
Happy reading ....
Sepanjang perjalanan menuju Al-Azmi Corp. cabang New York, Zein mengulumkan senyum mendengar percakapan Mima dengan Riky. Nada suara Mima yang manja membuat Zein merasa gemas. Apalagi mimik wajah yang dibuat-buat itu, aah rasanya ingin sekali mencubit pipi Mima.
"Pi, kapan mau ke sini?" rengek Mima.
"Iih, ngapain Papi ke sana? Papi juga pernah muda, Sayang. Masa iya mengganggu kalian yang lagi bulan madu," sahut Riky di ujung ponsel Mima.
"Apaan sih? Papi jangan ikut-ikutan Mami dong. Aku sama Kak Zein nggak lagi bulan madu, Pi," kilah Mima.
"Terus kenapa nggak bulan madu? Kalian 'kan sudah menikah, sudah sah lho."
"Aah, Papi. Kalau ngomongin yang begitu aku tutup," ujar Mima kesal.
"Tutup aja. Siapa juga yang nelpon?"
"Papi nyebelin!" pekik Mima yang sontak membuat Zein menoleh padanya.
Riky terkekeh mendengar pekikan Mima. Pria itu pastinya sedang membayangkan bagaimana raut wajah putri semata wayangnya. Mima tidak menyadari, justru itu yang dirindukan sang Ayah. Rumah mereka terasa sepi tanpa keberadaan Mima.
"Pi, aku tutup ya."
"Iya, Sayang. Papi juga mau ke kamar mandi dulu. Dari tadi nahan-nahan," sahut Riky.
"Nahan apa?" tanya Mima cepat.
"Nahan rindu sama kamu. Eaa ...," kelakarnya.
"Diih, kangen sama aku kok ke kamar mandi," delik Mima.
"'Kan mau dibuang dulu. Toh nanti juga kerasa lagi. Daripada bikin sakit," sahut Riky.
"Papi ini lagi ngomongin apa sih? Udah sana ah, sebelum Mami sama Oma ikut nimbrung obrolan kita. Nanti aku bisa makin pusing," gerutu Mima.
"Hehe, bukannya kamu yang suka bikin mereka pusing?"
"Papi ...."
__ADS_1
"Becanda. Kesayangan Papi, baik-baik di sana ya. Nurut sama suami," pesannya.
"Iya, Pi. Terus Papi kapan datang ke sini?"
"Yaa kok nanya lagi. Oke deh, Papi usahakan secepatnya. Salam buat anak Papi yang satunya lagi ya."
"Siapa, Kak Zein? Enak aja. Anak Papi cuma aku. Udah ah. Bye, Papi. I miss you," pungkas Mima.
"I miss you too, Sayang." Panggilan pun diakhiri.
Zein menoleh dan langsung bertanya pada Mima yang menekuk wajahnya.
"Kok cemberut, kenapa?"
"Kak. Kalau Papi nggak ke sini, terus aku kapan daftar kuliahnya dong?" tanya Mima sembari merengut.
Zein tersenyum lebar. Mima pun mendelik kesal.
"Kita bisa mendaftar online, Beib. Jangan cemberut begitu dong. Aku gemas lihatnya. Hari ini kamu bisa searching kampus mana yang diinginkan. Setelah itu, kita lihat langsung suasana kampusnya. Dan, setelah kamu klop dengan universitas itu, baru kita daftar. Kalau perlu cari kampus lain sebagai pembanding, biar lebih yakin," usul Zein dengan tatapan tetap fokus pada kemudinya.
Zein dapat melihat senyum Mima dari ujung matanya. Mima kembali ceria dan tanpa basa-basi lagi on the way untuk berselancar si dunia maya.
"Mima, Sayang. Turun dulu, yuk! Nanti dilanjutkan di ruangan kakak," ujar Zein yang membukakan pintu mobil untuk Mima. Zein mengulurkan tangannya pada Mima. Zein berharap Mima menerima uluran tangannya, tapi yang didapatnya justru sebuah sling bag. Zein sempat melongo, kemudian tersenyum geli sembari menggeleng pelan.
Sementara itu, Mima bersikap tak acuh. Ia hanya melirik sekilas dan merasa aneh melihat suaminya menggelengkan kepala. Mima mengangkat bahunya pelan dan kembali larut dalam pencarian di ponselnya.
"Sebentar ya, Beib. Tasnya dipakai dulu. Nggak mungkin 'kan kalau aku yang bawa," ujar Zein sambil meraih tangan Mima, kemudian meletakkan tali sling bag itu di bahu istrinya. Lagi-lagi Zein mengulumkan senyum mendapati Mima menurut dengan raut wajah yang polos.
"Udah, yuk!" Satu tangan Zein menarik pinggang Mima, sementara satunya lagi dimasukkan ke dalam saku celana.
Mima terkesiap dengan perlakuan Zein, raut wajahnya seketika menegang dan mata yang dikedip-kedipkan.
"K-k-kak Zein nggak malu?" tanyanya gugup. Meski Mima terkesan cuek, ia merasa malu jika harus seperti itu di tempat umum.
"Kenapa malu? Kamu 'kan istriku," sahut Zein santai.
Mima berdehem, dan mencoba untuk terlihat santai. Mereka berjalan melewati security yang menyapa dengan hormat. Lalu melewati lobi diiringi tatapan horor beberapa karyawati.
__ADS_1
Saat pasangan itu masuk ke dalam lift, para karyawati itupun langsung berbisik-bisik. Entah semalam mimpi apa, pagi ini mereka melihat bos yang terkenal dingin, dan tidak terdengar menjalin hubungan dengan siapapun itu datang ke kantor bersama dengan wanita muda. Mereka bahkan tak sungkan memperlihatkan kemesraannya.
Tidak hanya para karyawati itu, Emma yang kebetulan ada di ujung lobi bersama seorang rekan kerjanya juga dibuat melongo oleh sikap Zein. Sebuah panggilan telepon mengalihkan tatapan Emma. Wanita itu mengangkat panggilan yang ternyata dari sang atasan.
"Ayo, kita ada rapat," ajak Emma pada Jeff-rekannya setelah menutup panggilan Zein. Rekannya mengangguk dan berjalan beriringan dengan Emma menuju lift.
"Aku tidak menyangka, kemajuan Zein sangat pesat," ujar Jeff dengan seringaian tipis di wajahnya. Emma memutar bola matanya malas mendengar ucapan Jeff.
Jeff merupakan teman sekelas Zein semasa SMA ketika di London. Lulus SMA, Jeff dan keluarganya pindah ke San Diego, California, Amerika Serikat. Jeff sudah bergabung dengan Al-Azmi sejak sepuluh bulan yang lalu.
"Aku ikut denganmu menemui Zein. Bagaimanapun, aku harus menyapa wanita sahabatku," ujar Jeff ketika Emma akan memijit tombol angka yang merupakan lantai gedung di mana ruangannya berada.
"Sahabat? Heh," seringai Emma sinis.
"Yaa setidaknya aku menganggapnya begitu," ujar Jeff santai.
Setibanya di pintu lantai atas, Emma dan Jeff berjalan menuju ruang CEO. Sebelum masuk ke ruangan itu, Emma menuju meja sekretaris yang merupakan meja kerjanya. Emma mengambil beberapa map berisi berkas laporan perusahan selama Zein berada di Indonesia.
Semantara itu, Jeff mengetuk dua kali sebagai formalitas, dan membuka pintu ruangan itu. Namun kemudian cepat-cepat ditutupnya lagi. Jeff menepuk-nepuk pipinya sendiri secara bergantian.
"Kau kenapa?" tanya Emma heran.
"Yang di dalam itu Zein, 'kan?" tanyanya.
"Iya. Memangnya kenapa?" Emma semakin merasa heran. Ia berjalan mendekati Jeff dan akan membuka pintu ruangan itu.
"Jangan," cegah Jeff sembari menghalangi pintu.
"Ada apa denganmu, menyingkirlah. Kalau Zein tahu kita membuat keributan di sini, kita akan dipecat," geram Emma.
"Terserah kau kalau begitu," ujar Jeff pelan dan menjauh dari pintu.
Emma mendelik pada Jeff, dan tanpa pikir panjang memutar gagang pintu. Ketika pintu terbuka, seketika Emma terkesiap.
"Ma-maaf, Tuan," ujarnya pelan dan kembali menutup pintu rapat-rapat.
"Mmmpptt." Jeff menahan tawa melihat raut wajah Emma yang menegang.
__ADS_1
_bersambung_