Love And Recipe

Love And Recipe
Bab 9 [Flashback 0.2]


__ADS_3

Pertemanan diantara Jeremiah dan Gista terbilang tidak cukup mudah. Berkali-kali Jeremiah harus meyakinkan Gista bahwa tubuhnya butuh asupan makanan kalau tidak mau merusak kinerjanya dengan menyiksa paksa.


Nyaris setiap waktu makan, Jeremiah akan memaksa Gista untuk makan-makanan yang cukup meski pada akhirnya dimuntahkan lagi. Tubuh Gista memprotes tiap kali ada asupan makanan yang masuk, respon yang sangat wajar karena memang Gista selama ini membiasakan tubuhnya untuk tidak menerima makanan dalam jumlah dan bentuk apapun.


Atau Jeremiah yang berdecak kesal waktu pertama-tama menyeret Gista makan, karena diam-diam Gista memasukkan jarinya sendiri untuk mengeluarkan makanan yang masuk ke tubuhnya. Bahkan Gista masih mengelak tiap kali Jeremiah menanyakan alasan kenapa gadis itu mati-matian mengeluarkan semua yang masuk di dalam tubuhnya.


Meski belum sepenuhnya terbuka sampai mereka sama-sama masuk di high school umum yang sama, Jeremiah yakin suatu saat nanti jika Gista sudah siap menceritakan alasan kenapa dirinya menyiksa paksa tubuhnya sendiri.


"Lalu, bagaimana tanggapan orangtuamu." Tanya Gista suatu hari ketika mereka berada di kantin.


Jeremiah mengangkat bahunya, senyumnya tidak akan pernah luntur ketika tangannya memegang secara langsung potongan rambutnya yang baru.


"Aku tidak peduli lagi tanggapan mereka, ini hidupku aku yang berhak mengaturnya." Komentar Jeremiah.


Gista tersenyum, melanjutkan makan salad yang diberikan Jeremiah padanya. Iya, Jeremiah mulai mengatur diet secara sehat Gista setelah kesal setengah mati dengan cara ekstrim yang Gista lakukan. Bunuh diri namanya! Cetus Jeremiah ketika kembali menemukan Gista yang lemah tidak berdaya di dalam kamar dan memulai menjadwal semua diet sehat yang bisa Gista jalani.


"Aku lihat, akhir-akhir ini kamu mulai banyak makan." Tanya Gista tanpa maksud mengejek.


Jeremiah mengangkat bahunya "Aku mulai ikut gym untuk membantu membentuk tubuhku, jadi aku lebih sering merasa lapar setelah membakarnya." Ujarnya seraya memamerkan lengannya yang mulai terbentuk.


"Ah! Ide bagus, olahraga akan sangat membantu diet juga, akan aku masukkan daftarnya di list diet sehatmu." Cetus Jeremiah.


"Dan aku juga sedang tertarik dengan cita rasa semua makanan. Kamu tau, ketika di rumah aku sering bereksperimen dengan berbagai masakan." Tambahnya menutup semua pertanyaan Gista.

__ADS_1


"Kamu mau jadi chef?" tanya Gista yang mendapat gelengan mantap dari Jeremiah.


"Bukan, aku memasak hanya untuk mencicipi cita rasa bumbu dari masakannya. Karena untuk beberapa alasan, tidak semua masakan yang aku inginkan ada di sini."


Gista menjentikkan tangannya "Kritikus makanan?" tanyanya antusias


"Mungkin itu sebutannya." Jawab Jeremiah pendek.


"Kamu tau, ibuku sangat membenci kritikus makanan." Ujar Gista.


"Kenapa?"


"Karena mereka berkomentar tanpa mengetahui kerja keras para koki. Dan ibuku bilang, kritikus adalah manusia paling munafik dari semua bidang."


"Ibumu seorang chef." Tebak Jeremiah yang dapat anggukan pelan dari Gista. Membuat Jeremiah langsung antusias menanyakan beberapa hal mengenai pekerjaan ibunya Gista.


"Lalu, apa kamu mau jadi chef, seperti ibumu?" tanya Jeremiah ketika mereka selesai membahas tentang Jeremiah yang akan menghabiskan liburan musim panasnya di Indonesia.


"Aku bisa memasak berkat ibuku. Tapi untuk menjadikannya sebuah cita-cita rasanya tidak." Aku Gista.


"Jadi, apa cita-citamu?"


"Artis?" jawab Gista sedikit ragu dengan nada yang sedikit aneh.

__ADS_1


"Ah." Jeremiah merespon "Apa itu alasanmu mati-matian membuat tubuhmu kurus?" tanya Jeremiah hati-hati.


Gista tersenyum masam, gelengan pelan muncul beberapa detik setelahnya.


"Apa sekarang sudah siap untuk cerita?" tanya Jeremiah


Meski terlihat ragu, akhirnya Gista mengangguk. Toh, Jeremiah sudah menganggap Gista sebagai sahabatnya karena Jeremiah sudah bercerita sejujur mungkin tentang hidupnya.


"Aku memaksa pindah ke sini untuk menghindari orang-orang yang menyakitiku dan mengajukan syarat kalau orangtuaku tidak boleh menjengukku selama di sini." Mulai Gista, memperlihatkan gambar dirinya yang ada di hape pintar miliknya. Membuat mata Jeremiah membulat sempurna.


"Siapa yang menyakitimu?" tanya Jeremiah yang sudah gatal dengan rasa penasaran. Pasalnya, foto Gista beberapa tahun lalu jelas sangat berbeda dengan Gista yang pertama kali dia temui.


"Orang yang dulunya aku suka."


"Separah itu dia melukaimu sampai membuatmu nyaris mati kelaparan?!" Jeremiah semakin berang, membayangkan manusia mana yang menyakiti sahabatnya. Bahkan buku-buku tangannya mengepal sangat kuat.


Gista mengangkat bahunya "Entahlah, mungkin aku hanya terlalu perasa. Aku akui, dulu memang terlalu bodoh. Berpikir bahwa kalau nantinya aku berubah, orang yang menyakitiku akan menyesal."


Jeremiah mendengus "Ingat perkataanku. Mulai sekarang, percayakan penampilanmu padaku. Target kita, membuat orang itu menyesal." Cetus Jeremiah sambil menggebrak meja dengan geram.


Jeremiah benar-benar merealisasikan kata-katanya. Dia tidak main-main dalam mengatur semua yang perlu Gista jalani dalam metamorfosis Upik abu menjadi Cinderella.


Dari hal paling mendasar seperti merawat kulit yang Jeremiah konsultasikan langsung pada ahlinya, membentuk tubuh Gista dengan bantuan Gym, mengatur jadwal diet sehat Gista, sampai mengatur style Gista dibantu beberapa teman-teman Jeremiah yang mengerti tentang fashion.

__ADS_1


Dengan bantuan itu, setelah lulus dari sekolah dan masuk ke jenjang perkuliahan, penampilan Gista kini bak seorang putri yang sangat cantik. Bahkan  Jeremiah mengenalkan Gista pada dunia mode yang sukses menjadi kesukaan Gista selain memasak.


Awal di mana Gista merasa hidupnya mulai membaik berkat dukungan penuh yang Jeremiah berikan.


__ADS_2