
Happy reading ....
Kediaman Evan Atmadja yang terbilang sederhana penuh sesak oleh kerabat dua calon mempelai yang hadir di sana. Beruntung cuaca pagi menjelang siang ini sangat cerah. Sehingga mereka bisa menempati kursi-kursi yang ditata rapi para pegawai Queen's Resto di bagian luar rumah.
Acara hari ini tak ubahnya sebuah reuni. Dibandingkan kedua calon mempelai, justru para orang tua-lah yang lebih menikmati acara tersebut. Tidak hanya Aldo dan Salma, Ajeng dan Andri juga hadir di sana bersama kedua anak mereka.
Kesempatan kumpul bersama yang terbilang langka ini juga sangat dinikmati Meydina dan Amiera yang terlihat senang bersenda gurau bersama kerabat mendiang Salman. Meski sudah berumur, Said dan Ahmed nampak segar dan menikmati hari tua mereka di tengah keluarga masing-masing. Melihat keduanya, menghadirkan rasa rindu di hati Meydina pada sosok sang Ayah.
"Zein, kapan kau bawa istrimu ke sana?" tanya Ahmed.
"Zein belum tahu, Kek. Mungkin setelah pernikahan kami diresmikan," sahut Zein.
"Baiklah, terserah padamu saja. Lalu, kapan kau akan memberi kami cicit?" tanya Ahmed lagi.
"Kalau itu, terserah istriku saja," sahut Zein santai. Meydina dan Amiera saling memandang sambil mengulumkan senyum.
"Mey, apakah itu calon istri Zein?" tanya Said sambil menatap Mima yang sedang menuruni tangga. Semua yang mendengar pertanyaan Said menoleh, tak terkecuali Zein.
"Benar, Paman," sahut Meydina sambil tersenyum lebar melihat Mima yang jelita.
"Kau menikahkan Zein dengan gadis kecil?" tanya Said heran.
Zein yang terpana oleh Mima mendengar hal itu langsung menoleh pada Said. "Kakek, aku tidak setua itu," protesnya.
Ahmed terkekeh, begitu juga Meydina dan Amiera.
"Usia Mima sudah 18 tahun, Paman," sahut Meydina.
"Benarkah? Kukira baru 16 tahun. Walaupun tinggi, tapi wajahnya cute," seloroh Said.
"Uncle ada-ada saja. Lihatlah, Zein tidak suka uncle memuji calon istrinya," ujar Amiera menggoda. Said terkekeh melihat Zein yang memperlihatkan ekspresi datar.
Tidak ada yang bisa menampik pesona Zemima hari ini. Wajahnya yang ayu, terlihat mempesona dalam polesan make-up minimalis. Gaun pengantin lace berwarna soft pink dengan potongan A-line, tambahan aplikasi bunga brokat memberi kesan anggun dan juga mewah. Model kerah berbentuk 'V' pada gaun itu menonjolkan sedikit keindahan di bagian dada Mima yang berhasil membuat Arkana menelan saliva.
Zein yang menyadari hal itu justru membuang muka. Rahangnya menegang melihat banyak pria muda menatap Mima dengan tatapan berbinar. Padahal sebagian besar dari mereka adalah kerabat Mima dan kerabatnya sendiri.
"Wow! Ternyata mumi itu cantik and seksi, kok gue baru nyadar ya?" seloroh King sambil menoleh pada Arkana yang menatap gemas pada Mima.
"Telat lo, dasar kingkong," ujar Arkana.
__ADS_1
"Kalau ada dua, gue mau dong satu yang kaya dia," kelakar King.
"Jangankan lo, gue juga mau," timpal Arkana. Keduanya terkekeh. Arkana mencoba menerima kenyataan dan meredam perasaannya pada Mima.
Berada tak jauh dari kedua pria muda itu, Riky yang sedari tadi menatap putrinya pun menundukkan kepala. Sejak pernikahan Mima ditentukan, Riky mulai menata hatinya. Ia tidak mengira, meskipun nantinya ada Zein yang menjaga Mima, tetap saja hatinya berat melepas Mima jauh darinya. Riky menghela napas pelan. Sebentar lagi, ia akan menyerahkan tanggung jawab atas putri semata wayangnya pada Zein Maliek Bramasta.
Pembawa acara hari ini adalah si kembar Nara dan Raya. Sedari tadi, mereka berceloteh menyapa para tamu yang datang. Raya biasanya tak banyak bicara, tapi kepribadiannya akan berbeda saat dipasangkan dengan Nara.
Nara meminta para tamu berkumpul di ruang keluarga, karena acara ijab kabul kan segera dimulai. Raya menimpali dengan meminta Zein dan Mima duduk bersanding di tempat yang sudah disediakan.
Kedua calon mempelai duduk berdampingan. Mima merasa heran melihat Zein yang berekspresi datar dan sepertinya tidak bahagia. "Ih, dasar manekin. Dia yang minta nikah hari ini, dia juga yang dingin," gerutu Mima dalam hati.
"Ciee, ada yang curi-curi pandang," goda Fatima yang memergoki tatapan Mima pada Zein. Para orang tua dan tamu pun mengulumkan senyum.
Sementara itu Mima dengan santainya menjawab, "Aku itu lagi memastikan, kalau ini benar Kak Zein. Kalau ternyata bukan, bisa berabe. Hehe ...."
"Sstt!" Mima menoleh pada maminya yang memberikan isyarat agar diam. Mima tersenyum sok imut pada Alena yang duduk di sampingnya.
Saat Meydina membuka kotak cincin yang akan menjadi maskawin, kedua mata Mima langsung berbinar.
"Itu untuk aku, Mi?" tanyanya.
"Terima kasih," ujar Mima senang.
"Terima kasihnya sama Zein dong, Sayang," ujar Meydina. Mima melirik pada Zein dengan ujung mata yang disipitkan.
Meydina dan Alena memasangkan selendang untuk menutupi bagian atas kepala kedua mempelai. Setelah semua siap dengan posisinya, Riky yang duduk berhadapan dengan Zein, bersiap untuk memulai ijab.
Bertindak sebagai saksi, Ahmed dan juga seorang ustadz. Setelah mendapat sedikit arahan dari ustadz, Riky berdehem sambil menjabat tangan Zein di atas meja.
“Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Zein bin Maliek Putra Bramasta dengan anak saya yang bernama Zemima dengan maskawinnya berupa cincin berlian 10 karat. Tunai.”
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Zemima binti Riky Salim dengan maskawinnya yang tersebut, tunai." Dengan satu tarikan napas, Zein berhasil mengucapkannya.
"Sah?"
"Sah."
Semua terlihat lega. Alena menurunkan selendang yang tadi menutupi kepala mempelai. Ia akan memberikan selendang itu pada seseorang, tapi kemudian Zein memintanya.
__ADS_1
"Untuk apa, Zein?" tanya Meydina heran.
"Ada deh, Mi," sahutnya santai.
Zein menghadap pada Mima. Mima melongo saat Zein mengalungkan selendang itu di lehernya, dan melingkarkan salah satu ujungnya seperti sebuah syal. Tidak hanya itu, Zein bahkan merapikannya untuk memastikan bagian dada Mima yang terbuka tidak terekspos.
"Kak Zein apa-apaan sih?" protes Mima.
"Eits. Biarkan seperti itu," cegah Zein saat Mima hendak melepaskannya.
"Iih, masa begini?" gerutunya.
Zein tidak mengacuhkannya, ia justru mengulurkan tangan pada Mima.
"Mau ngapain lagi?" tanya Mima heran.
"Cium tangan. Biasanya kan seperti itu. Iya, kan Om?" tanya Zein pada Riky yang juga terheran-heran dengan sikap Zein.
"I-iya. Cium tangan Zein, Mima. Dia 'kan sekarang sudah sah jadi suamimu," ujar Riky kikuk.
Mima pun menyambut uluran tangan Zein, lalu mencium punggung tangannya. Baru saja Mima mengangkat wajah, ia sudah dikejutkan oleh gerakan kedua tangan Zein yang menangkup wajahnya.
"Eeeh, masa mau nyium di sini?" batin Mima terperanjat. Kedua matanya membulat berharap Zein mengerti dan menghentikan aksinya.
Lagi-lagi Zein tidak mengacuhkannya. Zein justru mendekatkan bibirnya, dan Mima refleks mendorong tubuhnya ke belakang.
"Iih, Kak Zein nggak punya malu apa ya?" pekik Mima dalam hati.
Mima terkejut merasakan kepalanya ditahan Alena. Maminya itu bahkan mendorong kepala Mima agar mendekat pada Zein. Mima menoleh pada Riky sambil mengatupkan bibirnya. Tapi Riky hanya nyengir, tidak bisa berbuat apa-apa. Mima mengerutkan wajahnya dan menutup mata.
Mima terkesiap saat merasakan bibir Zein mendarat di keningnya. Kedua matanya terbuka dan melongo menatap Zein yang sudah melepaskan tangkupan tangannya, serta kembali duduk ke posisi semula.
Mima seperti orang linglung. Ia memperhatikan kesekelilingnya dan menyadari kerabat yang duduk di dekatnya mengulumkan tawa. Mima menoleh pada Alena yang mendelik kesal padanya.
"Malu-maluin aja," gerutu Alena pelan.
"Hehe ... ya maaf, Mi," cengirnya.
_bersambung_
__ADS_1