Lingkaran Cinta Cucu Sultan

Lingkaran Cinta Cucu Sultan
Kingkong vs Mumi


__ADS_3

Happy reading ....


"Queen? Kamu kenapa?"


Pertanyaan Meydina membuyarkan ketertegunan Queena. Entah sejak kapan Meydina ada di sana. Queena terlihat salah tingkah sambil mengingat kembali tujuannya datang ke kamar itu.


"Itu, Auntie. Mmm apa ya tadi?" cengir Queena. Meydina mengerutkan kening sambil mengulumkan senyum.


"Oh iya! Ada Uncle Aldo di bawah. Mau ketemu Auntie. Sama ... Queen mau pulang. Udah sore," ujar Queena yang masih terlihat salah tingkah."


Meydina terkekeh pelan dan mengangguk. Saat Queena pamit ke luar, Meydina memanggilnya.


"Ada apa, Auntie?"


"Queen, boleh auntie tanya sesuatu?" Meydina mendekati, lalu menggenggam tangan Queena.


"Pasti boleh dong," sahut Queena mencoba terlihat santai.


"Queen ada perasaan sama Zein, nggak? Auntie lihat sekilas, tadi ...."


"Kakak Zein itu sudah seperti kakak bagi Queen, Auntie. Seperti Amar. Cuma ya ... jujur sih, kakak perfect. Sebenarnya sih, Amar juga. Hehe. Queen 'kan jadi kagum, sekaligus bangga punya saudara seperti Kakak Zein dan Amar. Cuma gitu aja kok, nggak lebih," kilah Queena.


"Benar hanya sebatas itu?" tanya Meydina dengan tatapan menyelidik dan diangguki oleh Queena.


Meydina menghela napasnya sambil berucap, "Syukurlah. Auntie takut sekali kalau sampai kamu merasa sakit hati dengan semua ini."


"Iya sih sakit hati," keluh Queena pelan, dan Meydina soktak terkejut.


"Tuh, tadi katanya?"


"Queen sakit hati karena jadi orang terakhir yang tahu tentang acara malam ini. Kok nggak ada yang ngasih tahu Queen sih?" gerutu Queena.


"Mommy kamu nggak bilang?" tanya Meydina.


"Enggak," geleng Queena dengan raut wajah manja.


"Mmm, Auntie minta maaf ya. Acara malam ini memang mendadak. Tadinya surprise buat Zein sama Mima. Tapi kata Oma Resty lebih baik ditanya dulu mau apa enggak. Biar nggak ada yang kecewa," tutur Meydina.


"Kakak Zein pasti mau, Auntie. Mima itu cantik alami, polos, periang, dijamin deh hidup Kak Zein nggak akan ngebosenin," kelakar Queena.


"Wah, ternyata kamu sepemikiran sama auntie. Semoga mereka cocok ya," ujar Meydina senang.


"Pasti cocok auntie. Mima itu pasangan yang pas buat Kak Zein." Untuk lebih meyakinkan, Queena mengangkat ibu jarinya.


Meydina merasa lega karena perkiraannya ternyata salah. Digandengnya tangan Queena dan berjalan meninggalkan kamar. Meydina menceritakan rencana malam ini dengan raut wajah yang bahagia. Queena pun mendengarkan sambil memaksakan senyuman.

__ADS_1


Sementara itu di kediaman Evan ....


Suasana rumah itu seketika berubah sejak kedatangan Mima. Di kamar King, gelak tawa serta pekikan terdengar dari pintu kamar yang terbuka. King dan Mima sedang bermain game playstation kesukaan mereka. Suasana berubah menegang ketika King tak terima Mima yang menang.


"Lo jangan licik dong, Mumi! Lo itu harusnya-."


"Kalah ya kalah aja, Kingkong. Lo kan emang selalu kalah dari gue, wlee!"


"Aaah, enggak. Kali ini lo licik!" Pekikan King yang kesal berbanding terbalik dengan sorak kemenangan Mima.


"Itu tuh bukan licik, tapi cerdik. Masa lo gitu aja nggak ngerti? Ibarat dalam cerita ... jangan jadi buaya, tapi jadi kelinci. Lo nggak akan menang dari Mima, karena lo b*nci. Hahaha!" Gelak tawa Mima terdengar hingga ke ruang keluarga.


Riky terkekeh menanggapi pantun putrinya, sementara Alena salah tingkah karena tak enak hati pada Laura. Tak lama kemudian Mima dan King saling berkejaran di tangga, membuat Evan sampai mengelus dada karena khawatir salah satu dari mereka ada yang terjatuh.


"Udah dong, Mima. Minta maaf sama King," pinta Alena.


"Apaan mami? Aku nggak salah kok. King tuh yang b*nci, nggak mau ngaku kalah," gerutu Mima.


"Enak aja. Gue bukan b*anci, Mumi!"


"Oh ya? coba gue lihat ketek lo."


King yang saat ini mengenakan kaos tanpa lengan spontan mengangkat salah satu lengannya.


Riky terbahak begitu juga dengan Evan. Sementara itu King semakin kesal dan kembali mengejar Mima sampai ke luar rumah.


Selalu seperti itu. Bila bertemu dengan King, Mima selalu bisa membuat sepupunya itu kesal. Tapi jika lama tidak bertemu, mereka selalu saling menanyakan.


"Kak Arka!" pekik Mima saat melihat Arka yang mengendarai motor memasuki halaman rumah. Menyusul dibelakangnya mobil Queena.


"Kena, Lo!" sergap King saat pandangan Mima teralihkan.


Tak mau kalah, Mima yang memang mengikuti kelas taekwondo itu pun balik mengunci pergerakan King dan menarik lengannya.


"Aduh-aduh, Mumi. Ampun!" pekik King saat Mima tak membiarkannya bergerak.


"Kalian kapan akurnya sih? Tiap ketemu berantem mulu," ujar Arka sambil berjalan mendekati setelah motornya terparkir.


"Tahu nih kingkong malu-maluin. Kalah mulu." Mima kemudian bertos ria dengan Arka.


"Gue itu ngalah, Dodol," ujar King sambil berniat menoyor kepala Mima namun meleset karena ditepis tangan Arka yang merengkuh pundak Mima.


"Lo itu yang dodol. Gue tungguin di bengkel nggak datang-datang. Katanya pulang sekolah mau ke sana," gerutu Arka.


"Hehe, tadi ke resto karena ada Mumi. Jadi lupa deh," sahut King sambil menggaruk tengkuknya.

__ADS_1


"Berhenti manggil mumi, King. Nanti ada yang marah lho," seloroh Queena yang mendekati mereka.


"Kapan datang, Kak?" tanya Arka pada Queena.


"Kemarin sore," sahut Queena sambil tersenyum.


"Paling juga Kak Arka yang marah. Udah biasa aku ditimpuk sama dia. Emang nih dua orang, bisanya KDRT. Gue KDRW baru nyaho," kelakar King.


"Yee, lo KDRW aja belagu. Gue KD-nya Raul Lemos, biasa aja tuh," seloroh Mima menaggapi kelakaran King.


"Itu b*ni orang, Mima," celetuk Arkana sambil mengacak kasar rambut Mima.


Mima langsung berlagak memposisikan kepalan tangannya di dekat mulut dan bernyanyi, "Menghitung hari ...."


"Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu itu nama-nama hari," sambung King dengan gaya rocker-nya.


"Rajin belajar, lo nggak pintar-pintar. Emang dasar kingkong, bodonya kebangetan," balas Mima sambil menirukan gaya King.


"Ah! Sialan, Lo! Gue lagi 'kan yang kena," umpat King sambil bersiap menjitak kepala Mima.


Mima berlari cepat ke dalam rumah, dan disusul King yang juga berlari mengejarnya. Arkana terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala. Saat menyadari Queena tertegun menatap ke arah pintu, Arkana pun bertanya, "Kenapa, Kak?"


"Nggak apa-apa. Yuk, masuk! Kamu nggak akan pakai baju model begitu kan buat acara nanti malam? Masa iya, Mommy-nya designer ternama, anaknya pake celana aja sobek-sobek," canda Queena.


"Ini lagi trend, Kak," kilah Arka. Kemudian ia pun bertanya, "Memangnya nanti malam ada acara apa, kok harus pakai baju rapi?"


"Mima 'kan mau tunangan. Masa kamu juga nggak tahu?"


"Memang nggak tahu. Ah nggak mungkin. Sama siapa, Kak? Setahuku yang mau tunangan itu ... Kak Zein."


"Nah, itu tahu."


Arkana tertegun sesaat mencoba mencerna ucapan Queena.


"Tunggu sebentar. Jadi, maksud kakak nanti malam itu tunangannya Kak Zein sama Mima?"


"He-em," angguk Queena.


"Masa sih?" gumam Arka.


Arka mengikuti langkah Queena masih dengan raut wajah yang bingung. Saat melihat keceriaan Mima yang masih asik mengganggu sepupunya, entah mengapa ia merasakan sesuatu yang berbeda. Sekali lagi ia menatap Mima dan kini gadis yang selalu mengganggu pikirannya itu sedang tergelak.


Sebahagia itukah Mima menghadapi pertunangannya dengan Zein yang sudah di depan mata?


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2