Love And Recipe

Love And Recipe
Bab 1


__ADS_3

Gista hanya tertawa geli melihat cuitan salah satu akun gosip yang mengunggah foto candidnya makan dengan salah satu pengusaha restoran ternama di Indonesia. Cuitan yang dirasa mengarah ke sindiran itu sukses memancing berbagai tanggapan dari netizen yang mengikuti akun gosip itu.


@Johnyc Waduh, kebayang gue kalo nanti ribut sama bininya si otong fix di goreng😂


@Kyiyoyo Apa cuma gue yang penasaran lakinya siapa? Tolong di tag tante @VaniaLarasati siapa tau dia kenal.🙈


@Rxxina Gila si Gista, cakep-cakep doyannya aki-aki.😅


@Fvckyo Terjawab ya, cakep itu harus diimbangi sama orang yang mendanai.😋


@Ivnxaa Skandal besar ini woy😂 tim penghujat waktu dan tempat dipersilahkan👏


@Vrtani Kelakuan model pendek di negara +62😪


@Cntx Baru lu putus kemaren, Gis. Sama @CandraDev vokalisnya Devil : Never be Kind, Yakali om Adlan jadi perusak hubungan orang, becanda kan ini🙊😂


@Berebarbara Hengpon jadul kualitas 8 bit bisa aja nangkep dese @Gistata prestasinya hoby bikin skandal yess😋


@DonjuanKw Ayolah bertikai, netizen butuh asupan keributan @Gistata @VaniaLarasati @AdlanRusadi


@Zxuankw Ribut... Ribut... Ribut... kami nggak senang kalian damai👏👏


@Tzyanz Gue masih bertanya-tanya, kenapa dia jadi salah satu model brand Adacii yang rata-rata model ceweknya tingginya lebih dari 170 sedangkan si Gista cuma mentok 165 😭


Dan masih banyak lagi komentar pedas dari beberapa netizen yang sempat Gista baca.


"Manen makian yesss.."


Gista menoleh, mendapati Audi--salah satu model Adacii yang baru selesei pemotretan.


"Biasa, kalau nggak gini akun gosip nggak makan." Gista melucu. Membuat Audi terkekeh pelan.


"Gis, giliran lo." Seru Jovin, pria berambut gondrong yang tak lain adalah fotografer profesional dari Adacii yang sangat di banggakan brand yang menaunginya.


"Tapi hati-hati, semakin banyak yang nggak suka, semakin banyak yang mau jatuhin." Pesan Audi sebelum dirinya ganti baju, menepuk pundak Gista pelan.


Gista tertawa saja, senyumnya tidak luntur. Suasana hatinya sedang bagus. Mempermudah Jovin mengarahkan posê pada model kontroversial itu.


***


Gista memandang geram Duma yang menangis sesunggukan di depannya. Jangan ditanya bagaimana mengerikannya perpaduan make up yang luntur berantakan akibat air mata.

__ADS_1


Gista tidak habis pikir, bagaimana seorang pria bisa menolak perasaan tulus sahabatnya itu secara mentah-mentah dan blak-blakan. Bahkan berita penolakannya pun sampai menjadi hot line news seharian ini.


"Lagi, ngapain sih, lo nembak dia di depan wartawan langsung?" tanya Gista emosi.


Yang ditanya, sibuk mengelap air mata yang tidak hentinya mengalir.


"Gu--gue pikir. Hik. Itu ke--kesempat-tan bagus. Hik. Buat nembak."


Gista memijat pelipisnya pelan, menatap Duma dengan prihatin. Bagaimanapun, perempuan bodoh ini adalah sahabatnya. Gista tidak sampai hati mengata-ngatai Duma yang memang sudah bodoh. Terlalu berani mengambil langkah.


"Ya udah. Resiko. Biarin aja beritanya naik. Paling seminggu dua minggu surut." Kata Gista, memancing Duma semakin meraung-raung tidak terima karena sudah dipermalukan.


"Ya--ya nggak bisa gitu!" Sungut Duma. "Gue langsung ngundurin diri loh jadi asisten host karena saking malunya!"


Gista mengerutkan dahinya "Ya terus mau gimana? Mau konferensi pers ke publik kalau wawancara kemaren cuma prank? Sementara ekspresi wajah lo macem tante-tante girang yang pede banget bakal langsung diterima?" ucapnya pedas.


Duma semakin menangis sesunggukan. Membuat telinga dan kepala Gista sakit.


"Huweeeee... Reputasi gue jatoh, Gis. Huweeeee." Raungnya.


Gista menghela nafasnya, sedikit bisa memaklumi bagaimana perasaan malu yang mendera sahabatnya itu, Menggilas habis sampai ke akar-akar. Banyak bahkan komentar pedas yang dilayangkan ke Duma dari pada komentar prihatin.


"Ya, terus lo maunya gimana? Udah jadi bubur begini baru kepikiran malunya."


"Atuh gue kok bisa **** begini sih, Gis. Padahal banyak banget cowok ngantre demi dapetin cinta gue. Tapi kenapa sekalinya gue berhasil dibuat jatuh cinta, kenawhy harus sama orang brengsek macem Hugo, yang nggak punya hati nolak gue di depan umum."


Gista menjitak kepala Duma, untuk ukuran orang yang sudah berkecimpung dalam bidang entertain. Pemikiran Duma itu secetek kolam berenang yang dipakai ponakannya.


"Jelas lah di tolak, kalau di terima pasti bakal ada pertikaian antar fans. Terlebih pemburu berita bakal ngejar-ngejar kalian dengan ganas."


Duma mendengus "Ya, apa bedanya! Nolak gue pun juga nggak mengurangi para pemburu berita. Pertikaian para fans juga nggak bisa di hindari. Fans dia bilang gue nggak cocok sama Hugo. Sedangkan fans gue bilang Hugo cuma nebeng tenar pakai nama gue." Ujarnya membela diri.


"Ya seenggaknya, Hugo nggak berbohong tentang apapun. Dia berusaha jujur sama perasaannya. Meski akhirnya nyakitin lo, Dum. Kebayang sih gue, kalau dia terima lo di depan kamera dan nolak lo di belakang kamera. Rasa sakitnya berkali-kali lipat. Apalagi kalau dijadiin bahan omongan netizen. Gue jamin lo bakal kepikiran resign jadi artis."


Duma semakin menangis. Perkataan Gista memang ada benarnya. Tapi dia juga tidak terima dipermalukan seperti ini. Harga dirinya jatuh, sejatuh-jatuhnya.


"Bantuin gue buat bikin Hugo patah hati dong, Gis. Dia harus ngerasain apa yang gue rasain." Cetus Duma, ketika berhasil menemukan cara untuk membalas rasa sakit yang dia terima.


"Hah?!" Gista merespon kaget. "Sinting, lo. Jangan drama deh, pakai acara balas dendam segala. Kan apa kata lo tadi, yang antre kepingin jadi belahan jiwa lo banyak."


Muka Duma di tekuk. Ngambek.

__ADS_1


"Gis, lo nggak ada di posisi gue. Gue nih, yang udah bela-belain apapun untuk Hugo tapi cuma di lihat sebelah mata! Nyeri hati gue, Gis. Nyeri."


Gista terdiam, menatap Duma dengan pandangan sedih. Gista sudah mengenal Duma sejak dirinya menanjaki karir modeling sampai menjadi model profesional. Berkat Duma juga dirinya bisa mencecap dunia akting yang menjadi nama Gista jadi aktris yang sangat diperhitungkan dalam dunia perfilman.


"Oke." Gista mensetujui. "Gue harus apa?"


Duma tersenyum sumringah. Tatapannya yang redup kembali hidup dengan kobaran balas dendam yang sangat kentara.


"Bikin dia jatuh cinta sama lo, Gis."


Perkataan Duma jelas membuat Gista menatapnya kaget.


"Hah? Gimana. Gimana."


"Bikin dia jatuh cinta sama lo, sejatuh jatuhnya. Kalau dia udah ketergantungan sama lo. Tinggalin dia, buat gue." Jelas Duma. Meyakinkan Gista kalau temannya ini kelewatan halu.


"Mana bisa!" Ujar Gista. "Yang sekelas lo aja nggak bisa gerakin Hugo. Apalagi gue, Dum? Lo ngarepin apaan, coba." Gista mulai membandingkan dirinya dengan Duma. Gista mengakui, bahwa sahabatnya itu kelewat cantik. Bodynya pun tidak main-main. Body goals banget pokoknya. Mana bisa dibandingkan dengan Gista yang kerempeng dengan sedikit lemak di perutnya.


Duma memutar kedua bola matanya sedikit jengkel dengan jawaban Gista.


"Please, deh. Gue yakin banget Hugo itu type cowok Tsundere gitu. Walau dingin, cuek, gue yakin dia sadar betul keberadaan lo." Ujar Duma meyakinkan.


Gista berdecak kesal "Kalau tau begitu, kenapa akhirnya lo begini sama dia?"


"Ya karena gue bikin kesalahan." Sergah Duma membantah.


"Gue udah gegabah nembak dia duluan. Seperti apa kata lo, gue macem tante girang yang pede bakal diterima. Gue terlalu kebawa suasana pas Hugo mulai melunak sama gue." Jelasnya lagi.


"Jadi, jangan ulangi kesalahan gue. Jual mahal aja terus sampai dia beneran cinta mati sama lo!"


Kepala Gista nyut-nyutan. Benar-benar merasa pusing dengan permasalahan Duma yang memaksanya untuk ikut terseret.


"Tapi kalau kebalikannya gimana? Justru gue yang jatuh cinta sama dia? Gimana pun gue cewek normal. Dihadepin tiap hari sama orang yang sama pastinya nggak mungkin nggak ada rasa." Ujar Gista, mencoba realistis.


Duma terdiam cukup lama


"Nggak mungkin Hugo masuk ke kategori idaman lo. Jauh. Jauh banget, Gis. Tapi, gue cukup realistis. Kalau seandainya demikian, lo yang jatuh cinta duluan sama dia. Tolong tetep tinggalin dia buat gue."


Egois! Harusnya Gista bereaksi marah dengan keegoisan Duma. Tapi Gista hanya terpaku menatap Duma cukup lama. Menatap mata Duma yang sangat mengharapkan Gista untuk membalas semua rasa sakit yang Duma terima dari Hugo.


"Oke." Gista mengangguk. Membuat Duma kegirangan. Memeluk Gista dengan erat.

__ADS_1


Sisi persahabatannya yang kuat justru menang dari sisi realistisnya. Gista tau dengan pasti, suatu saat nanti dia akan menyesali keputusan ini.


__ADS_2