Lingkaran Cinta Cucu Sultan

Lingkaran Cinta Cucu Sultan
Beib


__ADS_3

Happy reading ....


Satu persatu tamu yang ditunggu mulai berdatangan. Wira Atmadja dan Nura datang bersama keluarga dua anak mereka, Alya dan juga Rendy.


Wira dan Nura berjalan paling depan. Menyusul di belakang mereka, pasangan Alya dan Rafael. Kemudian Rendy dan Amiera.


Kedatangan mereka tentunya mengalihkan perhatian pengunjung resto yang lain. Karena memang resto milik Laura itu selalu ramai dengan pengunjung karena susananya yang nyaman.


Arka yang tampil cuek sempat membuat beberapa remaja perempuan menganga dengan mata berbinar. Sosoknya mencuri perhatian mereka. Namun kemudian binar mata mereka memudar manakala Arka menggandeng wanita cantik berkacamata yang berjalan di sampingnya.


Mungkin mereka mengira itu kekasih Arka. Namun kenyataannya, wanita muda itu adalah Raya, sepupu Arka. Sedangkan Nara—kembarannya berada di luar kota. Keluarga besar itu disambut Laura dan Queen yang nampak sangat cantik dengan helter dress abu-abu tua. Beberapa menit kemudian King menghampiri dan menyapa mereka.


Tak lama setelah itu, keluarga Maliek juga datang ke resto tersebut. Penampilan Maliek dan Meydina tak perlu diragukan lagi. Maliek terlihat berkharisma dengan gayanya. Bagitu juga Meydina. Meskipun tampilannya selalu sederhana, Meydina terlihat elegan dan mempesona. Apalagi Amar.


Pengusaha muda itu sangat menawan dan sempat mengalihkan perhatian pengunjung resto di lantai bawah. Tidak hanya kaum hawa, bahkan para pria menyempatkan menoleh ketika satu diantara mereka ada yang mengatakan dengan suara pelan, "Itu Amar Maliek, 'kan?"


Amar memang sedang jadi pembicaraan terutama di kalangan para pengusaha. Langkah bisnis penerus Bramasta Corporate dalam mengembangkan sayap perusahaan menuai banyak pujian para pengusaha senior. Maka tak heran, beberapa dari mereka tak ingin melewatkan kesempatan untuk memotret Amar dengan kamera ponsel. Lalu, dimana Zein?


Zein sedang mengemudikan mobilnya menuju kediaman Evan Atmadja.


Di rumah Evan, keluarga itu sudah sedari tadi bersiap, tapi belum juga berangkat. Alena sampai kesal dan mengetuk kasar pintu kamar mandi.


Ini sudah kesekian kalinya Mima bolak-balik ke kamar. Ada saja alasannya.


"Aku mau pipis ...."


"Kayanya aku sakit perut deh, Pi."


"Mami, aku nggak mau pakai heels. Kalau jatuh gimana? Mami tahu 'kan, aku nggak biasa pakai heels?"


Dan yang terakhir ...


"Mami, kayanya aku beneran sakit perut deh." Ringisnya sambil berlari menuju tangga.


"Beneran? Jadi yang tadi bohongan?" pekik Alena.


"Iya. Tapi sekarang beneran, Mi. Aduh, sakit," sahut Mima menghentikan langkah sambil memegangi bagian bawah perutnya.


Begitulah kira-kira drama beberapa saat yang lalu. Dan saat ini ....


"Cepetan, Mima! Udah ditungguin semua orang!" pekik Alena dari luar pintu kamar mandi.


"Sabar dong, Mami!" sahut Mima tak kalah memekiknya, karena ia menyalakan kran air yang ada di dekatnya.


"Sabar ... sabar. Kurang sabar apa mami, heh? Cepetan!"


"Iya, sebentar!"

__ADS_1


"Mi!" Terdengar panggilan Riky dari lantai bawah.


"Iya, Pi." Sahutnya.


"Mami tunggu dibawah, Mima!"


"Oke."


Mima begitu anteung di kamar mandi. Saat dirasa cukup karena sudah agak pegal sekaligus bosan, Mima keluar dari kamar mandi dengan raut wajah senang. Entah senang karena sakit perutnya sudah reda, atau senang karena telah berhasil mengulur waktu keberangkatan. Hanya Gadis itu dan Tuhan-lah yang tahu.


Akan tetapi senyum di wajahnya memudar saat melihat siapa yang bersandar pada lemari pakaiannya. Seorang pria tampan tengah menatapnya sambil melipat kedua tangan di dada.


"Hai, Beib!" sapanya.


"Hai juga!" sahut Mima pelan sambil nyengir dan mengangkat sebelah tangannya.


Sepertinya Mima tidak menyadari apa yang dilakukannya barusan. Karena saat ini, gadis itu sedang menepuk-nepuk bibirnya sambil merutuk. Sementara itu, Zein hanya menyeringai melihat tingkah Mima.


"Kamu sengaja ya membuat kami menunggu?" tanya Zein ketus.


"Enggak," sahut Mima tak kalah ketusnya. Dengan cueknya Mima melewati Zein dan membuka lemari pakaian. Mima mengeluarkan gaun lain yang akan dipakai. Zein yang melihat hal itu langsung protes.


"Apanya yang enggak? Itu kamu mau ngapain? Kok ganti baju?" cecarnya.


"Suka-suka Mima dong, Kak. Ini tuh udah dipakai nongkrong lama di wc. Kalau bau, gimana? Malu, 'kan?" delik Mima.


"Ya nggak mesti diganti juga, Beib. Kamu 'kan bisa semprotin parfum," saran Zein.


"Iih, sana! Nanti makin telat lho. Mami! Papi! Ada manekin di kamar aku!" pekiknya.


Pekikan Mima tidak hanya memekakan telinga Zein, tapi juga membuat pria itu menganga tak percaya.


"Manekin? Enak aja kamu bilang kakak begitu," protes Zein yang menggerakan tangannya untuk menepis tangan Mima.


Zein tidak menyangka jika tepisan itu akan mengagetkan Mima dan membuat gadis itu hilang keseimbangan. Spontan Zein menarik pinggang Mima agar tidak terjatuh.


"Kakak Zein sengaja ya?" pekik Mima lagi.


"Ish, kamu." Zein yang tidak kuat dengan pekikan Mima langsung melepaskan lingkaran tangannya.


Mima menekuk wajah sambil menatap Zein yang juga menatapnya penuh tanya.


"Kakak keluar, aku mau ganti baju," ujar Mima kesal.


"Ya udah ganti aja, nggak usah teriak segala. Berisik tau nggak?" sahut Zein yang masih mencoba untuk sabar.


"Beneran ya, aku ganti baju di depan kakak," tantang Mima.

__ADS_1


"Ganti aja. Lumayan dapat rezeki nomplok," balas Zein sambil kembali melipat tangannya di dada.


"Aaah, Kak Zein sana keluar." Mima merengek sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Zein mengerutkan kening. Kamudian menyeringai tipis sambil menggelengkan kepala. Zein pun akhirnya keluar dari kamar mengingat mereka sudah sangat terlambat saat ini.


"Cepat sedikit ya, Beib," ujar Zein sebelum menutup pintu.


"Ckck. Beib, beib. Memangnya aku ini apaan? Idih, jangan-jangan Kak Zein punya sugar baby. Makanya terbiasa manggil 'beib'. Papi sama mami kok tega sih? Masa iya aku dapat bekas orang," gerutu Mima bermonolog pelan.


Mima mendelik pada pintu seakan Zein ada di baliknya. Ia pun bergegas mengganti gaun yang dikenakannya dengan gaun pemberian Meydina yang lain. Sayangnya gaun berenda itu menggunakan resleting di bagian belakang.


Mima berjalan menuju pintu dan membukanya secara perlahan. Mima menyembulkan kepala sambil memegangi bagian dada. Ia melihat Zein yang duduk di salah satu kursi di ruang sebelah kamarnya sedang fokus pada layar ponsel. Dengan suara pelan, Mima memanggil pelayan.


"Mbak, mbaak! Pada kemana sih?"


Mima celingukan berharap ada yang mendengar panggilannya.


"Kamu mau apa? Mereka mungkin di dapur," ujar Zein yang membuat Mima menarik diri ke dalam kamar.


"Cepat dong, Beib. Mami udah nanyain kamu dari tadi," ujar Zein sambil beranjak dari kursi dan berjalan mendekati pintu kamar Mima.


"Kak Zein, bisa tolong panggilkan embak, nggak?" tanya Mima dari balik pintu. Mima kembali menyembulkan kepalanya dari balik pintu sambil memasang mode puppy eyes.


"Nggak mau. Panggil aja sendiri," sahut Zein datar dan berlalu menuju tangga.


"Ish, jahat," decih Mima pelan.


Mima terkesiap mendapati Zein berbalik dan mendorong pintu kamarnya. Ia tidak menyangka ucapannya didengar pria itu.


"Kamu bilang apa barusan? Jahat?" tanya Zein dengan ekspresinya yang datar.


"Enggak, kakak salah dengar. Kak Zein baik kok. Baiiik banget, hehe."


Zein menyipitkan ujung matanya. Ia mulai mengerti apa yang terjadi pada Mima.


"Kalau kakak baik, kenapa nggak minta seletingin bajunya sama kakak? Kok malah nyari embak?" tanya Zein dengan senyum devil-nya.


"I-ini resletingnya panjang. Aku malu kalau minta tolong sama kakak," sahut Mima salah tingkah.


"Kakak baik lho, Beib. Nggak usah malu. Ayo sini, biar kakak yang sletingin." Zein berjalan perlahan mendekati Mima yang menghindari Zein dengan langkah mundur.


"Beneran, Kak. Aku panggil mbak aja. Kita 'kan bukan mahram, hehe," cengir Mima.


"Kalau kakak maksa gimana, heh?" tanya Zein sambil menarik pinggang Mima agar menempel padanya. Dengan cepat satu tangan Zein menarik resleting gaun itu.


"Dasar bocah," ujar Zein sambil menepuk kening Mima. Zein berlalu meninggalkan tempat itu sambil berseru, "Cepetan, nggak pake lama!"

__ADS_1


"Iya, Kak," sahut Mima sambil menggaruk tengkuknya.


_bersambung_


__ADS_2