
"Intinya adalah, saya mau kamu jadi co-host lagi."
Alis Gista sukses menukik dalam, menimbulkan kernyitan di dahinya yang mulus. Mereka berdua sudah ada di kafe lewat dari 30 menit dan di habiskan dengan euforia canggung yang aneh. Bahkan Hugo tidak ada basa-basi langsung ke pokok tujuannya seperti katanya tadi, dia ingin Gista kembali jadi partnernya.
"Bukannya lo nggak suka gue ikut acara lo? Masih inget banget gue ada yang ngatain pansos." Ucap Gista pedas, sembari menjemput cinamon tea yang ada di hadapannya.
Hugo menghela nafasnya, menatap Gista dengan pandangan yang sulit Gista artikan.
"Maaf, mungkin yang waktu itu saya memang terlalu berlebihan." Sesal Hugo.
Gista memasukkan potongan Red Velvet Cake ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan perlahan untuk memberi jeda agar Gista bisa memikirkan kata-kata yang bijak agar mulutnya tidak menceletuki Hugo. Mengata-ngatai pria itu dengan pedas.
"Yang kemarin, sebagian besar saya terpengaruh dengan beberapa masalah. Saya terlalu mengedepankan emosi dan melupakan profesionalitas pekerjaan. Sekali lagi saya minta maaf." Ujar Hugo ketika Gista belum juga merespon.
"Terus, kenapa mau gue balik lagi?" tanya Gista dengan nada datar.
Hugo meringis dengan kesan Gista yang dingin. Kalau saja Hugo tau seberapa inginnya Gista meluapkan emosi ke Hugo karna sudah menyepelekan dirinya!
"Saya butuh kamu." Lirih Hugo yang sukses membuat Gista tersedak Cinamon tea miliknya.
"Hah!" Gista terperangah.
"Saya butuh kamu." Ulang Hugo dengan ekspresi meyakinkan.
"Tunggu... Tunggu..." Ucap Gista meneguk habis minumannya.
"Gue harus ngelurusin beberapa hal. Pertama, gue cukup profesional tanpa melibatkan perasaan tertentu dalam pekerjaan. Dan gue ini termaksud anti dalam membuat hubungan serius sama partner kerja gue. Kalau sekedar hubungan buat gimik, it's okay, tapi kalau buat di seriusin, kayaknya engga bisa." Gista memperjelas. Memancing kekehan pelan dari Hugo.
Hugo buru-buru menghentikan kekehannya karena melihat ekspresi Gista yang seperti mau membunuhnya di detik ini juga. "Maaf," ujarnya pelan. "Saya juga mau meluruskan sedikit. Saya butuh kamu, lebih tepatnya kepopuleran kamu di dunia entertain."
Ah, sekarang Gista mulai paham arah pembicaraan ini. Hugo bukan orang pertama yang mamintainya tolong untuk naik daun di dunia hiburan. Seperti Candra, yang kini sukses menggebrak musik di tanah air.
Dirinya yang sekarang pun sebelum sesukses di dunia hiburan, juga berkat bantuan dari Duma. Kalau bukan karena Duma, mungkin Gista hanya jadi model Adacii yang masuk berkat koneksi orang tuanya. Pada akhirnya, semua butuh koneksi untuk jadi sukses, bukan?
"Sekedar informasi, Candra bayar gue dua kali lipat dari uang yang dia terima selama pakai jasa gue untuk menaikan ratingnya." Gista mengangkat wajahnya dengan angkuh "Jadi, mau bayar gue berapa?"
Hugo tersenyum formal, menyesap pelan minumannya.
"Berapapun yang kamu mau, asal jaminannya saya bisa terkenal sampai di pedalaman Indonesia." Ucapnya kalem.
Gista memandang Hugo dengan ngeri, star-syndrome memang jadi momok menakutkan bagi para artis pendatang baru. Obsesi ingin di kenal banyak orang sampai ingin di akui mengalir dengan deras, mendarah daging.
"Kenapa liatin saya sampai segitunya?" tanya Hugo.
Gista berdecak menatap Hugo dengan serius. "Gue kasih tau, ya. Obsesi bisa hancurin karir lo dalam sekedipan mata."
__ADS_1
Hugo mengangguk, tanda mengerti.
"Saya tau, tapi bukan itu tujuan saya."
"Terus, tujuan lo apa?" tanya Gista penasaran.
Hugo menyesap minumannya. Menatap Gista dengan datar.
"Bukan urusan kamu."
Gista berdecak kesal "Ya jadi urusan gue, lah!"
"Lo yang mau nyeret gue, jadi gue ada hak untuk tau. Belum lagi, gue ngerasa aneh aja, koki jebolan dari ajang bergengsi luar negeri yang harusnya namanya udah cukup populerĀ ngapain repot-repot minta tolong ke gue lagi untuk menunjang kepopuleran dia?"
"Itu belum cukup." lirih Hugo.
"Cukup untuk apa?"
Menatap Gista sedikit ragu, Hugo berkata "Kepopuleran saya masih belum cukup untuk diketahui oleh orang yang saya cari."
Kini giliran Gista yang keheranan menatap Hugo.
"Mau populer untuk cari orang? Dia hilang atau kabur atau gimana? Kenapa harus di cari?"
"Oke, gini aja. Lo kasih tau semua yang lo cari dan gue bakal bantu semaksimal mungkin. Gimana?" tawar Gista.
Hugo terlihat berpikir keras, terlihat dari caranya mengerutkan alis.
"Oke." Hugo sepakat.
"Kamu mungkin nggak asing sama Vania Larasati dan Adlan Rusadi."
"Terus, ada hubungan apa sama mereka?" tanya Gista memburu jawaban inti dari Hugo.
"Kemarin saya tau kamu lagi di gosipkan dengan Adlan Rusadi, sebenernya saya rada kesel juga sama kamu. Kenapa dari semua pengusaha harus dengan beliau."
"Heh! Jangan mikir macem-macem, cuma gosip!"
Hugo tersenyum lega mendengar sanggahan langsung dari Gista.
"Gue makan sama pak Adlan cuma kebetulan ketemu dan selebihnya jadi bahas kerjaan." Jelas Gista "Sedikit informasi, gue ini juga termaksud pemegang saham di perusahaan dia."
"Terus kenapa nggak ngomong apa-apa ke publik? Salah paham ini bukannya bakal berdampak sama usaha om Adlan dan nama baik tante Vania?"
"Wait! Om? Tante?" Gista berucap kaget.
__ADS_1
"Jawab dulu pertanyaan saya."
"Ck! Ya buat apa sih? Publik cuma mau membenarkan opini mereka. Paham mereka ; gosip itu kebenaran yang tertunda. Mau nyangah apa pun rasanya percuma. Cuma bakal nambah panjang dan jadi bulan-bulanan sosmed. Mending diem aja sampai bahan baru buat di otak-atik muncul." Jelas Gista. "Contohnya sekarang. Gosipnya udah reda di ganti sama kasus You Can Cook kemarin."
"Lagi pula, gosip receh begitu nggak akan ngaruh sama bisnis Adlan Rusadi." Tambahnya lagi.
Hugo mengangguk paham.
"Jadi, ada hubungan apa sama mereka?" tanya Gista.
Hugo tidak langsung menjawab, dia malah mengeluarkan dompet dan mengambil dua foto.
"Ini orangtua saya, mereka dulu sahabat baik Adlan Rusadi dan Vania Larasati." Jelas Hugo pada foto yang memperlihatkan kemesraan kedua orangtuanya.
"Dan yang satu ini gambar anak mereka." Jelasnya lagi memperlihatkan seorang gadis kecil berusia 11 atau 12 tahun, yang gendut, berjerawat, hitam dekil dengan rambut kuncir dua dan senyum lebar memperlihatkan giginya yang di pasang behel.
"Terus, mau ngapain?" tanya Gista lagi.
"Intinya saya cuma mau ketemu sama anaknya, susah banget buat dapet akses ketemu om Adlan dan tante Vania. Udah 14 tahun, anak mereka nggak di munculin ke publik. Saya penasaran."
Gista menghirup udara sebanyak-banyaknya, memandang Hugo dengan aneh.
"Ngapain nyariin anak mereka? Gendut, jelek, item begitu?"
Hugo tanpa sadar menggebrak meja sampai menjadi pusat perhatian beberapa pelanggan kafe yang kini berbisik-bisik dan Gista jamin sudah ada yang diam-diam memoto kebersamaan mereka.
"Di jaga, ya. Omongannya!" Seru Hugo, marah.
"Sorry." Lirih Gista.
"Tapi buat apa ketemu?"
"Saya cuma mau minta maaf."
Gista mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja, menatap Hugo dengan ekspresi wajah yang tidak bisa Hugo tebak.
"Kenapa nggak pake koneksi orang tua? Katanya sahabatan?"
Hugo mendengus kesal, semakin banyak yang Gista tau tidak akan ada untungnya.
"Sekali lagi, bukan urusan kamu."
Gista bangkit dari duduknya, berjalan cepat menuju pintu keluar tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Membuat Hugo bertanya-tanya dengan sikap Gista yang sukar di mengerti.
Jadi, sebenarnya Gista setuju tidak sih dengan kesepakatan mereka?
__ADS_1