
Happy reading ....
Sudah jadi rahasia umum jika jalan di kota New York terbilang padat oleh kendaraan dan orang yang berlalu lalang. Entah karena kota itu kota impiannya menimba ilmu, atau memang ada ‘rasa’ yang berbeda jika dibandingkan dengan Jakarta, karena Mima nampak menikmati pemandangan itu. Dengan ditemani segelas latte dingin, Mima duduk di salah satu coffee shop sambil menatap ke luar.
Mima tersenyum tipis sambil melamunkan sesuatu yang entah itu apa. Lamunannya seketika buyar saat seseorang berdehem cukup kencang sambil menarik kursi di depannya.
“Hai. Boleh aku duduk di sini?” tanya orang itu yang merupakan seorang pria.
Mima celingukan untuk melihat apakah di sana semua meja sudah full. Tapi kemudian ia melihat beberapa meja masih kosong, karenanya Mima merasa heran kenapa pria itu ingin duduk bersamanya.
“Silahkan,” ucap Mima pelan dengan ekspresi datar.
Mima tak mau ambil pusing. Ia kembali menatap ke luar dan sebisa mungkin menghindari obrolan dengan orang yang tak dikenal.
“Perkenalkan, namaku Jeff. Tadi aku melihatmu bersama Zein. Kebetulan aku mengenalnya, karena itu saat aku melihatmu duduk di sini, aku ingin menyapa. Siapa namamu?” tanya Jeff.
Mima menoleh saat pria itu menyebutkan nama. Ia teringat nama yang sama diucapkan Zein ketika ada yang membuka pintu pagi tadi.
“Waduh. Mau ditaruh dimana muka gue?” Mima terlihat salah tingkah sambil tersenyum kikuk pada Jeff. Ia merasa malu karena pria itu memergokinya bersama Zein dalam posisi yang tidak seharusnya.
“Namaku Mima,” ucapnya.
“Mima? Nama yang manis, semanis wajahmu,” puji Jeff.
“Kalau aku manis, apa itu artinya kau semut?” tanya Mima asal.
“Eh? Hehehehe ….” Jeff terkekeh mendengar selorohan Mima. Pria itu terkesiap melihat Mima yang justru tak menatap heran padanya.
“Apanya yang lucu?” Mima bergumam, namun masih terdengar oleh Jeff. Pria itu berdehem sambil melengoskan wajah karena malu.
“Maaf. Aku tidak bermaksud menertawakanmu. Hanya saja ucapanmu itu terdengar lucu. Sekali lagi aku minta maaf,” sesal Jeff masih dengan raut wajahnya yang bersemu.
“Tidak apa-apa. Kenapa minta maaf?” tanya Mima datar.
Jeff dibuat ternganga dengan ekspresi dan ucapan Mima. Kesan pertama yang unik menurut dirinya. Tak ada ekspresi ramah, tapi tidak juga sombong. Akan tetapi menyenangkan bisa bertegur sapa dengannya meski rasanya berbeda.
“Emm … Mima, apa kau pacarnya Zein?” tanya Jeff kemudian.
“Bukan,” geleng Mima.
“Lalu kau siapanya Zein?”
“Tebak saja sendiri,” ucapnya sambil menyesap latte.
__ADS_1
“Tidak mungkin adik Zein karena aku mengenal adiknya yang di London. Lalu kalau bukan pacar, apa? Istri juga tidak mungkin. Kau sepertinya masih dibawah umur, dan Zein juga bukan orang yang suka terikat hubungan. Pacaran aja belum pernah, apalagi menikah,” tutur Jeff yang dibalas Mima hanya dengan gerakan pundak yang dinaikkan, serta bibir yang mencebik.
Namun dibalik ekspresi itu, di dalam hati Mima bertanya, “Kak Zein belum pernah pacaran? Masa sih?” Mima masih tidak yakin akan hal itu. Seorang Zein tidak pernah pacaran?
“Beneran nih nggak mau ngasih tau hubungan kamu sama Zein?” tanya Jeff dengan mimik menggoda.
“Cari tau aja sendiri,” sahut Mima cuek.
Jeff tersenyum lebar, kemudian berkata, “Oke. Apa peduliku?”
“Mana aku tahu? Siapa juga yang nanya-nanya,” timpal Mima.
Jeff tak bisa lagi bersikap sok jaim (jaga imej). Pria itu terkekeh seakan tidak peduli sekalipun Mima menganggapnya aneh. Kekehan Jeff baru berhenti saat ponsel Mima berdering.
“Iya, Kak?”Mima menerima panggilan Zein.
“Kamu di mana, Beib?”
“Aku di coffee shop.”
“Sendiri?”
“Enggak juga.”
“Sama siapa?” Zein sepertinya tidak suka mendengar hal itu.
“Huft. Kirain kamu kenalan sama cowok di sana.” Nada suara Zein terdengar lega.
“Ngapain aku kenalan sama cowok? Kalaupun ada juga cowok yang ngajak kenalan aku. Kak, kapan nyari universitasnya? Aku bosen ….”
“Setelah rapat kakak selesai, Wifey. Sabar ya, nggak sampai dua jam. Kakak janji akan nemenin kamu seharian.”
“Oke. Aku nunggunya di sini aja ya. Eh, enggak deh. Nanti mau ke taman.”
Jeff menyeringai tipis melihat gaya bicara Mima yang seakan Zein ada di hadapannya. Pria itu meminum kopinya dengan tatapan yang tertuju pada Mima. Banyak tanya dalam benak Jeff tentang sosok wanita muda yang ada di hadapannya itu. Jeff semakin bingung setelah mendengar panggilan Mima pada Zein terlebih dengan gaya dan nada suara yang manja.
“Sebenarnya dia siapanya Zein sih? Kalau adik, masa iya tadi di kantor aku lihat mareka-,” batin Jeff. Tak ingin menduga-duga, Jeff pun mengirimkan pesan chat pada Emma.
[Emma, kau tahu wanita muda yang bersama Zein?], Jeff.
[Iya. Memangnya kenapa?], Emma.
[Mereka ada hubungan apa, pacar?], Jeff.
__ADS_1
[Bukan. Mima itu keponakan Uncle Alvin yang dititipin pada Zein. Sepertinya dia suka sama Zein dan sedang menggoda Zein], Emma.
[Apa dia yang kau bicarakan semalam? Maksudku, Mima], Jeff.
[Iya], Emma.
[Oke. Dengan senang hati aku akan mengganggunya], Jeff.
“Mau ke mana?” tanya Jeff yang langsung menoleh pada Mima.
“Ke mana aja suka-suka aku. By the way kakak emang nggak kerja? Aku aduin ke Kak Zein loh,” ancam Mima sembari beranjak dari kursi.
“Memangnya cuma kamu yang bisa ‘suka-suka aku’?” tanya Jeff yang semakin suka menggoda Mima.
“Ouh. Oke, aku fotoin ya. Nanti aku kirim ke Kak Zein.”
“Eh?”
Mima sepertinya tak main-main. Ia memposisikan ponselnya di depan dada dan bersiap memotret Jeff. Mengetahui hal itu, Jeff mulai gelagapan. Ia tak menyangka Mima serius dengan ancamannya.
“Mima, jangan seperti itu. Aku-.”
Jeff pun pasrah. Karena sepertinya Mima telah mengambil fotonya lebih dari sekali.
“Mima. Kalau kau memang ingin menyimpan fotoku, simpan saja. Tidak usah kau kirimkan pada Zein. Atau mungkin kau mau foto bersama denganku?”
“Maksudnya?” Mima mengerutkan kening melihat Jeff beranjak dari kursinya.
“Foto berdua. Untuk memori pertemuan pertama,” ucap Jeff santai.
“Diih. Siapa juga yang mau foto sama kamu? Lagian aku cuma bercanda. Lihat aja nih kalau nggak percaya.” Mima menunjukkan foto yang baru saja diambilnya. Dua slide foto yang ternyata bukan foto Jeff, melainkan foto selfie-nya.
Jeff tertohok mengetahui hal itu. Susah payah ia menyembunyikan raut wajahnya yang memerah karena malu.
“Tapi kalau mau serius juga boleh. Sebentar ya.”
“Eh?” Jeff langsung menoleh pada Mima. Pria itu menduga-duga apa yang akan dilakukan Mima. Jeff sempat lega karena Mima tidak memposisikan ponselnya secara vertikal. Akan tetapi kemudian ….
“Kak Zein, teman kakak yang namanya Jeff nggak kerja loh. Dia lagi nongkrong di coffee shop.” Mima mengirimkan pesan suara pada Zein, dan itu membuat Jeff melongo.
“Ups, sorry. Udah kukirim,” ucap Mima sembari memperlihatkan pesan itu yang tentunya memang ditujukan pada Zein.
“Udah ya. Bye !” Mima berlalu dengan santainya, meninggalkan Jeff yang gelagapan saat membayangkan Zein datang dan menegurnya di depan orang-orang.
__ADS_1
Jeff segera meneguk habis kopinya. Pria itu hampir saja tersedak karena ulah Mima. Saat keluar dari coffee shop, Jeff sempat melihat punggung Mima. Pria itu menyeringai sembari menggaruk tengkuk. “Bertemu denganmu, menyenangkan juga,” gumamnya.
_bersambung_