Lingkaran Cinta Cucu Sultan

Lingkaran Cinta Cucu Sultan
mengembalikan ponsel


__ADS_3

Happy reading ....


Sebuah pesan masuk di grup chat itu. Dengan sengaja Mima membalasnya sambil menahan tawa. Berawal dari King, Zein (Mima), Nara, juga Arkana meramaikan grup itu. Mima bahkan sampai tergelak dan memutar kursi kerja yang sedang didudukinya.


Entah apa yang mereka bicarakan, Mima terkekeh setiap kali tatapannya tertuju pada monitor laptop.


"Hehehe. Kak Amar marah," gumamnya disela kekehan.


Pasalnya. King dan Nara terus saja men-tag adik Zein itu. Karena dari kelima anggota grup, hanya Amar yang tidak ikut nimbrung. Meskipun mereka dapat dimaklumi karena Amar pastilah sedang bekerja, tetap saja mereka iseng.


[Berisik! Eh, Kak Zein nggak kerja?] Amar.


[Yee, Kak Zein 'kan lagi honeymoon. Kak Amar lupa ya?] Nara.


[Oh, iya. Lupa, hehe. Hei, kalian para pengangguran! Jangan ngganggu-nggangu gue. Lagi ada klien, Dodol!] Amar.


[Si Kingkong tuh yang mulai.] Nara.


[Apa, Lo? Yang boleh manggil gue Kingkong cuma si Mumi.] King pada Nara.


[Ups, lupa. Maaf ya, Kak Zein.] King.


[Guys, jangan ganggu Kak Amar yang lagi kerja, apalagi Kak Zein yang lagi honeymoon. Kita bertiga aja cowok-cowok jomlo dan pengangguran yang ngumpi di sini. Hiks, by the way ngenes amat ya nasib kita.] Nara.


[Sorry, ya. Gue bukan pengangguran. Gue lagi nunggu pelanggan.] Arkana.


[Sejak kapan lo open BO (booking out), Ka?] Amar.


[Wkwkwk.] King.


[Mau dong satu jam wkwkwk.] Nara.


[Gila lo pada. Pelanggan bengkel gue, Dodol!] Arkana.


Mima terbahak membacanya. Ia membayangkan seandainya saja obroan ini di dunia nyata, pastilah para pria itu saling menoyor kepala, atau bergulat ala mereka.


"Hmm jadi kangen," gumam Mima yang kemudian membuang kasar nafasnya.


"Oh My God! Aku 'kan mau baca info dari teman Kak Zein," pekik Mima yang langsung mengalihkan kursor pada nama lain dalam aplikasi chat.


Di sisi lain gedung itu, Zein nampak serius mempelajari setiap berkas yang diterimanya sambil mendengarkan penjelasan dari seorang manager pemasaran. Putra sulung Maliek itu memang jeli dalam menganalisa dan menemukan peluang sekecil apapun juga. Tak heran, walaupun baru satu tahun berdiri di tanah Paman Sam, Al-Azmi Corporation sudah dianggap pesaing oleh sebagian besar perusahaan yang bergerak dalam bidang yang sama.


"Emma, buat janji dengan Holding Company," titah Zein.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


"Ada lagi?" tanya Zein pada anggota rapat.


"Sepertinya sudah semua, Tuan," sahut Jeff.


"Baiklah. Untuk tawaran Holding Company, kita akan kembali membahas ini setelah pertemuanku dengan pihak mereka. Rapat selesai," tegas Zein.


Anggota rapat itupun pamit undur diri.


"Bagaimana kalau satu jam lagi, Tuan?" tanya Emma disela pembicaraannya dengan klien.


"Ok," angguk Zein.


Zein tidak ingin hanya mengandalkan nama besar Al-Azmi. Walaupun pada kenyataannya, tidak banyak orang mengetahui jika dirinya seorang penerus Al-Azmi Corporation. Hal itu tak lain karena nama Bramasta yang ia sandang.


"Buat salinannya sekarang," pinta Zein sambil menyodorkan satu berkas pada Emma yang sudah menutup panggilan.


Emma mengangguk, dan berlalu dari ruangan itu. Sedangkan Zein kembali fokus pada berkas lainnya.


Sementara itu Mima merasa bosan dan memutuskan untuk memberikan ponsel Zein yang berada di ruang rapat.


"Hmm lantai sepuluh," gumam Mima sambil menekan tombol angka pada lift. Tak lama kemudian, pintu lift pun terbuka.


Kebetulan Mima bertemu dengan Emma yang sedang berjalan mendekati lift.


"Hai, Sepupu! Kita bertemu lagi," sapa Mima riang. Sapaan itu dilontarkan Mima mengingat Emma juga kerabat jauh Alvin.


Emma tersenyum sinis, kemudian berkata, "Belum. Rapatnya belum selesai, dan kemungkinan masih lama. Kau lihat, aku bahkan harus membuat salinan berkas untuk rapat ini. Jika kau bosan, pergilah. Tapi jangan ganggu Zein saat sedang bekerja, karena proyek saat ini sangatlah penting. Kau mengerti?"


"Baiklah. Kalau begitu, boleh aku titip ponsel Kak Zein?" tanya Mima.


"Tentu." Emma mengulurkan tangannya hendak mengambil ponsel yang dipegang Mima.


Mima nampak ragu memberikan ponsel itu. "Mmm nggak jadi deh," ujarnya, dan tentu hal itu membuat Emma merasa kesal.


"Ayo, kita gunakan lift bersama-sama," ajak Emma. Sepertinya sekretaris Zein itu berusaha keras menahan letupan amarahnya.


"Baiklah. Silakan," ujar Mima sembari menatap layar Zein.


"Cepatlah. Aku sedang ditunggu," ujar Emma ketus.


"Iya, sebentar. Eh, ada yang meneleponku. Kau duluan saja ya," ujar Mima sambil merogoh ponselnya di dalam sling bag.


Pintu lift hampir tertutup. Emma ingin menghentikannya. Tapi Emma tidak dalam posisi bisa melakukan itu. Salinan berkas yang ia bawa memang sedang ditunggu.


"Bye," ujar Mima pelan. Pintu lift pun tertutup rapat.

__ADS_1


Mima tiba-tiba terkekeh pelan. Dengan cepat raut wajahnya berubah, "Heh, memangnya aku tidak tahu kalau rapatnya sudah selesai." Mima mendelik pada pintu lift, dan berlalu mencari ruang rapat.


Tadi, Mima sempat menginjakkan kaki di lantai dua belas. Ia hanya keluar, berjalan beberapa langkah, dan kembali lagi ke lift. Saat itulah Mima bertemu seorang karyawan dengan map yang diapit tangannya. Mima menanyakan apakah karyawan itu mengikuti rapat. Darinya lah Mima mengetahui Zein ada di ruang rapat dan tentunya rapat telah usai. Dan bunyi panggilan pada ponselnya, tak lain panggilan dari ponsel Zein yang ditekannya sendiri.


Mima tiba di depan sebuah ruangan dengan dua pintu yang diatasnya bertuliskan 'Meeting Room'. Mima mengetuk dua kali, dan terdengar samar suara Zein mempersilakan.


"Kak Zein."


Zein sontak mengangkat kepalanya. "Hai, Beib! Kamu bosan ya sendiri di ruanganku?" tanya Zein sembari tersenyum lebar.


"Mmm nggak juga. Aku mau ngembaliin ponsel kakak," sahut Mima setengah berdusta. Mima menyodorkan ponsel itu pada Zein.


"Kenapa repot-repot, Sayang? Sebentar lagi aku selesai," ujar Zein.


"Ini dari tadi bunyi terus. Gimana kalau ada chat penting dari klien, atau rekan bisnis kakak?"


"Oke. Sini dong," ujar Zein sembari menepuk bagian atas pahanya.


"Nggak mau, malu. Nanti kalau tiba-tiba ada orang, gimana?" geleng Mima.


Zein terkekeh pelan. "Beib, aku ada meeting sama klien. Tapi akan aku usahakan makan siang bersama ya."


Mima mengangguk pelan. Zein menangkap wajah Mima yang tidak senang. "Maaf, Sayang ...."


"Kenapa minta maaf, Kak? Kakak 'kan memang lagi kerja. Harus profesional. Kalau begitu, Mima jalan-jalan di sekitar tempat ini aja. Boleh ya, Kak? Please ...," pinta Mima.


"Baiklah. Daripada kamu bosan. Pukul sepuluh mall di seberang jalan di sisi kanan akan buka. Atau kamu mau jalan-jalan di sekitaran taman di depan coffee shop di sampingnya juga boleh. It's ok. Tapi jangan terlalu jauh, di sekitar tempat ini aja," tutur Zein.


"Oke." Mima sangat senang hingga mengacungkan ibu jarinya. Tak lama, terdengar notifikasi pada ponselnya.


Mima mengerutkan keningnya melihat sekilas notifikasi itu. Saat membacanya, Mima melirik pada Zein yang sedang tersenyum lebar.


"Kok Kakak tahu nomor rekeningku?" tanya Mima heran. Karena rupanya notifikasi yang Mima terima dari rekening bank miliknya. Sejumlah uang dengan nominal fantastis baru saja masuk ke dalam rekeningnya.


"Jangankan nomor rekeningmu, nomor b*a-mu saja aku tahu," seloroh Zein.


"Hmm lagaknya," ejek Mima. "Coba kalau tahu, nomor berapa?" tantang Mima dengan percaya dirinya.


"Mmm ... tiga puluh dua," sahut Zein.


"Eh?" Mima melongo. Ia menatap horor pada Zein, sambil menyilangkan tangannya di dada.


"Iih, Kak Zein nyeremin," ujarnya pelan sambil bergidik. "Udah ah, Mima mau keluar aja. Bye," pamit Mima, tentunya masih dengan ekspresi yang sama.


"Bye. Hati-hati, Beib. Ingat pesan kakak ya. Jangan terlalu jauh."

__ADS_1


Zein terkekeh membayangkan ekspresi Mima. Padahal jelas-jelas ia asal menduga saja.


_bersambung_


__ADS_2