Lembar Kenangan

Lembar Kenangan
* Episode 10


__ADS_3

* 1tahun kemudian.


Waktu berjalan tanpamu, Saat ini sudah satu


tahun berlalu, Aku bisa melewati semua tanpa


Mas Fakih, Melalui semuanya tanpa jeda


Waktu, Lebaran kali ini Aku berniat berlebaran


Dikampungku bersama sanak saudara yang


lain ini untuk memupus rasa sedihku menjalani


Hari raya tanpa Mas Fakih.


Aku menguntai do'a pada Ayah Ibuku yang telah


Pergi terasa berat apalagi untuk lebaran kali ini


Mas Fakih tidak bersamaku, Dulu dengan


Setia Ia akan menemaniku berlebaran disini,


Walaupun Ayah dan Ibu telah tiada sebisa


Mungkin Kami menjaga kenangan bersama


Mereka, Kami akan berlebaran disini sekalian


Liburan.


Aku bersama Akhsan ditemani Arkhan


Bertiga dimakam ini, Karena sanak


Saudaraku mulai meninggalkan area pema


kaman ini, Aku sejenak ingin berlama - lama


Disini karena biasanya nanti sore


Kami akan berkumpul dirumah Ayahku untuk


Berkumpul, Karena sudah menjadi tradisi


Semua sanak saudara berkumpul disana.


Walaupun ini hari.kedua, Dan suasanapun


Mungkin tidak seramai hari kemarin.


Akhsan dan Aku menabur bunga yang Aku


bawa. Banyak kata tak terucap yang lebih


mirip hatiku yang berkata, Ada yang hilang


Untuk lebaran kali ini, Walaupun Arkhan


menemaniku namun tetap tidak bisa meng


gantikkan posisi Mas Fakih.


Kami bertiga akan meninggalkan area pema


kaman, Akhsan masih setia dituntun Arkhan.


Namun pas Aku hendak melintas Aku melihat


Punggung seseorang bersama seorang anak


kecil bersamanya,


"Ada apa Lis...?" Tanya Arkhan.


"Nggak ada apa - apa" Ujarku seraya hendak


berlalu.


Namun suara anak kecil mengagetkanku.


"Ibu....!" Teriaknya,


Aku menoleh, Dan secara refleks Aku berjongkok


Meraih tubuh mungilnya yang berlari kearahku.


"Ibu kemana aja Ica cari - cari Ibu, lamaaa


bangeet, Akhirnya Tuhan denger do'a Ica


buat ketemu ibu..." Wajah putri kecil itu meme


rah, Ia tidak perduli dengan tatapan horor


Akhsan.


"Siapa dia Lis ?" Tanya Arkhan.


"Nanti Aku cerita.." Jawabku pada Arkhan,


Taklama Mas Dewa mendekat, Ia menyapa


Dengan canggung dan bersalaman dengan


Arkhan,


Pertemuan tidak disengaja terulang kembali,


Ada rasa tak biasa saat Kami pulang bersama


Berjalan beriringan setelah ikut menitip do'a


Untuk Ayah dan Ibu Mas Dewa, Dulu saat kepergian


Ayah Mas Dewa aku pernah datang namun


Untuk kepergian Ibu Mas Dewa Aku tidak


tahu karena kuburan beliau masih baru.


Aku menuntun Ica dan Akhsan yang kini


tidak mau kalah memonopoli Aku,


Sedangkan Mas Dewa mengobrol bersama


Arkhan sambil Kami berjalan, Karena memang


Lokasi pemakaman tidak jauh dari kampung


Dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.


Sesaat tetangga Kami masih terpana dengan


kebersamaan Kami yang mungkin terasa janggal


Mengingat kisah Kami dahulu, Apalagi yang


Ada disampingku bukan Mas Fakih.


Dan juga ketika Mas Dewa menyambangi kedia


man keluargaku setelah berpuluh tahun Dirinya


Pergi baru sekarang Dirinya mampir.


"Dewa....Kemana aja Nak,..Amang baru melihat

__ADS_1


mu lagi,..." Sambut Mang Didin, Adik dari Ibuku


Dewa hanya tersenyum setelah bertegur sapa.


"Maaf ...Mang baru sekarang Aku bisa pulang


kemari pas hari raya dan itupun Ibu.udah


nggak ada " Jawabnya dengan nada getir.


"Eleuh...eleeuh ada tamu ...Aih Den Dewa


Udah lama pisan,...Kemana aja atuh,..


Bibi jadi inget aden suka nitip surat buat


Neng Lisha dulu karena takut ketahuan


Sama juragan sepuh ya..." Seloroh bik


Irah dari dalam rumah sambil menggendong


Sikembar Anin anaknya Arkhan sedangkan


Arin digendong sang Ibu Nicole,


Mas Dewa hanya tersenyum dan membalas


sapaan saudara - saudara satu keluarga besar


ku yang sedang berkumpul, Arkhan kini


Mengerti siapa Mas Dewa disini, Ia mengangguk


Dan memahami.


"Arsyad pulang masih setengah tahun lagi


kan?" Tanyanya canggung,


"Iya ...Semoga Ia sehat tidak berkurang suatu


apapun..." Jawabku dengan lirih, Seraya sibuk


Melayani dua bocah yang terus berebut ini dan


Itu untuk meraih perhatianku.


"Ia adalah pribadi yang tegas dan disiplin,


Kinerjanya patut diacungi jempol" Ucapnya


Memuji, Jarang sekali seorang Sadewa


Argantara memuji seseorang apalagi.seorang


Anak buahnya.


"Bu...Aku mau tambah lagi Bu.." Pinta Akhsan.


Ia menyodorkan piring yang telah kosong


Padaku,


"Ica juga Bu..." Seru Ica, Ia juga menyerahkan


piringnya Padaku, Yang disambut delikkan


Oleh Akhsan.


"Noo....Makanannya masih banyak !"


Ujar Akhsan.


"Iya Sayang ..Abisin dulu Ya...Baru boleh


"Harus abis dulu ya Bu..." Bola mata itu


menatapku.


Aku mengangguk.


"Betul cantiik ...!" Jawabku kembali.


Dewa berkumpul mengobrol bersama keluarga


Besarku, Ia terlihat lepas sesekali tertawa,


Apakah Dirinya telah memaafkanku, Ataukah


Ini hanya bentuk penghormatan pada Mereka.


Karena bagiku tetap saja janggal dalam


pikiranku dengan nada bicara maupun sikap


nya Padaku pada saat terakhir kali kita bertemu.


"Aku turut berduka cita atas meninggalnya


Suamimu" Ucapnya tulus, Saat Ia pamit pulang


Karena keluarganya mencarinya. Dan Ica yang


mengantuk karena waktunya tidur siang.


Aku mencari arti ketulusan dari bola matanya,.


Dan.tedapat dari tatapan elangnya yang berubah


Sedikit lembut.


"Terima kasih ..." lirihku.


Aku memandang punggungnya yang berlalu,


Bersama sang adik yang menyusul dirinya,


Sang adik pula yang mengambil alih meng


gendong Ica.


Punggung kokoh yang dulu selalu kujadikan


Tempat bersandar, Wajah tampan yang selalu


Tersenyum hanya untukku, Dan tangan kokoh


Itu yang selalu memelukku erat, ....Namun itu


Dulu ....


"Semoga saja Silaturahmi diantara Kalian ter


jalin lagi, Bahkan Amang mungkin berharap


lebih untuk Kalian, Dulu Amang tahu saat


Dia datang kesini dan bertengkar hebat dengan


Ayahmu, Amang lihat keterpurukan itu nyata


Dimatanya beserta kekecewaan yang amat


Dalam,...Saat Ia pulang dan mendapat kabar


Kamu telah menikah, Dan Ayahmu tidak


Memberi tahu alamatmu dikota " Ujar Mang

__ADS_1


Didin Ia ikut memandang punggung Yang


Semakin menjauh.


"Ia terus berusaha memantaskan dirinya,


Kini Ia menjelma menjadi sosok dewasa


yang berwibawa, Namun kisahnya tidak


Seberuntung Dirimu, Namun Amang salut


Padanya Dia kokoh setegar gunung karang,


Dia kuat berdiri meski gelombang laut


Menerpanya, ....Amang sangat salut "


Sambung Mang Didin.


Aku hanya terdiam, Ada sedikit nyeri yang


kurasa, Perasaan berdosaku teramat sangat


Kini Kurasa, Walaupun kini Sikapnya lebih


Lembut tidak seperti saat pertama kali


Kami bertemu lagi,


Kami berjalan beriringan memasuki rumah


Orang tuaku yang tetap dirawat oleh oleh


Bik Irah dan Suaminya Mang Supri Mereka


Asisten keluarga Kami sejak dulu.


Menjelang sore, Arkhan dan Nicole beserta


Sikembar pulang karena pekerjaan Arkhan


yang menunggu, Mereka hanya bisa menginap


Satu malam setelah berlebaran dirumah utama


Dan berziarah ke makam Mas fakih terlebih


Dahulu,


"Jangan menyetir sendiri kalau nanti pulang,


Aku jemput atau jika Aku sibuk biar Pak


Kirman menjemput Kalian" Pesan Arkhan.


Aku mengangguk seraya menciumi pipi


gembul Anin,


"Iya ...Pak Guru yang bawel, Aku udah denger


dari tadi lho..." Jawabku.


"Ish ...dibilangin..! Ngomong - ngomong Kamu


berhutang cerita Padaku " Ucapnya seraya


menutup bagasi mobilnya.


"Cerita yang mana?" Tanyaku pura - pura.


"Kura - kura dalam perahu ..." Cibirnya.


"Iya deh iya,..Tapi entar kalo Arsyad pulang


Dari Afrika ya..." Tawarku.


"Kelamaan, ...Entar pulang Aku tak mau tau "


Tukasnya.


"Iya deh....Iya .." Jawabku, Seraya menyerahkan


Anin pada sang pengasuh serta mencium pipi


Arin yang tertidur digendongan Ibunya.


"Jangan.nakal.Boy,...Jaga baik - baik Bundamu


ya !" Pesan Arkhan pada Akhsan.


"Yess....Sir..!" Ucap Akhsan seraya memberi


hormat ala prajurit pada Arkhan.


Arkhan hanya terkekeh seraya mengusap pucuk


kepala Akhsan, Kemudian Ia masuk mobil dan


Perlahan mobil Arkhan melaju meninggalkan


halaman.


Kini Aku dan Akhsan menikmati liburan disini


lebih lama karena mas Fakih yang selalu diburu


Pekerjaan,


Semilir angin malam menyapu ujung rambutku


Yang tergerai, Aku menengadah menatap


Cakrawala pekatnya malam bertabur bintang


Nan Indah, Kini jika malam datang menjelang


Kurasa begitu berat barusan Arsyad videocall


bertanya kabar, Aku bersyukur bahwa Dirinya


Baik - baik saja, Wangi bunga sedap malam


Yang semerbak tercium sangat kentara jika


Malam menjelang,


"Aku mencoba ikhlas menerima takdir yang


berjalan, Dalam hidup Aku mencoba berda


mai dengan keadaan" Janjiku dalam hati,


Udara malam yang semakin dingin membuat


ku beranjak dari balkon kamarku, Masuk


Kedalam kamarku setelah menggeser pintu


Dan menguncinya, Aku beranjak berbaring


Disisi Akhsan dan memeluknya erat.


************************************************


** Bersambung


**Please like or coment ...

__ADS_1


__ADS_2