
* 1tahun kemudian.
Waktu berjalan tanpamu, Saat ini sudah satu
tahun berlalu, Aku bisa melewati semua tanpa
Mas Fakih, Melalui semuanya tanpa jeda
Waktu, Lebaran kali ini Aku berniat berlebaran
Dikampungku bersama sanak saudara yang
lain ini untuk memupus rasa sedihku menjalani
Hari raya tanpa Mas Fakih.
Aku menguntai do'a pada Ayah Ibuku yang telah
Pergi terasa berat apalagi untuk lebaran kali ini
Mas Fakih tidak bersamaku, Dulu dengan
Setia Ia akan menemaniku berlebaran disini,
Walaupun Ayah dan Ibu telah tiada sebisa
Mungkin Kami menjaga kenangan bersama
Mereka, Kami akan berlebaran disini sekalian
Liburan.
Aku bersama Akhsan ditemani Arkhan
Bertiga dimakam ini, Karena sanak
Saudaraku mulai meninggalkan area pema
kaman ini, Aku sejenak ingin berlama - lama
Disini karena biasanya nanti sore
Kami akan berkumpul dirumah Ayahku untuk
Berkumpul, Karena sudah menjadi tradisi
Semua sanak saudara berkumpul disana.
Walaupun ini hari.kedua, Dan suasanapun
Mungkin tidak seramai hari kemarin.
Akhsan dan Aku menabur bunga yang Aku
bawa. Banyak kata tak terucap yang lebih
mirip hatiku yang berkata, Ada yang hilang
Untuk lebaran kali ini, Walaupun Arkhan
menemaniku namun tetap tidak bisa meng
gantikkan posisi Mas Fakih.
Kami bertiga akan meninggalkan area pema
kaman, Akhsan masih setia dituntun Arkhan.
Namun pas Aku hendak melintas Aku melihat
Punggung seseorang bersama seorang anak
kecil bersamanya,
"Ada apa Lis...?" Tanya Arkhan.
"Nggak ada apa - apa" Ujarku seraya hendak
berlalu.
Namun suara anak kecil mengagetkanku.
"Ibu....!" Teriaknya,
Aku menoleh, Dan secara refleks Aku berjongkok
Meraih tubuh mungilnya yang berlari kearahku.
"Ibu kemana aja Ica cari - cari Ibu, lamaaa
bangeet, Akhirnya Tuhan denger do'a Ica
buat ketemu ibu..." Wajah putri kecil itu meme
rah, Ia tidak perduli dengan tatapan horor
Akhsan.
"Siapa dia Lis ?" Tanya Arkhan.
"Nanti Aku cerita.." Jawabku pada Arkhan,
Taklama Mas Dewa mendekat, Ia menyapa
Dengan canggung dan bersalaman dengan
Arkhan,
Pertemuan tidak disengaja terulang kembali,
Ada rasa tak biasa saat Kami pulang bersama
Berjalan beriringan setelah ikut menitip do'a
Untuk Ayah dan Ibu Mas Dewa, Dulu saat kepergian
Ayah Mas Dewa aku pernah datang namun
Untuk kepergian Ibu Mas Dewa Aku tidak
tahu karena kuburan beliau masih baru.
Aku menuntun Ica dan Akhsan yang kini
tidak mau kalah memonopoli Aku,
Sedangkan Mas Dewa mengobrol bersama
Arkhan sambil Kami berjalan, Karena memang
Lokasi pemakaman tidak jauh dari kampung
Dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.
Sesaat tetangga Kami masih terpana dengan
kebersamaan Kami yang mungkin terasa janggal
Mengingat kisah Kami dahulu, Apalagi yang
Ada disampingku bukan Mas Fakih.
Dan juga ketika Mas Dewa menyambangi kedia
man keluargaku setelah berpuluh tahun Dirinya
Pergi baru sekarang Dirinya mampir.
"Dewa....Kemana aja Nak,..Amang baru melihat
__ADS_1
mu lagi,..." Sambut Mang Didin, Adik dari Ibuku
Dewa hanya tersenyum setelah bertegur sapa.
"Maaf ...Mang baru sekarang Aku bisa pulang
kemari pas hari raya dan itupun Ibu.udah
nggak ada " Jawabnya dengan nada getir.
"Eleuh...eleeuh ada tamu ...Aih Den Dewa
Udah lama pisan,...Kemana aja atuh,..
Bibi jadi inget aden suka nitip surat buat
Neng Lisha dulu karena takut ketahuan
Sama juragan sepuh ya..." Seloroh bik
Irah dari dalam rumah sambil menggendong
Sikembar Anin anaknya Arkhan sedangkan
Arin digendong sang Ibu Nicole,
Mas Dewa hanya tersenyum dan membalas
sapaan saudara - saudara satu keluarga besar
ku yang sedang berkumpul, Arkhan kini
Mengerti siapa Mas Dewa disini, Ia mengangguk
Dan memahami.
"Arsyad pulang masih setengah tahun lagi
kan?" Tanyanya canggung,
"Iya ...Semoga Ia sehat tidak berkurang suatu
apapun..." Jawabku dengan lirih, Seraya sibuk
Melayani dua bocah yang terus berebut ini dan
Itu untuk meraih perhatianku.
"Ia adalah pribadi yang tegas dan disiplin,
Kinerjanya patut diacungi jempol" Ucapnya
Memuji, Jarang sekali seorang Sadewa
Argantara memuji seseorang apalagi.seorang
Anak buahnya.
"Bu...Aku mau tambah lagi Bu.." Pinta Akhsan.
Ia menyodorkan piring yang telah kosong
Padaku,
"Ica juga Bu..." Seru Ica, Ia juga menyerahkan
piringnya Padaku, Yang disambut delikkan
Oleh Akhsan.
"Noo....Makanannya masih banyak !"
Ujar Akhsan.
"Iya Sayang ..Abisin dulu Ya...Baru boleh
"Harus abis dulu ya Bu..." Bola mata itu
menatapku.
Aku mengangguk.
"Betul cantiik ...!" Jawabku kembali.
Dewa berkumpul mengobrol bersama keluarga
Besarku, Ia terlihat lepas sesekali tertawa,
Apakah Dirinya telah memaafkanku, Ataukah
Ini hanya bentuk penghormatan pada Mereka.
Karena bagiku tetap saja janggal dalam
pikiranku dengan nada bicara maupun sikap
nya Padaku pada saat terakhir kali kita bertemu.
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya
Suamimu" Ucapnya tulus, Saat Ia pamit pulang
Karena keluarganya mencarinya. Dan Ica yang
mengantuk karena waktunya tidur siang.
Aku mencari arti ketulusan dari bola matanya,.
Dan.tedapat dari tatapan elangnya yang berubah
Sedikit lembut.
"Terima kasih ..." lirihku.
Aku memandang punggungnya yang berlalu,
Bersama sang adik yang menyusul dirinya,
Sang adik pula yang mengambil alih meng
gendong Ica.
Punggung kokoh yang dulu selalu kujadikan
Tempat bersandar, Wajah tampan yang selalu
Tersenyum hanya untukku, Dan tangan kokoh
Itu yang selalu memelukku erat, ....Namun itu
Dulu ....
"Semoga saja Silaturahmi diantara Kalian ter
jalin lagi, Bahkan Amang mungkin berharap
lebih untuk Kalian, Dulu Amang tahu saat
Dia datang kesini dan bertengkar hebat dengan
Ayahmu, Amang lihat keterpurukan itu nyata
Dimatanya beserta kekecewaan yang amat
Dalam,...Saat Ia pulang dan mendapat kabar
Kamu telah menikah, Dan Ayahmu tidak
Memberi tahu alamatmu dikota " Ujar Mang
__ADS_1
Didin Ia ikut memandang punggung Yang
Semakin menjauh.
"Ia terus berusaha memantaskan dirinya,
Kini Ia menjelma menjadi sosok dewasa
yang berwibawa, Namun kisahnya tidak
Seberuntung Dirimu, Namun Amang salut
Padanya Dia kokoh setegar gunung karang,
Dia kuat berdiri meski gelombang laut
Menerpanya, ....Amang sangat salut "
Sambung Mang Didin.
Aku hanya terdiam, Ada sedikit nyeri yang
kurasa, Perasaan berdosaku teramat sangat
Kini Kurasa, Walaupun kini Sikapnya lebih
Lembut tidak seperti saat pertama kali
Kami bertemu lagi,
Kami berjalan beriringan memasuki rumah
Orang tuaku yang tetap dirawat oleh oleh
Bik Irah dan Suaminya Mang Supri Mereka
Asisten keluarga Kami sejak dulu.
Menjelang sore, Arkhan dan Nicole beserta
Sikembar pulang karena pekerjaan Arkhan
yang menunggu, Mereka hanya bisa menginap
Satu malam setelah berlebaran dirumah utama
Dan berziarah ke makam Mas fakih terlebih
Dahulu,
"Jangan menyetir sendiri kalau nanti pulang,
Aku jemput atau jika Aku sibuk biar Pak
Kirman menjemput Kalian" Pesan Arkhan.
Aku mengangguk seraya menciumi pipi
gembul Anin,
"Iya ...Pak Guru yang bawel, Aku udah denger
dari tadi lho..." Jawabku.
"Ish ...dibilangin..! Ngomong - ngomong Kamu
berhutang cerita Padaku " Ucapnya seraya
menutup bagasi mobilnya.
"Cerita yang mana?" Tanyaku pura - pura.
"Kura - kura dalam perahu ..." Cibirnya.
"Iya deh iya,..Tapi entar kalo Arsyad pulang
Dari Afrika ya..." Tawarku.
"Kelamaan, ...Entar pulang Aku tak mau tau "
Tukasnya.
"Iya deh....Iya .." Jawabku, Seraya menyerahkan
Anin pada sang pengasuh serta mencium pipi
Arin yang tertidur digendongan Ibunya.
"Jangan.nakal.Boy,...Jaga baik - baik Bundamu
ya !" Pesan Arkhan pada Akhsan.
"Yess....Sir..!" Ucap Akhsan seraya memberi
hormat ala prajurit pada Arkhan.
Arkhan hanya terkekeh seraya mengusap pucuk
kepala Akhsan, Kemudian Ia masuk mobil dan
Perlahan mobil Arkhan melaju meninggalkan
halaman.
Kini Aku dan Akhsan menikmati liburan disini
lebih lama karena mas Fakih yang selalu diburu
Pekerjaan,
Semilir angin malam menyapu ujung rambutku
Yang tergerai, Aku menengadah menatap
Cakrawala pekatnya malam bertabur bintang
Nan Indah, Kini jika malam datang menjelang
Kurasa begitu berat barusan Arsyad videocall
bertanya kabar, Aku bersyukur bahwa Dirinya
Baik - baik saja, Wangi bunga sedap malam
Yang semerbak tercium sangat kentara jika
Malam menjelang,
"Aku mencoba ikhlas menerima takdir yang
berjalan, Dalam hidup Aku mencoba berda
mai dengan keadaan" Janjiku dalam hati,
Udara malam yang semakin dingin membuat
ku beranjak dari balkon kamarku, Masuk
Kedalam kamarku setelah menggeser pintu
Dan menguncinya, Aku beranjak berbaring
Disisi Akhsan dan memeluknya erat.
************************************************
** Bersambung
**Please like or coment ...
__ADS_1