Lembar Kenangan

Lembar Kenangan
* Episode 12


__ADS_3

"Berikan Aku waktu Mas...."Pintaku


Mencoba menelaah pada netra hitamnya


Dalam, Aku hanya takut untuk memulai


Kisah baru atau lebih tepatnya mengulang


Kisah Kami, Aku tak ingin gegabah seperti


Kisah antara Aku dan Mas Fakih,


Aku seperti Orang bodoh yang tidak tahu


Dengan buaian kisah manis seseorang untuk


Menutupi kisah sebenarnya, Aku hanya takut


Jika Aku menerimanya Aku akan membuatnya


Kembali terluka, Aku terlalu berdosa dengan


Kisahku bersamanya dahulu, Aku tidak berharap


lebih hanya maaf darinyapun sudah cukup bagiku.


Kutatap wajahnya terang seperti dulu,


Riak mukanya teduh dan tenang yang selalu


memberikan ketenangan untukku, Hari - hari


Yang Kami lalui, Cinta yang begitu indah,


Cinta pertamaku, Apakah akan sanggup jika


Aku mengulangi kisah Kami lagi,


Dirinya mencoba mendekat, Mengikis jarak


Diantara Kami, Wangi parfum yang berbeda


Namun tetap maskulin menguar dari tubuhnya.


Bola mata elang yang kurindu, Wajah tenang


Dengan tatapan tajamnya yang seolah masuk


kedalam jantungku, Menguak kisah masa lalu


Kami.


"Berapa lama, ...Aku tahu status Kita kini


Sama, Apalagi yang Kamu khawatirkan?"


Tanyanya.


"Aku ....Aku ....hanya takut ?" Lirihku terbata.


Dahinya berkerut,


"Takut ...?" Tanyanya.


Sesaat Ia menghela nafas, Ia memandang


Wajahku dalam.


"Baiklah ...Aku memberi waktu lagi Padamu,


Boleh kutahu alasan apa? Padahal Kamu tahu


sendiri kisah kita tidak pernah usai" Ucapnya.


"Tapi..." Potongku.


"Arsyad...Diakah ?" Tanyanya.


Aku menggeleng cepat,


"Bukan...Ia kuanggap sebagai putraku sendiri,


Lagipula Ia adalah abangnya Akhsan, Ia yang


kupunya selain Akhsan, ...Ia tempatku bersandar


kini setelah kepergian Ayahnya" Aku tertunduk


Aku mencoba jujur seperti dulu, Entah bagaimana


Perasaannya kini namun Aku ingin tahu sampai


Dimana perasaanya bertahan untukku walaupun


Aku tidak yakin perasaan Kami akan sama seperti


Dulu, Setelah kisah yang Kami lalui,


Ia merengkuh bahuku erat, Semilir angin memain


kan ujung rambutku,


"Tetap saja bagaimanapun Ia anak sambungmu


namun umur Kalian tidak terpaut sangat jauh,


Apa tidak ada persepsi lain dari pandangan


Orang lain" Ucapnya datar.


"Apalagi Kalian selama ini tinggal dibawah


atap yang sama, Walaupun Arsyad pergi


Menunaikan tugasnya namun tetap saja


Dirimulah tempat Ia kembali "Sambungnya.


Aku menghela nafas berat.


"Tahukah Mas Dewa, Selama ini Siapa yang


Ada disaat Aku terpuruk dulu,....


Saat Aku jatuh dan kecewa atas nasibku


Sendiri, Saat Aku dilanda rasa bersalah yang


Sangat besar Padamu,...Arsyad lah yang selalu


Ada untukku walau saat itu umurnyapun masih


Masih terhitung muda sama sepertiku, Namun


Ia selalu ada untukku, Disaat Suamiku tenggelam


Dalam kesibukkannya ada Arsyad yang selalu

__ADS_1


bersedia disampingku Mas,..."Paparku.


"Lantas ....Apa benar tidak ada perasaan


Apapun diantara Kalian? Disaat Kalian saling


ketergantungan seperti saat ini, Aku hanya


Sangsi " Ucapnya.


Aku tersenyum, Ternyata Mas Dewa tetap


Mas Dewa yang kukenal seperti dulu, Ia


Adalah orang yang sanggup membaca


Situasi dengan ketenangannya.


Saat ini izinkan Aku bersandar dibahunya,


Aku tahu walau kata ini sudah terlambat,


Sejujurnya Aku masih merindukan bahu ini


Tempat bersandar diriku selain bahu Ayah,


Perlahan Aku menaruh wajahku dibahunya,


Aku ingin merasakannya seperti dulu,


Tenang ....Dan kurasakan kedamaian disana.


Perlahan usapan lembut diatas rambutku,


Mengusap tenang dan damai, Aku menutup


Mata merasakan sentuhan tangannya,


Setelah sekian lama waktu berlalu,


Setelah sekian lama masa berganti, Aku


Bisa merasakan kembali, ...Aku hanya bisa


Berharap waktu berhenti berdetak saat inj,


Dimana saat Aku merasakan kedamaian yang


Indah seperti dulu.


*Dewa POV


Kutatap wajah bening yang tidak berubah


Seperti dulu, Ia tetap cantik dengan keanggunan


Yang Ia punya, Bola mata indah yang membuatku


Terluka beberapa waktu, Namun lebih tepatnya


Takdir yang tidak bersahabat dengan kisah


Kami, Aku sadar harta telah membuat Kami


Berbeda, Namun Aku tetap akan berjuang hingga


Aku pantas berdiri disisinya.


Namun ternyata nasib tidak pernah berpihak


Orang lain, Itu membuatku terpuruk namun saat


Melihat Dirinya untuk yang terakhir kali saat


Aku mendampingi Dirinya melahirkan Akhsan


Putranya Aku merelakan Dirinya Bahagia.


Dengan berurai air mata Ia terus meminta


maaf, Mungkin saat itu dengan secara kebetulan


Takdir mempertemukan Aku lagi dengannya,


Memberi maaf yang terucap secara perlahan


Dan melepas Dirinya untuk menjemput takdir


nya sendiri,


Aku mencium keningnya untuk yang terakhir


Kali seraya melepas Dirinya untuk bahagia


Di kehidupannya, Dan Akupun akan berusaha


membuka hati untuk Orang lain. Walau itu


Akan membuat hati ibukku kecewa,


Kini Dia datang ...Dengan status yang sama


lagi denganku, Walau dari segi fisik tidak pernah


Ada yang berubah hanya dirinya lebih tenang


Dan dewasa saat ini, Namun wajah dan senyuman


Itu tetaplah sama, Senyuman tulus yang pernah


Menjadi milikku, Kini takkan kubiarkan Dirinya


Pergi dari hidupku lagi, Dan Aku berjanji Akan


Membuatnya terikat disisiku, Aku pastikan itu


Aku tidak ingin kehilangannya lagi,


Saat ini akan kugenggam rasa ini,


Aku ingin bersama mengejar mimpi yang


Pernah Kami Impikan dulu, Aku hanya


Ingin sunggingan Senyuman lepasnya,


Karena walaupun dulu Aku pernah membenci


Dirinya namun Akupun tidak rela jika Dirinya


Terluka dan tidak baik - baik saja.


Apalagi Aku mengikuti kisah hidupnya secara


Diam - diam,


Saat Aku tahu Dirinya menderita diakhir

__ADS_1


Haruskah Aku bahagia ?


Namun entah kenapa hati ini tidak terima


Seseorang membuatnya terluka, Ingin


Rasanya Aku membuat perhitungan dengan


nya namun ternyata Ia menyambut kematian


nya namun membuat Alisha terluka seumur


Hidupnya,


Mata Indah kini tidak seterang dulu,


Ada luka bersemayam dalam Pandangannya


Senyumannya tidak setulus dulu, Ada kesedihan


Disana, Bibir yang selalu berujar maaf tidak


Ada tawa lepas lagi disana, Namun kini Aku


Ingin mengembalikan senyumannya,


Tidak lebih tepatnya Kebahagiaan Kami


Dahulu yang sempat tertunda, Kini Aku


Takkan melepaskannya lagi.


"Aku sedang dihukum oleh takdir, Karena


Dulu Aku melakukan suatu kesalahan.."


Ujarnya bergetar,


Tangan lentiknya sesekali melempar kerikil


Kecil kedalam air danau, Matanya menerawang


Sesekali bahunya bergetar, Aku menoleh Ketika


Terlihat airmata menggenang di pelupuk


Matanya, Perlahan kusibakkan rambutnya


Perlahan, Menghapus air matanya tanpa kata,


Dengan Ibu jariku, Tahukah Kamu...Itu mem


buat hatiku sakit, Perlahan Aku memberi


Pelukan seperti dulu, Mengusap punggungnya


Pelan seperti Aku menenangkan Dirinya


Dahulu Jika dulu Dirinya bersedih,


Tahukah Kamu perasaan ini masih sama,


Aku bisa menerjang musuh dan rintangan


Apapun, Namun membunuh cinta untukmu


Satu yang tidak kumampu.


POV End


"Maaf ....Bajumu basah Mas...!" Ucapku


tersadar, Aku mencoba mengusapnya


"Sudah..! Tak apa nanti juga kering sendiri,


Kamu tetap saja cengeng seperti dulu"


Ucap Dewa,


Aku memutar bola mata memandangnya


Tajam,


"Kok gitu sih,...Aku nggak cengeng cuma


baperan aja .." Elakku, Seraya kucubit tangannya


Seperti dulu, Dirinya hanya terkekeh.


"Terus siapa yang sering ngadu ke Aku karena


Dibully senior dahulu " Ujar Mas Dewa


"Ternyata yang lebih menyebalkan Dia itu


Sering menggodamu Karena Angga suka sama


Kamu, Kamu aja yang tak peka, Untung saja"


Sambungnya enteng.


"Apaaa.....Kok Aku nggak tahu Mas, Sengaja


Ya..." Ucapku.


"Sudah...! Kalau udah tahu jawabannya lebih


baik lupakan, Oke!" Pintanya


Aku hanya mengangguk, Aku teringat anak -


anak dirumah, Aku takut Mereka merajuk


Karena ini sudah lama.


"Mas ...Pulang yuk, Takut Anak - anak


Merajuk udah lama juga kita disini "


Pintaku seraya bangkit.


Mas Dewapun ikut berdiri, Ia menggenggam


tanganku berjalan beriringan, Seperti dulu


Semuanya seperti mengulang kemasa itu.


Aku menyerahkan semuanya kepada


Takdir dan Waktu yang akan mengukir kisah


Kami kedepannya nanti.


******************************************


**Bersambung

__ADS_1


__ADS_2