Lingkaran Cinta Cucu Sultan

Lingkaran Cinta Cucu Sultan
misi Zein


__ADS_3

Happy reading ....


Mima membiarkan shower yang tadi diputarnya tetap menyala. Dirinya berjalan mondar-mandir di depan wastafel dengan handuk yang melilit kuat di tubuhnya. Nampaknya, Mima tetap pada pendiriannya. Terbukti dari tubuh Mima yang belum tersentuh air meski sudah lebih dari dua puluh menit ia berada di kamar mandi.


Tok ... tok ... tok.


"Beib. Kamu nggak ketiduran di dalam, 'kan?" tanya Zein dari luar kamar mandi.


"Ck, Kak Zein. Memangnya nggak dengar suara air?" gerutu Mima pelan sambil mendelik pada pintu.


"Ah, iya! Aku pura-pura tidur aja. Tapi tidur di mana? Kamar mandi Kak Zein nggak ada bathtub-nya. Masa iya di lantai, masuk angin dong," gumam Mima bermonolog.


"Sayang ...."


"Aaah, udahlah pasrah aja," ujarnya kemudian.


"Iya, Kak. Sebentar," sahut Mima sambil berjalan mengarah pada pintu.


Mima membuka pintu. Seketika Zein menatap heran padanya.


"Kamu belum mandi?"


"Belum, Kak," jawab Mima sambil nyengir.


"Terus ngapain di dalam?"


Mima tak acuh. Ia berlalu melewati Zein dan mengarah pada koper miliknya. Mima belum sempat memasukkan pakaiannya ke dalam walk-in closet.


Zein sontak menelan saliva saat melihat kaki jenjang Mima. Handuk yang melilit setengah paha membuat Zein sampai mengelus dadanya yang berdegup kencang. Zein berdehem untuk menetralkan perasaannya. Mima menoleh lalu melihat ke sekeliling kamar.


"Kamu nyari apa?"


"Nyari air. Tenggorokan Kak Zein kering, 'kan?"


"Eh? Enggak kok. Ehhem-ehhem, gatal dikit aja," sahut Zein yang jadi salah tingkah.


"Ooh."


Mima dengan cueknya membungkuk untuk membuka koper. Susah payah Zein menelan saliva melihat pemandangan indah yang membuatnya terbelalak.


"Mana sih piyamanya? Kok bajunya yang begini semua?" gumam Mima sambil mengangkat baju tidur kurang bahan yang hampir memenuhi kopernya.


"Ini pasti kerjaan mami," tuduhnya.


Wajah Zein sampai merona melihat lingerie-lingerie itu. Sementara Mima dengan cueknya memperhatihan satu persatu sambil menatap horor.


"Iih, Mami," pekiknya kesal.

__ADS_1


"Kenapa kesal begitu sih? Pakai aja salah satu," saran Zein sembari menghampiri dan mengambil satu yang dipegang Mima.


"Ini bagus, Baib. Merah, berani. Rrrroarrr." Zein menirukan bunyi dan gerakan singa mengaum dan diakhiri dengan kedipan sebelah mata.


"Idih, Kak Zein kenapa?"


"Hehe, nggak apa-apa." Zein menyadari tatapan aneh Mima dan hal itu membuatnya jadi malu sendiri. Zein mulai berfikir, apakah ia sudah berlebihan mengharapkan malam pertama mereka terjadi malam ini?


Aah, sudahlah. Mungkin Mima benar-benar belum siap. Bisa jadi dia tipe gadis yang mau 'berhubungan' hanya jika ada perasaan cinta. Oke. Tidak apa, Beib. Yang terpenting kita sudah menikah, dan pacaran setelah menikah sepertinya asik juga. Aku harus mulai dari mana ya? Apa aku harus menyatakan cinta terlebih dulu? batin Zein berceloteh sekenanya, membuat wajah putra Maliek itu menyunggingkan senyum tipis.


Di sisi lain, Mima menatap horor wajah Zein yang seperti sedang mengkhayalkan 'sesuatu'. Mima baru menyadari kondisinya saat ini. Perlahan ia mulai mundur dan bersiap mengambil ancang-ancang hendak melarikan diri kembali ke kamar mandi.


"Eits, mau kemana?" Zein menahan langkah Mima.


Zein pun menarik tangan lembut tangan Mima menuju walk-in closet. Mima memaksakan langkahnya mengikuti Zein yang kemudian membuka salah satu pintu lemari pakaiannya.


"Pilihlah," ujar Zein.


Mima tersenyum lebar. Tanpa banyak tanya, Mima mengambil kaos oblong dan boxer dari dalam lemari itu.


"Udah, Kak," ujarnya.


"Pakai dong."


"Di sini?"


"Hehe. Kakak keluar, please ...," pintanya dengan mode puppy eyes.


"Oke." Zein berlalu sambil mengulumkan senyum. Namun, tak lama kemudian ....


"Beib ...."


"Aaa! Kakak!" Mima membulatkan mata pada Zein yang memergokinya sedang menurunkan handuk.


"Ups, sorry."


Huft. Untung baru setengah, batin Mima.


"Kakak ke sana ...," rengek Mima manja.


"Iya, Sayang. Aku cuma mau tanya, kamu mau makan sesuatu nggak?"


"Enggak, Kak. Ini udah malam. Mima ngantuk."


"Okeee." Zein pun meneruskan langkahnya. Pria itu mengirimkan chat pada Emma untuk meminta nomor ponsel butik langganannya.


Di tempat lain ....

__ADS_1


Emma yang tengah berada di klub malam nampak kesal. Dengan terpaksa, ia memberikan nomor yang diminta Zein. Bukan apa-apa, pasalnya ia tahu Zein melakukan itu untuk istrinya.


Seorang pria menghampiri sembari memegang segelas wishky. Emma hanya mendelik dengan seringaian tipis.


"Malam ini kamu terlihat bad mood. Ada yang bisa kubantu?" tanyanya.


"Heh. Orang sepertimu bisa bantu apa? Kau tidak punya pekerjaan lain selain mengganggu hidupku," sahut Emma ketus. Pria itu itu menahan kekehannya.


"Tunggu dulu. Kalau kau bisa mengganggu hidupku, itu artinya kau juga bisa menggganggu hidup wanita lain, 'kan? Hmm ... boleh juga," ujar Emma setengah bergumam.


"Memangnya kamu ingin aku mengganggu siapa? Apa dia sama menggodanya sepertimu?" tanya pria itu.


"Tentu. Dia bahkan jauh lebih muda dariku, dan ... ya, lebih cantik," sahut Emma yang terlihat malas di akhir kalimat.


"Benarkah? Hehe, baiklah. Siapa dia? Di mana aku bisa menemukannya?" tanya pria itu antusias.


"Sabarlah sebentar, aku pasti memberitahukannya padamu. Tapi sekarang, bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu?" tanya Emma dengan intonasi suara yang menggoda.


Pria itu tentu saja sangat senang. Ia tak akan melewatkan kesempatan bersama wanita yang selama ini terbilang sulit untuk didapatkan.


Kembali ke penthouse ....


Zein seakan menertawakan dirinya sendiri melihat Mima yang sudah terlelap. Bahkan daftar katalog pakaian yang diperlihatkan pemilik butik masih terpampang jelas di ponselnya.


Pemilik butik itupun menelepon Zein.


"Tuan, apa masih ada yang diinginkan nyonya? Kami memiliki koleksi lingerie premium. Jika Anda berkenan, saya akan mengirimkannya pada Anda. Nyonya bisa memilih, atau bahkan memesan sesuai keinginan," tawar pemilik butik itu.


Zein menoleh pada koper Mima yang masih terbuka. Tak lama, Zein pun berkata, "Mungkin lain waktu. Istriku sudah tidur. Terima kasih."


"Baik, Tuan. Silahkan mengunjungi butik kami, agar nyonya bisa memilihnya sendiri. Semua produk kami premium, Tuan."


"Baiklah, akan kusampaikan. Selamat malam." Zein mengakhiri panggilannya.


Setelah meletakkan ponselnya di atas nakas, Zein menghela napas dalam dan mengeluarkannya perlahan.


Tak dipungkiri, ia kesulitan menahan hasrat terhadap wanita yang sedang menjemput mimpi itu. Tapi apa boleh buat, Zein harus lebih bersabar. Ia bahkan tidak pernah sekalipun berfikiran lancang dengan membayangkan Mima tidur di sampingnya.


Step by step, Zein .... Begitulah kira-kira bisikan hatinya.


"Misi hidupku saat ini, adalah mendapatkan hatimu, Beib. Akan kubuat kau mencintaiku dan menerimaku sebagai suami seutuhnya. Se-ce-pat-nya," ujar Zein sambil mengetuk-ngetuk pelan ujung hidung Mima dengan ujung telunjuknya.


Selanjutnya, Zein juga harus beristirahat. Ia akan kembali memulai aktivitas rutinnya esok hari. Selain itu, Zein juga akan mencarikan universitas yang cocok sesuai minat Mima.


Selamat tidur, Zein ....


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2