
"Pokoknya terima." Putus Duma seenaknya. Setelah tau tawaran dari Danu yang baginya cukup menguntungkan untuk melancarkan aksi kesepakatan antara dirinya dan Gista.
Gista mendelik kesal ke arah Duma. "Pikirin Abi sama gue, dong." Sinisnya.
Duma berdecak "Lo mikir nggak sih? Bukannya bagus ya? Kesempatan ini bisa lo pake sebaik mungkin buat ambil hatinya Hugo. Kesempatan kayak gini tuh cuma sekali seumur hidup, Gis."
"Persetan lah sama Hugo, Dum. Ngebayangin pertikaian antar fans dan haters gue jadi satu belum lagi kemungkinan tindak bar-bar mereka, kemungkinan besar bakal hambat kegiatan kerja gue. Bentar lagi ada acara Fashion Show Festival of Art, gue nggak mau ya sampai gagal tampil, kerja keras gue yang dipertaruhkan di sini." Gista ngotot.
Duma menghela nafasnya, dia sudah kenal Gista lama. Meski wanita yang sudah menjadi sahabatnya itu mau membantunya, bukan berarti Gista mau menolerir segala sesuatu yang berkaitan dengan kerjaannya.
"Oke gini aja,"
"Gimana gue memfasilitasi semua penjagaan ketat buat lo? Anggap aja fasilitas yang harus gue kasih mengingat kita punya kontrak kerja sama." Cetus Duma.
Gista masih tidak terlihat puas dengan saran yang Duma berikan.
"Gue jamin deh, nggak akan berantakin jadwal lo." Ujar Duma dengan binar mata yang memelas.
Gista mendesah keras, sudah terlanjur basah kenapa tidak sekalian? Pikirnya.
***
"Akting yang natural aja. Kita bakal ngerekam keseharian kamu." Ujar Danu. Mengarahkan beberapa kameramen yang memasang beberapa kamera di spot-spot yang bagus.
Gista mengangguk singkat selagi wajahnya di rias. Tidak mau memusingkan tata letak kamera yang di sebar di beberapa titik rumah sewaan yang kedepannya mereka pakai untuk syuting program We Can Cook Together. Iya, norak banget, kan?!
"Jadi kalian bisa mulai dari keluar kamar dengan kesan kayak baru bangun tidur, inget ya konsepnya kalian serumah."
Gista mengambil posisi tiduran sesuai skenario yang sudah dia terima, tapi tidak lama berjengit kaget ketika melihat Hugo ikut rebahan di sampingnya.
"Astaga, Gis. Bahaya!" Seru Abi ngeri melihat posisi Gista yang sudah siap berciuman dengan lantai kalau saja Hugo tidak cepat memegangi tangan Gista.
"Tadi bilangnya cuma serumah, ya. Mon maaf. Bukan sekasur!" Celetuk Gista.
"Maaf, Gis. Ada perubahan dikit. Tapi diliat-liat cara kamu kaget tadi boleh juga. Gimana kalau dari situ debat dikit terus masak bareng. Cocok, kan." Sahut Danu.
Gista menghela nafasnya dan kembali ke posisi rebahan di samping Hugo yang terlihat biasa-biasa saja. Tidak memedulikan kegaduhan yang baru saja terjadi.
"Siap, ya! Satu.. Dua.. Take!"
Gista dan Hugo sama-sama membuka lebar mata mereka, mata yang saling menantang sedikit menciptakan suasana magis yang begitu familier bagi Hugo. Mata Gista seolah pernah dia kenal sebelumnya.
Begitupun yang dirasakan Gista, percikan magis yang menggoda ketika menatap manik mata Hugo seolah menggoda dirinya untuk jujur pada Hugo kalau dirinyalah yang Hugo cari. Keinginan itu tersisih secepat memori berisi kenangan pahit yang Hugo torehkan padanya. Gista jelas masih sakit hati.
"Aaaaaaaa." Teriak Gista sedikit mendorong Hugo.
Mereka sama-sama bangkit dan saling menunjuk.
"Ngapain tidur di sini?"
"Ini kan kamar saya."
"Iya, terus kenapa ikut tiduran juga? Kamar sebelah kan ada."
"Ini rumah kamu apa rumah saya?"
"Oh, iya. Ah, gatau lah." Gista menyingkir, meninggalkan ranjang.
__ADS_1
Hugo berdecak, tangannya terlipat tapi tidak lama menyusul Gista juga.
"Kamu ngapain di dapur?"
"Masak, lah."
"Emang bisa?"
Gista mengacungkan spatula ke arah Hugo
"Ngeremehin banget, bisa dong."
"Oh. Iya?"
Gista berdecak, "Awas ya, kalau ketagihan."
Hugo memperhatikan Gista yang sudah menekuni kegiatan memasaknya. Tangan lentiknya sangat terampil dalam memotong dan mengolah semua bahan masakan. Sedikit mengejutkan Hugo, Gista seperti sudah lama mengenal dapur.
"Masak apa?"
Gista menoleh sekilas menatap Hugo.
"Ayam Sampyok."
Hugo berdecak kagum, "Dari mana tau masakan itu?"
Gista tersenyum bangga "Ini salah satu makanan favorit aku, loh. Aku sering masak ini kalau lagi kangen rumah."
Hugo tertegun dalam beberapa detik, senyum tulus Gista mampu sedikit menghangatkan hatinya.
"Jadi, ibu kamu yang ngenalin?" tanya Hugo.
"Berasal dari Betawi dan terakulturasi sama dengan Tionghoa, ayam sampyok sekilas emang kelihatan kayak rendang dengan bumbu khas budaya Tionghoa dan Betawi. Gurih-asin, gitu."
"Wah, kayaknya enak."
"Emang enak! Tau nggak, uniknya apa? Ayam sampyok proses pembuatannya di bumbui sampai 2 kali. Bener-bener meresap banget ke dalam daging ayamnya. Enak parah, deh. Di jamin."
"Teknik untuk memasak menu ini juga tergolong unik. Setelah ayam diberi bumbu yang sudah dihaluskan dan ditumis, ayam kemudian dimasak dan diungkep hingga berubah warna menjadi kecoklatan. Bumbu kacang yang di aplikasikan ditambah dengan santan kepala kemudian ditaburkan lada hitam."
"Secara singkat proses memasak ayam sampyok adalah ayam yang diguyur dengan bumbu akan diungkep terlebih dahulu, yang kemudian akan dibakar. Setelah itu ayam akan siap untuk dihidangkan."
Gista menutup penjelasannya tepat ketika dia mengambil ayam sampyok yang sudah jadi. Menghidangkannya tepat di depan Hugo yang menatapnya dengan senyuman manis.
"Enak." Ujar Hugo
"Oke! Bagus, Gis!" Seru Danu menghentikan syuting kali ini.
Gista menghela nafasnya, melanjutkan acara memasak ketika semua crew bubar untuk mencari makan siang di luar.
"Yang tadi beneran?"
Suara Hugo yang berada di belakang Gista membuat Gista berjengit kaget.
"Astaga. Hugo. Kirain ikutan keluar sama yang lain." Ujar Gista mengelus dadanya beberapa kali.
Hugo terkekeh, merasa lucu dengan kelakuan Gista.
__ADS_1
"Yang tadi, yang mana?" tanya Gista setelah menguasai debaran terkejutnya.
"Makanan yang aku makan tadi beneran buatan kamu?" tanya Hugo penasaran
Gista menggeleng "Ya bukan, lah. Masak ayam sampyok itu butuh waktu nggak sebentar karena prosesnya, ingat?"
Hugo mengangguk mengerti "Pantes, enak." Lirih Hugo yang tertangkap indera pendengaran Gista.
"Maksudnya apa begitu? Ngeremehin gue nggak bisa masak apa gimana?" sewot Gista.
Hugo menggeleng cepat "Bukan, bukan gitu. Duh, maaf kalau salah tangkep." Bantah Hugo buru-buru.
Gista mendesah pelan "Yang lo makan tadi harusnya jadi menu makan siang gue. Tapi pas tadi syuting buka kulkas, bahannya pas banget buat bikin ayam sampyok. Akhirnya masak ayam sampyok aja. Pikir gue sih, kenapa nggak ngenalin makanan yang nggak semua anak milenial tau."
Hugo mengangguk, sedikit mensetujui improvisasi yang di lakukan Gista.
"Jadi beneran makanan favorit, kamu?"
Gista mengangguk yakin
"Iya. Sekedar informasi tambahan, salah satu restoran di Jakarta yang menghidangkan Ayam Sampyok sebagai menu makanan mereka adalah restoran Historia Food and Bar. Restoran ini terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 11 Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta. Coba deh ke sana, di jamin enak."
"Ini kan udah saya coba, mau gantian cobain masakan kamu, boleh?"
Gista tersenyum tipis dan buru-buru menyelesaikan masakannya.
"Kalau sampai nggak enak, muntahnya di kamar mandi ya. Jangan langsung di sini. Gue takut sedih, karena baru pertama kali masakin orang lain selain keluarga sama Jeje. Tapi kalau misalnya ketagihan, mohon maaf jadwal gue padat banget."
Hugo tertawa renyah menanggapi perkataan Gista.
"Jeje itu cowok yang kemarin, kan? Kalian deket banget, ya?"
Gista mengangguk
"Jeje itu sahabat yang gue anggep seperti keluarga gue sendiri." Jelas Gista.
"Pernah suka, sama Jeje?"
Gista tertawa kencang, saking gelinya sudut matanya berair
"Nggak mungkin banget ada cerita gue suka sama Jeje."
"Persahabatan diantara cowok sama cewek itu mustahil, loh. Pasti ada hati di dalamnya." Komentar Hugo, memasukan satu suap nasi di tambah ayam sampyok buatan Gista yang baru matang.
Dia tertegun, cita rasa yang benar-benar meresap kedalam daging ayam mampu memanjakan lidah Hugo begitu rupa, berbeda dari ayam sampyok yang Gista beli, karena setelah makanannya tertelan habis, lidahnya masih bisa mencecap bumbu yang tertinggal dengan sangat nikmat.
Gista menepuk bahu Hugo pelan "Hubungan gue sama Jeje bisa dibilang murni persahabatan, nggak ada tuh namanya drama suka sama sahabat sendiri." Gista terkekeh pelan di akhir kalimat.
Hugo mengangguk paham "Bagus," katanya.
"Bagus?" ulang Gista bingung
"Iya, bagus. Jadi masih ada kesempatam buat lebih kenal kamu, barangkali kita cocok." Ujar Hugo dengan datarnya, masih menikmati masakan Gista sampai habis.
Tunggu dulu, tadi Hugo bilang apa?,
***
__ADS_1
Sumber Ayam Sampyok : http://www.simpulan.com/article/5