
“Beib, kenapa? Bad mood gitu?” tanya Zein sembari merengkuh mesra pundak Mima. Zein sengaja membawa Mima menyusuri Fifth Avenue, salah satu nama jalan yang terkenal dengan pusat perbelanjaan bergengsi di sana. Namun sepertinya Mima tidak tertarik dengan brand ternama yang berjejer hampir di sepanjang jalan tersebut. Raut wajahnya terlihat malas dengan langkah yang dipaksakan.
“Kita ke taman aja, yuk!” ajaknya.
“Oke. Tapi beli dulu sesuatu ya. Masa ke sini nggak beli apa-apa.” Zein mengarahkan langkah menuju toko yang tepat berada di depan mereka.
“Kak Zein mau beli apa?” tanya Mima sambil celingukan.
“Kamu yang pilih, Mima. Aku yang bayar.”
“Enggak ah,” geleng Mima malas.
“Pilih satu aja. Setelah ini kita ke taman,” bujuk Zein setengah memaksa.
Mima melihat-lihat beberapa barang yang ada di sana. Tas, dompet, dan aksesoris lain tersedia di sana.
“Ini,” tunjuk Mima bersamaan dengan suara seorang pria. Sebuah tas dengan model yang nyentrik dipilih asal oleh Mima karena ingin segera meninggalkan tempat itu. Mima menoleh, begitu juga Zein yang sedang melihat-lihat barang lain.
“Untukmu saja,” ucap pria itu.
“Eh? Tidak, terima kasih. Kau saja,” tolak Mima sambil memaksakan senyum.
Pria itu kembali menolak, begitu juga Mima. Mereka berdua bergantian saling tunjuk tas branded yang ada dalam etalase tersebut.
Sikap keduanya membuat pelayan toko yang berdiri tak jauh dari mereka tersenyum masam. Sementara itu Zein yang menyadari tatapan pria tadi berbeda pada Mima, menghampiri dengan raut tak suka.
“Kau yakin aku boleh memilikinya?” tanya Mima datar sembari menatap tas dan pria itu bergantian.
“Tentu,” sahutnya sambil tersenyum tipis.
“Terima kasih. “ Mima menoleh pada Zein sambil tersenyum. Pelayan toko mengeluarkan tas itu. Tapi kemudian mereka dibuat terkejut ketika tiba-tiba saja ada yang mengambil tas itu sambil berkata, “Sayang. Aku pilih yang ini. Terima kasih. Ini unik, dan modelnya tidak pasaran.”
Pria itu tersenyum masam. Ia merasa malu pada Mima.
“Jangan bilang kau juga mau. Lihat ini, harganya hampir dua ribu dolar,” ucap wanita itu dengan mimik angkuh sambil memperlihatkan label harga pada Mima.
__ADS_1
Mima tersenyum masam, sementara Zein menyeringai dengan raut jengah. Zein melingkarkan tangannya di pinggang Mima dan memintanya meninggalkan pasangan itu. Mima menurut sambil merengek minta segera pergi, namun sepertinya Zein bersikeras ingin membelikan sesuatu untuk Mima. Zein memanggil pelayan dan minta dibungkuskan tas yang ditunjuknya asal. Bersamaan dengan itu, pasangan tadi berjalan mendekati kasih.
“Aku minta maaf untuk yang barusan,” ujar pria itu pada Mima.
“Tidak apa. Bukan masalah sama sekali,” ucap Mima yang kemudian tersenyum masam pada kekasih pria itu.
“Tiga ribu sembilan puluh dolar, Tuan,” ujar kasir pada Zein.
Harga yang terbilang fantastis untuk sebuah tas, dan mampu membuat wanita tadi menganga tak percaya saat Zein memberikan black card-nya pada kasir.
“Terima kasih, Tuan. Silahkan datang lagi di lain hari,” ucap kasir sembari menyodorkan paper bag berisi tas pilihan Zein. Zein menjinjing paper bag itu dan melangkah pergi sambil menggandeng Mima.
Di luar ….
“Kak, nggak salah beli tas semahal itu?” tanya Mima sambil menoleh pada Zein yang menatap lurus ke depan. Saat ini mereka sedang menuju ke tempat di mana mobil Zein terparkir.
“Nggak mahal, Sayang. Cuma tiga ribu,” sahut Zein enteng.
“Mahal laah, tiga ribunya dalam dolar bukan rupiah,” gumam Mima.
“Udahlah, kenapa juga kamu pikirin. Sekarang kita kemana? Central Park?” tanya Zein sambil membukakan pintu mobil untuk Mima dan diangguki cepat oleh istrinya tersebut.
“Bagus juga,” gumamnya dan membuat Zein tersenyum tipis.
“Ternyata Kak Zein pinter belanja,” sambung Mima yang mengangkat handbag itu dengan menjinjingnya sambil membolak-balik di udara.
“Oh ya? Aku baru tahu loh kalau aku ternyatajago belanja. Padahal aku tadi asal ngambil. Lain kali aku belanja pakaian dalam kamu deh. No b*a udah tau, tinggal size underwear. Size-nya apa, Beib? S, M, atau … kayanya masih ‘S’ deh,” ucap Zein dengan gaya seakan-akan ia memang ahli dalam menebak.
Walaupun hanya asal tebak, nyatanya tebakan itu membuat Mima menatap horor pada Zein.
“Kak Zein tau dari mami ya?” todongnya.
“Eh, aku? Ya enggak lah. Malu dong nanyain begituan ke mami.”
“Terus, kok bisa tau?” Tatapan Mima masih saja penuh curiga pada Zein. “Kakak bukan ped*fil ‘kan?” tanyanya ragu.
__ADS_1
“Tau aja. Tapi instingku ini cuma buat kamu, Beib. Aaarrrrgh!” ujar Zein sambil berlagak seakan mau menerkam Mima dengan nada suara meninggi. Mima terkejut dan sontak memukulkan tas yang dipegangnya ke wajah Zein.
“Aaww!” pekik Zein pelan sambil menutupi wajahnya.
“Eh? Maaf, Kak. Refleks, hehehe,” cangir Mima. “Coba lihat.” Mima meletakkan tas dalam genggamannya, lalu menjauhkan tangan Zein dari wajah.
“Baa!”
“Ish, Kak Zein! Mima pukul lagi nih ya,” ancam Mima sambil mengangkat tangannya. Zein tersenyum tipis melihat wajah Mima yang ditekuk.
“Maaf, Sayang. Aku hanya becanda. Kamu kagetan ya. Nggak lagi-lagi deh. Untung yang dipegang tas, hehehe. Sorry, Beib,” sesal Zein sembari memasang wajah sok imutnya.
“Mima mengulumkan senyum sambil mendelik. Ia merasa kesal sekaligus menyesal atas apa yang dilakukannya barusan.
“Mima yang harusnya minta maaf. Maaf ya, Kak. Sakit nggak?” tanyanya seraya menggerakkan tangannya untuk menyentuh wajah Zein.
“Sakit banget. Aduh, di sebelah sini, Beib. Sakit … kiss dong. Zein berpura-pura meringis sambil menyodorkan pipinya pada Mima.
“Idih, mulai deh modusnya,” delik Mima. Akan tetapi tak ayal diciumnya juga pipi Zein.
“Ini juga,” ucap Zein yang kemudian menyodorkan pipi lainnya. Mima memutar bola mata malas, dan mau tak mau mengarahkan bibirnya yang dikerucutkan ke pipi Zein. Sayangnya, belum sempat bibir itu mendatar sempurna, Zein menggerakkan wajahnya dan justru meraup bibir Mima.
Mima yang tak menduga hal tersebut sontak membulatkan mata. Ia mematung, dan membiarkan Zein menciumnya cukup lama.
Mereka tak menyadari, pasangan di dalam toko tadi melihat dari depan mobil. Si pria menyeringai tipis sebelum berlalu melewati mobil itu. Sementara si wanita mendelik, kemudian masuk ke dalam mobil. Siapa sangka jika mobil yang terparkir di depan mobil Zein ternyata mobil pria tadi. Bunyi mobil itu berhasil membuat Mima tersadar dari keterpakuannya, kemudian mendorong pelan tubuh Zein.
“Ayo ke taman, Kak,” ucapnya pelan sambil mengusap sisa saliva di sekitar bibirnya.
“Oke. Siang ini mau makan apa?” tanya Zein.
“Steak,” sahut Mima pelan.
“Oke. Kukira kamu bakal bilang ‘terserah’,” seloroh Zein.
“Kalau Mima bilang ‘terserah’, terus nanti Kak Zein beliin Mima ayam goreng. Ya nggak mau laah. Mima lagi mau makan steak,” timpal Mima yang membuat Zein mengulumkan senyum. Zein mulai memutar kemudi menuju taman kota yang jadi favorit warga New York City.
__ADS_1
“Ditanya mau beli apa, bingung. Malah nggak mau. Giliran ditanya mau makan apa? Langsung jawab, nggak ada basi-basi sedikitpun. Hehehe, emangnya yang satu ini,” gumam Zein dalam hatinya sambil melirik pada Mima yang sedang memasukkan kembali tas itu ke dalam paper bag. Zein mengulumkan senyum. Rona di wajahnya tak bisa berdusta. Cucu kesayangan Salman Al-Azmi itu sedang jatuh cinta.
Bersambung ….