
dayyan yang terlebih dahulu pulang dengan membawa banyak lolipop dikejutkan dengan suara yang tak lain dan tak bukan adalah nyonya vhii.
"HALO!!!! ADA ORANG DIAPARTEMEN? NENEK YANG CANTIK JELITA DATANG, YUHUUU"
"kenapa teriak-teriak begitu sih nek? kalau birru tahu, pasti udah di jahit mulut nenek itu". ucap Zack yang masih menyusun lolipop Dinda di lemari kecil yang sengaja di letak di ruang keluarga untuk menyimpan lolipop.
"heh, cucu kurang belaian. enak saja kau mau menjahit mulutku yang merah merona ini. dan apa yang kau lakukan itu?"
"kan tadi ku bilang birru yang bisa menjahit mulutmu, nek. bukan aku. aku sedang menyimpan lolipop milik istri mafiaku".
"what the hell!! lolipop? seorang ketua golden rose yang hidupnya penuh dengan kematian menyukai lolipop? Seperi bocah saja."
"memang birru masih bocah, nek. bahkan aku menikahinya saat ia masih menjadi muridku di sekolah. hehehe"
"hah? gila kamu. dasar pedofil. dimana dia Sekarang?"
"sedang bermain dengan tawanannya."
"siapa? dimana? kenapa kau biarkan dia pergi seorang diri? kau kan sudah bisa berjalan normal. dasar suami tak baik!"
"Cintia. markas tentunya. dia bisa melindungi dirinya sendiri, nek. ayolah nenek kalau mau istirahat silahkan. aku lelah harus tidur agar nanti malam aku bisa menggagahi istri bocahku itu".
"KAU!! dasar tidak tau malu. antarkan aku ketempat birru. aku ingin melihat aksinya yang pasti luar biasa itu".
"tidak! kau tak akan sanggup melihatnya, nek. aku saja ngeri".
"kau kan memang penakut. aku itu pemberani".
"huufftt. merepotkan sekali kau jadi nenek"
.......
markas golden rose
birru yang sedang menyiapkan alat untuk mengeksekusi Cintia memutar bola matanya kala mengetahui suami dan neneknya datang ke markas.
"ngapain kalian kesini? mau ku eksekusi juga kah?"
"gak suami gak istri, semua kurang ajar. nenek yang meminta dayyan untuk mengantar kesini. nenek mau lihat aksimu".
"yakin? asal tidak merepotkan karena pingsan saja aku tak masalah". birru mengangkat sebelah alisnya memastikan neneknya.
"kau pikir aku ini suamimu yang penakut itu?"
"eh, nek. aku bukan penakut. aku hanya jijik melihat darah yang berceceran makannya pernah waktu itu aku muntah melihatnya. sejak saat itu aku gak mau kesini lagi".
"hahaha. baru begitu saja kau sudah muntah. lemah!"
"sayang, biarkan dia ikut denganmu. kalau dia pingsan, masukkan saja ke dalam kandang singa kita". ucap dayyan pada birru yang hanya menggelengkan kepalanya
.....
dayyan yang lebih memilih pulang daripada harus pingsan melihat darah yang mengalir nantinya bergerutu meledek sifat sang nenek, "aku yakin kau akan pingsan nek. lihat saja nanti. hahah".
kini birru dan nenek serta pengawal sudah berada di depan pintu ruang eksekusi dengan birru membawa tang, besi, juga alat lainnya.
"apa kau tak ingin merubah keputusanmu nek?"
"tidak. kenapa harus aku mengubahnya. aku penasaran bagaimana ketua mafia terkejam itu menghabisi nyawa lawannya."
"ckk, jika kau pingsan aku pastikan kau akan pingsan selamanya nek. pengawalku juga tak ku ajarkan untuk menggendong wanita tua renta seperti dirimu".
"pengen ku jahit mulutmu itu. ayolah cepat masuk"
__ADS_1
....
ceklek kreeeeekkk
suara pintu terbuka pun memenuhi keheningan ruang gelap itu.
"selamat datang, queen". ucap pengaw yang bertugas menjaga Cintia untuk tetap hidup di dalam ruangan itu.
"ruangan apa ini? kenapa bau sekali, gelap lagi. apa kau tak mampu membayar tagihan listrik?"
"ckk, jika kau berisik nek. aku tak segan-segan menyuruh pengawalku memasukkanmu kedalam kandang hewan buasku".
"kau ini hanya bisa menakuti saja. aku kan hanya bertanya".
....
birru menyeringai kala melihat Cintia tanpa sehelai benang akibat digilir sebelumnya oleh para anggota terbaik di golden rose.
ia terlihat lelah dan kedinginan, karena tubuhnya bereaksi gemetar
"kau apakan dia? kenapa tak kau berikan dia baju?"
"dia jalan bergilir untuk anggotaku. dia adalah mantan dari dayyan yang terus menggodanya tanpa henti bahkan ia mengaku sebagai istrinya".
"gila!. dia bisa mati karena kedinginan"
"bahkan aku akan membunuhnya hari ini supaya dia tak lagi kedinginan. hahahah"
birru berjalan mendekat begitu juga nenek yang duduk tak jauh dari kedua orang itu.
birru membawa gunting yang tumpul ditangannya.
"hai, kak. hmm maksudku istri suamiku. salah. yang mengaku-ngaku istri dari suamiku. bagaimana permainan anggotaku kemarin? apa kau puas?"
"to tolong lepaskan aku. biarkan aku pergi. aku janji tidak akan mengganggu dayyan lagi."
birru mengarahkan gunting itu pada jari-jari lentik Cintia. ia mencabut paksa seluruh kuku Cintia.
"aaaaaaaa tidak. sakit. aargh hentikan"
teriakan demi teriakan itu semakin membuat birru bersemangat.
nenek yang melihat hal itu dari tempat duduknya bergidik ngeri. ia mencoba untuk tenang supaya tidak pingsan dan berakhir jadi santapan singa milik Birru.
setelah kesepuluh kuku jari Cintia terlepas, birru meminta pengawalnya untuk membawakan besi yang sudah dipanaskan.
"ini, queen."
"mau apa kau? tolong hentikan."
"aku hanya ingin memberimu sedikit terapi jantung". birru mengatakannya seraya menusuk-nusukkan besi itu ke paha dan lengan Cintia.
sreeeek sreeekkkk
doorr
birru melukis ditubuh Cintia dengan belatinya.
ia juga melepaskan tembakan pada paha Cintia.
darah bercucuran menggenangi tubuh Cintia yang putih dan tak mulus lagi itu.
"queen. nenek queen pingsan. dia menggigil" ucap pengawal yang berdiri tak jauh dari nyonya vhii
__ADS_1
"ckk, sudah ku katakan tapi tak percaya. jadi nenek kok merepotkan".
"antar dia ke apartemen. bawa juga macan kumbang yang kemarin ku bawa dari pulau nenek".
"baik queen".
birru kembali menatap tajam Cintia yang tengah menangis merasakan perih pada tubuhnya.
"siram dia" ucap birru pada pengawal lainnya. ia paham air apa yang dimaksud birru. air perasan jeruk dan cuka serta garam pastinya.
"aaaaa perih. aaaaaaaaaa" teriakan Cintia menggema.
"lepaskan ikatannya. bawa dia ke tepi jurang. biarkan dia disana. sebelum itu suntikkan cairan supaya ia melupakan semuanya"
"baik, queen"
........
di apartemen kini sedang ada keributan kecil di halaman apartemen itu.
"kenapa nenek?" ucap dayyan yang melihat pengawalnya menggendong nenek yang tengah tak sadarkan diri.
dayyan yang sedang menyiram tanaman itu melihat ke arah gerbang, ia paham mobil dengan lambang mawar keemasan itu milik Birru.
"nyonya vhii pingsan saat melihat queen mencabut paksa kuku dan menyayat kulit Cintia, tuan muda. saya diperintah queen untuk mengantar nyonya kesini".
"hahaha. dasar orang tua. sudah ku katakan tapi tak percaya juga. tau kan akibatnya." ujar dayyan mencemeeh neneknya yang masih pingsan.
"dan apa itu? kenapa macan kumbang birru kau bawa kesini?"
"queen juga berpesan untuk melepaskan macan itu di kamar nyonya vhii, tuan. saya rasa queen ingin membuat nyonya vhii jera untuk melihat aksinya"
"baiklah. tapi jika ia beneran melukai nenek gimana?"
"tidak akan tuan. pawangnya akan ikut dan bersembunyi"
.........
nyonya vhii yang telah selesai diperiksa dokter pribadi dayyan kini mulai membuka mata.
"dimana aku? aaaaaaaaaaa macan, tolong. aaaaaaaaaaa"
nyonya vhii berdiri diatas ranjangnya kala melihat macan kumbang itu mondar-mandir disekitaran ranjang.
"dasar cucu laknat. bisa-bisanya dia menguji jantungku lagi. eh, tunggu. tapi kok aku kayak kenal macan itu? apa itu macan pulau ku? aaaa BIRRUUUUUUUU dasar pencuri kecil".
ceklek
"ada apa nek? kenapa kau histeris begitu?" ucap birru yang sudah di apartemen.
birru sengaja langsung pulang ketika permainannya dengan Cintia selesai.
"kau! itu macanku kan? kenapa ada disini?"
"hahah kau mengenalinya dengan baik ternyata. aku sengaja membawanya kesini untuk teman mainmu nek".
"jauhkan dia dariku. melihatmu saja aku sudah merasa nyawaku diambang batas. kini pula kau lepaskan dia ke kamarku"
"hahaha. kau takut nek? tadi nyaliku besar sekali. kenapa sekarang kau begitu takut hingga kau pingsan" ledek birru pada nyonya vhii
"ah sudahlah. aku kalah. aku takut melihatmu seperti itu. singkirkan dia."
"baiklah" jawab birru
__ADS_1
"pawang, Kandangankan dia". ucap birru pada pawang macan kumbang yang berada dibalik lemari di dalam kamar itu.
"baik queen".