
Saya cuma mau minta maaf
Gista menatap pantulan dirinya di depan cermin. Wanita cantik yang berhadapan dengan dirinya tersenyum sangat sinis. Untuk menjadi dirinya yang sekarang, bukan perkara yang mudah. Banyak pengorbanan yang Gista lalui. Banyak tujuan yang harus Gista capai. Termaksud dengan menghancurkan Hugo.
Iya, Hugo. Gista tidak pernah menyadari bahwa koki masak yang baru menjadi kebanggan Indonesia itu adalah Hanura Nugroho, pria yang mendorongnya sampai ke titik di mana Gista mau tidak mau harus meninggalkan masa lalunya.
Bahkan Gista dengan sempurna mampu menyembunyikan senyum sinisnya ketika Hugo mengatakan tujuannya kenapa ingin bertemu Gigi, Gista di masa lalu.
Iya, yang di cari Hugo adalah dirinya yang dahulu. Remaja gendut yang sangat jelek. Anak dari Vania Larasati dan Adlan Rusadi yang kabar terakhirnya menempuh pendidikan di Sydney.
Ting!
Duma : Ngomongin apaan sama Hugo?
Satu chat masuk dari Duma sukses mengalihkan perhatian Gista.
Gista : Ngomongin kerjaan, lo tadi kenapa langsung cabut?
Duma : Masih ngenyut hati gue liat Hugo :(
Gista : Ewh.. Mau muntah :(
Duma : Sial!
Duma : Kerjaan apa tadi yang dibahas? Bukannya udah nggak kerja bareng?
Gista : Dia minta gue balik jadi co-host di You Can Cook.
Duma : Hah?! Serius?!!!
Gista : Dua-rius malahan.
Duma : Ya, udah! Bagus dong, jadi mempermudah rencana awal kita!
Gista : Dum...
Gista menatap layar handphonenya sedikit ragu, apa keputusan yang tepat kalau dirinya menceritakan masa lalunya bersama Hugo sedangkan Duma masih memiliki perasaan terhadap lelaki itu meski tujuan mereka sama, untuk membuat Hugo sakit hati.
Duma : What?
Gista : Serahin semuanya sama gue, gue jamin Hugo patah hati sepatah patahnya.
***
"Kita mau ke mana?" tanya Hugo yang kesekian kalinya.
__ADS_1
"Ah, udah. Bawel banget. Ikut aja kenapa, sih!" Gemas Gista.
Hugo hanya menghela nafas panjang, menuruti arahan Gista. Selesai syuting, Gista mengajak Hugo ke tempat yang belum Hugo tau tujuannya. Membuat Hugo penasaran setengah mati!
"Nah, masuk ya ke gedung itu." Tunjuk Gista ke salah satu gedung tinggi yang menarik perhatian Hugo.
Tulisan Royal dengan lambang R yang besar sukses membuat Hugo tertegun.
"Ini 'kan Hotel and Resto milik om Adlan." Ujarnya sambil menatap Gista yang mengangguk.
"Iya, hari ini gue ada meeting sama pemegang saham yang lain. Kalau lo mau ketemu pak Adlan, ya hari ini kesempatannya." Jelas Gista.
"Dan oh, iya. Sekedar informasi dari Yohan, bu Vania juga ikut." Tambahnya lagi.
Hugo tidak bisa menahan senyumannya, membuat Gista untuk beberapa detik sedikit terpaku dengan ketampanan Hugo.
"Makasih banyak, ya." Ujar Hugo tulus, yang mampu meluluh lantakan pikiran Gista.
"Jangan seneng dulu, gue nggak bisa jamin sih, lo bakal ketemu sama mereka."
Hugo mengangguk, mengerti akan kesibukan pasangan itu.
Setelah memarkirkan mobil, Hugo dan Gista masuk ke dalam lobby dengan ID khusus pemegang saham yang langsung di arahkan ke tempat meeting. Gista mengatakan pada Hugo, untuk hari ini dia akan menggantikan Abi sebagai managernya.
"Silahkan lewat sini." Ujar kepala pelayan yang mengantarkan Gista dan Hugo ke arah ruang VVIP.
Perilaku Gista tidak luput dari pandangan Hugo yang memandang Gista dengan kernyitan kebingungan.
"Ngapain?" bisik Hugo.
"Ngatur emosi biar nggak hilaf nyambit barang." Balas Gista asal dan dengan kepercayaan diri tinggi memasuki ruangan dan mengambil seluruh perhatian orang yang ada di dalam ruangan.
"Selamat datang, Gista." Sapa Yohan, asisten Adlan.
Gista menyambut ramah sapaan Yohan dan menyalami semua orang yang ada di ruangan.
"Bu Vania, ada?" tanya Gista yang diangguki Yohan.
"Jadi ini orangnya?" tanya balik Yohan sambil menunjuk ke arah Hugo.
"Iyups! Go, ikut bang Yohan gih, gue kelar meeting sore. Kalau nggak mau lama duluan aja, gue nanti bisa di jemput sama Abi." Pesan Gista yang diangguki Hugo dengan mantap.
Andai Hugo tau, dari mereka sampai, Gista tidak ada hentinya memberi kode pada Yohan untuk tidak membocorkan rahasianya.
***
__ADS_1
"Selain Jakarta, semua pengunjung dan omset aman." Jelas Prabu, orang kepercayaan Adlan.
"Ini pasti pengaruh tidak langsung skandal yang kemarin." Celetuk salah satu pria paruh baya ber jas navy.
Gista tersenyum sinis "Dengan segala hormat dan kerendahan hati saya, bapak Setiawan. Kita semua yang ada di ruangan ini tau, bahwa hubungan saya dengan Adlan adalah semata-mata berkonteks bisnis. Di luar itu beliau secara sah di mata hukum dan agama adalah ayah kandung saya."
Setiawan berdecak, merasa masih belum puas dengan jawaban Gista.
"Bikinlah konferensi pers, dewasalah sedikit. Pikirkan dampak dari penyembunyian idenstitasmu. Ini bukan sekali dua kali terjadi. Masih ingat, berita kamu dan 'ayah kandungmu' yang tidak diketahui publik, keluar dari kamar hotel yang sama?"
Gista mengeram marah, ini yang paling tidak dia sukai. Kalau saja dia bisa menolak kakaknya untuk menggantikan dirinya sementara, pasti sudah Gista lakukan dari setengah tahun belakangan. Gista tidak pernah cocok dengan urusan bisnis.
Yohan yang berdiri di belakang Gista menahan bahu Gista agar wanita itu tidak bangun dari duduknya dan melempar gelas ke arah Setiawan.
"Bang, papah ke mana, sih!" Bisik Gista dengan nada tajam. Membuat Yohan meringis merasa bersalah.
"Kejebak macet, bentar lagi mungkin sampai."
***
Hugo mendesah kecewa, pasalnya. Dirinya tidak bisa menemui Vania dan Adlan. Menurut informasi yang Yohan berikan, Adlan dan Vania memang sudah ada di Hotel Royal, tapi mereka pergi lagi entah kemana setelah selesai makan siang dan belum juga kembali.
"Masih di sini?"
Hugo tersenyum tipis, menyambut kedatangan Gista.
"Nggak ketemu 'kan? Udah gue bilang jangan berharap banyak. Mereka masih merasa ABG. Norak pokoknya." Jelas Gista dengan wajah keki.
Hugo tertawa renyah "Seberat itu ya meeting tanpa om Adlan."
Gista mengangguk mantap sambil memeriksa notifikasi hape Sungsang miliknya.
"Lo di sini bukannya nunggu gue selesai, kan?" tanya Gista.
Hugo menggeleng tapi setelahnya mengangguk. Respon yang aneh menurut Gista.
"Niatnya mau langsung balik, tapi suasana resto ini enak jadi saya sempet makan dulu dan sekalian aja nunggu kamu di lobby."
Gista mendesah, mendial nomer manager kesayangannya.
"Halo, Abi. Sorry banget ya, lo puter balik aja jangan jemput gue. Apa? Lo udah sampe depan? Oh, iya-iya, All You Can Eat, Jhony Andrean full service menunggumu nak. Sepadan? Oke, thanks a lot ya! Bye!"
Hugo menatap Gista dengan pandangan bingung.
"Udah, jangan ngeliatin gue kayak gitu. Nggak enak gue sama lo udah nunggu malah gue cabut sama Abi. Duluan ya bang Yohan! Yuk, anterin gue balik!" Ujar Gista sambil menarik tangan Hugo dan tangan satunya lagi melambai ke arah Yohan yang terkekeh geli melihat anak bossnya itu.
__ADS_1
Andai kedua pria itu tau, niat Gista tidak lebih dari satu. Mendekati Hugo sampai membuat pria itu tersakiti, seperti apa yang Gista rasakan 14 tahun yang lalu.