di kehidupannya, Dan Akupun akan berusaha
membuka hati untuk Orang lain. Walau itu
Akan membuat hati ibukku kecewa,
Kini Dia datang ...Dengan status yang sama
lagi denganku, Walau dari segi fisik tidak pernah
Ada yang berubah hanya dirinya lebih tenang
Dan dewasa saat ini, Namun wajah dan senyuman
Itu tetaplah sama, Senyuman tulus yang pernah
Menjadi milikku, Kini takkan kubiarkan Dirinya
Pergi dari hidupku lagi, Dan Aku berjanji Akan
Membuatnya terikat disisiku, Aku pastikan itu
Aku tidak ingin kehilangannya lagi,
Saat ini akan kugenggam rasa ini,
Aku ingin bersama mengejar mimpi yang
Pernah Kami Impikan dulu, Aku hanya
Ingin sunggingan Senyuman lepasnya,
Karena walaupun dulu Aku pernah membenci
Dirinya namun Akupun tidak rela jika Dirinya
Terluka dan tidak baik - baik saja.
Apalagi Aku mengikuti kisah hidupnya secara
Diam - diam,
Saat Aku tahu Dirinya menderita diakhir
__ADS_1
Haruskah Aku bahagia ?
Namun entah kenapa hati ini tidak terima
Seseorang membuatnya terluka, Ingin
Rasanya Aku membuat perhitungan dengan
nya namun ternyata Ia menyambut kematian
nya namun membuat Alisha terluka seumur
Hidupnya,
Mata Indah kini tidak seterang dulu,
Ada luka bersemayam dalam Pandangannya
Senyumannya tidak setulus dulu, Ada kesedihan
Disana, Bibir yang selalu berujar maaf tidak
Ada tawa lepas lagi disana, Namun kini Aku
Ingin mengembalikan senyumannya,
Tidak lebih tepatnya Kebahagiaan Kami
Dahulu yang sempat tertunda, Kini Aku
Takkan melepaskannya lagi.
"Aku sedang dihukum oleh takdir, Karena
Dulu Aku melakukan suatu kesalahan.."
Ujarnya bergetar,
Tangan lentiknya sesekali melempar kerikil
Kecil kedalam air danau, Matanya menerawang
Sesekali bahunya bergetar, Aku menoleh Ketika
Terlihat airmata menggenang di pelupuk
Matanya, Perlahan kusibakkan rambutnya
Perlahan, Menghapus air matanya tanpa kata,
Dengan Ibu jariku, Tahukah Kamu...Itu mem
buat hatiku sakit, Perlahan Aku memberi
Pelukan seperti dulu, Mengusap punggungnya
Pelan seperti Aku menenangkan Dirinya
Dahulu Jika dulu Dirinya bersedih,
Tahukah Kamu perasaan ini masih sama,
Aku bisa menerjang musuh dan rintangan
Apapun, Namun membunuh cinta untukmu
Satu yang tidak kumampu.
POV End
"Maaf ....Bajumu basah Mas...!" Ucapku
tersadar, Aku mencoba mengusapnya
"Sudah..! Tak apa nanti juga kering sendiri,
Kamu tetap saja cengeng seperti dulu"
Ucap Dewa,
Aku memutar bola mata memandangnya
Tajam,
"Kok gitu sih,...Aku nggak cengeng cuma
baperan aja .." Elakku, Seraya kucubit tangannya
Seperti dulu, Dirinya hanya terkekeh.
"Terus siapa yang sering ngadu ke Aku karena
Dibully senior dahulu " Ujar Mas Dewa
"Ternyata yang lebih menyebalkan Dia itu
Sering menggodamu Karena Angga suka sama
Kamu, Kamu aja yang tak peka, Untung saja"
Sambungnya enteng.
"Apaaa.....Kok Aku nggak tahu Mas, Sengaja
Ya..." Ucapku.
"Sudah...! Kalau udah tahu jawabannya lebih
baik lupakan, Oke!" Pintanya
Aku hanya mengangguk, Aku teringat anak -
anak dirumah, Aku takut Mereka merajuk
Karena ini sudah lama.
"Mas ...Pulang yuk, Takut Anak - anak
Merajuk udah lama juga kita disini "
Pintaku seraya bangkit.
Mas Dewapun ikut berdiri, Ia menggenggam
tanganku berjalan beriringan, Seperti dulu
Semuanya seperti mengulang kemasa itu.
Aku menyerahkan semuanya kepada
Takdir dan Waktu yang akan mengukir kisah
Kami kedepannya nanti.
******************************************
**Bersambung
__ADS_1