
Happy reading ....
Tawa renyah yang sedari tadi didengarnya, mulai menarik perhatian Zein. Tawa itu milik Mima, gadis kecil berwajah imut dengan gayanya yang ceria. Sejak saat itu, Zein mulai memperhatikan Mima setiap kali ia pulang dan ada acara kumpul bersama.
Zein tidak menyadari kapan tepatnya benih cinta itu ada. Setiap kali Meydina memperkenalkannya pada seorang wanita, sosok Mima yang menjadi tolak ukurnya.
Mima yang manis, ceria, dan juga manja. Zein mulai menyadari sosok seperti itu yang dibutuhkan untuk mengisi hari-harinya yang melelahkan. Dan selama ini, dari sekian wanita yang dikenalkan padanya tidak ada yang seperti Mima.
Sosok Zein yang dielu-elukan sebagai pengusaha muda dan jadi idaman kaum hawa, nyatanya tidak memiliki cukup percaya diri untuk menyatakan perasaannya pada seorang Mima. Terbukti sampai saat ini, Zein hanya bisa mengagumi Mima di dalam hatinya.
Buat apa punya pacar? Kepo doang. Udah makan belum? Kamu lagi apa? Udah mandi belum? Iiih, aku sih ogah digituin. Udah cukup ya papi sama mamiku yang begitu. Pacar? No!
Zein pernah secara tidak sengaja mendengar ucapan Mima pada Queena dan Fatima. Gadis itu tidak menyadari ada yang senang mendengar ucapannya tersebut.
Tok ... tok ...tok.
Suara ketukan itu membuyarkan lamunan Zein yang sedari tadi berdiri menatap ke luar kamar dari balik jendela. Zein menoleh dan terlihatlah Fatima yang menyembulkan kepala sambil bertanya, "Kak, udah siap belum?"
Fatima masuk dan menghampiri Zein, kemudian menggandeng tangannya. "Ayo, Kak! Semua udah nunggu dari tadi," ajaknya.
"Fatum, kakak belum bawa ponsel sama dompet," ujar Zein sambil menunjuk pada nakas.
Fatima berjalan cepat mengambil ponsel dan dompet Zein, lalu memberikannya pada sang kakak. Ia kembali menggandeng Zein dengan raut wajah yang bahagia.
Sejak Fatima duduk di bangku SMA, ia tidak ingin lagi dipanggil 'baby' oleh Zein. Fatima pernah ditertawakan teman-temannya saat mendengar panggilan Zein padanya.
Fatima langsung memesan tiket saat mengetahui keputusan Zein yang akan menikahi Mima, dan baru semalam tiba di rumah. Sedangkan Resty dan Bram harus absen dari acara Zein hari ini. Kondisi Bram pasca operasi tidak memungkinkan untuk bepergian terlalu jauh.
Tidak hanya Fatima. Alvin juga langsung merencanakan kepulangannya saat mengetahui Zein dan Mima akan menikah. Tidak hanya sendiri, Alvin membawa serta beberapa kerabat mendiang Salman bersamanya.
Dan saat ini, Alvin sedang menatap wajah sendu putrinya dari ambang pintu kamar Queena. Ia melangkah mendekati Queena yang sedang merias diri, tapi terlihat sedikit muram.
"Princess daddy jangan sedih gitu dong," ujar Alvin sambil mengusap pundak Queena.
"Aku nggak sedih kok, Dad," kilah Queena sambil merapikan kembali riasannya.
"Maafkan daddy ya, Sayang," ujar Alvin pelan sembari mengecup pucuk kepala Queena.
"Aku nggak apa-apa, Dad. Zein memang suka sama Mima. Mereka pasangan yang cocok, bisa saling melengkapi," ujar Queena sambil tersenyum tipis. Gadis itu tidak ingin ayahnya merasa bersalah.
__ADS_1
Alvin sudah lama mengetahui putrinya mencintai Zein. Tapi ia meminta Queena untuk membuang jauh perasaan itu. Mungkin terdengar tidak manusiawi. Tapi Alvin punya alasannya sendiri.
Alvin tidak ingin Queena menjadi gunjingan di keluarga Salman. Ia cukup tahu diri, dan sangat mengetahui perangai sebagian besar keluarga itu.
Jika bukan karena kasih sayangnya pada Meydina dan Zein, sesungguhnya Alvin tidak ingin berada di posisinya saat ini. Menduduki posisi tertinggi di Al-Azmi Corp. atas permintaan Zein Maliek Bramasta.
Anak dan cucu dari kerabat Salman tidak menerima begitu saja saat mengetahui Alvin yang duduk di posisi itu. Alvin bukanlah siapa-siapa di keluarga Al-Azmi. Tapi bagi Zein, Alvin tetaplah daddy-nya. Dan bagi Alvin, Zein sudah seperti putranya sendiri. Biarlah hubungan mereka sebatas itu. Alvin tidak ingin menjadikan Zein sebagai menantu.
"Kamu akan menemukan pria yang cocok, Sayang. Dia akan mencintaimu tanpa syarat. Daddy yakin kebahagiaanmu bukan bersama Zein," ujar Alvin.
"Iya, Dad. Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Aku bahagia untuk mereka," ujar Queena sambil beranjak dari kursi rias dan menghadap pada Alvin.
"Thank you, Sayang," ujar Alvin lembut pada Queena yang memberinya anggukan pelan.
"Keluar sekarang?" tanya Alvin, dan kembali diangguki oleh Queena. Ayah dan anak itupun berjalan bergandengan ke luar dari kamar.
"Aku nggak mau pakai ini. Mami, ini berat. Nggak bisa ngedip nanti." Rengekan Mima yang terdengar hingga keluar dari kamar menghentikan langkah Alvin dan Queena.
Queena mengulumkan senyum, begitu juga dengan Alvin. Keduanya saling menatap dan sepakat melihat sebentar ke kamar Mima. Putri Riky itu rupanya tidak mau memakai bulu mata palsu juga lensa kontak. Mima tidak terbiasa, karena benda-benda itu justru membuatnya kurang percaya diri.
"Dad, kakak Zein udah datang!" seru King dari arah tangga. Tanpa menunggu jawaban Alvin, King kembali berlari menuruni tangga.
"Mima, mereka sudah datang. Ayo cepat selesaikan, Sayang!" bujuk Alvin.
"Anggap aja latihan. Jadi nanti kalau Zein maksa, kamu udah biasa. Tinggal pasrah," sahut Alena setengah menggerutu.
Alvin terkekeh pelan melihat tatapan horor Mima. Direngkuhnya pundak Queena sambil pamit pada Mima, "Kami tunggu di bawah ya, Sayang."
"Siap, Uncle," sahut Mima riang.
Alena menatap putrinya sesaat, tapi rupanya tatapan itu disadari Mima yang langsung melontarkan pertanyaan pada maminya, "Kenapa, Mi?"
"Kelihatannya kamu bahagia. Nggak ada terpaksanya sama sekali," ujar Alena pelan.
"Memangnya nggak boleh ya, Mi? Aku tuh sebenarnya sedih lho, sebentar lagi jauh dari mami sama papi. Tapi juga senang karena bisa kuliah di luar negeri. Yaa walaupun ada takutnya sedikit," ujar Mima dengan mimik wajah menerawang.
"Takut kenapa? 'Kan ada Zein," tanya Alena penasaran.
"Justru karena itu aku takut, Mi," sahutnya polos.
__ADS_1
"Hehe, takut diterkam Zein ya?" goda Alena sambil merapikan riasan putrinya.
"Iya. Aku juga belum mau punya baby, Mi."
Gerakan tangan Alena sontak berhenti. Alena terkesiap mendengarnya. Ia merasa dejavu. Ingatannya kembali ke 22 tahun yang lalu.
Alena melihat gambaran dirinya pada diri Mima. Bahkan mereka sama-sama menikahi pria yang usianya jauh lebih tua. Bedanya, ia dan Riky menikah karena saling mencintai. Jadi rasanya wajar jika Mima yang menikah karena dijodohkan punya keinginan seperti itu.
"Kamu bilang sama Zein. Mami yakin dia akan mengerti," saran Alena dengan suara pelan.
"Gitu ya, Mi. Kalau aku bilang belum mau m*king love, Kak Zein akan ngerti nggak, Mi?" tanya Mima setengah berbisik.
"Ya nggak bisa gitu dong, Mima," sahut Alena yang mulai merasa gemas ingin mencubit pipi Mima.
"Eh, malah ngobrol. Itu calon di bawah dianggurin," ujar Widiya yang masuk ke kamar itu. Widiya mendekati Alena dan Mima yang berdiri di dekat meja rias.
"Cantiknya cucu oma," puji Widiya dengan sorot mata berbinar.
"Siapa dulu maminya," sahut Alena.
"Siapa dulu dong omanya," timpal Widiya dan Mima bersamaan dengan riang.
Alena mendelik dengan wajah yang ditekuk. Widiya terkekeh pelan sambil merengkuh pundak Alena dan kemudian mencium pipi menantunya tersebut. Alena tersenyum lebar dan merentangkan sebelah tangannya meminta Mima bergabung bersama mereka. Mima menghampiri dengan wajah haru dan memeluk Alena.
"Aku bakal kangen sama kalian," ujarnya pelan.
"Apalagi kita ya, Ma?" Widiya mengiyakan dengan anggukan cepat.
"Udah, jangan sedih-sedihan. Nanti make up-nya luntur. Bukannya cantik, malah nyeremin. Bisa-bisa pada kabur semua," seloroh Widiya.
"Ih, Oma. Aku sedih beneran," gerutu Mima.
"Iya, Sayang. Kami mengerti. Tapi sedihnya disimpan dulu aja ya. Sekarang, ayo kita turun! Sebelum ada yang teriak-teriak manggil kita," ujar Widiya sambil menggandeng tangan Mima, dan di sisi lain digandeng Alena.
"Nggak akan ada yang teriak, Ma. 'Kan dia yang suka teriak-teriaknya," tunjuk Alena pada Mima.
"Oh iya-ya. Lupa." Mima mendelik horor pada Widiya yang menepuk keningnya, lalu berganti menoleh pada Alena yang terkekeh pelan sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Iih, mami sama oma kok gitu sih?" rengek Mima kesal.
__ADS_1
"Enggak sayang, becanda. Maaf ya." Widiya mengusap-usap dada Mima dengan gerakan mata memberi isyarat pada Alena yang masih terkekeh agar secepatnya diam.
_bersambung_