
Happy reading ....
Dialah Emma Jones, wanita berambut cokelat dengan postur tubuhnya yang sintal itu selain seksi, gesturnya juga menggoda. Emma tak lain merupakan putri dari salah seorang sepupu Alvin dari kerabat ibunya, Lucy.
Selain itu, Emma hanya beda satu tingkat dengan Zein di universitas yang sama di London. Sejak lulus kuliah, Emma sudah bekerja bersama Zein di Al-Azmi Corp. cabang London.
Saat ini, Zein mengambil alih kemudi mobil. Emma yang diminta duduk dikursi belakang memperlihatkan raut wajah tak suka sambil sesekali mendelik pada Mima yang tak acuh dan dengan cueknya mendongak ke luar kaca memperhatikan sekeliling jalan yang mereka lalui.
Meski malam mulai larut, New York tak pernah kehilangan semangatnya. Benar yang Mima dengar selama ini, kota itu tidak pernah tidur. Wilayan ini (Queens) juga dikenal sebagai kota terbesar dengan penduduk dari etnis paling beragam. Dan di wilayah ini, banyak ditinggali orang Indonesia.
"Zein, bagaimana kabar Uncle Alvin? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya?" tanya Emma berbangga diri, seakan ia ingin memberitahukan pada wanita yang diakui Zein sebagai istrinya itu bahwa bos tertinggi Al-Azmi adalah kerabatnya.
"Kabar Daddy baik," sahut Zein datar.
"Kapan Queena akan berkunjung ke sini? Hmm terakhir kali aku bertemu dia ... kapan ya?" ujar Emma setengah bergumam sambil mendelik pada Mima.
"Entahlah," sahut Zein singkat.
Diam-diam Emma memperhatikan setiap gerak-gerik Mima. Ada rasa tak percaya akan pengakuan Zein terhadap status yang disandang Mima.
Heh, tidak mungkin dia istri Zein. Kalau benar Zein menikah, tidak mungkin aku tidak mendengarnya. Zein pasti mengatakan itu hanya karena ingin tinggal bersama dengan wanita ini. Wow! Akhirnya aku melihat sisi nakalmu, Zein, batin Emma tersenyum devil.
Emma terbelalak saat melihat gerakan tangan Zein yang perlahan mengarah pada tangan Mima. Tanpa sungkan, Zein meraih dan menggenggam tangan Mima. Tidak hanya itu, Zein bahkan menarik tangan Mima agar mendekat pada wajahnya, lalu menciumi punggung tangan itu.
Emma memperhatikan itu semua dengan perasaannya yang bergejolak. Ia menyukai Zein sejak pertama melihatnya. Keinginannya untuk mendapatkan pria itu semakin kuat sejak mengetahui Zein merupakan pewaris sebuah perusahaan ternama. Bersama dengan pendamba Zein lainnya, Emma berusaha menarik perhatian Tuan Muda Al-Azmi itu.
Emma patut berbangga diri, karena ternyata keluarganya masih kerabat dengan Alvin. Meskipun kerabat jauh, Emma memanfaatkan itu untuk bisa dekat dengan Zein.
Ibu Alvin itu dulu tinggal bersama kakek buyutmu. Alvin bahkan lahir di sini.
Emma tidak akan melupakan kenyataan yang pernah diucapkan ibunya tersebut. Alvin, akan menjadi pintu untuknya masuk ke dalam kehidupan Zein. Dan itu terbukti sampai saat ini. Tapi selama itu pula, Emma belum sampai pada tujuannya.
Jangankan hatinya, bahkan perhatian Zein terlalu sulit untuk digapai Emma. Setiap kali ia mengetahui Zein menolak dijodohkan, Emma selalu merasa bahagia. Tapi tetap saja itu tidak berpengaruh apapun padanya. Emma harus puas dengan sikap baik Zein selama ini yang hanya menganggapnya sebagai rekan kerja.
Akan tetapi yang dilihatnya saat ini, seperti bukan Zein. Benar-benar berbeda. Sikap Zein berubah manis, dengan sorot mata berbinar saat menatap gadis muda yang bersamanya. Hal yang selama ini dipikir Emma sesuatu yang mustahil pada diri Zein.
Baiklah. Kalau j*lang itu bisa, maka aku pun bisa melakukannya, tekadnya dalam hati.
"Emma, kau melamun?" tegur Zein datar.
Emma terkesiap, rupanya mereka sudah sampai di basement gedung apartemen. Zein tinggal di lantai paling atas gedung tersebut. Kawasan elit itu memiliki tiga tower, dan setiap tower hanya ada satu penthouse.
"Ayo, Beib! Kamu pasti lelah," bisik Zein setelah meraih tangan Mima dan menariknya agar melingkar di pinggang.
Mima tersenyum manis, dan menatap horor pada Emma yang masih saja mengikuti mereka hingga ke depan pintu penthouse. Ia tidak menolak perlakuan Zein karena ingin melihat raut wajah Emma yang kesal. Tapi Mima tidak menyangka kalau Emma akan ikut ke penthouse juga.
__ADS_1
Hmm jangan bilang kalau dia juga mau ikut masuk, gerutu Mima dalam hati.
Mima melongo karena ternyata memang begitulah nyatanya. Emma masuk ke penthouse dengan santai seperti sudah terbiasa melakukannya.
"Beib, aku mandi duluan ya. Atau kamu mau kita ...."
"Enggak. Kakak aja duluan," geleng Mima cepat membuat Zein yang hanya berniat menggoda mengulumkan senyum.
"Kamar kita di sana. Kalau kamu udah selesai, masuk aja ya," tunjuk Zein pada Mima yang kini tengah mengagumi interior penthouse itu.
"I-iya, Kak," angguk Mima.
"Jangan terlalu lama, oke. Kamu juga 'kan harus mandi," ujar Zein sambil berlalu menuju kamarnya.
Udah malam begini, kenapa harus mandi sih? Kalau mau tidur ya tidur aja. Aku sih nggak mau mandi ya. Kalau kata Mami, bisa masuk angin, celoteh Mima dalam hatinya.
Mima terkesiap saat menyadari Emma sedang menatap tajam padanya dengan kedua tangan terlipat di dada. Mima tersenyum masam menyadari kilatan kebencian dari ujung mata Emma.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Zein, heh?" tanya Emma dengan tatapan mengintimidasi.
"Aku? Melakukan apa ya?" gumam Mima bingung. Tapi kemudian berdehem pelan dan melipat kedua tangannya di dada.
"Aku tidak harus menjawabnya, 'kan? Memangnya kau siapa, bertanya seperti itu padaku?" tanya Mima dengan gaya angkuh yang dibuat-buat.
"Coba saja kalau bisa," delik Mima dengan cueknya.
Ddrrt .... Ponsel Mima bergetar. Mima merogohnya dari dalam tas, lalu menerima panggilan tanpa beringsut dari posisinya.
"Sayang, sudah sampai?" tanya Alvin dari ujung ponselnya.
"Sudah, Uncle. Baru aja," sahut Mima.
"Papi sama mami kamu juga baru satu jam yang lalu pulang ke kota D. Mungkin sekarang masih di pesawat," tutur Alvin.
"Siapa yang jemput kalian?" tanya Alvin kemudian.
"Auntie Emma," sahut Mima sambil melirik pada Emma.
Emma sontak membulatkan mata mendengarnya. Sedangkan Mima menahan tawa.
"Auntie? Hahaha .... Dia hanya lebih muda satu tahun dari Zein, Sayang. Tidak perlu memanggilnya begitu. Panggil saja namanya," ujar Alvin masih dengan sisa kekehannya.
"Oh, begitu ya. Hehe, maaf sudah salah kira. Mima kira dia auntie-auntie," sahut Mima sambil tersenyum sok imut pada Emma yang wajahnya sudah sangat merah menahan amarah.
"Ada-ada saja kamu ini. Coba berikan ponselmu padanya, uncle mau bicara," pinta Alvin.
__ADS_1
"Oke." Mima pun memberikan ponselnya pada Emma.
Emma mengerutkan keningnya sambil menatap horor pada ponsel Mima. Mima menyodorkan paksa ponsel itu dan mau tak mau Emma pun menerimanya.
"Halo ...."
"Bagaimana kabarmu, Emma? Ini aku, Alvin."
Emma terbelalak mendengarnya. Ia sontak menoleh pada Mima dengan tatapan seakan bertanya, bagaimana bisa?
"U-uncle? Ini, Uncle Alvin?" tanya Emma seakan tidak percaya.
"Iya, benar. Hehe ... sudah lama kita tidak bertemu," ujar Alvin.
"Iya, Uncle. Lama sekali," sahut Emma lembut.
"Emma, bersikap baiklah pada Mima. Dia itu tidak hanya keponakanku, tapi juga istri Zein. Aku harap kalian bisa berteman," tutur Alvin.
Seketika dunia Emma seakan runtuh menindihnya. Ia mendengarkan ucapan Alvin tentang apa saja yang harus dilakukan terhadap Mima dengan perasaan yang seakan mengambang.
Tak lama Alvin meminta ponsel itu diberikan lagi pada Mima. Setelah bicara sebentar, panggilan pun diakhiri.
"Ja-jadi kau sepupu Queena?" tanya Emma dengan muka masam.
"He-em," angguk Mima sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam sling bag.
Mima merasa heran dengan raut wajah Emma yang terlihat memucat.
"A-aku permisi dulu," pamit Emma kemudian.
Mima mengangguk kecil dengan tatapan heran mengantar langkah Emma menuju pintu keluar.
"Dia kenapa ya? Aneh," gumam Mima.
"Hmm tempat ini nyaman juga," gumam Mima lagi sambil melangkah mendekati sofa.
Baru saja bokong Mima hendak mendarat sempurna di sofa, terdengar suara pintu kamar di buka. Dan tak lama, Zein memanggilnya.
"Beib. Kenapa belum masuk?"
Haiss. Kak Zein ini. Apa yang harus kulakukan sekarang? batin Mima.
Putri Riky itu mulai menyadari jika dirinya tidak mungkin bisa menghindari Zein lagi. Mima terlihat lunglai saat berjalan menuju kamar Zein, yang kini juga kamarnya.
_bersambung_
__ADS_1