Lingkaran Cinta Cucu Sultan

Lingkaran Cinta Cucu Sultan
modus=usaha


__ADS_3

Happy reading ....


Sementara itu di dalam ruangan ....


"Aww! Sakit, Beib," pikik Zein pelan.


"Kakak sengaja, 'kan?" tuduh Mima dengan mata membulat dan jemari yang masih dilengan Zein dengan posisi mencubit.


"Sengaja apa, Sayang? Aku nggak ngerti," kilah Zein.


"Bohong," ujar Mima sembari kembali mencubit Zein.


Zein yang semula meringis kini terkekeh mengingat kejadian tadi.


Flashback on


Setibanya di ruangan Zein, Mima hendak menuju ke sofa. Belum sempat ia duduk, Zein sudah memanggilnya, "Beib, coba sini deh. Temanku ada yang ngasih info universitas yang punya fakultas hukum terbaik."


Mima segera menghampiri Zein yang sudah duduk di kursinya sambil membuka laptop.


"Nyarinya kampus yang asik, Kak. Di bawah yang terbaik juga nggak apa-apa. Asal jangan terlalu di bawah aja," ujar Mima.


"Kalau mau yang biasa aja, kenapa jauh-jauh ke luar negeri, Sayang. Di Indonesia aja, yang bagus juga banyak di negara kita," ujar Zein.


"Yee, Mima 'kan ingin kuliah di luar negeri biar jauh sekalian sama Papi, sama Mami. Biar bisa mandiri," sahut Mima sambil berdiri di samping Zein dengan tatapan mengarah pada layar laptop.


Zein menarik pinggang Mima agar duduk di pangkuannya sambil berkata, "Bohong. Kalau ingin jauh dan mandiri, kenapa minta Papi ke sini?"


"Itu 'kan biar Papi cepat bawa persyaratan daftar kuliah, Kak," sahut Mima sambil menggeser duduknya ke depan.


"Ke belakang sedikit," ujar Zein sambil mengangkat pinggang Mima dan menariknya ke belakang agar lebih nyaman.


"Iih, Kak Zein. Nanti ada yang bangun," geram Mima sambil menoleh dengan mata yang membulat sempurna.


"Oh ya? Apa yang bangun? Kakak nggak ngerti," ujar Zein dengan tatapan menggoda.


Raut wajah Mima seketika merona. Ia hendak kembali menatap layar laptop, tapi kemudian terlonjak dan berbalik lagi menghadap Zein karena baru saja pria itu menekankan satu jarinya di pinggang Mima.


"Kakak! Ini di kantor," geram Mima.

__ADS_1


Melihat mimik wajah Mima yang kesal, justru membuat Zein semakin gemas dan ingin menggodanya. Zein kembali menekan jarinya di pinggang Mima, dan kali ini di kedua sisinya secara bergantian.


"Kak Zein!" Mima yang sangat kesal menangkup wajah Zein dengan mata yang melotot.


Terdengar ketukan di pintu sebanyak dua kali. Belum sempat Mima memperbaiki posisinya, pintu sudah terbuka.


Mima menoleh masih dengan ekspresi kesal. Seorang pria berdiri di ambang pintu menatap heran, kemudian meminta maaf dan menutup kembali pintu ruangan itu.


"Tuh, 'kan. Ada yang lihat," delik Mima.


"Dia temanku, Beib. Namanya Jeff," ujar Zein.


Zein hendak menggelitik Mima kembali. Namun aksinya urung, karena kepergok Mima.


"Aku di sofa aja. Mau nyari sendiri. Kak Zein cuma modus," gerutu Mima.


"Eits, Mau kemana? Ini bukan modus, tapi usaha," seloroh Zein sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Mima.


"Usaha? heh," delik Mima.


Zein menatap lekat pada wajah Mima. Mima yang menyadari tatapan Zein pun menoleh.


Ada hentakan terasa di bagian dada ketika dua pasang mata itu beradu. Mima melengoskan wajahnya untuk menghindari tatapan Zein. Sementara itu Zein berdehem pelan, lalu berkata, "Aku ada rapat sebentar lagi. Kamu duduk aja di sini. Nanti aku buka chats-nya di laptop. Tapi cium dulu dong, biar semangat kerjanya."


"Tuh, 'kan modus," sergah Mima.


"Dibilangin usaha, nggak percaya. Ayo cepat, Beib. Nanti ada yang masuk lagi loh," ujar Zein, kemudian memajukan bibir yang dikerucutkan.


Mima menekuk wajahnya, tapi tak ayal menurut juga. Mima berniat mendaratkan bibirnya sekilas saja. Namun rupanya jiwa usil Zein kembali seiring kebersamaan mereka.


Zein tidak membiarkan ciuman itu hanya sekilas. Bibirnya meraup bibir Mima. Bersamaan dengan itu, satu tangan Zein bergerak cepat menahan tengkuk Mima.


Mima terkesiap ketika mendengar ada yang membuka pintu ruangan itu. "Apa itu Jeff lagi?" batin Mima.


Akan tetapi dugaan itu gugur saat terdengar suara pelan seorang wanita meminta maaf. "Oh, Emma," batin Mima lagi.


Setelah pintu ditutup, dengan geram Mima mencubit lengan Zein. Karena hanya cara itu yang bisa membuat Zein melepaskan pagutan bibirnya.


Flashback off

__ADS_1


Mima beranjak dari pangkuan Zein dengan raut yang kesal. Diraihnya tisu yang berada di atas meja, dan mengelap bibirnya.


Zein hanya mengulumkan senyum melihat hal itu. Setelah memastikan aplikasi chat pada ponselnya terpindai oleh laptop, Zein beranjak dari kursi, dan mempersilakan istrinya untuk duduk.


"Kakak ada rapat sebentar ya. Ruangannya ada di lantai sepuluh. Kalau ada apa-apa, tekan tombol tujuh," jelas Zein dengan telunjuk mengarah pada interkom nirkabel yang berada di salah satu sisi meja kerjanya.


"Oke, Kakak. Fokus ya rapatnya. Kerjanya juga yang benar. Nanti kalau dipecat, mau ngasih aku makan apa?" tanya Mima dengan gaya mirip ibu-ibu yang sedang ghibah.


"Mau ngasih makan cinta," sahut Zein sekenanya.


"Huueek."


Zein terkekeh melihat Mima yang spontan menanggapinya dengan gaya seseorang yang muntah.


"Udah, sana! Katanya mau rapat," usir Mima sambil mengingatkan.


"Oke. Baik-baik di sini ya, Beib," ujar Zein sambil melambaikan tangannya. Mima membalas lambaian tangannya. Setelah pintu ditutup Zein, kening Mima berkerut melihat ponsel Zein yang masih tergeletak di atas meja.


"Aneh. 'Kan tinggal send aja isi chat-nya ke nomorku. Nggak harus begini," gerutu Mima sambil duduk.


"Eh? Rasanya aku pernah lihat grup chat ini di ponsel si Kingkong. Grup apa ya ini?" gumam Mima dengan tatapan mengarah pada layar monitor laptop. Di sana tertera grup chat dengan nama 'Al-Azmi Squad'.


"Intip, jangan. Intip, jangan ya? Penasaran ...," celoteh Mima bermonolog.


"Intip aja, ah. Tapi ...."


Mima menoleh ke sisi kanan. "Jangan Mima. Itu privasi Kak Zein. Nggak sopan," ujarnya.


Kemudian Mima menoleh ke sisi kiri. "Udah, buka aja. Kak Zein 'kan suami kamu. Nggak apa-apa. Suami-istri itu sudah seharusnya saling terbuka," ujarnya lagi.


Mima pun kembali menatap layar monitor laptop. "Hmm. Pilih si Angel, atau si Devil?" gumam Mima sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Aah! Aku 'kan hanya manusia biasa yang tidak luput dari dosa, eaa. So, buka aja," ujar Mima yang langsung mengarahkan kursor pada laptop itu ke 'Al-Azmi Squad'.


"Hah? Pada bahas apaan mereka?" Mima membuka info grup. Selain Zein, di sana ada nama Amar, Arkana, King, dan Nara. Dari sana diketahui pembuat grup itu adalah King.


Mima kembali pada isi chat. Ia pun menscroll sambil membaca sekilas isi chats di grup itu. Tiba-tiba Mima berdehem. Tak lama kemudian, raut wajahnya merona.


"Dasar tukang ghibah," gerutunya.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2