Lingkaran Cinta Cucu Sultan

Lingkaran Cinta Cucu Sultan
drama pagi Mima


__ADS_3

Happy reading ....


Langit kota New York pagi ini terlihat cerah meski udara terasa agak dingin. Zein baru saja keluar dari kamar mandi dan akan bersiap pergi ke kantor.


Pria itu tersenyum lebar saat melewati ranjang dimana Mima masih terlelap di atasnya. Zein hendak memperbaiki posisi selimut yang tersingkap ketika Mima justru terjaga.


"Good morning, Beib," sapanya.


Mima mengucek sebelah matanya sambil bangun dan terduduk. Ia menoleh pada kaca jendela, lalu pada Zein yang sedang menatapnya gemas.


"Kak Zein mau ke kantor?" tanyanya.


"Iya. Kenapa?"


"Ikut ...," pinta Mima manja.


"Kamu mau ngapain di kantor, Sayang?"


"Mima juga mau ngapain di sini sendirian?" Mima balik bertanya.


"Pokoknya ikut. Mima mau mandi dulu," imbuh Mima sembari menyingkap selimut dan bersiap turun.


"Ok. Kakak tunggu di luar ya," ujar Zein. Mima mengangguk dengan raut wajah senang.


Zein melangkah ke luar kamar dan menuju dapur. Bagian dalam penthouse itu sudah bersih karena para pelayan baru saja selesai mengerjakan pekerjaannya. Mereka ditempatkan di bagian luar penthouse dan tidak diperkenankan masuk jika tidak berkepentingan atau dipanggil sang tuan.


"Pergilah," titah Zein datar pada seorang pelayan yang masih ada di dapur.


"Tuan, Nona Emma meminta saya menyiapkan sarapan untuk Anda. Saya-."


"Kau mendengarku?" tanya Zein dingin.


"Tentu saya mendengarnya, Tuan. Saya permisi," pamitnya.


"Tunggu."


Pelayan itu berbalik dengan posisi tubuh yang sedikit membungkuk.


"Kau dan pelayan lainnya, hanya akan mendengarkan apa yang aku dan istriku perintahkan. Paham?" tegas Zein.


"Paham, Tuan," sahutnya pelan. "Saya permisi," pamitnya lagi. Pelayan itu meninggalkan ruangan tersebut dengan raut wajah yang bingung.


"Istri? Kapan tuan menikah?" batinnya.


Sepeninggal pelayan itu, Zein melipat lengan bajunya dan mulai bersiap untuk berkreasi di dapur. Ia akan membuat kopi, dan sarapan untuk Mima.


"Dia mau sarapan apa ya?" gumam Zein yang kemudian melihat jam tangannya. "Aku harus cepat sampai di kantor. Apa kubuatkan sandwich saja? Tapi dia suka atau tidak?" Zein bermonolog dengan raut wajah bingung.


"Sebaiknya aku tanyakan saja," gumam Zein kemudian.


Sementara itu di kamar mandi ....


Mima yang terduduk di toilet justru asik dengan ponselnya. Ia sedang membaca artikel mengenai pengalaman beberapa orang setelah malam pertama.


"Sakit, enggak. Perih, juga enggak," gumam Mima sambil melihat ke bagian bawah perutnya. "Apa itu artinya aku dan Kak Zein ...."


Tok ... tok ... tok.


"Mima!"


Mima sontak terperanjat mendengar panggilan Zein yang mengetuk pintu kamar mandi.


"Iya, Kak!" seru Mima yang kemudian menyalakan kran-kran air yang ada di sana.


"Beib, mau sarapan apa?"


"Hah? Apa, Kak?" Mima berlagak menajamkan pendengarannya sambil menyipitkan salah satu ujung mata.


"Mau sarapan apa, Sayang?"

__ADS_1


"Ooh, sarapan. Apa aja deh," sahut Mima sekenanya.


"Sandwich mau?"


"Mau."


Setelahnya hening. Mungkin Zein sudah berlalu dari tempatnya semula. Mima berjalan bolak-balik untuk memastikan bahwa ia dan Zein belum 'melakukannya'.


Lebih dari dua puluh menit telah berlalu, Zein berkali-kali menghela nafasnya sambil menatap nanar potongan sandwich yang tersaji di depannya. Bahkan secangkir americano-nya sudah habis sejak tadi.


Ponsel Zein berbunyi. Rupanya Emma yang meneleponnya.


"Good morning, Zein. Kau sudah berangkat?" tanya Emma di ujung ponsel Zein.


"Belum," sahut Zein singkat.


"Bagaimana kalau kita berang-."


"Kau pergilah dulu," ujar Zein memotong kalimat Emma, dan mengakhiri panggilannya.


Zein langsung menoleh saat mendengar pintu kamar ada yang membuka.


"Beib. Cepat sedikit dong sa-." Zein terkesiap melihat Mima yang berjalan menghampirinya hanya mengenakan handuk saja. Meskipun ini kali kedua ia melihat Mima yang seperti itu, tetap saja desiran aneh itu selalu membuatnya hampir hilang akal.


"Kak. Baju-bajuku kapan datang?" tanya Mima yang terdengar merengek kesal.


"Se-sebentar, kakak tanyakan dulu ya." Zein berdehem beberapa kali sebelum menelepon pihak butik.


Sementara itu, Mima baru saja menelepon maminya dan menumpahkan kekesalannya karena hanya mengisi kopernya dengan lingerie dan pakaian dalam. Bukannya meminta maaf, Alena justru tergelak, dan mengatakan jika itu semua merupakan ide Queena dan Raya. Maminya itu bahkan menanyakan apakah malam pengantinnya dengan Zein berjalan sukses. "Ck. Dasar mami!" umpat Mima di dalam hati.


"Mima. pelan-pelan makannya," tegur Zein saat melihat Mima mengunyah cepat dan membuka lebar mulutnya yang masih penuh.


"Mmm, enak," gumamnya.


"Mau kakak buatkan lagi?" tawar Zein.


"Baju-bajunya lagi diantar. Mungkin sebentar lagi datang," ujar Zein. Mima hanya menanggapi dengan mengangguk-anggukan kepala.


"Kak Zein, tadi mami nanya," ujar Mima disela kunyahannya.


"Tanya apa?" Zein duduk di hadapan Mima dan siap mendengarkan dengan antusiasnya.


"Katanya udah malam pertama belum? Terus, sukses nggak?"


Zein sampai melongo mendengarnya. Raut wajahnya bersemu, namun kemudian Zein terbahak. "Mmmmpth, hahaha."


"Kak Zein kenapa?" tanya Mima heran.


"Kamu jawab apa dong?" Zein balik bertanya.


"Nggak tahu," geleng Mima, dan lagi-lagi membuat Zein terbahak.


Ceklek. Zein dan Mima spontan menoleh ke arah pintu. Emma berdiri menatap heran pada mereka. Terlihat jelas raut wajah Zein yang berusaha menghentikan tawa, dan saat melihat penampilan Mima yang hanya mengenakan handuk, seketika membuat amarah Emma meletup.


"Ada apa kau ke sini?" tanya Zein datar.


"Aku ingin mengajakmu berangkat bersama," sahut Emma mencoba bersikap seperti biasanya.


"Bukankah tadi sudah kukatakan, kau duluan saja?" Zein menatap dingin pada Emma.


"Aku hanya tidak mau kau terlambat, Zein. Aku ...." Emma terlihat gugup.


"Kau pergilah dulu, dan siapkan materi rapat kita hari ini," titah Zein.


"Baiklah," sahut Emma pelan.


Tak lama terdengar bunyi bel pintu. Zein beranjak dari kursi karena meyakini itu adalah pegawai butik yang mengantarkan pakaian Mima.


"Selamat pagi, Tuan. Kami dari Marina Boutique membawakan pesanan Anda."

__ADS_1


Zein menerima pesanan itu. Karena jumlahnya yang cukup banyak, ia pun meminta bantuan Emma yang masih ada di sana. Zein tentu tak mau jika pegawai butik ataupun penjaga penthouse-nya melihat Mima saat ini.


"Terima kasih, Tuan. Kami permisi," pamitnya.


Zein menutup pintu dan meminta Emma membawakan pakaian yang dipegangnya ke kamar. Emma mendelik kesal melihat Mima yang senang melihat baju-bajunya sudah datang.


"Sial. Beruntung sekali dia. Bisa membeli satu setiap bulan saja sudah sangat beruntung bagiku. Tapi dia, bisa membeli sebanyak ini dalam sekali belanja," geram Emma di dalam hati.


Sebenarnya butik itu bukanlah langganan Emma. Hanya saja Emma pernah membeli beberapa kali dalam setahun ini. Harganya yang cukup menguras isi dompet memanglah sepadan dengan kualitas produk. Hanya saja, untuk sekelas Emma, kalau bukan karena gengsi, ia harus berpikir beberapa kali untuk membeli di butik itu.


"Terima kasih, Kak," ujar Mima pada Emma.


"Panggil saja aku, Emma. Permisi," ujar Emma dingin dan berlalu begitu saja.


"Eh? Dia kenapa? Apa marah ya karena disuruh bawain bajuku?" gumam Mima bermonolog.


"Beib, sarapannya sudah?" tanya Zein yang keluiar dari walk-in closet.


"Udah, Kak."


"Minum?"


"Udah," angguk Mima.


"Kalau begitu pakai bajumu, Sayang. Kita harus segera pergi," ujar Zein.


"Oke."


Mima berjalan riang memasuki walk-in closet. Sementara itu Zein kembali merapikan penampilannya.


Tak lama kemudian, Mima keluar dari walk-in closet dengan penampilannya yang sudah sempurna. Bermake-up natural, dengan padu padan pakaiannya yang simple, tapi terlihat modis.


"Kalau begini sih, nggak akan ada yang percaya kalau gue bilang dia ini istri gue," batin Zein bergumam.


"Kak. Ayo!" Mima menarik lengan Zein yang justru terpaku di tempatnya.


"Eh iya. Ayo ...," sahut Zein salah tingkah karena merasa kepergok sedang mengagumi Mima. Namun melihat gelagat Mima yang cuek, sepertinya Mima tidak menyadari ekspresi Zein.


Saat menutup pintu, Zein tidak langsung berlalu. Pria itu terlihat memijit-mijit sandi pintu utamanya.


"Diganti, Kak? Kenapa?" tanya Mima heran. Mima membiarkan Zein melingkarkan tangan di pinggangnya.


"Supaya nggak ada yang asal masuk ke dalam, Beib," sahutnya.


"Siapa? Pencuri? 'Kan ada penjaga," ujar Mima polos.


"Bukan."


"Kalau bukan pencuri, siapa?"


"Ada deh. Nanti juga kamu tahu," sahut Zein santai.


"Ish. Kak Zein begitu ya. Main rahasia-rahasiaan," delik Mima.


Zein terkekeh pelan. "Kamu lucu deh kalau bibirnya dimajukan begitu," selorohnya.


"Apaan sih? Nggak lucu."


"Lucu kok," timpal Zein.


"Enggak."


"Lucu, Beib."


"Iih, Kak Zein. Kalau Mima bilang enggak, ya enggak," protes Mima memaksa.


"Iya-iya, enggak." Zein pun tergelak. Hal yang sudah lama sekali tidak ia lakukan Zein bahkan lupa kapan terakhir kali ia tertawa seperti itu. Zein merasa aneh, hal sepele sekalipun mampu membuatnya bahagia jika itu menyangkut pribadi Mima.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2