Lingkaran Cinta Cucu Sultan

Lingkaran Cinta Cucu Sultan
posesif


__ADS_3

Jeff melangkah lebar memasuki lobi kantor dan menuju lift eksekutif. Ketika pintu lift terbuka, Jeff dikejutkan dengan kemunculan Zein yang tak terduga. Pria itu memaksakan senyum semanis mungkin pada Zein yang berekspresi tak bersahabat. Namun begitu, Jeff memberanikan diri menyapa teman sekaligus atasannya tersebut.


“Kau mau kemana, Zein?” tanyanya sekedar basa-basi.


“Kau bertemu Mima?” tanya Zein to the point dan terdengar dingin. Seakan sengaja menghalangi langkah Jeff yang hendak memasuki lift, Zein berdiri tepat di hadapan pria itu dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku.


“Mima? Mima yang mana? Oh, jangan bilang kau kenal dengan Mima yang-.” Selain menggantung kalimatnya, Jeff juga berpura-pura tidak mengetahui siapa Mima yang dimaksud Zein.


“Aku tanya sekali lagi. Kau bertemu Mima?” tanya Zein datar dengan sorot mata yang menajam.


“Iya. Tadi di coffee shop.” Jeff mencoba untuk menyembunyikan rasa gugupnya. Entah mengapa ia merasa Zein sedang mengintimidasinya dengan tatapan tajam seakan sengaja diarahkan.


“Apa kau coba mendekatinya?” todong Zein.


“Ti-tidak juga. Aku hanya mengajaknya berkenalan karena dia can-, maksudku menarik. Tidak biasanya aku melihat orang asia di tempat itu. Jangan khawatir, aku hanya memesan satu cangkir kopi yang cepat-cepat kuhabiskan. Tadi mataku agak ngantuk, itu sebabnya aku ke-.”


“Aku tidak peduli apa yang kau lakukan selama itu tidak berhubungan dengan wanitaku. Ku ingatkan kau kali ini saja, jangan mengganggu wanitaku. Camkan itu,” tegas Zein.


Ekspresi wajah Zein seakan menghipnotis Jeff yang refleks mengangguk sembari berkata, “Tentu. Aku ini temanmu. Mana berani aku mengganggu apalagi mengambil wanitamu.”


Jeff merasa lega ketika Zein  berlalu dari hadapannya. Pria itu sempat menatap punggung Zein yang kini sedang menelpon seseorang.


“Maaf Zein, kali ini aku membangkang. Mima itu seperti magnet. Pria sedingin kau saja bisa tertarik, apalagi aku,” ucapnya pelan yang diikuti sebuah seringaian.


Jeff melanjutkan langkahnya. Akan tetapi lagi-lagi ia dikejutkan oleh seseorang yang keluar dari dalam lift itu. Dia adalah Emma. Wanita itu nampak kesal dengan tatapan yang langsung tertuju pada langkah Zein.


“Kau kenapa? Wajahmu jelek kalau ditekuk begitu,” ucap Jeff setengah bercanda.


“Kalau aku jelek, apalagi kau,” timpal Emma ketus.


Emma membalikkan badannya dan kembali menuju lift. Cepat-cepat Jeff mengikutinya dan bersama-sama masuk ke dalam lift eksekutif.


“Hei. Aku hanya bercanda. Memangnya kau kenapa? Zein membuatmu kesal?” tanya Jeff yang terlihat lebih hati-hati memilah kata yang akan diucapkan.


“Dia itu kenapa sih?” 


“Mana aku tahu,” timpal Jeff cepat.


“Ish. Kau ini.” Emma membulatkan mata sembari berkacak pinggang. Ia sudah kesal dengan sikap Zein yang semena-mena, kini Jeff pun bersikap seakan mengejeknya.

__ADS_1


“Maaf, maaf, maaf. Maksudku, aku tidak tahu Zein kenapa,” ralat Jeff sembari nyengir kuda.


“Kau tahu, dia yang menjanjikan akan ada rapat sebentar lagi. Tapi kemudian saat aku kembali ke ruangan itu, dia berlalu sambil mengatakan rapat ditunda besok pagi. Why? Sepuluh menit lagi, dan aku harus menghubungi klien untuk meminta maaf. Oh My Goodness!” 


Pintu lift terbuka. Emma melangkah lebar menuju ke ruang rapat dengan tangan yang terkepal. Sementara itu Jeff masih mengikutinya sambil menggaruk tengkuk.


“Ini pasti gara-gara semut itu,” geramnya.


“Semut?”


“Iya. Mima itu seperti semut. Kecil, tapi terus menggerayangi dan untuk membuat orang itu merasa terganggu. Menyebalkan,” umpatnya sembari memukul meja dengan tangan yang terkepal.


Jeff menyeringai tipis. Didekatinya Emma. Jeff melingkarkan tangan di pinggang Emma, kemudian mencium lembut ujung salah satu pundaknya.


“Mau kubantu menyingkirkan semut itu dari Zein?” ucapnya pelan.


Emma menoleh sambil menyeringai sinis.


“Akan kulakukan secepat mungkin, tapi tentu tidak gratis. Bagaimana?” tanya Jeff dengan tatapan menggoda.


“Baiklah. Kita akan bersenang-senang. Tapi penuhi ucapanmu.”


Jeff melepaskan lingkaran tangannya. Pria itu berlalu tanpa mengucapkan apapun lagi. Ia tak menyadari, kesannya pada Mima membuat Emma semakin muak, dan geram.


“Dasar pengganggu,” umpatnya lagi.


Di tempat lain ….


Mima merasa heran sekaligus senang mendapati Zein mengajaknya untuk melihat beberapa universitas yang ada di kota itu. Sejak tadi, tatapannya tak lepas dari layar ponsel yang memuat beberapa artikel tentang universitas yang akan mereka kunjungi.


Mereka tiba di kampus pertama yakni New York University (NYU). Salah satu universitas yang terkenal tidak hanya di USA, tapi juga di dunia. Kampus ini tentunya memiliki beberapa jurusan menarik dan tentunya populer di kalangan mahasiswa. Salah satunya law and legal studies. Jurusan ilmu hukum yang tentunya diimpikan Mima.


“Woah! Nggak nyangka aku ada di sini, di kampus ini. Oh My God!” Mima terpana akan bangunan kampus yang megah dan juga pemandangannya. Kedua matanya berbinar menatap ke setiap sudut tempat itu dan dengan semangatnya melangkah ke bagian dalam kampus tersebut.


“Kak. Aku mau kuliah di sini?” pintanya dengan raut wajah senang.


“Boleh. Nanti kakak diskusikan sama papi.” 


“Ke dalam yuk!” ajaknya.

__ADS_1


Zein mengiyakan dengan anggukan. Pria itu berjalan mengikuti langkah Mima sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. 


Tatapan Zein tak lepas dari sosok wanita muda yang sudah berstatus istrinya tersebut. Senyum di wajah Mima, membuatnya merasa hangat dan ikut merasa bahagia.


“Mima. Perhatikan jalannya, Sayang.”


Belum kering bibir Zein, tiba-tiba saja ….


Brugh.


Mima hampir saja terhuyung karena bertabrakan dengan seorang mahasiswa. Zein bergerak cepat untuk menahan tubuh Mima agar tak jatuh, tapi rupanya kalah cepat dengan gerakan mahasiswa tadi yang memang berada sangat dekat dengan Mima.


“Are you okay?” tanya mahasiswa itu.


Mima mengangguk sambil tersenyum kikuk. Ia merasa malu karena ceroboh dan hampir saja terjatuh. Mima berdiri tegap sambil merapikan rambutnya.


“Aku minta maaf,” ucap mahasiswa itu. “Ben,” sambungnya sambil menyodorkan tangan.


“Mima.”


“Mima, senyummu manis sekali. Senang bertemu denganmu. Maaf aku harus pergi. Bye, Sweety.” Ben pergi sambil melambaikan tangannya. Mima refleks membalas lambaian tangan Ben dengan wajah yang sumringah. Akan tetapi kemudian ….


“Aww! Sakit, Kak. Telinga Mima jangan dijewer,” ringisnya sambil memegangi tangan Zein yang menjewer telinganya.


Zein menjauhkan tangannya dari telinga Mima. Pria itu menarik lengan Mima menuju keluar area kampus.


“Kak Zein, aku mau kuliah di sini,” rengeknya. “Kak Zein. Aku gigit nih tangannya,” ancam Mima sembari mengangkat tangan Zein yang mencengkram tangannya dan mendekatkan pada mulut.


Langkah Zein terhenti, dan tanpa diduga berkata, “Gigit aja. Kalau masih kurang puas, nih. Gigit bibir kakak.”


“Iih ngapain gigit bibir segala?” protes Mima sambil mendelik.


“Beib. Kalau mata kamu nakal, aku nggak akan izinkan kuliah di sini. Kalau perlu dimanapun nggak akan kuizinkan. Udah, diam aja di rumah,” nada suara Zein terdengar tegas. Tapi tatapannya tak bisa menajam pada Mima. Tatapan itu justru terlihat seperti seseorang yang sangat mendamba.


“Aaah, Kak Zein gitu. Papi …. Kak Zein-nya nih.” 


Zein merengkuh pundak Mima. Sikap Mima yang manja justru membuat Zein merasa gemas dan susah payah menahan keinginan untuk ‘menerkam’nya.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2