
setelah menjalankan misi dengan sang nenek selama seminggu, hubungan dayyan dan Tia alias birru menjadi lebih dekat.
hari ini saatnya Tia a.k.a birru memulai untuk menggoda dayyan untuk memastikan adanya perubahan pada dayyan setelah kepergiannya.
"tuan, apa anda tidak ke kantor hari ini?" tanya Tia yang juga sedang menanam bunga ditaman bersama dayyan
"oh, tidak. hari ini anak-anak sudah mulai libur sekolah. makannya aku menghabiskan waktu dirumah saja"
"sepertinya anda lelah, tuan. tunggulah disini, saya akan membuat cemilan untuk anda".
"baiklah. terimakasih"
Tia a.k.a birru berjalan menuju dapur untuk membuat beberapa macam kue dan keripik untuk dayyan. tak lupa dengan coklat hangat kesukaan dayyan.
beberapa menit kemudian, Tia telah menyelesaikan semuanya. ia kembali ke taman dengan membawa troli makanan yang sudah ia buat.
"tuan. ini cemilannya. silahkan di coba"
"oke. hmm Tia, bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan tuan?"
"lalu aku harus memanggil apa?"
"dayyan saja, atau kakak jika kau tak mau memanggilku dengan sebutan nama"
"oh, baiklah kak."
mereka berdua terlihat berbahagia melupakan sejenak kisah suram yang dialami dayyan bersama birru yang ntah dimana menurutnya.
__ADS_1
nyonya ghanesia yang melihat interaksi keduanya dari kejauhan pun tersenyum senang. setidaknya dengan menjalankan misi kecil ini, ia dapat mempertemukan lagi kedua cucunya itu meski dalam keadaan yang berbeda.
"kak, apa nona belum ada kabar? hmm, maaf sebelumnya. nyonya ghanesia pernah bercerita padaku waktu itu, makannya dia memintaku untuk membantumu disini untuk membereskan apa yang tak bisa kakak kerjakan"
"belum. ntah dimana dia sekarang, bahkan aku sangat merindukan dirinya teramat dalam. semoga Tuhan selalu melindunginya dimanapun ia berada"
"aamiin. hmmm kak, jika kau butuh menenangkan pikiranmu dengan pelukan ataupun berbagi cerita. aku siap mendengarnya juga siap untuk memberikan pelukanku untuk menenangkan dirimu"
"terimakasih banyak"
"terlebih jika kau membutuhkan, hmm itu, anu, hmm. aku bisa membantumu menuntaskannya"
dayyan yang mendengar hal itu paham apa yang dimaksud dengan Tia. ia menatap manik mata Tia yang sepertinya sangat dekat dengannya.
"kau masih perawan?"
"jika begitu, jaga selalu kehormatanmu. bagaimanapun aku tak akan berkhianat dari istri kecilku. aku sangat menyayanginya"
tak terasa airmata Tia a.k.a birru menetes tanpa permisi. sesegera mungkin ia menghapus jejak bulir bening yang mulai membasahi pipinya itu.
"apa kau menangis? maafkan aku, aku tak bisa melakukan itu denganmu. ak-aku sangat menghargai perempuan. sekali saja cukup bagiku melakukan kekhilafan sehingga istri yang ku sayangi kini pergi ntah kemana"
"tidak apa-apa. aku hanya terharu meski aku tau kakak menginginkan itu pada waktu tertentu, tapi kakak tetap menjaga diri kakak dengan baik dan tau batasan dirimu"
dayyan hanya tersenyum mendengar penuturan Tia yang terdengar miris kala mengingat pengkhianatan yang ia lakukan sebelumnya.
hari semakin larut, dayyan, Tia, dan nyonya ghanesia sedang makan malam bersama.
__ADS_1
"Tia, apa kau keberatan jika aku meninggalkan dirimu dengan dayyan saja disini?" tanya nyonya ghanesia
"ma-maksud nyonya?"
"aku harus kembali ke mansion. ada sedikit pekerjaan yang tak bisa diwakilkan oleh orang lain"
"ta-tapi nyonya. bagaimana jika nanti nona muda kembali dan mengira bahwa kami ada hubungan apa-apa karena kami hanya tinggal berdua saja"
"tidak akan. aku mengenal siapa cucu mantuku itu. ia tak akan gegabah menilai seseorang jika tak ada bukti yang kuat dalam hal itu"
"baiklah nyonya. saya setuju"
"dayyan. berbuat baiklah pada Tia. jangan sampai kau menyakitinya" ucap nyonya ghanesia memperingatkan dayyan.
"jika kau ragu, bawa saja ia pulang. aku bisa menjaga diriku sendiri disini. aku bukanlah anak kecil lagi"
"hahaha bahkan sbeelum kami datang, hidupmu sangat kacau. aku tak mau kau mati sia-sia disini sendiri"
"jangan meledekku dihadapan orang lain nek"
"hahah, kau sangat lucu. apa sudah ada kabar dari istrimu?"
"hmm, belum nek. apa kabar dia sekarang? bahkan aku yakin anak markas semuanya mengkhawatirkan dirinya"
"sudahlah. berdoa saja semoga dia kembali secepat mungkin"
"aku juga berharap begitu"
__ADS_1