
Saat pagi menyapa ...Aku dan Akhsan
Turun kelantai satu, Kami mencium wangi
Masakan, Aku pikir Mbok Sum sedang
Memasak untuk sarapan, Namun terlihat
Mbok Sum sedang Menyapu pekarangan
Dan terlihat rumah telah rapih.
Kami berjalan kearah dapur, Aku tersenyum
Melihat tiga pemuda sedang berjibaku di
Dapurku,
"Pagi....Bu " Ujar Mereka.
Arsyad hanya tersenyum, Ia menghampiriku.
"Bunda mau teh ?" Tawar Arsyad.
"Abang buatin susu Akhsan tunggu ya...!"
Sambungnya.
"Maaf Bunda kesiangan, Jadi merepotkan
Kalian " Ujarku merasa tidak enak, Karena
Seusai shalat shubuh tadi Aku dan Akhsan
Tertidur kembali.
"Tidak apa-apa Bu...Kami sudah terbiasa,
Hanya saja maafkan Kami, Dapur ibu jadi
berantakan " Ujar Seseorang.
Aku hanya menggeleng.
"Tidak apa,...Justru Ibu yang berterima
kasih pada Kalian " Jawabku.
"Udah, Sekarang Ibu dan Akhsan duduk,
Dan tunggu Kita sarapan bareng ya"
Pinta Arsyad seraya meletakkan secangkir
teh hangat dan segelas susu milik Akhsan
Dimeja makan seraya menggiring Kami
Untuk duduk.
"Bentar lagi selesai kok" Sambungnya.
Aku duduk seraya memperhatikan Mereka,
Melihat Mereka seperti melihat Seseorang
Yang terikat denganku dimasa lalu,
Yang mengikat janji hendak bersama,
Dan Aku mengkhianatinya dengan tidak
Menunggunya kembali, Melihat wajah
Mereka kini mengingatkan diriku Padanya.
Seseorang dengan irit senyuman, Dan
Selalu berwajah datar, Seorang Kakak kelas
Dan seorang ketua OSIS dahulu, Kami
Bertemu saat tergabung sebagai anggota
Paskibraka, Hubungan Kami semakin
Dekat dan tak terasa saling jatuh cinta,
Dia yang dingin sedingin es, Namun selalu
hangat untukku, Irit senyuman namun
Perhatian, Berbeda dengan Mas Fakih
Yang hangat dan dewasa selalu menyam
butku dengan senyuman tampan diwajahnya.
Walaupun kesibukannya sebagai seorang
Pemilik Perusahaan, Kadang selalu mem
buatku kesepian, Hanya Arsyad yang selalu
Menemani hari - hariku dahulu, Hingga Arsyad
Pendidikan Aku beruntung Akhsan lahir,
Hingga hidupku tidak pernah kesepian.
Saat Arsyad memilih untuk masuk Militer
Mas Fakih sedikit kecewa, Dia hanya ingin
Sang putra menjadi Pengusaha seperti Dirinya,
Namun akhirnya luluh atas pilihan yang
Diambil sang Putra.
"Nah ...Sudah selesai Mari makan...!"
Suara Arsyad menyadarkan Diriku dari
lamunan.
"Iya terima kasih ....Bunda jadi nggak
enak, Harusnya Kalian dilayani sebagai
tamu " Ujarku merasa tidak enak.
"Nggak pa - pa Bu...Kami terbiasa kok"
Jawab salah seorang dari Mereka,
Seraya tersenyum.
"Nanti Bunda liburan bareng Akhsan ke
tempat tugas Abang kali ini jadi kan?
Walaupun tanpa Ayah ?" Tanya Arsyad.
"Pasti ....Bunda akan datang!" Ucapku
karena sudah berjanji Padanya.
"Bunda ..Yakiiin ?" Tanya Arsyad memastikan
"Sure....Memangnya kenapa?" Tanyaku
"Tempat tugas Kami sekarang kebanyakan
Dataran tandus, Dan tempatnya agak Ter
pencil jauh dari kota, Fasilitasnya pun
nggak selengkap dikota, Bahkan untuk
Sinyalpun agak susah, Itu makanya Abang
jarang hubungin Kalian selama ini,"
Papar Arsyad.
"Dan satu lagi ...Nggak ada hotel ataupun
Penginapan disana " Sambung Arsyad.
__ADS_1
"Nggak Pa - pa, Kita bisa dirikan tenda
Ya dek ...!" Godaku Pada Arsyad dengan
bertanya pada Akhsan.
Sesaat senyuman terbit dibibir Arsyad.
"Baik..Kalau itu keputusan Bunda,
Arsyad tunggu " Ucap Arsyad.
"Lagian ..liburan semester kali ini takkan
lama hanya satu Minggu " Jawabku.
"Oke kalau itu keputusan Bunda,
Abang tunggu, Nanti kabarin saja Abang
Ya .." Ujarnya menutup pembicaraan.
Sesudah Itu Kami sarapan dengan tenang.
Menjelang sore dua sahabat Arsyad pamit,
Mereka hendak menghabiskan masa cuti
Mereka di kampung halaman karena memang
Tidak jauh dari kota ini, Mereka menolak
Diantar ketempat tujuan dan hanya minta
Diantar ke stasiun karena Mereka akan
Menggunakan Kereta api untuk sampai
Ketempat Mereka.
Kini rumah nampak sepi, Hanya Kami
Bertiga beserta mbok Sum dan Pak Kirman
Yang setia, Walaupun rumah Keluarga Mas
Fakih masih satu komplek namun Kami
Jarang berkunjung karena kesibukan Kami
masing - masing, Dan sekarang perusahaan
Dipegang oleh Suami Tante Rahma yang
Memang dulu memegang berdua dengan
Mas Fakih kini hanya tinggal Dirinya seorang
Diri, Dan akan menarik Arkhan Pulang dari
Luar Negeri dan disuruh memegang kendali
Perusahaan bersama sang Paman,
Ia terpaksa pulang karena Mas Fakih telah
tiada, Dahulu Ia pergi karena melanjutkan
Studi nya dan menjalani profesinya sebagai
Seorang dokter bedah disana.
Kemarin Ia tidak bisa pulang, Baru malam
ini Ia bisa datang, Ia datang setelah dijemput
Arsyad dari bandara, Wajah itu terlihat dewasa
Mirip dengan Mas Fakih, Hanya saja Arkhan
lebih muda dari Mas Fakih, Ia datang
Bersama Keluarganya sang Istri Nicole dan
Dua anak mereka yang masih balita
Terlihat lucu dan menggemaskan,
Pas Mas Fakih meninggal kemarin, Aku
harap Mbak dapat memaklumi Kami "
Sesalnya, Ia menundukkan wajahnya,
Aku hanya mengusap lembut pundaknya
"Tidak apa, Kami mengerti,...."
Jawabku.
"Mengenai Mas Fakih dan Mbak Rania,
Kami merasa berdosa Padamu dan Akhsan
Mbak " Ujarnya parau.
"Aku sebagai adiknya tentu sangat
menyesalkan kejadian itu " Lirihnya sendu.
Aku tersenyum getir, Mencoba menahan
air mataku, Menahan semua gejolak
perasaan, Namun Aku tak ingin terlihat
lemah.
"Sudah...Jangan diungkit lagi, Semua
yang pergi takkan pernah kembali,
Karena sejatinya perasaan terdalam
Manusia tidak akan pernah Kita tahu,
Mungkin Mbak saja yang terlalu naif,
Menganggap semuanya Indah tanpa
tahu perasaan terdalam Seseorang"
Paparku getir.
Arkhan hanya mengangguk,
"Sekarang Kami pulang, Mbak jangan
Pernah merasa sendiri, Ada Nicole
Dan Anak - anak, Berbagilah kesedihan
Atau apapun dengan Kami" Pintanya.
Aku mengangguk, Wajah itu terlihat
tulus mengulurkan tangannya Padaku.
"Aku telah kembali, Aku akan bekerja
Di RS swasta di kota ini, Lamaranku
Diterima dan aku akan mencoba mem
bantu Paman mengurus perusahaan"
Paparnya.
"Maafkan Kami....Kamu mungkin akan
lebih sibuk kedepannya, Maafkan.Mbak
Yang memilih jalur berbeda dengan
Kalian, Maafkan Aku dan Arsyad yang
Egois memilih mimpi masing - masing"
Lirihku merasa tidak enak.
__ADS_1
Arkhan tersenyum.
"Tidak apa Mbak memilih sebagai seorang
Guru, Dan Arsyad memilih menjadi seorang
Prajurit, Itu sebuah pilihan atas mimpi
Kalian, Kami keluarga besar sangat menghargai
Semua itu" Ucapnya.
"Lagipula Arsyad akan membantu sebisanya
Diperusahaan jika tugasnya kembali ke
kota ini " Lanjutnya.
Aku mengangguk pelan tanda mengerti.
Memang Mas Fakih tidak pernah mengeluh
Dengan pekerjaannya, Apalagi tugasnya
Sebagai anak sulung mengemban tanggung
Jawab lebih besar terhadap perusahaan
Keluarga, Namun Ia tidak mengharuskan
Aku untuk berkecimpung dalam pekerjaan
nya, Ia membiarkan Diriku mempunyai
Profesi sebagai Pengajar, Dan mendirikan
Sebuah toko Kue dari gajiku, Ini murni
Impian diriku sendiri walaupun sederhana
Mas Fakih selalu mendukungku.
Aku tertegun sendirian saat Arkan pamit
Undur diri dari ruang kerja Mas Fakih
Aku memandang foto Kami dimeja
kerjanya, Foto Kami berempat bahkan
Aku yang berada dalam pelukan Mas
Fakih hanya berdua saja pun masih
Bertengger disini.
Terlihat bahagia, Aku merasa terlena
Dengan semua kebahagiaan yang ada,
Aku yang terlalu naif menganggap semua
Yang ada didepan mata adalah kenyataan
Tanpa sadar ternyata yang bertahta di
Dalam hati Suamiku adalah Orang lain,
Miris memang .....
Dibeberapa waktu terakhirpun tidak ada
Sikapnya yang berubah hingga Kami
Tidak menyadari hal itu, Memang Mbak
Rania adalah cinta pertama Mas Fakih,
Namun hubungan Mereka tidak direstui
Oleh keluarga besar Mas Fakih, Namun
Mereka tetap nekat melangsungkan
Pernikahan walaupun tanpa restu.
Namun Pernikahan Mereka tidak pernah
berjalan mulus, Hingga Mereka bercerai
Saat Arsyad berusia 7 tahun, Dan Mbak
Rania pergi keluar negeri menyusul Orang
Tuanya untuk tinggal disana tanpa mem
bawa Arsyad.
Dan Ia kembali ketanah air setahun yang
lalu dan mereka menjalin.kasih lagi
Dibelakangku, Aku yang bodoh dan naif
Tidak menyadari saat terakhir Mas Fakih
Pergi ke luar kota, Dan mengalami kece
lakaan diperjalanan barulah diketahui
Jalinan Asmara Mas fakih dan Mbak
Rania karena dalam mobilnya diketemu
kan Mas fakih bersama Mbak Rania
Sedangkan sang Asisten berbeda mobil
Dan selamat.
Aku meremas foto terakhir dengannya,
Rasa sakit yang kurasa, Saat menghadapi
Kenyataan bahwa Aku hanyalah Istri
Diatas kertas dengan kebahagiaan semu
Tanpa arti dihatinya,
Aku mengepalkan tanganku hingga buku
- bukunya memutih, Walaupun kecelakaan
Itu ditutupi dengan hadirnya wanita lain
Yang bersama Suamiku demi kehormatan
Dan nama baik perusahaan,
"Andai Aku tahu hubungan Mereka, Tentu
Semuanya takkan kubiarkan walaupun
Mereka Ayah dan Ibu kandungku sendiri"
Lirih Arsyad kecewa,
"Aku yang akan membuatmu bahagia,
Aku berjanji hingga Bunda lupa akan
rasa sakit yang dirasa saat ini "
Suara hati Arsyad tanpa siapapun yang
Mengetahuinya, Saat Ia melihat Wajah
Sedih Alisha menghadap jendela besar
Didepannya, Hingga Ia tidak menyadari
Arsyad masuk dan memperhatikan
Alisha tanpa Dirinya tahu.
********************************************
**Bersambung
__ADS_1
**Like, comment please 🙏😘