
@bebetajia Bar bar sekali si pendek
@dewidua Gue kira co-hostnya si Carline. Ehhh kaget si Gista yang gantiin Duma. Diluar perkiraan banget.
@calonbojogalak Susah emang, yang biasanya terbiasa sama baju bagus sama make up di suruh ke dapur masak-masak.
@bapakkau kalau nggak mau dikomentari stop jadi arteeesss oy!
@makhlukneraka Itu apinya kenapa nggak nyamber sih! Gregetan gue.
@pakupalujadian Tontonan Indonesia cuma nyari rating doang *****!
"Saya nggak mau kerja sama lagi, sama dia!"
Hugo menunjuk sengit Gista yang duduk tepat di sebrangnya. Gista mengangkat wajahnya, angkuh. Sangat sukses membuat Hugo emosi.
"Tenang dulu, tenang." Danu menurunkan tangan Hugo dengan tepukan pelan di lengannya.
Danu memijat pelipisnya pelan, memandangi Gista dan Hugo bergantian.
"Realistis aja ya, Go. Kamu kalau di posisi Gista yang dihujat kayak gitu pasti kepancing juga emosinya."
Gista mengangguk membenarkan perkataan Danu.
Hugo mendengus, dia tidak terima dengan perkataan Danu.
"Saya kurang suka ya, Mas. Acara saya cuma jadi ajang pansos*nya dia." *Panjat sosial
"Heh!" Seru Gista "Di jaga ya, omongannya!" Geramnya menatap Hugo yang memandang remeh ke arahnya.
Hugo bersedekap tersenyum miring menatap Gista "Emang bener, kan."
Bagi Hugo, Gista terlihat sangat jelas ingin Pansos diacaranya yang kebetulan masuk ke katagori siaran live. Tidak ada pemotongan peradegan selain iklan lewat dan berakhirnya acara.
"Mas Danu!" Fira, salah satu tim kreatif mendatangi Danu dengan heboh.
"Lihat nih! Tagar di Twitter."
Danu melihat ke arah layar hape milik Fira. Tagar #YouCanCook dan #YCCGistaBarbar bersahut-sahutan demi menempati posisi pertama tagar paling trending topik.
"Lihat ini juga, Mas!" Fira mengarahkan Danu ke time-line search Instagram miliknya. Di sana bertebaran adegan Gista yang mencak-mencak ke arah layar. Bahkan ekspresi Gista yang terkejut dengan api yang mengobar, sukses menjadi bahan Meme. Danu begitu takjub dengan efek yang di berikan Gista. Dia benar-benar jadi sorotan publik sekarang.
"Wah, jadi terkenal kan, acaranya. Sama-sama." Sindir Gista, puas.
Hugo mendengus semakin kesal. "Pokoknya saya nggak mau kerja sama diantara Gista dan acara saya berlanjut. Kalau Mas masih pertahanin co-hostnya dia. Saya yang out!"
Sekarang Danu yang merasa serba salah, mempertahankan Gista untuk mendongkrak rating yang otomatis akan menjadi ladang uang atau melepaskan Gista dan kembali menjadi acara yang monoton. Hanya lempeng seputar resep dan cara memasak.
Danu mendesah "Inget kontrakmu kan, Go? Out berarti pinalti."
__ADS_1
Hugo terhenyak, tidak pernah menyangka Danu akan berbicara mengenai kontraknya dengan acara ini. Jelas, perasaan kecewa merangkak perlahan menyayat ego Hugo.
"Udah, saya aja yang out. Saya pikir, nggak ada bagusnya juga saya di sini. Orang-orang di luar sana pastinya lebih fokus untuk menghujat saya dari pada fokus dengan proses memasak."
Danu mendesah, agak kecewa.
"Coba, pikirin sekali lagi, Gis. Pinaltinya 200 juta. Lumayan menurutku meski mungkin cuma nominal remahan buat kamu."
"Saya baru kesandung kasus, mungkin bakal berdampak lebih parah dari ini. Jadi, sebelum terlambat saya lebih memilih berhenti aja." Gista menjeda perkataannya menatap Hugo yang tengah terdiam mendengarkan semua kebijaksanaan Gista yang memilih mengalah.
"Itu kan, yang chef Hugo mau."
Hugo tidak menjawab, dia malah pergi menjauh dari Gista, Fira dan Danu. Keputusannya tidak bisa di ganggu gugat. Meski melihat Gista yang berbesar hati mengalah. Toh, bagi Hugo sama saja. Di matanya, Gista hanya berpura-pura mengalah untuk dikasihani. Setelah berhasil dikasihani pastinya wanita itu bebas melakukan pansos yang dia mau.
Sudah kebaca!
***
"Go, pikirin sekali lagi. Acara ini di buat khusus debut pertama kamu di Indonesia. Kalau co-host nya si Gista. Acara ini cepat masuk tranding. Cepat pula menaikan popularitasmu." Danu membujuk.
Hugo tidak mengindahkan Danu, dirinya sibuk mengecek satu per satu artikel tentang kekacauan yang Gista buat hari ini.
"Semuanya sama-sama di untungkan. Nggak cuma popularitasmu yang naik, tapi Gista juga. Memang Gista sedikit meledak-ledak dalam menanggapi komentar pedas tentang dirinya. Tapi, hei! Kita semua begitu meski tidak secara terang-terangan seperti Gista."
Hugo berdecak menatap Danu.
"Mas, meski acara ini penting untuk saya. Kepopularitasan dengan cara ini itu bukan saya banget. Saya ingin terkenal dengan prestasi, bukan dengan sensasi."
"Pikirin dulu sebelum memutuskan. Kita ketemu lagi besok."
Hugo mengangguk, keluar dari ruangan Danu tanpa sedikitpun merasa sayang kalau kemungkinan You Can Cook hanya akan menjadi acara memasak monoton seperti pada umumnya. Hanya fokus memasak tanpa ada gimik lain yang mungkin saja bisa mematik sensasi.
Hugo memilih duduk di lobby kantor, matanya masih fokus membaca tiap artikel yang keluar hari ini. Tidak henti-hentinya Hugo di buat berdecak, pilihan untuk memutus kerja sama dengan Gista seperti keputusan yang tepat.
Saat menggulir artikel sampai ke bawah kolom pencarian, Hugo tertarik dengan salah satu judul clickbait yang sedikit menggelikan.
HUBUNGAN GISTA DAN ADLAN BAK AYAH DAN ANAK.
Ya memang benar kan? Daripada simpanan, Gista lebih pantas jadi anaknya. Hugo jadi penasaran dengan biografi seorang Gista. Maka dia putuskan untuk mencari biodata Gista di internent.
Dahi Hugo mengernyit dalam. Umumnya, jika satu artis tengah naik daun terlebih mempunyi segudang portal haters yang mengulik aib sampai ke detail yang menakjubkan. Justru yang di lihat Hugo hanya sederet sensasi dan skandal Gista. Tidak ada satu pun artikel yang membahas kehidupan pribadi Gista. Wikipedia tentang Gista pun hanya berisi tentang karirnya saja tanpa menjelaskan data pribadi Gista.
BIODATA GISTA SASMITA
Jempol Hugo langsung menekan artikel biodata yang muncul di pencarian paling bawah google. Tapi setelah melewati loading yang panjang, justru situsnya tidak dapat di jangkau.
Aneh, pikir Hugo. Tangannya langsung mengetik Ultah Gista Sasmita untuk memastikan sesuatu.
__ADS_1
Hugo merasa ada sesuatu yang Gista sembunyikan dari banyak orang. Tercetus ide untuk menelfon Danu.
"Halo, mas. Ada yang mau saya tanyain. Ini soal, Gista."
***
Hugo berjalan lambat menuju pintu apartemen Gista. Hatinya masih menerka-nerka. Apakah dugaannya benar. Karena Danu sama sekali tidak membantu. Data artis hanya pihak manajemen artisnya yang tau.
"Gimana kalau salah?" lirih Hugo, meragu.
Ah, perduli amat! Bagaimana bisa tau kalau tidak mencoba. Ya, kan?
Pintu apartemen terbuka lebar, memunculkan Gista yang sedikit terkejut dengan kedatangan Hugo. Jangankan Gista, Hugo saja bingung kenapa mengikuti apa kata hatinya yang belum tentu benar.
"Siapa, Gis?"
Pandangan Gista dan Hugo terputus, ketika suara Duma menginterupsi mereka.
"Hai." Sapa Hugo agak kaku, pasalnya dia bingung harus bersikap seperti apa setelah menolak Duma di depan publik.
"Gis, gue balik!" Duma menatap Hugo tajam, sedikit sewot.
Duma bahkan langsung mengambil tas yang dia taruh di sofa, meninggalkan kediaman Gista tanpa berniat berbasa-basi.
Gista menghela nafasnya sedikit kesal. Hugo mengira, kedatangannya saat ini adalah sebuah kesalahan.
"Mau, ngapain?" tanya Gista tanpa berbasa-basi. Membiarkan Hugo berdiri di depan pintu.
"Mau keluar sebentar? Ada yang harus kita omongin."
"Omongin apa lagi?" sergah Gista, pasalnya diantara mereka sudah tidak ada lagi tanggung jawab dalam bentuk apapun.
"Soal You Can Cook?" Hugo beralasan.
Gista mengerut kebingungan, menatap Hugo yang menatapnya dengan ekspresi datar. Tapi Gista menyadari, dirinya masih melihat percikan rasa bersalah di mata tajam Hugo.
"Jadi..." Hugo memberi jeda, menatap Gista sedikit berharap.
Gista akhirnya mengangguk, menerima ajakan Hugo.
"Tapi, gue nggak mau keluar. Di sini aja bisa, kan?"
"Nggak bisa!"
Gista terlonjak kaget ketika Hugo menjawabnya dengan tidak santai.
"Maaf." Hugo buru-buru meminta maaf, mungkin sadar responnya terlalu berlebihan.
__ADS_1
"Kamu tinggal sendiri 'kan di sini? Takut ada salah paham, kalau-kalau ada yang melihat kita. Ke kafe di bawah aja, gimana?" tawar Hugo menjelaskan.
Untungnya, Gista tidak lagi mendebat Hugo lebih jauh. Memilih bijak dengan mengikuti pendapat Hugo.