Lingkaran Cinta Cucu Sultan

Lingkaran Cinta Cucu Sultan
welcome to New York


__ADS_3

Happy reading ....


Mima tak bisa menutupi rasa takjubnya akan kemewahan interior pesawat pribadi milik keluarga Al-Azmi yang sedang ia tumpangi. Sangat berbeda dari pesawat komersial yang selama ini pernah ditumpanginya. Tatapan Mima beralih pada seorang pramugari cantik yang membawa nampan berisi sebotol wine dan dua gelas kosong. Pramugari itu meletakkan botol dan gelas wine itu di bagian tengah meja yang berada diantara kursinya dan Zein.


Mima mengikuti setiap gerakan tangan pramugari tersebut dengan raut polosnya. Melihat pemandangan menggemaskan seperti itu, Zein mengulumkan senyum, kemudian bertanya, "Beib, ada yang kamu inginkan?"


Mima mengangguk cepat dan berkata pada pramugari yang sedang menuangkan wine ke dalam dua gelas tersebut.


"Ada susu hangat nggak?" tanyanya.


Pramugari itu tertegun, kemudian mengangguk pelan sambil menjawab, "Ada, Nona. Saya akan membuatkannya untuk Anda."


"Terima kasih," ujar Mima riang.


Pramugari itu pun undur diri. Mima menoleh pada Zein yang tengah menyesap red wine sambil tersenyum padanya.


"Mau?" tawar Zein.


"Enggak ah," geleng Mima.


"Ini sirup lho," ujar Zein berdusta.


"Sirup apaan? Itu ada tulisannya, 'wine'," delik Mima.


Zein terkekeh pelan sambil menuangkan sedikit demi sedikit wine itu ke gelasnya. Tak lama kemudian, pramugari itu datang lagi dengan segelas susu hangat pesanan Mima. Setelah meletakkan gelas susu itu di hadapan Mima, pramugari itu undur diri.


"Kamu nggak pesan makanan? Yakin cuma susu?" tanya Zein santai sambil bersandar dengan sebelah kaki yang dinaikkan.


"Ini udah malam, Kak. Sebelum tidur ya minum susu," sahut Mima yang kemudian menyeruput susu hangatnya.


"Kamu mau langsung tidur?" tanya Zein sambil mencondongkan sedikit badannya ke depan.


"Iya dong. Kata papi jangan tidur terlalu malam, biar tetap cantik, fresh, dan nggak ada mata panda," sahut Mima enteng.


"Tapi ini malam pengantin kita, Mima. Masa langsung tidur," ujar Zein.


Deg.


Mima terkesiap. Degup jantungnya tiba-tiba menjadi cepat. "Duuh, mati gue," batinnya.


Mima tersenyum kikuk pada Zein yang memberinya seringaian devil. Mima menggigit bibir bawahnya dan memberanikan diri bertanya pada pria yang kini berstatus suaminya tersebut.


"Kak ...."

__ADS_1


"Hmm?"


"Mmm boleh nggak kalau aku tidur sekarang? Capek, Kak. Seharian nggak istirahat. Bangunnya juga pagi banget. Kaki Mima pegal, Kak," rengeknya manja.


"Mmm boleh nggak ya?" Zein berlagak seperti sedang berfikir keras.


"Boleh dong, Kak. Ya .. ya ...ya?" bujuk Mima dengan senyum manis yang dipaksakan.


"Boleh."


"Yes!" Mima spontan menekuk ke dalam tangannya yang terkepal.


"Tapi ...."


"Eh? Kok ada tapinya?" raut wajah Mima seketika berubah datar.


"Sini," ujar Zein sembari menepuk pahanya.


"Iih Kak Zein modus." Mima menekuk wajah sambil meletakkan gelasnya yang sudah kosong, lalu menjauhkan badannya dari meja.


"Mana enak tidur di situ. Sempit," delik Mima kemudian.


"Ooh, jadi kamu mau ditempat yang luas. Kita ke kamar, yuk!" ajak Zein.


"Nggak mau, Kakak," tolak Mima dengan nada yang terdengar manja. Mima menatap horor pada Zein yang berdiri dan berjalan menghampirinya.


"Katanya mau tidur. Ya kita ke kamar dong, Beib." sahut Zein pelan.


"Kak Zein pemaksa. Mima nggak mau sekarang, Kak." Mima menendang-nendang pelan kedua kakinya di udara. Mima seakan sudah 'tebal muka' dan tidak perduli pada para pramugari yang menatap setiap langkah Zein menuju ke kamar tidur.


"Tadi bilangnya mau sekarang. Gimana sih kamu, Sayang?"


"Mima cuma mau tidur. Nggak mau nganu, Kak."


"Nganu, apa sih? Yang jelas dong kalau bicara," ujar Zein pura-pura tidak mengerti.


"Aah, Kak Zein!"


Zein terkekeh melihat Mima yang kesal justru mengeratkan tautan tangan di lehernya. Mima bukan tidak tahu, jika Zein mau para pramugari yang menatap mereka itu akan siap 'melayani' dengan senang hati. Tapi masalahnya, ia belum siap jika harus menjalankan kewajiban pertamanya sebagai istri malam ini.


Zein membuka pintu kamar dan menutup kembali dengan dorongan kakinya. Zein melangkah mendekati ranjang, lalu meletakkan Mima yang sedang mengagumi dekorasi kamar mewah itu dengan sangat hati-hati.


"Waah! Kok aku berasa nggak lagi di pesawat ya?" gumamnya polos.

__ADS_1


"Masa sih? Memangnya kamu merasa lagi dimana?" tanya Zein setengah berbisik dengan gerakan tangan yang mulai menelusup ke dalam baju yang dikenakan Mima.


"Eits. Tangannya jangan nakal. Nanti dicubit lho." Mima membulatkan mata pada Zein dengan tangan yang bergerak cepat menahan pergerakan tangan Zein di bagian perutnya.


"Jangankan dicubit, digigit juga boleh," ujar Zein dengan seringaian menggoda.


Tatapan Mima seolah tertangkap tatapan Zein. Mata belo Zein itu seakan menghipnotis Mima yang terpana karenanya. Mima baru tersadar saat Zein bertanya, "Sekarang?"


Mima spontan menggeleng cepat dengan tatapan yang belum lepas dari Zein.


Zein menahan senyumnya sambil membuang muka. Jelas sudah baginya, Mima memang belum siap. Zein menghela napasnya, lalu berkata sambil menempelkan ujung hidungnya pada ujung hidung Mima.


"Oke. Good night, Wifey," lirihnya.


Mima masih terpana akan segalanya. Dari tatapan Zein, hingga aroma wine yang dihirupnya terasa manis, semanis sikap Zein padanya malam ini.


"Good night too, Hubby," balas Mima tanpa sadar.


Zein tersenyum senang, sedangkan Mima tersipu malu saat menyadarinya. "Tidur yang nyenyak ya. Aku akan duduk di sana," tunjuk Zein dengan gerak wajahnya. Mima mengangguk dan mengikuti setiap gerakan Zein yang sedang menyelimutinya.


Mima mengulumkan senyum dan berusaha untuk terlelap. Sementara itu, Zein meminta seorang pramugari membawakan wine-nya ke dalam kamar.


Perjalanan yang memakan waktu hampir sehari semalam itu tak terasa dengan semua fasilitas pesawat yang serba mewah dan pelayanan memuaskan. Mima menatap ke luar jendela pesawat. Pemandangan kota yang semakin jelas menandakan pesawat akan segera landing di bandara internasional John F. Kennedy yang terletak di Jamaica, Queens, kota New York.


"Hmm ... akhirnya. Welcome to New York!" seru Mima pelan sambil mengangkat kedua tangannya. Lagi-lagi Zein hanya tersenyum tipis melihat tingkah istri kecilnya itu.


Setelah pesawat landing dengan sempurna, dan para kru menyapa serta mengantarkan tuan muda mereka, Zein dan Mima menuruni tangga dan berlalu menuju bagian luar dari bandara dengan mengendarai kendaraan khusus yang disediakan pihak bandara.


"Thank you," ujar Zein pada pria yang mengantarnya. Pria itu undur diri, meninggalkan Zein dan Mima yang sedang celingukan memperhatikan sekitar.


Tatapan Mima tertuju pada seorang wanita yang melambaikan tangan dan berjalan ke arah mereka. Mima menoleh pada Zein yang tersenyum tipis seakan mengenal wanita itu. Mima kembali menoleh pada wanita tersebut.


"Hai, Zein! Sudah lama menunggu?" tanya wanita itu yang kemudian menoleh pada Mima.


"Kau membawa siapa?" tanya wanita itu lagi dengan raut wajah datar.


"Menurutmu siapa?" Zein balik bertanya sambil menarik pinggang Mima agar mendekat padanya.


Mima bisa melihat wanita itu menatap tajam padanya. Entah mengapa, Mima merasa tertantang untuk menggodanya. Mima melingkarkan tangannya di leher Zein dengan manja dan terbahak di dalam hati saat ujung matanya menangkap kepalan tangan wanita itu.


"Memangnya aku siapa, Hubby?" tanya Mima manja.


"Kamu, ya istriku dong, Beib," sahut Zein sambil mencium kening Mima.

__ADS_1


"Whats! Istri?" pekik wanita itu di dalam hati.


_bersambung_


__ADS_2