
Gista meliuk-liukan tubuhnya dengan ekspresi wajah yang datar. Melakukan beberapa posê dengan mantap meski tubuhnya di terjang hempasan angin buatan yang disengaja untuk mengibarkan bagian bawah gaun yang dia kenakan.
"Bagus, Gis! Pertahanin ekspresinya." Seru Jovin, mengarahkan kameranya kembali ketika menemukan angle yang cocok.
"Si *****, Gista mah. Kenapa senyum sih! Kampang emang lo!" Seru Jovin mencak-mencak.
Gelak tawa para model yang ada di studio bersahut-sahutan, termaksud Gista yang sangat puas merusak mood Jovin.
"Sorry, Vin. Ada temen gue." Tunjuk Gista ke arah pintu studio.
Jovin menoleh, di dapatinya Duma dengan cengiran lucu menatap Jovin, merasa bersalah.
"Ah udahlah, next." Ujar Jovin sambil mengibas-ngibaskan tangannya mengusir Gista.
Gista memberikan Jovin ciuman jarak jauh sebelum pergi dari tengah-tengah pemotretan.
"Hai!" Sapa Gista, sembari mengenakan selimut untuk menutupi setengah ketelanjangan tubuh bagian atasnya.
"Gue ganggu banget, ya?" tanya Duma dengan ekspresi rasa bersalah.
Gista menggeleng dengan kekehan tawa yang renyah.
"Jangan pikirin Jovin, kayak nggak tau dia aja. Sebenernya pemotretan gue udah kelar dari tadi tapi Jovin masih nyari view yang pas." Terang Gista
"Gue ganti baju dulu, tunggu bentar."
Selang 30 menit kemudian, setelah selesai berganti baju dan menghapus make up, Gista mengajak Duma keluar dari studio.
"Ada angin apa nih? Ke studio pas hari libur lo?" tanya Gista ketika mereka berdua sudah sampai di parkiran.
"Nanti gue kasih tau kalau udah sampe tempat lo, oke."
"Sip."
***
"Gue mau bikin rencana pendekatan sama Hugo lebih mateng." Cetus Duma, menunjuk ke beberapa kertas yang ada di atas meja tamu milik Gista.
Gista menggeleng tidak habis pikir "Terniat emang, lo."
"Gue mau lo beneran bikin jatuh cinta Hugo dan nyakitin dia sedalam mungkin. Dan oh iya satu lagi. Gue udah berniat bikin perjanjian, jaga-jaga kalau yang lo takutin kejadian."
Alis Gista bertaut, menatap Duma dengan bingung.
"Apa?" tanyanya.
"Ketakutan lo kalau sampai malah lo yang jatuh cinta duluan sama Hugo." Ingat Duma.
Kini Gista yang terkekeh geli "Gue tarik, kayaknya udah nggak bakalan mungkin gue ada indikasi bakal jatuh cinta duluan."
__ADS_1
Duma tersenyum, mengangguk seakan paham "Tapi apa salahnya? Kita nggak tau kedepannya gimana, itu kata lo."
Gista mengangguk, meneliti kembali lembar perjanjian yang sudah Duma siapkan.
PERJANJIAN
Pada hari ini Jumat, 25 Januari 2019 telah diadakan perjanjian antara :
Nama : Duma Irish Belle
Selanjutnya disebut sebagai PIHAK PERTAMA
Nama : Gista Sasmita
Dalam hal ini yang bersangkutan bertindak untuk dan atas nama diri sendiri dan nantinya akan disebut sebagai PIHAK KEDUA
Kedua belah pihak telah setuju dan sepakat untuk membuat surat perjanjian dimana dalam surat tersebut berisi sebagai berikut :
PASAL 1
PIHAK KEDUA tidak boleh jatuh cinta dengan target yang sudah ditentukan oleh PIHAK PERTAMA
PASAL 2
PIHAK KEDUA di wajibkan meninggalkan target yang sudah ditentukan oleh PIHAK PERTAMA apabila PIHAK KEDUA jatuh cinta dengan target.
PASAL 3
PASAL 4
PIHAK PERTAMA wajib membayar sejumlah uang yang diajukan oleh PIHAK KEDUA atas pencapaian yang sudah disepakati bersama.
PASAL 5
Berdasarkan pasal 3, pembatalan perjanjian juga bisa dilakukan apabila PIHAK PERTAMA mengetahui adanya kebohongan dan hal-hal yang ditutup-tutupi dari PIHAK KEDUA mengenai target dan mengenai perasaan PIHAK KEDUA
PASAL 6
Berdasarkan pasal 5, PIHAK PERTAMA bisa mengajukan permintaan, permohonan atau harta dari PIHAK KEDUA secara mutlak dan tidak bisa di ganggu gugat.
Demikan surat perjanjian ini dibuat rangkap dua, di atas materai Rp 6.000 Untuk dijadikan pegangan bagi masing-masing pihak. Surat perjanjian yang diberikan kepada masing-masing pihak memiliki fungsi dan kegunaan yang sama tanpa membeda-bedakan.
"Isinya nguntungin lo semua, ya." Sindir Gista, membuat Duma tertawa renyah.
"Oke, bagian mana yang mau diganti dan ditambah atau dikurangi?" tanya Duma.
Gista mengibaskan tangannya di udara, menolak keras tawaran Duma. Toh, pikirnya dia sanggup melakukan itu semua dan pastinya tidak akan ada halangan apapun. Kalau pun dirinya sampai tidak sanggup menjalani perjanjian, anggap saja itu jadi hukuman Gista, karena dirinya telah mengkhianati sahabatnya dan juga hukuman karena dia bodoh masih mau jatuh pada orang yang sama.
"Nggak usah, nggak perlu. Sini langsung tanda tangan aja."
__ADS_1
***
"Ngapain kamu, di sini?" tanya pria yang mengerutkan keningnya menatap Gista keheranan. Langkah pria itu terhenti ketika melewati meja yang Gista tempati.
"Mau makan, lah!" Jawabnya singkat.
"Nggak lagi ngikutin saya, kan?"
Gista tergelak sampai sudut matanya berair "Pede!" Cercanya.
Pria yang memakai baju chef berwarna hitam itu lantas mengangkat bahunya dengan acuh.
"Ya mungkin aja gitu, kamu tertarik sama saya. Sampai makan aja jadi alesan di restauran tempat saya kerja."
Gista mengangkat buku menu, merentangkan selebar mungkin dan berekspresi mau muntah ketika mendengar ucapan Hugo.
"Jangan gitu, naksir beneran, saya nggak bisa tanggung jawab, loh."
Gista tertawa patah "Ha-ha, iyalah! Tau banget kok rasanya jatuh cinta sendirian itu nggak pernah enak."
Kini giliran Hugo yang terkekeh geli "Nah, kan. Udah bawa-bawa soal jatuh cinta. Udah, tutupin lagi mukanya pake buku menu, jangan terusan curhat sama saya. Duluan ya, mau kerja. Bye."
Gista meremas buku menu dengan gemas, wajahnya memerah karena kesal bukan main. Kalau saja bukan di tempat ramai, Gista yakin buku menu ini akan menghantam kepala Hugo yang kelewat percaya diri.
Kenapa sih, Hugo kadang bisa sangat menyebalkan tapi juga bisa jadi pria yang bersikap baik dan manis dalam waktu bersamaan?!
"Weh, Gis. Sorry lama nunggu."
Kini pandangan Gista beralih ke arah pria bergaya casual yang baru saja datang mengalihkan perhatian Gista.
"Nggak sih, gue juga baru sampe."
Pria tadi mengangguk, tanpa melihat buku menu yang di pegang Gista, pria itu merapalkan pesanannya dengan lancar.
"Lo sering ke sini, ya?" tanya Gista setelah selesai menyebutkan pesanannya.
"Emm... Nggak sering juga sih, kebetulan aja beberapa waktu lalu gue pernah bikin artikel soal resto ini."
Gista ber-O panjang, tangannya sudah bergerak cepat di atas benda pipih yang selalu dia bawa.
Tonguetraveler.com
"Wah, ulasannya bagus nih." Gista berucap.
Pria di depannya mengangguk
"Iya, di sini masakannya emang juara. Banyak kritikus makanan yang ngerekomendasiin tempat ini."
Gista mengangguk-angguk layaknya pajangan kucing yang ada di dashboard mobil Duma "Tau gitu, gue minta rekomendasi dari lo, Je."
__ADS_1
"Tenang, apa kata gue tadi, masakan di sini juara."
Gista mengangguk, kalau Jeremiah Salim sudah berbicara, masakan di sini berarti memang juara.