Lingkaran Cinta Cucu Sultan

Lingkaran Cinta Cucu Sultan
keputusan Zein


__ADS_3

Happy reading ....


Suasana di lantai dua Queen's Resto terasa hangat dengan obrolan ringan yang diselingi kelakaran Rafael dan Riky. Ada saja yang dibicarakan oleh Maliek dan kedua sahabatnya itu. Mulai dari mengenang masa lalu, sampai membicarakan anak-anak mereka. Sepertinya mereka menikmati pertemuan malam ini bagai sebuah reuni.


"Mima mana, Len? Kok lama? Bukannya tadi katanya udah siap?" tanya Laura sambil memposisikan setiap hidangan yang disuguhkan pegawai restonya.


"Jangan tanya Lena deh, Kak. Punya anak satu kok ya musingin banget. Capek," keluhnya.


"Jangan gitu, nanti malah kangen lho," timpal Meydina.


"Iya, Auntie. Raya aja selalu kangen sama kehebohan Mima," ujar Raya sambil tersenyum tipis.


"Iya juga sih. Kamu kapan wisuda, Sayang?" tanya Alena pada Raya.


"Dua bulan lagi, Auntie," sahut Raya.


Putri Rafael dan Alya itu terlihat manis dengan kaca mata yang dikenakannya. Berbeda dengan Nara yang supel, Raya cenderung pendiam. Mahasiswi akuntansi itu lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca buku. Perangainya yang jauh berbeda dengan kedua orang tuanya, sering dijadikan Riky sebagai bahan sindiran pada Rafael yang sangat posesif terhadap putrinya.


"Aya nanti kerjanya diteruskan di perusahaan, 'kan?" tanya Meydina. Saat ini Raya memang sedang magang di Bramasta Corp.


"Inginnya sih kuliah lagi, Auntie," sahutnya pelan.


"Dia ingin kaya Mima, Mey. S2-nya di luar negeri. Tapi ya itu," ujar Alya sambil mendelik pada Rafael.


"Izinin dong, Raf," timpal Riky.


"Enak aja. Memangnya lo ngizinin Mima kalau misalnya dia nggak mau married sama Zein?" tanya Rafael ketus.


"Beda dong. Anak gue kan baru keluar SMA," kilah Riky.


"Terus kenapa lo mau kawinin? Memangnya boleh? Belum 19 tahun, Bro," ujar Rafael.


"Iya nih, Uncle. Kasian Mima," timpal King.


"Kok kasian?" tanya Wira.


"Kalau Kak Zein 'ganas' gimana? Mima kan masih di bawah umur," sahut King dengan percaya dirinya.


"Ganas itu yang gimana sih, King?" tanya Rafael setengah menggoda.


"Heh? Yaa, yang begitu," sahut King gelagapan. Rafael dan para pria pun menertawakan King, kecuali Arkana tentunya.


"Lagian, Kak Zein kenapa mau sama Mumi sih?" gerutunya.


"Ciee, takut kangen ya," goda Rendy. King menanggapinya dengan cengiran.


"Terus ini mau gimana? Tunangan aja dulu, nikahnya tahun depan?" tanya Wira.


"Inginnya sih bulan depan, Om," sahut Maliek.


"Apa? Bulan depan? Yang mau married itu Zein apa lo sih, Liek? Kenapa jadi lo yang ngebet?" tanya Rafael.


"'Kan Mima mau kuliah, gimana sih? Masa iya Zein sama Mima mau kumpul kebo? Maminya nggak akan kasih izin. Iya 'kan, Sayang?" tanya Maliek pada Meydina.


"Gue juga nggak akan ngizinin," timpal Riky cepat, mendahului Meydina.


"Kualat lo, Rik. Ini bos lo, lupa ya?" canda Rafael sambil menunjuk pada Maliek.

__ADS_1


"Itu dulu, Raf. Sekarang dia pengangguran," kelakar Riky.


"Pengangguran banyak duitnya," kekeh Rafael.


"Gimana kalau nikah siri? Yang penting 'kan dihalalin dulu," usul Amiera.


"Setuju," sahut Meydina.


"Kak Mey main setuju aja," protes Alena.


"Tante juga setuju," timpal Nura.


"Setuju aja sih," imbuh Laura.


"Menurut kamu gimana, Queen?" todong Alena pada Queen yang sedari tadi hanya diam.


"I-ya, setuju," sahut Queen tersenyum kikuk.


"Sebaiknya kita tanya Zein sama Mima. Biarkan mereka yang memutuskan," ujar Evan.


"Memutuskan apa, Opa?"


Mereka sontak menoleh ke arah suara. Mima berjalan menghampiri Alena sambil menekuk wajahnya.


"Mami, kenapa aku ditinggal?" tanyanya kesal.


"Salah sendiri kamu lama," sahut Alena santai.


"Duduk di sana Mima, di samping Zein," ujar Nura sambil menunjuk pada dua kursi kosong yang sengaja disiapkan untuk mereka.


Mima menoleh, dan berkata pelan pada Queena yang berada di samping Alena.


Queena menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Mau tak mau Mima pun menurut. Setelah menyapa para orang tua, Zein duduk di samping Mima.


"Tuh, 'kan. Serasi banget," ujar Nura sembari mengacungkan dua ibu jarinya.


"He-em. Coba deh mukanya jangan cemberut Mima. Udah kaya ikan cucut," goda Alya. Mima menggembungkan pipinya sambil menjulingkan mata.


"Jelek," ujar Zein sambil mengusap wajah Mima.


Rafael dan King terkekeh sementara yang lain mengulumkan tawa melihat keduanya. Sedangkan Arkana melemparkan pandangannya ke sembarang arah.


"Oh iya. Tadi pada bahas apaan sih? Mima dengarnya setuju-setuju gitu," tanya Mima penasaran.


Mereka saling pandang satu sama lain. Sepertinya bingung dari mana harus memulai. Tak lama terdengar Evan berdehem. Mereka pun langsung menoleh pada kakek Mima tersebut.


"Begini Zein, Mima.Tadi kami sedang membicarakan usulan auntie kalian, Amiera. Katanya, bagaimana kalau kalian menikah secara siri dulu?" jelas Evan.


Mima melongo melihat kebanyakan dari yang hadir di sana menganggukan kepala. Sementara Zein, belum memperlihatkan reaksi apa-apa.


"Bagaimana, kalian setuju tidak?" tanya Evan.


"Kok siri sih opa? Mima 'kan juga mau mengundang teman-teman," sahut Mima pelan.


"Sayang, itu bisa dilakukan tahun depan. Kita akan gelar resepsi besar-besaran setelah kalian meresmikan pernikahan di pengadilan agama," sahut Laura.


"Menurut kamu bagaimana, Zein?" tanya Evan.

__ADS_1


"Oke," sahut Zein singkat.


"Kak Zein, jangan oke-oke aja dong," protes Mima.


"Lalu kamu mau gimana?" tanya Zein lembut.


Arkana yang semula tak acuh menoleh pada keduanya. Ia cukup mengenal Zein, dan nada suara yang baru saja didengarnya itu terdengar asing di telinga.


"Ayo dong Mima, kamu maunya gimana?" desak Alya seakan sengaja melakukannya.


"Kalau Mima nggak mau sekarang, kuliah juga nggak jadi dong, Mi?" tanya Mima sembari menyondongkan badannya sedikit.


"Iya. Tahun depan aja," angguk Alena.


Mima mendengus kesal dan mendelik pada papinya.


"Setuju ya, Sayang?" bujuk Meydina.


"Iya, setuju aja. Walaupun belum disahkan pengadilan agama, kalian udah sah secara agama. Jadi udah boleh ehem-ehem, ya 'kan?" celetuk Rafael.


"Asik tuh. Mau dong ehem-ehem," seloroh King.


"Dasar anak Alvin," ujar Riky sambil mengacak kasar rambut King. "Sama tuh kaya si Nara. Turunan bapak-bapaknya. Untung anak gue jodohnya bukan anak mereka," imbuh Riky.


"Ya nggak mungkin lah, Uncle. Aku 'kan sama Mima sepupu. Sama Nara juga," sahut King.


"Ya itu untungnya juga. Bayangin kalau kalian bukan sepupu. Berabe, 'kan? Mau nolak gimana, diterima juga gimana?" ujar Riky.


"Kalau sama Kak Arka masih bisa ya, Uncle?" tanya King.


"Nah, kalau Arka bisa banget," sahut Riky asal.


Riky menyadari Zein menoleh padanya, maka ia juga menoleh pada calon menantunya itu. Melihat tatapan Zein yang terkesan dingin, Riky langsung berkilah, "Itu kalau Zein nggak mau. Untungnya lagi Zein mau, hehe. Iya kan, Liek?"


"Mampus, Lo. Turunan singa dibecandain," bisik Rafael sambil terkekeh. Riky mendelik pada Rafael.


"Jadi keputusannya ini gimana? Kalian setuju nikah siri dulu?" tanya Wira.


"Dan kalau setuju, mau kapan?" timpal Maliek.


"Mami berharap secepatnya lho," imbuh Meydina.


"Kalau nikah siri begitu kita hanya perlu manggil ustadz, kan?" tanya Alya.


"Iya," angguk Amiera.


"Itu sih gampang," sahut Alya.


"Tinggal keputusan mereka aja maunya kapan," imbuh Rendy.


Semua tatapan mengarah pada Mima dan Zein, termasuk Queena dan Arkana. Mereka menunggu keputusan pasangan yang bahkan belum bertunangan, tapi sudah ditodong dengan pernikahan.


"Lusa," ujar Zein sambil menoleh pada Mima.


"Lusa! Kakak yang benar dong?" protes Mima sambil memekik.


"Iya, lusa. Aku udah tentukan, lusa kita menikah." tegas Zein.

__ADS_1


Mereka yang ada di sana memperlihatkan ekspresi beragam. Mereka tentu terkejut dengan keputusan Zein yang sangat cepat itu. Rafael bahkan sampai menganga mendengarnya. Sementara Arkana tertunduk lesu sambil menghela napasnya.


_bersambung_


__ADS_2