Lingkaran Cinta Cucu Sultan

Lingkaran Cinta Cucu Sultan
keberangkatan yang mendadak


__ADS_3

Happy reading ....


Dari salah satu sudut taman di rumah itu, Mima sedang mengagumi mahar pernikahannya dengan mengangkat tangan kanannya di udara. Kilauan berlian yang bertahta di tengah cincin itu nampak indah, apalagi jika terkena sinar matahari. Ukuran berlian yang cukup besar itu tentu sebanding dengan harganya yang fantastis.


"Ehhem. Yang katanya nggak mau nikah muda. Eh, dapat jodoh juga," sindir Ajeng.


"Hmm, kayanya aku terkena kutukan deh," delik Mima manja.


"Kok kutukan?" tanya Ajeng heran sembari mendudukkan bokongnya di kursi dekat Mima.


"Mami sama Auntie, nikah muda. Mami Mey juga," sahut Mima yang masih menatap cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Tapi nggak ada yang semuda kamu. Buktinya kamu nikah siri," seloroh Ajeng sambil mengulumkan senyumnya.


"Auntie gitu," gerutunya.


"Mima, jangan norak deh. Lihat tuh, King ngetawain kamu. Sampai segitunya ngelihatin berlian," cibir Queena sambil memberikan beberapa potong barbeque yang ditata di atas piring pada Mima.


"Sekarang kamu Nyonya Zein Maliek, berlian segede gitu sih kecil," timpal Ajeng sambil menunjukkan bagian ujung jarinya.


"Hmm justru aku lagi mengagumi sepuasnya karena cincin ini mau kusimpan, Kak," ujar Mima.


"Disimpan, kenapa?" tanya Ajeng heran.


"Masa aku ke kampus pakai yang beginian? Iih kesannya kaya sugar baby yang baru dapat hadiah dari sugar daddy-nya. Nggak ah! Lagi pula aku tuh nggak mau kalau nanti teman-temanku tahu kalau aku udah married. Bisa diketawain," delik Mima.


"Yee di Amerika sana udah biasa kalee tinggal serumah sama cowok," timpal Ajeng.


"Mereka 'kan belum menikah," sahut Mima sambil menyuapkan potongan daging besar ke dalam mulutnya.


"Ampun manten satu ini. Nggak ada anggun-anggunnya. Potong kecil-kecil pakai pisau, kunyah pelan-pelan ... begitu, Sayang. Bukan sampe penuh gitu mulutnya. Malu tuh sama Zein yang lagi ngelihatin kamu," ujar Ajeng sambil menepuk keningnya sendiri.


"Ish, Auntie. Mau makan aja ribet," sahut Mima yang kembali menyuapkan potongan daging ke dalam mulutnya. Queen terkekeh melihat tingkah Mima sambil melirik pada Zein yang memperhatikan mereka dari sisi lain taman itu.


Tidak berbeda jauh dari sang kakak, King yang berada satu meja dengan keempat saudaranya juga sedang terkekeh melihat Mima mengunyah dengan mulut yang penuh. Tak hanya King, bahkan Nara sampai menutup wajahnya sambil tertawa.


"Kak Zein, maafkan kepolosan Mima ya. Maklum aja, dia belum pernah pakai berlian. Jadinya sampai dipelototin begitu," seloroh Nara.


"Mumi emang nggak ada akhlak. Pakai gaun, tapi cara makannya bar-bar," celetuk King yang membuat Zein langsung menoleh padanya. King sontak mengatupkan bibirnya saat menyadari tatapan dingin Zein.


"Barusan lo bilang apa, mumi?" tanya Zein datar.


"Eh? Mima. Kak Zein salah dengar, hehe. Aku bilang Mima 'kan Kak Nara?" King menoleh pada Nara yang sempat melengoskan wajah.


"I-iya, kakak salah dengar. Mima, iya ... Mima," sahut Nara kikuk.


Amar tergelak melihat tatapan menyelidik Zein pada King dan Nara. Sedangkan Arkana hanya tersenyum sambil sesekali melirik Mima yang kini sedang menikmati es krim.


"Itu panggilan sayang mereka, Kak. Mumi and Kingkong. Gue benar 'kan, King?" ujar Amar disela tawanya.


"Iya, Kak," angguk King sembari nyengir.


"Tapi nggak lagi-lagi deh. Janji," imbuh King sambil mengangkat kedua jarinya yang membentuk huruf 'V'.

__ADS_1


Ponselnya yang berdering mengalihkan perhatian Zein. Pengantin pria itu menjawab panggilan sambil berdiri dan melangkah ke arah Mima. Zein meninggalkan King yang terlihat lega.


"Lo sih, asal nyeletuk aja," tegur Nara.


"Lupa, Kak," cengir King.


Sementara itu ... Queena dan Ajeng meninggalkan Mima saat menyadari Zein datang menghampiri gadis yang kini telah berstatus sebagai istrinya tersebut. Mima manatap heran pada mereka yang meninggalkannya sendirian.


Dengan santainya Zein duduk disamping Mima. Sebelah tangannya bahkan diletakkan di belakang pundak Mima.


"Sebentar aku tanyakan dulu," ujar Zein pada seseorang di ujung ponselnya.


"Beib, aku boleh pulang ke New York nanti malam nggak?" tanya Zein pada Mima yang sedang mengangkat sendok es krim.


"Ada meeting lusa pagi," imbuh Zein.


Mima mengangguk cepat seakan hal itu tidak berarti apa-apa baginya. Zein kembali berbicara di telpon, dan tak lama kemudian panggilan pun diakhiri.


"Beneran nih nggak apa-apa?" tanya Zein ingin lebih meyakinkan.


"Ya nggak apa-apa. Meeting 'kan memang penting," sahut Mima enteng.


"Oke. Thanks ya, Beib." Zein mencolek ujung hidung Mima, lalu mengarahkan sendok es krim yang akan menuju mulut Mima ke mulutnya.


"Mau kakak ambilkan lagi makanan?" tawar Zein.


Mima tertegun sesaat. Kemudian teringat pada ucapan papinya yang mengatakan Zein menyukai perempuan yang suka makan.


"Kok bengong? Mau apa, biar kakak ambilkan," tawar Zein lagi.


"Kenapa nggak dihabiskan?" tanya Zein sembari menatap heran pada mangkuk itu dan juga Mima.


"Lagi diet, hehe," kilah Mima.


Zein mengerutkan keningnya, kemudian terkekeh pelan. Keduanya tidak menyadari tatapan kerabatnya yang tertuju pada mereka. Tak terkecuali kumpulan pria yang sedari tadi mengobrol santai sambil sesekali memperhatikan sekitarnya.


"Pak Aldo jadi dong resign?" tanya Riky.


"Mungkin setelah Tuan Zein meresmikan pernikahannya," sahut Aldo datar.


"Kenapa harus menunggu selama itu? Lebih baik pensiun, dan menikmati hari tua. Iya 'kan, Vin?" imbuh Riky yang sangat tahu keinginan Salma menghabiskan masa tua di pedesaan.


"He-em," angguk Alvin.


Aldo hanya tersenyum tipis menaggapinya. Keningnya berkerut saat membaca pesan masuk dari salah seorang kru pesawat yang membawa Alvin dan keluarga Salman ke Indonesia.


"Sepertinya Tuan Ahmed dan yang lainnya harus menunda keberangkatan," ujar Aldo.


"Kenapa?" tanya Alvin.


"Tuan Zein akan memakai pesawatnya nanti malam," sahut Aldo.


"Nanti malam?" tanya Riky dan diangguki oleh Aldo.

__ADS_1


"Sepertinya ada rapat penting dan mengharuskan Zein sendiri yang menghadirinya," ujar Maliek.


Mereka adalah kumpulan pengusaha muda pada masanya. Tentu sangat mengerti akan hal itu. Tapi Mima ....


Riky menoleh pada putrinya yang sedang menutup mulut dengan tangan dan menggelengkan kepala menolak suapan dari Zein. Kali ini hatinya harus benar-benar siap, karena perpisahan dengan sang buah hati sudah di depan mata.


***


Malam mulai menyapa. Kerabat kedua mempelai sudah pulang, dan hanya menyisakan keluarga besan di rumah Evan. Mereka sedang menunggu Mima yang sedng berkemas di kamarnya dengan dibantu dua maminya, Alena dan Meydina.


"Udah dong, Sayang. Mami janji nanti akan sering mengokin kamu di sana," bujuk Meydina.


"Kata Zein kamu sendiri loh yang nggak keberatan berangkat malam ini. Kok jadi kamu yang rewel," gerutu Alena.


"Kak Zein itu nanyanya begini mami, 'Beib, aku boleh pulang ke New York nanti malam nggak?'. Ya, aku bolehin. Dia nggak bilang 'kita', tapi 'aku'," kilah Mima menirukan gaya Zein saat bicara.


"Ya sama aja. Kamu sama Zein sekarang 'kan udah jadi satu. Kalau dia bilang aku, ya berarti kamu juga," seloroh Alena asal.


"Mami aneh. Ya nggak bisa begitu dong," delik Mima.


Meydina sampai mencubit gemas pipi Mima yang mendelik kesal pada Alena. Meydina berharap banyak pada Mima yang nantinya bisa menceriakan hari-hari putranya.


"Semakin cepat kamu ke New York, semakin cepat juga kamu kuliah. Zein sendiri loh yang akan mendaftarkan kamu. Nanti setelah honeymoon kalian selesai, mami sama papi akan datang nengok kamu sekalian membawakan berkas-berkas yang kamu butuhkan untuk mendaftar kuliah," tutur Alena.


"Honeymoon? Siapa yang mau honeymoon?" gerutu Mima pelan.


"Ya kamu sama Zein. Masa iya mami sama papi?" timpal Alena. Meydina sontak terkekeh melihat perdebatan ibu dan anak itu.


"Jangan khawatir, Sayang. Mami yakin Zein akan sangat menyayangi kamu," ujar Meydina. Mima hanya bisa nyengir sambil mengangguk pelan pada Meydina yang kini merupakan ibu mertuanya.


***


Hembusan Angin malam menyambut kedatangan dua keluarga yang akan melepas pasangan pengantin baru di bandara. Setelah menyaksikan cara Mima berpamitan pada anggota keluarganya yang dramatis, kini mereka harus kembali melihat drama Mima yang menggunakan banyak cara untuk menunda keberangkatan.


Di balik sikap tegasnya, Riky tentu saja memahami bahwa putrinya merasa berat berada jauh dari mereka. Mima belum paham benar bagaimana harus bersikap setelah menyandang status sebagai istri Zein.


"Daah, Sayang!" ujar Alena sambil melambaikan tangannya.


"Hati-hati ya, Kak," pesan Meydina.


"Iya, Mi," sahut Zein.


Setelah memeluk Riky untuk kesekian kalinya, Mima akhirnya menurut pada Zein yang menggenggam tangannya sambil berjalan menjauhi kedua orang tuanya. Mima melambaikan tangan dalam keremangan dan bersiap hendak menaiki tangga pesawat.


"Kak, Mima boleh ke toilet dulu nggak? Udah nggak kuat." Mima memperlambat langkahnya dan membiarkan Zein berjalan mendahului masih dengan kedua tangan yang bergandengan.


"Kak ...," panggil Mima yang menarik pelan tangan Zein.


Zein menoleh sambil berkata, "Kita sudah harus berangkat, Mima."


"Tap, Kak ...."


Zein menghela napasnya kasar dan menghampiri Mima. Kemudian ... dengan gerakan cepat Zein memangku Mima ala bridal. Zein tidak perduli lagi meski Mima minta diturunkan. Pria itu juga tidak acuh pada kru pesawat yang menundukkan kepala melihat Mima yang akhirnya pasrah dalam pangkuan Zein.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2