
"Sebahagia itu ya lo, ketemu sama gue." Goda Jeremiah. Ketika mengamati Gista yang sibuk bercerita panjang lebar mengenai kegiatannya dengan mata berbinar-binar senang.
Gista berdecak, memukul bahu Jeremiah dengan gemas. "Gimana nggak bahagia, lo balik ke sini bawa berita bagus soal pernikahan. Pernikahan Je! Bayangin, seorang Jeremiah, Jeje gue, yang suka main 'cewek' sana sini akhirnya memutuskan buat serius sama satu cewek. Damn, dude. I am so glad to know that!" Ujar Gista antusias, menepuk pundak Jeremiah dengan bangga.
Jaremiah menegakkan duduknya, menepuk dadanya dengan bangga. "Gue, gitu." Bangganya pada diri sendiri.
Gista tergelak melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Terus, lo kapan mau nyusul?"
Gista berdecak "Ah, elah. Bikin inget umur aja."
Refleks, Jeremiah tertawa kencang, menarik beberapa perhatian pengunjung restauran. Terlebih perhatian pria yang menemani pramusaji mendorong troli berisi makanan.
"Permisi." Ujarnya menginterupsi perhatian Gista dan menghentikan tawa Jeremiah.
Pramusaji menurunkan minuman dan makanan yang Gista dan Jeremiah pesan, sedangkan pria yang bersamanya menjelaskan menu makanan yang mereka pesan.
"Gila, kemarin gue review di sini nggak sampe tuh. Di paranin chefnya langsung. Eh makan sama lo malah di paranin, siapa lo sih, Gis? Presiden bukan, Senator juga bukan." Bisik Jeremiah ketika Hugo dan pramusaji pergi meninggalkan meja mereka.
Gista mengibaskan rambutnya dengan gaya sombong "Sebaiknya sebelum lo sibuk ketimbun artikel kuliner nusantara dan dunia, sering-sering nonton tv biar tau seterkenal apa gue di sini."
Jeremiah meraup wajah Gista dengan gemas, membuat lipstik wanita itu sedikit belepotan karena mengenai ujung telapak tangannya.
"Sombong, amat!" Jeremiah mendengus.
Gista berdecak, buru-buru mengambil kaca di tasnya dan membetulkan lipstiknya yang belepotan.
"Ah, elah! Ngeselin banget sih tangan lo. Ke kamar mandi dulu deh gue." Ujar Gista dengan tampang cemberut yang sukses memancing gelak tawa Jeremiah.
***
"Harus banget, ya. Ciuman di depan umum?"
Gista yang semula menunduk untuk mengambil tisu basah mendongak ke asal suara. Di dapatinya Hugo yang bersandar di pilar dekat kamar mandi pria yang bersebelahan dengan kamar mandi wanita sambil terfokus pada benda pipih yang dia pegang.
Pikir Gista, mungkin Hugo sedang mengomentari-- entah apa itu yang dia lihat di dalam benda pipih itu. Maka Gista putuskan untuk melanjutkan perjalanannya, melewati Hugo.
Belum sampai dua langkah Gista melewati Hugo, tangan kiri Hugo sudah menahan lengan Gista untuk berhenti. Sedangkan tangan kanannya mengangsurkan benda pipih berlogo Banana di hadapannya.
__ADS_1
Gista berdecak kesal ketika melihat headline news salah satu portal gosip.
HEBOH! GISTA KEPERGOK BERCIUMAN BERSAMA PRIA GONDRONG SUPER GANTENG!
"Sumpah ya, mereka nggak banget kalau soal ngasih judul!" Komentar Gista diluar topik yang sedang panas, memperlihatkan posisi Gista yang seakan tengah berciuman padahal tubuh mungilnya hanya ketutupan badan raksasa Jeremiah!
Gista menatap Hugo yang menatapnya dengan mata yang terpincing.
"Apa?" tanya Gista dengan polosnya.
"Reaksi kamu di luar dugaan banget!" Komentar Hugo, jujur.
Gista tertawa "Udah biasa itu, kebal gue mah!"
"Tapi beneran?" tanya Hugo bernada rancu yang membuat Gista bingung.
"Beneran?" ulang Gista bertanya balik seakan memastikam maksud pertanyaan Hugo.
"Ciumannya?"
Gista tertawa renyah, gelak tawanya yang keras bahkan sampai mengagetkan beberapa pramusaji yang lewat diarea kamar mandi yang memang dekat dengan tempat ganti.
"Kok, malah ketawa?" tanya Hugo keheranan.
Hugo mengangkat bahunya dengan acuh. "Nggak ada sih, cuma penasaran."
"Cuma penasaran? Yakin?" Goda Gista membuat Hugo tertawa pelan yang mengakibatkan efek sengatan halus, membuat Gista beberapa detik dalam keterkejutan yang menyenangkan.
"Iya, saya penasaran aja. Soalnya berita di luar sana berbanding kebalik banget sama kamu yang aslinya."
Mau tidak mau, senyum Gista muncul tatkala mendengar penuturan tulus dari Hugo.
"Emang Gista yang lo kenal, gimana?" lirih Gista, matanya masih menantang manik mata Hugo dengan tatapan teduh yang menyesatkan.
"Gista yang saya kenal itu orang yang baik, lebih baik dari berita yang ada di portal-portal gosip. Kalau nggak baik, mana mungkin dia ngasih saya kesempatan untuk ketemu sama om Adlan dan tante Vania. Oh jangan lupa juga, kalau Gista orang yang buruk, mana mungkin dia langsung menyanggupi ketersediaannya untuk balik jadi co-host You Can Cook."
Gista tertawa hambar, definisi baik yang Hugo pikirkan sangat berbanding terbalik dengan rencana penghancuran pria itu. Andai saja Hugo tau rencananya dan Duma, di tambah kalau pria itu tau siapa dirinya, pastinya Hugo tidak akan sudi menemuinya lagi karena saking membenci Gista sampai mengakar.
"Ciuman itu nggak pernah ada." Ujar Gista dengan senyuman tipis.
__ADS_1
"Gue pikir karena janji pertemuannya di restauran elit, nggak ada hape-hape julid yang ngawasin. Ternyata gue salah. Di manapun gue, dan dengan kondisi apa pun. Selalu ada angle yang bikin gue serasa selalu di posisi bersalah dan kelihatan murahan. Itu kata Jovin, Fotografer kesayangan model Adacii."
Hugo tersenyum pengertian, mengantongi hapenya dan dengan bebas mengacak rambut Gista dengan gemas.
"Terimakasih, ya." Ujarnya penuh misteri yang memancing rasa penasaran Gista.
"Terimakasih untuk apa?" tanya Gista.
"Berkat kamu, saya jadi tau kalau pria gondrong itu penulis di Tonguetraveler.com, situs kuliner, review dan kritikus makanan yang terkenal dan cukup mumpuni."
Kini Gista tergelak, ternyata Hugo diam-diam sangat memperhatikan dirinya.
"Gimana kalian bisa saling kenal?" tanya Hugo berbasa-basi yang membuat seketika itu juga Gista membisu.
Mana mungkin dirinya bercerita tentang pertemuan pertamanya dengan Jeremiah sedangkan alasan utamanya tengah memandanginya dengan binar penasaran yang luar biasa.
"Hush, jangan kepô." Bisik Gista yang kemudian menjulurkan lidahnya sebelum pergi meninggalkan Hugo yang tertawa melihat tingkah lucu Gista.
***
"Lama banget, sih?!" Protes Jeremiah ketika Gista baru saja menaruh bokong seksinya di atas kursi.
"Maklumin aja, sih. Namanya juga cewek!" Sewot Gista.
Jeremiah memutar kedua matanya dengan kesal. Diambilnya sebuah undangan pernikahan dari dalam tasnya yang langsung di taruh di hadapan Gista.
"Udah tau tentang portal gosip, kan?" tanya Jeremiah.
Gista mengangguk dan memberi tatapan permohonan maafnya.
"Calon lo tau? Marah ya pasti?"
Jeremiah berdecak sebal
"Apaan sih, anak satu ini! Bukannya mikirin diri sendiri malah sempet-sempetnya mikirin hubungan gue!" Kesal Jeremiah.
Gista tertawa kecil "Gue mah udah biasa, kalau nggak gitu portal gosip nggak makan."
Dari tatapannya, Jeremiah kurang setuju tapi tidak memperpanjang perdebatan soal berita yang heboh di portal gosip.
__ADS_1
"Udah, ah. Jangan di pikirin. Gue fine-fine aja kok. Simbiosis mutualisme, mereka dapet berita dengan berbagai opini yang mereka mau, dan gue dapet kepopuleran penuh di atasnya. Sepadan." Tutup Gista, menepuk bahu Jeremiah dengan bersahabat. Yang mau tidak mau membuat Jeremiah mengacak rambut Gista dengan gemas.
"Gue sekarang yakin, lo bukan yang dulu lagi. Sekarang lo lebih kuat. Dan gue bangga sama lo."